Catatan

Sastra

Wacana

Tulisan Terhangat

Setangkai Mawar di Süleymaniye

08:00:00 Add Comment

Masjid Süleymaniye ternyata menyimpan luka dan kesedihan

[Kompleks Masjid Suleymaniye Istanbul. Foto: Koleksi Tim TS]
“Karena Süleyman  Khan adalah penakluk tujuh iklim, namanya disebut tidak hanya di sini (di Masjid Süleymaniye), tetapi di (....) khutbah Jumat. Dan di semua wilayah-wilayah Islam , tidak ada bangunan yang lebih kuat dan lebih solid daripada Süleymaniye.  Seluruh arsitek setuju mengenai ini dan juga di mana pun tidak ada kubah ber-enamel (ditutupi ornamen/hiasan) seperti ini.”
--Evliya Çelebi dalam buku Seyahatname

Siapa pun yang pernah datang ke Istanbul, lalu menjenguk kompleks Süleymaniye, hampir pasti tidak akan pernah membantah pernyataan Evliya Çelebi  di atas, yang ditulis pada abad ke-17. Sejauh mata memandang, Masjid Süleymaniye merupakan sebuah perayaan besar atas periode agung kekuasaan Sultan Süleyman al-Kanuni, atau yang oleh catatan Venezia disebut sebagai Sultan Süleyman Yang Megah (The Magnificient).

Para sejarawan menganggap bahwa periode kekuasaan Sultan Süleyman (1520-1566), sebagai abad kemegahan, abad kejayaan dan abad keemasan dari dinasti Usmani yang dibangun di akhir abad pertengahan. Bahkan Sultan Süleyman pun kerap dianggap sebagai Imam Mahdi, yakni juru selamat.

Siapa yang menyangka jika periode kebesaran Sultan Süleyman yang ditunjukkan oleh kemegahan arsitektur kompleks Masjid Süleymaniye ternyata menyimpan luka dan kesedihan. Ada luka, di balik kemegahan. ‘Luka’ itu tak akan terasa jika kita berada di dalam masjid, namun akan terasa jika kita memasuki kompleks makam Masjid Süleymaniye, tepat berada di samping masjid.

Di sana dimakamkan banyak pembesar Usmani, para pejabat, ulama, serta keluarga-keluarganya. Tentu saja terdapat makam Sultan Süleyman, dan isterinya, Hurrem. Di situ kesedihan bersemayam, di antara nisan-nisan indah.
Displaying Ornamen Mawar Patah pada makam Fatma Hanim_foto pribadi.jpg
[Makam Fatma Serif Hanim. Foto: Penulis]
Sebuah makam begitu memukau, dengan keindahan ornamen dan batu nisannya. Batu nisan makam tersebut nampak menggambarkan seperti seorang gadis berhijab, namun di sisi lain dari nisan terdapat sebuah ukiran mawar yang patah. Penulis sempat menyalin tulisan Osmanlıca (Bahasa Turki Usmani) yang menjelaskan siapakah gerangan yang bersemayam di sana. Berikut salinannya:

Kabir (....) merhum Abdullah Galib Paşa hafidesi ve Selanik Şark’tan  Mustafa Fevzi Bey’in on yedi yaşında iken vefat eden (.....) Fatma Şerif Hanım’ın kabiridir. Ani zamir şu taş’ın (....) yatan (....) kebiirin an ve afif (....) (....) ve en güzellerinden biri idi (....) ecl on yedi yaşında su toprağa serdi yegane emel olduğu ailesinin kalibina  (....)-den mevt’un henüz (....) iken kopardığı  bu (....) çiçeğin  (....) ve malumat (...) mümtaz hasan akhlaq ve namus’a misal idi ruh ma’sumun içun fatiha (13 Kanunsani 1325).

Menurut interpretasi penulis, ini adalah sebuah makam dari seorang gadis belia bernama Fatma Şerif Hanım, cucu dari Abdullah Galib Paşa, kemungkinan besar keluarga Fatma berasal dari Salonika Timur.  Namun malang sungguh, Fatma harus meninggal di usianya yang sangat masih belia, yaitu 17 tahun. Penulis belum mengetahui apa yang menyebabkan Fatma begitu cepat dipanggil oleh Allah swt, namun dari epigrafi pada batu nisannya terlihat keluarga begitu bersedih atas kepergian Fatma yang masih belia.

