Catatan

Sastra

Wacana

Tulisan Terhangat

Mengenal Komunitas Masyarakat Indonesia di Turki Bagian 1

03:47:00 Add Comment

Mari berkenalan dengan komunitas-komunitas masyarakat Indonesia di Turki. Semoga bermanfaat. Dirgahayu Indonesia kita yang ke-71

[Salah Satu Kegiatan Komunitas TIH di Turki. Foto Dok Pribadi TIH]
Sebagai kado peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-71, tim Turkish Spirit berkerja gotong royong dengan ikhlas mendata dan mengumpulkan komunitas-komunitas masyarakat di Turki. Tujuan proyek ini adalah untuk memperkenalkan keberagaman masyarakat Indonesia di Turki dengan mementaskan jenis-jenis komunitas dan kelompok yang selama ini sudah berdiri. Karena sejauh ini komunitas tersebut belum diangkat ke publik baik oleh organisasi resmi ataupun oleh instansi lain di Turki

Dus, inisiatif tim TS (yang terlibat untuk tulisan Bagian Pertama adalah Ananda Serigar, Hari Pebriantok dan Bernando J. Sujibto) semoga bermanfaat demi menghadirkan keberagaman Indonesia tepat di Hari Ulang Tahun Kemerdekaannya yang ke-71 ini.

Di samping itu, TS ingin menyajikan "Indonesia mini" di Turki sebagai refleksi nyata dari keberagaman Indonesia itu sendiri. Untuk itu, komunitas para pelajar ataupun masyarakat Indonesia di Turki secara umum akan kami terbitkan secara berseri di Turkish Spirit. Dalam terbitan Bagian Pertama ini kami menurunkan komunitas The Indonesian Hanımlar, PCINU Turki, Cakrawala RUHUM, IKPM Turki dan IKAMAT, 

Mari berkenalan dengan komunitas-komunitas masyarakat Indonesia di Turki. Semoga bermanfaat. Dirgahayu Indonesia yang ke-71. Semoga semakin baik dan jaya, menjadi negeri berkeadilan untuk semua! 


The Indonesian Hanımlar (TIH)
Tahun Berdiri: 2 September 2013
Jenis Komunitas: Dalam bentuk grup komunitas di Facebook
[Kegiatan TIH bersama Dubes Indonesia di Turki Bapak Wardana. Foto Dok Pribadi TIH ]
Salah satu komunitas Masyarakat Indonesia di Turki yang tak banyak diketahui adalah sebuah perkumpulan yang nemamakan dirinya The Indonesian Hanimlar (TIH). TIH adalah Komunitas Perempuan-Perempuan Indonesia yang menikah dengan pria Turki di seluruh dunia.
Saat ini anggota yang tercataat dalam komunitas TIH berjumlah 423 orang, tersebar di 14 negara seperti Turki, Indonesia, Amerika Serikat, Jordan, Australia, Singapura, Jerman, Afrika Selatan, Belanda, Georgia, Kazakstan, Kanada, Inggris dan Saudi Arabia.

Istri-istri orang Turki menyebar di banyak negara karena mereka mengikuti suami-suami mereka kerja dan tinggal di negara bersangkutan. Meski begitu mereka tetap berinteraksi dalam komunitas The Indonesian Hanimlar.

Tujuan TIH adalah untuk menjalin ikatan persaudaraan, memperluas wawasan dan memperkaya jiwa perempuan-perempuan Indonesia yang menikah dengan pria-pria Turki di seluruh dunia. TIH mempunyai juga karakter khas yang mereka junjung bersama, misalnya seperti bersikap rendah hati, sederhana dan sopan (modest), terbuka terhadap hal-hal baru, memantaskan diri (decent) dan senantiasa berempati para orang lain.

Di samping itu, dalam komunitas Facebook-nya mereka memperbolehkan postingan apa saja yang dikira bermanfaat selain hal-hal seperti: postingan tidak boleh ada unsur politik dan diskiminasi SARA, tidak menyudutkan dan menjelekkan orang lain atau keompok laik, postingan bersifat pribadi dan tidak ada hubunganya dengan hanimlar yang lain, jangan ada gambar tak senonoh dan vulgar dan dilarang untuk posting barang-barang promosi dan jualan.

“75 % tinggal menetap di Turki (menyebar di seluruh wilayah Turki), 6 % di Indonesia dan 19 % tersebar di 12 negara lain,” jelas ketua TIH Fardal Dalle saat dihubungi tim TS.

Namun, mereka yang tercatat dalam grup Facebook berjumlah sekitar 334 orang. Selebihnya terdaftar dan berinteraksi lewat live notes TIH saja. Beberapa alasan mereka tidak terdaftar di grup FB TIH adalah karena pertama tidak memiliki akun Facebook  dan kedua mereka punya akun Facebook tapi tidak ingin masuk ke grup FB TIH.

Karena TIH bukan organisasi formal, jadi tidak ada pergantian pengurus dan semacamnya. Sistem kepengurusannya adalah dengan cara person in charge. Fardal Dalle sebagai founder dan dibantu 4 orang admin: Ghe Gizem Lüş (Istanbul, European side), Yusnita Öner (tinggal di Florida, USA), Yulianti Elsa Oktay (Yozgat, Turki) dan Iis Arslankaya (Izmir, Turki) (bje/ts).


PCINU Turki
Tahun Berdiri: 2011
Jenis komunitas: Komunitas kekeluargaan warga nahdliyin di Turki
Website/Blog: www.pcinuturki.com
[Salah Satu Kegiatan PCINU Turki. Foto Dok Pribadi PCINU]
Embrio Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Turki adalah Komunitas Warga Nahdliyyin di Turki (KWNT) yang terbentuk tahun 2011 silam. Komunitas ini bertujuan mempertahankan serta berusaha mensosialisasikan pemahaman Islam yang ramah serta bijak; Islam yang menghormati dan mengedepankan diskusi bukan anarki; Islam yang menghormati bukan mencaci dan menghakimi; Islam yang menjunjung tinggi kearifan lokal serta universalitas pesan Ilahi.

Menurut informasi Ketua Tanfidziyah PCINU Turki Yafik Mursyid, ketika jumlah anggota semakin bertambah, antusiasme serta sambutan positif dari berbagai pihak mulai terlihat, akhirnya warga nahdliyyin di Turki sepakat mengadakan Musyawarah Perdana Komunitas Warga Nahdliyyin di Turki (KWNT) yang diselenggarakan di Istanbul pada tanggal 3 Juni 2012.

Dalam musyawarah tersebut terbentuklah wadah resmi PCINU Turki yang beranggotakan pelajar dan masyarakat Indonesia yang berdomisili di Turki. Yafik yang sedang menyelesaikan program master di Istanbul Üniversitesi menerangkan salah satu hal yang ingin dilakukan komunitas dengan anggota sebanyak 85 ini adalah  menjaga ukhuwah Islamiyah,ukhuwah Wathoniyah dan ukhuwah Insaniyah

Salah satu kegiatan berkala PCINU Turki menurut Yafik adalah Kajian Diskusi Online, sharing kegiatan melalui website. Adapun kegiatan insidental adalah pengajian akbar, peringatan hari besar Islam serta ziarah makam auliya yang berada di Turki (hari/ts).


Cakrawala RUHUM
Tahun Berdiri: 2 September 2015
Jenis Komunitas: Komunitas Diskusi
[Foto Kegiatan Cakrawala RUHUM. Foto Dok. Pribadi RUHUM]
Cakrawala RUHUM, lebih dikenal dengan nama RUHUM (Turki: jiwaku) adalah kelompok studi warga Indonesia di Turki ini bersifat independen, non-partisan, dan terbuka untuk semua kalangan dari berbagai latar belakang yang tidak sama. Perhimpunan ini semacam “kopi darat” atau dalam tradisi Usmani “kahvehane”-nya (Kıraathane) warga Indonesia.

Prinsip dasar RUHUM: mengumpulkan rekan-rekan sebangsa setanah air dalam sebuah akhir pekan yang hangat dan akrab dengan jadwal yang ditentukan. Kita berbincang hangat tentang berbagai masalah yang bisa diangkat dari makalah, skripsi, tesis atau disertasi yang sedang dikerjakan atau sudah jadi, maupun hal-hal keseharian di sekitar kita atau perkembangan terkini dari isu lokal, nasional, regional, dan internasional; juga sangat mendukung diskusi multidisipliner.