Di situ tertulis “ini merupakan batu (nisan) terindah, dia (Fatma) sudah ditinggalkan di tanah dalam kedinginan dan kesendirian”. Untuk itu keluarga memesan batu nisan dengan lambang sebuah ukiran mawar yang patah untuk menyimbolkan bahwa Fatma adalah perempuan yang baru saja tumbuh sebagai gadis yang cantik tetapi Allah swt sudah ‘memetiknya’ dari dunia yang fana ini di usianya yang sangat belia. Mengapa kematian yang menyedihkan justru dirayakan oleh seni batu nisan yang begitu indah dan megah?

Dalam kebudayaan Ottoman dan Turki, batu nisan bukan hanya menunjukkan kematian, tetapi juga menunjukkan sebuah kehidupan. Kematian dan kehidupan bersatu dengan damai di tengah-tengah kota Istanbul. Bahkan seorang arkeolog Jerman mengatakan “ Bagi orang Turki, tidak ada yang dicintai daripada kuburan”.

Hingga kini di Istanbul kita dapat menyaksikan kompleks-kompleks pemakaman kuna seperti di Karacaahmet Üsküdar dan di kompleks Eyüp Sultan. Dan orang-orang Turki tampak tak segan untuk beraktifitas dan bersosialisasi dekat dengan kuburan-kuburan tersebut.Terkadang banyak restoran-restoran dan kafe, di kawasan wisata Istanbul, berada berdekatan dengan kuburan. Tak ada masalah dengan yang sudah tiada.
Displaying Pemakaman di kompleks Kucuk Ayasofya Istanbul_foto pribadi.jpg
[Permakaman di Kompleks Kucuk Ayasofya Camii. Foto: Penulis]
Kesenian batu nisan pada zaman Usmani, merupakan warisan dari kebudayaan Turki pra-Islam di mana corak antropomorfik. Hal ini diperlihatkan pada bentuk-bentuk batu nisan yang menyerupai tubuh manusia, khususnya makam lelaki. Biasanya pada makam lelaki terlihat seperti manusia sedang memakai sorban atau Fez. Sementara pada makam perempuan lebih banyak dihias dengan motif bunga-bunga.  Bagaimanapun bagi, orang Turki, kematian, kehidupan, kesedihan, seni dan keindahan adalah hal-hal yang tak dapat terpisah.
Ah mine’l-Mevt! Fena’dan Bakaya eyledi rihlet’


Frial Ramadhan
Penulis adalah Alumni S2 Ilmu Sejarah di Universitas Istanbul, Turki. Menekuti dan meneliti kajian-kajian sejarah Usmani.

Musim Dingin di Laut Tengah

19:00:00 Add Comment

Masyarakat pedesaan Turki selalu menghadapi musim dingin dengan penuh persiapan


 
[Ilustrasi dongeng Ağustos Böceği dan Semut. Foto: http://www.zamanvadisi.com]

Setiap anak SD di Turki pasti mengenal kisah “Ağustos Böceği ile Karınca”. Alkisah ada seekor jangkrik (Ağustos böceği, bahasa Inggris: Cicada) yang sepanjang musim panas kerjanya hanyalah bersenang-senang menabuh alat musik sambil bernyanyi. Sementara semut (karınca) dan keluarganya di saat yang sama bahu membahu mengumpulkan makanan untuk persediaan musim dingin. 

Singkat cerita, musim dingin yang membekukan jiwa raga pun akhirnya tiba, Ağustos böceği merasa dingin dan lapar, sadar tak punya persediaan makanan, ia pun dengan malu mengetuk pintu keluarga Karınca untuk meminta belas kasih. Berhikmah kepada cerita Ağustos Böceği dan Karınca, masyarakat pedesaan Turki selalu menghadapi musim dingin dengan penuh persiapan. Bukan seperti penduduk perkotaan semacam Istanbul yang cukup berbekal uang, apapun bisa dibeli.

Di desa, keperluan hidup terutama makanan harus diproduksi sendiri. Selain karena tempat membeli kebutuhan cukup jauh dari rumah, penduduk desa juga sudah terbiasa swasembada, ada semacam kebanggaan memproduksi kebutuhan hidupnya secara mandiri. Bahkan penduduk desa mampu men-supply anak-cucunya yang hidup di kota, dengan bahan makanan yang mereka produksi itu.

Makanan kering dan makanan yang diawetkan selalu dibuat dan disimpan dengan seksama di kamar penyimpanan. Demikian juga kayu bakar untuk tungku penghangat wajib diperbaharui stoknya ketika musim panas mulai berakhir.
Saya melihat sendiri keseharian masyarakat desa Çakallar Köyü, Kotamadya Alanya, Provinsi Antalya. Tangan-tangan kaum wanitanya tidak pernah berhenti bekerja. Sepulang bekerja dari ladang, ada saja pekerjaan yang digarapnya, dari mulai mengupas kacang sampai mengawetkan daun anggur untuk persediaan yaprak sarma (condiment dari daun anggur yang diisi beras berbumbu dan kemudian direbus).
Hasil Kebun yang Diawetkan

[Membelah cabai untuk kemudian dikeringkan dan dijadikan bahan biber salçası. Foto: Pribadi]
Segala macam hasil kebun sayur dan buah-buahan tak pernah dibiarkan membusuk lalu mubazir. Kol, wortel, cabe, semua diawetkan menjadi acar. Jeruk, tin, ayva (bhs. Inggris: quince), strawberry, dijadikan selai. Tak ketinggalan terong, cabe paprika besar, dikeringkan untuk nanti diisi dengan beras berbumbu guna dijadikan masakan dolma biber dan patlıcan dolması. Paprika besar, daun mint, oregano dan basil juga dikeringkan dan dihaluskan untuk bumbu masak.
Tomat dibuat pasta tomat, disebut salça, bumbu masak dasar untuk semua masakan Turki. Pernah menyantap İskender kebab? Saus merah diatasnya itu adalah salça. Cabe paprika merah juga diolah menjadi salça cabe, alias biber salçası.  Kacang Almond dikumpulkan dan dikeluarkan dari kulit kerasnya. Demikian juga walnut. Kacang hazelnut yang mashur sebagai campuran Nutella itu sayangnya hanya ada di daerah Laut Hitam.  
Buah tin dikeringkan, disebut gebik. Cara memakannya adalah, selembar buah tin kering diisi kacang almond, dimakan bersamaan. Enak sekali disantap sembari menonton televisi dan minum teh di hari-hari dingin berangin kencang.
Jangan lupakan zaitun, yang sangat penting kedudukannya baik sebagai minyak maupun buah zaitun yang sudah digarami dan siap menemani sarapan setiap pagi. Setiap penduduk rata-rata memiliki kebun zaitun dan kebutuhan mereka akan minyak terpenuhi dari situ. Sangat jarang mereka mengkonsumsi minyak jagung yang dijual massal di pasar dan toko-toko. Setiap keluarga juga memiliki metode pembuatan acar zaitun sendiri-sendiri yang mereka banggakan.

Bawang Bombay dan Kentang yang Esensial 


Tiada masakan tanpa bawang bombay. Demikian juga tiada sarapan tanpa kentang goreng ataupun kentang rebus yang disajikan sebagai salad kentang. Kentang juga setia hadir di menu makanan utama dalam bentuk kentang pure, kentang dioven bersama ayam, sebagai pendamping köfte, dan entah apa lagi. Pendek kata, bawang dan kentang wajib hukumnya selalu ada di dapur keluarga. Seorang ibu rumah tangga bisa gundah gulana ketika kehabisan bawang bombay dan kentang. Oleh karenanya, di kamar penyimpanan makanan penduduk kampung laut Tengah selalu tersedia satu keranjang besar kentang dan bawang bombay hasil panen sendiri.
Memperbarui Simpanan Kayu Bakar dan Menyalakan Soba