Dicetuskan sebagai gagasan pada 5 Februari 2013, nomenklatur “RUHUM” terinspirasi dari Bahasa Turki yang berarti “jiwaku” juga dari sejarah Nusantara yang menyebut orang Turki dengan Bangsa Rum/Ruhum. Motto RUHUM merupakan perpaduan antara harapan untuk menjadi kelompok cendekiawan dalam berbagai bidang dan semangat untuk mengembangkan budaya kosmopolis yang tidak sektarian, visioner, dan mempunyai keluwesan dalam perubahan sosial-politik.

“Pendirian RUHUM dilatarbelakangi oleh minimnya, jika bukan tdk ada sama sekali, kegiatan ekstrakurikuler 'ilmiah' pelajar/mahasiswa Indonesia di Istanbul. Hampir sebagian besar mereka tertarik pada gelombang politik tertentu, baik yg berasosiasi ke Turki maupun Indonesia. Karena itu, RUHUM hadir sebagai tawaran unik di tengah lingkungan seperti itu,” terang Zacky Khairul-Umam, pendiri RUHUM dan sekaligus koordinator pada tahun pertama berdiri.

Sejak berdirinya pada 2013 RUHUM dicanangkan dengan misi sederhana sebagai komunitas kecil yang ingin mengembangkan kajian ilmiah dan menjembatani, jika memungkinkan, pendidikan Turki dan Indonesia kini dan esok. Komunitas ini berpusat di Istanbul.

“Pada diskusi perdana, yang hadir saya, Rusdi Abbas dan Syaroni Rofii. Meski tidak ada maksud lebih besar dari pendirian ini, beberapa organisasi menyebut politis, misalnya erat dengan NU. Padahal bukan, yang berdiskusi lintasgerakan. Misinya kecendekiaan dan 'kosmopolis' bermaksud sebagai wadah kebersamaan dalam upaya bersama bangun komunitas ilmiah,” pungkas Zacky, saat dihubungi TS di sela-sela kesibukannya menyelesaikan studi doktoralnya di Jerman (bje/ts).


Ikatan Keluarga Pondok Modern
Tahun Berdiri: 17 Juni 2012
Jenis komunitas:  Komunitas kekeluargaan antarpondok
Website/Blog: www.ikpmturki.com
[IKPM Turki. Foto Dok. Pribadi IKPM Turki
Salah satu komunitas masyarakat Indonesia yang ada di Turki adalah IKPM Turki (Ikatan Keluarga Pondok Modern). Nama komunitas ini tidak asing lagi bagi orang–orang di Indonesia karena IKPM adalah cabang dari Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) yang beranggotakan para alumni dan santri lembaga Pondok Modern Darussalam Gontor. IKPM berdiri sejak 17 Desember 1949, ketika Kongres Muslimin Indonesia di Yogyakarta.

Menurut situs resmi mereka, lembaga IKPM bertujuan untuk mempererat kekeluargaan dan membina persatuan ummat Islam; mempertinggi budi pekerti dan kecerdasan para anggota dalam rangka pengabdian kepada agama, bangsa, dan negara; Mengusahakan kesejahteraan para anggota dan turut serta bertanggung jawab atas kelangsungan Pondok Modern Darussalam Gontor dalam mencapai cita-cita menjunjung tinggi agama Islam, sesuai dengan Piagam Penyerahan Wakaf Pondok Modern Darussalam Gontor pada tanggal 28 R. Awwal 1378/12 Oktober 1958.

Di Turki, lembaga IKPM memiliki 13 orang anggota yang tersebar di berbagai kota di Turki. Kepengurusan organisasi ini di ketuai oleh Musin Abdul Hadi, mahasiswa jurusan teologi di Universitas 19 Mayis, Samsun. IKPM Turki didirikan oleh lima, antara lain Deden Mauli Darajat, (Mahasiswa S2, Departemen Jurnalistik di Anakara Univesitylo) dan Christian Kuswibowo (Mahasiswa S2, Departemen Administrasi Bisnis di Hecetepe University).