[Soba di dataran tinggi Yayla. Foto: onedio.com]
Ketika sudah masuk bulan Oktober, hawa menjadi semakin dingin dan berangin kencang. Penduduk mulai mengumpulkan kozalak, yaitu bunga pinus, yang berguna sebagai bahan bakar semaver, alat pemasak teh bertungku mandiri.
Di suatu hari tertentu, anak beranak biasanya mengendarai mobil truk kecil yang disebut kamyonet, lengkap dengan alat-alat untuk menebang pohon. Tujuannya ke ladang sendiri, memotong ranting-ranting pohon, perdu yang batangnya keras, dan bahkan menebang pohon milik sendiri yang sudah tidak produktif.
Semua diangkut ke dalam bak kamyonet dan mungkin masih ditambah perjalanan menyusuri hutan pinus untuk memungut ranting dan atau membeli kayu bakar yang dijual oleh Departemen Kehutanan, yang biasanya disusun di pinggir jalan. Menebang pohon di hutan hukumnya yasak alias terlarang. Tapi Departemen Kehutanan memiliki penjualan sendiri untuk kayu bakar ke masyarakat. Kayu bakar ini disebut odun.
Sangat penting memiliki stok kayu bakar kering yang cukup guna menghadapi musim dingin. Karena menyalakan pemanas listrik tidaklah cukup untuk menghangatkan seluruh rumah. Terlebih pemanas ruangan yang disebut soba itu, juga bisa dipakai sebagai tungku memasak sekaligus oven juga untuk mematangkan masakan, memanggang kue, memanggang terong, cabe, dan kacang kestane (chestnut).
Setelah stok kayu bakar menumpuk manis di ahır (gudang/kandang keledai), maka soba pun mulai di install. Soba terdiri dari soba itu sendiri dan pipa-pipa penyalur asapnya yang kemudian dihubungkan ke sebuah lubang di dinding yang terhubung ke cerobong asap di atap (baza)untuk pembuangan asap sisa pembakarannya
Soba tidak dipasang sepanjang tahun, kira-kira hawa sudah menghangat, biasanya diakhir maret, soba dilepas dan dicuci kemudian dibungkus lagi dengan plastik tebal dan disimpan di sebuah sudut di ahır atau di kamar sepen, berkawan dengan keranjang kentang di sudut yang lain.
Bersih-bersih rumah dilakukan secara marathon, dengan mengangkat karpet dan mencucinya di ırmak (lubuk sungai), diangkut dengan kamyonet. Capek? Tentu saja, tapi jangan lupakan bersenang-senangnya juga, mandi-mandi di ırmak dan mangal (barbeque) sambil menunggu karpet kering di bebatuan. Ah, orang desa memang tak pernah absen dari keriaan sederhana yang paket lengkap, Mereka bisa gembira dengan hal-hal yang sederhana nan hemat.
Selanjutnya usta (ahli) cat juga dipanggil untuk mengecat ulang interior rumah yang menjadi kusam akibat asap soba yang tak ayal ada yang lolos diseputar pipa soba.
Membuat Persediaan Roti
[Membuat ekmek atau roti. Foto: Pribadi]
Makanan pokok mereka, roti, yang disebut ekmek, diproduksi sendiri pula. Rotinya bukan seperti roti buatan bakery, namun berbentuk lembaran yang sangat lebar dan sangat tipis, dibuat diatas wajan cekung yang disebut saç. Ekmek ini bisa disebut yufka juga. Namun bedanya ekmek orang Laut tengah ini dibuat kering dan crispy, bukan lembut dan lentur seperti yufka yang dijual di toko.
Pembuatannya sendiri sangat khas dan boleh dibilang festive sekali. Hari pembuatan ekmek tidak boleh bentrok dengan tetangga, berhubung tenaga tetangga juga diperlukan untuk membantu. Jadi biasanya saling janjian hari apa di si anu membuat ekmek.
Sebelumnya tepungnya harus siap dulu. Bisa 10 kg atau lebih sekali membuat. Tepung ini juga tidak didapat dari membeli di toko, melainkan dari gandum yang di panen di ladang sendiri, dan dikonvesi menjadi tepung di değirmen alias penggilingan tepung.
Bahan bakunya hanya tepung, garam, dan air. Itu saja. Tentunya sejumlah baskom plastik besar, dan tenaga yang kuat untuk menguleni sekian puluh kilo tepung. Gelin alias menantu perempuan biasanya yang bertugas menguleni. Gelin yang lain, kalau ada, akan menyalakan api unggun di luar rumah. Biasanya tempat membuat ekmek berupa patio yang sekelilingnya terbuka atau berdinding setengah. Jika hawa sudah masuk musim dingin, harus ditutup rapat dari arah angin bertiup karena akan mengganggu stabilnya api.
Adonan akan diistirahatkan sambil menyiapkan apa-apa yang perlu di sekeliling api unggun, yaitu yang pertama karpet tua untuk alas duduk para wanita selagi bekerja. Lalu dingklik untuk yang bertugas menjaga api sambil membalik adonan di wajan kwalik. Selanjutnya berbagai meja bulat kecil untuk menggiling adonan, penggilas adonan, sac alias wajan kwalik, secukupnya kayu bakar, semaver, yaitu alat untuk memasak teh dengan bahan bakar bunga pinus, plus tehnya, teko teh, gula, gelas-gelas, sendok, pisau, oven tray bulat besar,minyak zaitun, bawang Bombay, herba daun seperti mint, parsley, tomat, cabe. Lho untuk apa? Untuk treat sehabis membuat ekmek. Wow, semakin penasaran, kan?
Kerabat dan tetangga sekitar pukul 8 pagi akan datang memakai celemek masing-masing dan baju yang sudah tua, karena niatnya mau berkotor-kotor dengan adonan tepung. Langsung ke saung TKP, çardak dalam bahasa Turki,  dimana api unggun sudah menyala berkat sepotong besar kayu yang dikelilingi ranting-ranting kering. Perlu dua orang wanita untuk mengangkat  baskom raksasa berisi adonan ke lokasi.
Semua mengambil posisi sesuai keahliannya. Pekerjaan membuat ekmek ini adalah contoh kerja estafet yang mumpuni. Satu orang bersiap di dingklik dekat api, di tangannya ada ranting kecil untuk membalik roti. Satu orang membulat-bulatkan adonan, satu orang mengambil satu bulatan dan ditabur tepung diatasnya, lalu menggilasnya berkali-kali hingga ketipisan tertentu.
Adonan yang sudah tipis dioper ke orang yang lain untuk ditipiskan lebih lanjut hingga transparan tapi tidak sobek, akhirnya orang ini dengan keahlian yang teruji menempatkan adonan supertipis ini di wajan kwalik. Executioner disamping wajan akan mematangkan si adonan tipis secara merata dan membaliknya sekali, lalu meletakkannya di nampan besar.
Demikian seterusnya hingga ekmek terbentuk menjadi stack yang meninggi. Oh ya jangan lupa, semua kegiatan ini berlangsung dibumbui obrolan ringan nan renyah tiada henti, tanpa mengurangi kecepatan kerja tangan mereka yang sudah tingkat ahli.
Ekmek yang sudah meninggi akan diangkut ke dapur, ditempatkan dalam lemari khusus, ekmek dolabı, yang pintunya dari kawat halus. Gunanya supaya ekmek tidak lembab sehingga tetap awet.
Cara makannya bagaimana? Kan kering kerontang? Oh gampang saja, letakkan kain yang disebut sofra,  lalu selembar ekmek, ciprati air minum secara merata, lalu letakkan selembar lagi dan ciprati lagi, biasanya maksimal 4 lembar dalam satu sofra. Lalu sofra ditutup dengan cara mengumpulkan keempat  sisinya. Ekmek dalam keadan sudah diciprati air didiamkan selama 15 menitan.
Ketika sofra dibuka, ekmek sudah lentur dan lembut, siap dikonsumsi, tinggal dilipat saja dan dimasukkan ke dalam wadah bertutup yang disebut ekmek tenceresi. Rasanya? Bilenler bilir, katanya, artinya yang pernah merasakannya pasti tahu, enaknya ekmek dimakan dengan lauk pauk terutama kavurma alias daging oseng-oseng.
Lho mana feast-nya? Tenang, begitu adonan habis, biasanya tidak sampai pukul 11 pagi adonan sudah habis kok, maklum dikeroyok rame-rame. Sisa adonan akan dibuat börek, itu lho makanan khas Turki. Ah, tidak hanya Turki, daerah Balkan semua mengklaim Börek sebagai makanan khas-nya.
Pertama, isian böreknya harus diracik dulu. Bawang Bombay diiris halus dan ditumis sebentar, lalu dicampur irisan parsley, mint, dan keju putih buatan rumah. Lalu untuk kulit böreknya, sisa adonan digiling tipis, tapi tidak dimasak di wajan kwalik, melainkan diletakkan di oven tray bulat yang sudah di ulas minyak zaitun. Setiap lapisan ditaburi bahan isian, demikian seterusnya hingga 5 lapis. Lapisan teratas harus bahan kulit lagi, yang lalu dipulas dengan minyak zaitun lagi. Oven tray ini lalu di tutup dengan oven tray lain yang berukuran sedikit lebih besar, jadi pas menutup. 

Setelah itu masuk oven? Oh, tidak, letakkan saja diatas bara api yang diserok dari dalam tunggku bekas memasak ekmek. Lalu sebagian bara api diletakkan diatas oven tray yang dijadikan tutup tadi. Prinsipnya jadi  seperti oven dengan api atas-bawah. Tentu saja kondisi bara api harus dijaga supaya börek matang sempurna.
[Semaver atau alat pemasak çay. Foto: Pribadi]
Sementara itu teh alias çay dimasak di semaver. Prinsip semaver adalah memasak air panas. Sedangkan teh pekat-nya (demlik) diletakkan diatas “panci” air panas-nya itu.  Semaver memiliki keran yang bisa diputar untuk mengeluarkan air panasnya.
Selama teh dimasak dan menunggu börek matang, tepsi alias baki besar untuk sajian pesta kita pun dipersiapkan. Gelas-gelas teh disusun dengan sendok teh di dalam gelas, gula teh dalam mangkok kecil, zaitun, irisan tomat, timun dan cabe segar serta lemon. Ketika aroma bawang sudah menguar dari oven jadi-jadian itu, seseorang akan memeriksa kematangan börek, dan kalau sudah dinyatakan matang atas-bawah, semua orang akan dipanggil termasuk kaum pria dan anak-anak. Yang kebetulan lewat juga jika berkenan bisa mencicipi 1 atau 2 potong börek renyah nan gurih ditemani segelas çay fresh from the semaver.
Asyik, ya! Itulah work hard-play hard a la masyarakat pedesaan Turki di Laut Tengah. Mereka bisa tetap bahagia dan merasa cukup tanpa adanya wifi kencang ataupun netflix.
Mandiri dan Tidak Tergantung dengan Toko
Pendek kata, masyarakat pedesaan Turki sangat berpantang dengan keadaan yang dinamakan “muhtaç” alias tergantung. Dalam artian tergantung kepada supply dari luar. Sedapat mungkin memproduksi apa-apa sendiri. Makanya tak heran hampir tidak ada toko di desa. Hanya ada satu atau dua dengan keadaan memprihatinkan, miskin barang jualan.
Lantas jika perlu sesuatu barang yang tidak bisa diproduksi sendiri darimana mereka mendapatkannya? itu bukanlah hal yang sulit. Toko berjalan, alias mobil van yang disulap menjadi toko, setia menyambangi dengan jadwal tertentu. Lengkap dengan speakernya untuk woro-woro.
Barang kebutuhan pecah-belah, tekstil, ikan, sayur-mayur, bakliyat (bebijian dan kacang-kacangan), kuruyemiş (buah-buah kering dan kacang-kacangan peneman minum teh) tak pernah absen. Untuk itu warung lokal susah bersaing. Karena mobil-mobil ini setia mengunjungi dan sabar memberi utangan. 