“IKPM itu intinya adalah ikatan keluargaan, bukan hanya yang menjadi alumni Gontor, tapi juga mereka yang nyantri di Pondok Pesantren yang didirikan oleh alumni Gontor juga,” ujar Hadi, ketua IKPM Turki ketika dıhubungi via WhatsApp.

Karena anggota  IKPM tersebar di banyak kota di Turki, mereka biasanya bersepakat untuk  bertemu di kota tertentu satu sampai dua kali dalam setahun. Perbincangan lainnya di lakukan lewat media sosial. Kota yang memiliki jumlah anggota IKPM Turki terbanyak adalah di Istanbul yaitu sebanyak lima mahasiswa.

“Misi kami adalah menerapkan nilai-nilai pondok yang sudah diajarkan tanpa mengurangi dan melupakannya dan visi kami adalah untuk membangun sebuah keluarga baru antaralumni pondok guna menjalin ukhwah dan uswah yang baik,” terang Hadi

Selain menjalin hubungan antarpondok, IKPM Turki juga memiliki karya tulis yang membahas masalah pendidikan dan menawarkan nasehat-nasehat akademis, beasiswa Turki, kajian keislaman, bahkan pengalaman dan kehidupan di Turki secara umum (nanda/ts). 


Ikatan Masyarakat Aceh-Turki
Tahun Berdiri: 15 Oktober 2011
Jenis komunitas: Komunitas kekeluargaan antarorang Aceh
[Kegiatan IKAMAT. Foto Dok. Pribadi IKAMAT]
Ikatan Masyarakat Aceh-Turki (IKAMAT) merupakan salah satu komunitas masyarakat Indonesia di Turki yang berdiri pada 15 Oktober 2011 di Istanbul. Menurut ketua IKAMAT Reza, IKAMAT mempunyai sekitar 130 anggota. Komunitas ini mempunyai visi mempererat persatuan dan tali silaturahmi masyarakat Aceh di Turki demi tercapainya kesatuan dalam berpikir dan berbuat untuk membangun Aceh yang lebih baik.

Salah satu misi IKAMAT adalah mengkoordinasi anggotanya dalam berbagai kegiatan akademis dan atau kegiatan sosial serta memberikan kontribusi berupa konsep dan pemikiran dalam percepatan pembangunan Aceh.

“IKAMAT mempunyai kegiatan reguler seperti diskusi, silaturahmi, pengajian serta duek pakat (rapat tahunan pemilihan ketua umum),” terang Reza ketika dihubungi tim TS.

Ketika ditanya tentang rencana komunitas IKAMAT ke depannya, Reza menjawab akan ada acara sosialisasi tentang Turki di Aceh. Semoga komunitas teman-teman Aceh di Turki terus aktif dan memberikan kontribusi untuk mengenalkan keberagaman Indonesia (hari/ts). 



Peluang dan Tantangan Studi S2 di Turki

00:59:00 2 Comments

Banyaknya latihan akan membuat kita terbiasa dalam menggunakan bahasa dan belajar di kelas

[Salah Satu Tradisi Perayaan Kelulusan di Turki dengan Plakat (Kritik, Protes, dll). Foto +Sözcü Gazetesi
Semoga artikel sederhana ini belum cukup terlambat untuk dibagikan. Selepas dua minggu tiba di tanah air, banyak dari teman-teman dan adik-adik yang menanyakan mengenai kuliah S2 di Turki terutama bagaimana proses belajar setelah diterima dan menghadapi kehidupan selama di kampus hingga kelulusan nanti. Saya tidak akan banyak membahas tentang teknis detail ataupun cara jitu bagaimana bisa sukses S2 di Turki namun saya hanya ingin berbagi cerita pengalaman sebagai (mantan) mahasiswa S2 yang Alhamdulillah telah lulus dengan Bahasa pengantar Bahasa Turki baik pelajaran maupun pengerjaan thesis pada bulan Juni kemarin dengan hasil yang memuaskan. Saya mencantumkan dua poin terlebih dahulu sebagai info awal untuk mengetahui kehidupan S2 di Turki.