Maka tulisan ini saya tutup dengan sebuah pepatah: “karıncadan ibret al, yazdan kışı karşılar”, yang artinya sama saja dengan “berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian”.

Lia Yulianti
Salah satu anggota redaksi Turkish Spirit ini akrab disapa “Lia” atau “Teteh Lia”. Menekuni pekerjaan paruh waktu sebagai penerjemah untuk pariwisata. Menulis buku Best of Turki (Elex Media Komputindo, 2014) bersama sabahabatnya, Dian Akbas. Salah satu tulisannya terangkum dalam buku Kumpulan Cerpen Bilik Sastra Jilid 3 (RRI World Service-Voice of Indonesia, 2014). Korespondensi bisa melalui email: lia_oke2001@hotmail.com.

Nasionalisme Peraih Nobel Aziz Sancar

10:26:00 2 Comments

Rasa nasionalismenya juga ditunjukkan dengan memberikan medali nobelnya kepada Anıtkabir, museum dan makam Mustafa Kemal Ataturk

[Presiden Erdogan Menyerahkan Bendera Turki kepada Aziz Snacar. Foto ntv.com.tr]
Sebuah kejanggalan jika media online sekelas Turkish Spirit (TS) yang sering mengulik cerita-cerita tentang seluk beluk Turki dengan renyah tidak atau belum pernah membahas Aziz Sancar. Dia adalah sosok yang sempat menghebohkan dunia akademik dan media-media Turki di akhir tahun 2015. Dengan alasan demi melengkapi sumber bacaan bagi TSers untuk bidang ilmu pengetahuan itulah artikel ini dibuat.