S2 dapat ditempuh dalam berapa tahun di Turki dan bagaimana sistem penilaian secara umum?

Secara normal, S2 dapat diselesaikan dalam tempo 2 tahun dimana 1 tahun merupakan proses pembelajaran dalam kelas (coursework) dan setelahnya selama 1 tahun untuk pengerjaan thesis. Secara umum, terutama di kampus saya (Marmara University, Istanbul), nilai minimal untuk dapat lulus adalah “CC” (apabila dikonversi ke skala 100, range nilai berada pada kisaran 65-74).

Untuk lebih jelasnya, konversi nilai dalam skala 100: 90-100 = AA – 4.00; 85-89 = BA – 3.50; 80-84 = BB – 3.00. Sedangkan di bawah 80 mendapat nilai CB, CC, DC, dst. Namun, apabila mendapatkan CC – 2.00 dan merasa kurang puas, mahasiswa dapat mengulang di semester berikutnya untuk mendapatkan nilai minimal CB – 2.50.

Menurut saya, untuk mendapatkan nilai “AA” terutama dalam Bahasa Turki dibutuhkan kerja keras dan usaha ekstra di atas rata-rata. Belajar semalaman pun belum tentu bisa mendapatkan nilai sempurna ini (di atas 90). Hal sederhana yang dapat dilakukan adalah kenali dosen masing-masing dan cara mereka mengajar serta proses pemberian nilai. Ada dosen yang mengajar dengan metode diskusi, presentasi dan text book approach.

Bisa dibayangkan selepas TÖMER dengan bahasa Turki yang masih belum lancar, kita sudah dihadapkan pada kelas yang sangat dinamis di mana hanya kita sendiri sebagai orang asing. Kita tidak perlu pesimis dulu walau Bahasa Turki masih belum lancar. Banyaklah membaca dan praktek menulis. Alhamdulillah, dalam beberapa kesempatan, ada dosen yang memberikan nilai berdasarkan kehadiran, aktivitas selama di kelas dan tugas yang dikumpulkan. Jadi, walaupun dengan Bahasa Turki yang pas-pasan, kita juga sangat bisa untuk mendapatkan nilai “AA” ini. Semangat!

SKS yang harus “dihabiskan” (atau biasa disebut credit) adalah 60 credit. Contoh kasus, di kampus Marmara semester 1 harus menyelesaikan 6 mata kuliah dengan beban masing-masing 5 credit. (6 matkul x 5 credit = 30 credit semester). Selanjutnya semester 2 pun demikian. Cukup berat bagi mahasiswa S2 karena biasanya rerata per semester adalah 3-4 mata kuliah.

Kembali ke jangka waktu, banyak dari mahasiwa asing maupun Indonesia yang menambah waktu studi untuk pengerjaan thesis (termasuk saya) karena memang kesulitannya pun bermacam-macam. Contohnya, bahasa Turki yang digunakan dalam percakapan sehari-hari sangat berbeda dalam konteks akademik. Oleh karena itu, diperlukan proofreader (native orang Turki) yang membantu mengkoreksi hasil terjemahan. Pengalaman pribadi, saya membutuhkan waktu hingga 5 bulan untuk proses proofreading ini supaya layak diujikan dalam sidang thesis.

Apa yang perlu dipersiapkan dalam menghadapi kehidupan akademik S2 di Turki?

Menurut saya, yang perlu dipersiapkan adalah mental. Ya! Mental sebagai juara (winner). Pantang untuk kembali sebelum menang. Karena saya melihat, banyak awardee baik dari Indonesia maupun mancanegara yang pulang kampung sebelum lulus karena banyaknya kendala yang dihadapi, terutama Bahasa Turki! Bahasa Turki sebagai “momok” dan menjadikan kita kesulitan dalam menyelesaikan studi. Hal ini wajar namun bukan sebagai alasan untuk menyerah. Kita harus mengingat-mengingat motivasi dan resiko/tanggung jawab ketika menerima beasiswa. Banyak dari teman-teman dan beberapa orang yang menghubungi saya bertutur sudah kesekian kali mereka mencoba tapi tetap gagal, padahal seharusnya bersyukur bahwa kita bisa mendapatkan kesempatan yang tidak banyak orang bisa dapat. Untuk cara mensiasatinya adalah tekun dan bersungguh-sungguh ketika masa TÖMER (pengajaran bahasa Turki selama 1 tahun sebelum masuk universitas) dan perbanyak latihan terutama menulis!

Kedua adalah latihan sebagaimana quote terkenal “practice makes perfect!” Banyaknya latihan akan membuat kita terbiasa dalam menggunakan bahasa dan belajar di kelas. Pergaulan dengan orang lokal pun sedikit banyak membantu kita memperlancar bahasa itu sendiri.

Ketiga adalah diskusi dan berkenalan dengan orang-orang penting/inspiratif sehingga kita dapat termotivasi dan mendapatkan banyak pelajaran dari pengalaman para pendahulu. Hal ini yang banyak saya lakukan terutama dengan orang asing sehingga saya mendapatkan insight dan ide baru terutama dalam menulis. Selain mendapatkan teman, saya juga banyak termotivasi untuk menyelesaikan studi.

Terakhir, banyak-banyaklah membuat atau mengerjakan produk ilmiah sebagai mahasiswa S2. Publikasi paper/makalah dalam bahasa Inggris atau Turki akan membentuk pola pikir dan pemahaman yang baik sebagai seorang mahasiswa. Sebagai orang sosial, maka interaksi dan dinamika sosial sangat menarik untuk disajikan dalam bentuk makalah dan dipresentasikan di simposium atau konferensi internasional. Selain mendapatkan feedback atas hasil riset yang kita kerjakan, kita juga dapat membuka network baru dengan orang-orang yang berbeda latar belakang maupun pekerjaan. Selain itu, peluang pun dapat mengalir kepada kita.

Sebenarnya banyak cerita dan hal lain mengenai kehidupan S2 di Turki. Namun, bagus untuk disampaikan secara bertahap. Artikel di atas murni sebagai pandangan saya sebagai lulusan jenjang S2 di Turki. Harapannya, semoga dapat memberikan pencerahan kepada rekan-rekan yang sedang studi dan awardees yang akan melanjutkan kuliah S2 di Turki.

Sukses selalu untuk kita semua.

Bandar Lampung, Indonesia, 14 Agustus 2016


Arif Darmawan
Mahasiswa asal Lampung. Menamatkan studi S1 di UNS Solo dan S2 di Marmara University untuk jurusan Ekonomi Pembangunan spesialisasi Ekonomi Turki, lulus tahun 2016. Ingin berkontribusi dalam bidang riset dan pengajaran di kampus. Email: arifmawan.idn@aol.com dan Instagram: arifmawan.

Belajar Redenominasi dari Turki

02:08:00 Add Comment

Redenominasi di Turki diumumkan di surat kabar resmi pada tanggal 31 Januari 2004 dan dijalankan sejak 1 Januari 2005

[Uang Lira sebelum Redenominasi. Foto memurlar.net]
Kata redenominasi mungkin sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia. Redenominasi adalah istilah untuk penyederhanaan pecahan mata uang menjadi pecahan lebih sedikit dengan cara mengurangi digit 0 (angka nol) tanpa mengurangi nilai mata uang tersebut.

Sebenarnya wacana untuk melakukan redenominasi terhadap mata uang Rupiah sudah muncul sejak beberapa tahun yang lalu, khususnya ketika Bapak Susilo Bambang Yudhoyono masih menjabat sebagai presiden Republik Indonesia. Tetapi sampai sekarang wacana tersebut masih belum dapat terealisasikan.

Ada beberapa negara yang sudah melakukan redenominasi terhadap mata uang negaranya. Dalam pelaksanaannya ada beberapa negara yang berhasil maupun gagal dalam melakukan redenominasi. Salah satu negara yang sukses melakukan redenominasi adalah Republik Turki. Negara yang beribu kota di Ankara ini berhasil melakukan redenominasi dengan cara melakukan pengurangan 6 digit terhadap mata uangnya Lira. Sebagai contoh pecahan yang dulunya 1 juta Turkish Lira (TL) menjadi hanya 1 Lira saja.