Saya pertama kali mendengar namanya di dalam kelas jauh hari sebelum kehebohan itu muncul. Saat itu dosen kami menerangkan bagaimana sel-sel dalam tubuh kita merawat unsur (ter)penting makhluk hidup yaitu DNA dari damage atau kerusakan-kerusakan yang bisa terjadi kapan saja. Kemudian dengan muka berbinar, dosen saya menuliskan nama Aziz Sancar dengan ukuran besar di papan, sembari mengatakan bahwa dia adalah salah satu tokoh penting di balik penemuan bagaimana molekul bernama DNA itu tetap terjaga dengan baik di dalam sebuah sel.

Tanggal 10 Desember 2015 saya sedang berada di lab untuk menyelesaikan tugas projek akhir. Tiba-tiba saja seorang kolega kami berteriak girang mendapati kabar bahwa Raja Swedia XVI, Carl Gustaf, menganugerahkan Hadiah Nobel di bidang kimia kepada Aziz Sancar atas jasanya menemukan mekanisme perbaikan DNA di dalam sel. Kabar ini menghebohkan seantero Turki, terlebih kampus kami. Pasalnya salah seorang dosen kami merupakan murid langsung dari Aziz Sancar yang pernah bekerja langsung di bawah bimbingannya ketika di Amerika. Sehingga pelajaran yang diampunya pun menjadi keteteran, karena beliau harus melayani berbagai permintaan dari media.

Lantas siapakah Aziz Sancar dan mengapa penganugerahan nobelnya menjadi sangat viral sekaligus membanggakan di Turki?

Aziz Sancar lahir pada tahun 1946 di Savur, sebuah kota kecil di distrik Mardin, Turki bagian Tenggara. Terlahir dari keluarga petani sederhana, Aziz Sancar merupakan anak ketujuh dari delapan bersaudara. Masa kecilnya dihabiskan di sebuah lembah belakang rumahnya dengan membantu sang ayah merawat kebun dan peternakan kecil. Itulah harta berharga keluarga Sancar yang memberikan penghidupan sepanjang tahun.

Aziz Sancar kecil mendapat pendidikan pertama dari ayah-ibunya. Dia mewarisi semangat kerja keras dari ayahnya. Sedangkan ibunya yang merupakan anak dari seorang imam masjid, mengajarkan Aziz kecil tentang nilai-nilai Islam dan nasionalisme. Meskipun tuna aksara, sang ibu yang sangat mengidolakan Mustafa Kemal Ataturk tersebut mempunyai tekad baja agar semua anaknya mengenyam pendidikan setinggi-tingginya. Aziz Sancar juga mencintai sepak bola. Dia berada di posisi penjaga gawang ketika mewakili tim kesebelasan SMA-nya di Mardin Lisesi. Aziz menjadi pemain yang cemerlang hingga sempat didorong untuk mengikuti seleksi regional timnas U18.

Meskipun akhirnya dia memilih jalan akademis, kecintaannya pada sepak bola tidak hilang begitu saja. Hal ini terbukti saat Aziz Sancar diundang memberikan ceramah di kampus kami. Ketika ditanya tentang apakah di usianya yang sekarang dia masih menyukai bola, Aziz mengeluarkan sebuah kartu dari dalam dompetnya dan menunjukkannya kepada seluruh hadirin yang diikuti riuh tepuk tangan. Aziz mengeluarkan kartu keanggotaan tim kesebelasan yang bermarkas Istanbul: Galatasaray.

Setelah menyelesaikan studi dasar dan menengah, Aziz Sancar berhijrah ke Istanbul untuk melanjutkan pendidikan dokter di Universitas Istanbul. Lulus sebagai dokter, dia kembali ke kota Savur dan mengabdi di sana. Dia juga sering berkeliling ke berbagai kota serta daerah-daerah terpencil di sekitar Mardin karena dokter pada saat itu masih langka. Setelah kurang lebih 18 bulan dia bekerja sebagai dokter, dia mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan petualangan intelektualnya di Amerika dengan menempuh jenjang PhD di bidang biokimia.

Amerika menjadi tempat penempaan bagi pribadi dan karir akademiknya. Di awal kedatangannya, Aziz Sancar sempat gagal karena terkendala bahasa hingga dia terpaksa kembali ke kota Savur. Kembali lagi ke Amerika setahun kemudian. Perjalanannya selama di Amerika pun tidak mulus. Kredibilitasnya sebagai saintis sempat diragukan para koleganya, penelitiannya sempat tak membuahkan hasil selama beberapa tahun, dan berbagai kendala lain. Namun berkat ketekunan, kerja keras, dan dukungan dari istri tercinta, Aziz mampu mengatasi hal tersebut. Singkat cerita dia menjadi salah satu tokoh penting di bidangnya. Pada tahun 1983 dia menyelesaikan manuskrip yang dia klaim sebagai magnum opus-nya tentang bagaimana bakteri E.coli memperbaiki kerusakan pada DNA. Karya ini pula yang mengantar dia menjadi peraih Nobel di bidang kimia pada tahun 2015.