Redenominasi di Turki diumumkan di surat kabar resmi pada tanggal 31 Januari 2004 dan dijalankan sejak 1 Januari 2005. Pemerintah memilih awal tahun untuk mempermudah pencatatan dan pembukuan keuangan negara.

Redenominasi di Turki sendiri dilakukan dalam 2 tahap. Pertama adalah pembubuhan kata yeni (baru) pada uang cetakan baru. Perlu diketahui, setelah Republik Turki dibentuk pada tanggal 29 Oktober 1923 Turki sudah melakukan 9 kali penerbitan uang baru dan uang yang dipakai saat ini adalah terbitan ke-9. Mata uang terbitan ke-8 adalah terbitan pertama setelah Lira menjadi Yeni Lira (Lira Baru). Kedua yaitu dimulai dari 1 Januari 2009 tahap di mana kata yeni dihapus dan nama Lira kembali dipakai seperti saat sebelum redenominasi.
[Uang Lira Sekarang. Foto +TRT Haber]
Negara yang beribu kota di Ankara ini berhasil melakukan redenominasi dengan cara melakukan pengurangan 6 digit terhadap mata uangnya Lira. Sebagai contoh pecahan yang dulunya 1 juta Turkish Lira (TL) menjadi hanya 1 Lira saja.

Inflasi yang terus melambung tinggi merupakan salah satu penyebab utama redenominasi sangat diperlukan oleh negara yang diapit benua Asia dan Eropa ini. Inflasi juga mengakibatkan Türkiye Merkez Bankası (Bank Sentral Turki) menerbitkan mata uang baru yang pecahannya terus membesar sejak era 80-an. Bahkan Turki pernah memiliki pecahan mata uang 20 juta Lira sebelum redenominasi. Pecahan dengan digit yang besar tersebut menimbulkan masalah khususnya dalam bidang akuntasi, statistik maupun jual-beli barang.

Menurut salah satu Profesor di Bogazici University Prof. Dr. Burak Saltoğlu, redenominasi di Turki yang pada awalnya banyak diragukan keberhasilannya oleh beberapa pengamat—karena dianggap beresiko setelah Turki baru keluar dari krisis ekonomi tahun 2001—merupakan salah satu keberhasilan yang patut diacungi jempol. Menurut beliau investor asing tidak terlalu menaruh harapan besar terhadap negara yang mempunyai mata uang berpecahan terlalu besar. Mengurangnya ketidakpastian inflasi dan bertambahnya kredibilitas kebijakan moneter yang didorong stabilisasi harga dan pertumbuhan ekonomi menjadi kunci utama keberhasilan redenominasi di Turki.

Redenominasi di Turki mendapat tanggapan beragam dari masyarakat Turki sendiri. Sebagian masyarakat Turki khususnya yang berprofesi sebagai pedagang ataupun yang berusia lanjut masih belum dapat beradaptasi dengan pengurangan 6 angka nol terhadap mata uang negara mereka. Masih ada yang menyebut mata uang yang lama saat transaksi jual beli khususnya di pasar tradisional yang ada di negara tersebut. Jadi jangan heran jika belanja di pasar kita masih mendengar beberapa pedagang meneriakkan angka jutaan untuk 1 kilogram tomat misalnya. Sementara bagi generasi muda redenominasi membuat mata uang negaranya menjadi lebih berharga dan sudah terbiasa dengan mata uang yang baru.

Akhirnya, kita perlu terus mendukung rencana redenominasi pemerintah kita. Wacana pengurangan 3 digit angka memang masih terdengar samar-samar di negara kita. Walaupun memang menurut Bank Indonesia membutuhkan waktu yang tidak lama, redenominasi bukan tidak mungkin bisa diterapkan di negara kita tercinta. Mungkin kalau memang akan diterapkan di Indonesia, kita bisa belajar dari negara-negara yang sukses melakukan redenominasi seperti Turki.

Apakah kita tidak ingin jika mata uang Rupiah menjadi lebih berharga dan tidak diremehkan oleh negara lain lagi?


Teuku Ghalib Muadzan
Mahasiswa asal Aceh dan mengambil studi S1 Administrasi Bisnis di Selçuk University, Konya. Kiper Nasional Indonesia di Konya dan hobi travelling.