Nobel dan Turki

Seperti yang kita tahu, hadiah Nobel adalah penghargaan bergengsi yang diberikan setiap tahunnya kepada orang-orang yang dianggap sangat berjasa di enam kategori bidang berbeda. Negara-negara seperti Amerika, Inggris, maupun Jepang sudah sering menyumbangkan tokoh-tokohnya sebagai penerima penghargaan ini. Turki sendiri hingga kini memiliki dua orang peraih hadiah Nobel. Sedangkan Indonesia masih menunggu orang yang tepat.

Di antara kedua peraih Nobel berkebangsaan Turki tersebut, Orhan Pamuk (2006) tidak mendapat apresiasi yang tinggi dari masyarakat Turki layaknya Aziz Sancar (2015). Menurut saya ada setidaknya dua alasan mengenai perbedaan tersebut. Pertama, Orhan Pamuk sebagai peraih Nobel di bidang sastra adalah seorang penulis yang di mata orang Turki banyak mengkritik Turki dan membuka aib sejarah negaranya. Sedangkan Aziz Sancar dikenal lebih nasionalis meski berpuluh-puluh tahun tinggal di negeri paman sam. Rasa nasionalismenya juga ditunjukkan dengan memberikan medali nobelnya kepada Anıtkabir, museum dan makam Mustafa Kemal Ataturk.
[Medali Hadiah Nobel Aziz Sancar di Museum Anitkabir. Foto ntv.com.tr]
Kedua, Aziz Sancar adalah orang Turki pertama yang meraih Nobel di bidang sains dan teknologi. Dalam dekade terakhir, Turki mulai menggeliat di bidang saintek dan melakukan investasi melalui lembaga riset maupun pembangunan-pembangunan lain. Kemunculan Aziz sebagai ikon akademisi sukses Turki membawa angin segar bagi progresifitas saintek Turki. Ditambah lagi anak-anak muda Turki akan mempunyai seorang idola baru yang memotivasi mereka untuk berkarir di bidang ilmu pengetahuan.

Aziz Sancar mendapatkan undangan berkeliling ke berbagai kota di Turki setelah menerima penghargaan bergengsi tersebut. Setidaknya menurut saya, Aziz memang sosok pekerja keras nan rendah hati. Saya tidak pernah bertemu dan berbicara langsung dengannya (ya memang siapa saya). Kesempatan saya melihatnya secara langsung adalah ketika beliau datang ke kampus kami untuk memberikan kuliah umum dan meresmikan sebuah laboratorium.

Satu yang saya ingat dari pesannya kurang lebih,  “Siapapun Anda apapun profesi Anda, kerjakanlah dengan sepenuh hati dan sungguh-sungguh. Peraihan Nobel ini hanya sebatas kebetulan saja. Kebetulan karya ini dilihat oleh Raja Swedia dan dia berbaik hati memberikan hadiah Nobel untuk saya. Tanpa itu saya bukan siapa-siapa. Dan sejatinya, tukang sapu, pengumpul sampah, dosen, dokter, guru dan profesi apapun yang dikerjakan dengan sebaik mungkin, merekalah sebenar-benarnya peraih Nobel.”

Dalam kesempatan lain Aziz Sancar juga berujar, “Jangan terlalu banyak berkecimpung dalam urusan politik. Sudah banyak yang mengurusi itu. Apapun yang kamu lakukan, kerjakan dengan sebaik mungkin. Dulu saya bekerja hingga 18 jam sehari. Saya menghabiskan masa muda di laboratorium. Tidak ada cara lain selain bekerja. Kerja adalah hutang bagi negara ini”.

Nah gaes, seperti kata Aziz Sancar, mari kurangi celoteh dan perbanyak bekerja.



Ridho Assidicky
Penulis adalah mahasiswa S2 Biomolekuler dan Genetika di Bilkent University, Ankara. Sedikit nerd dan ambivert. Penikmat momen musim dingin ditemani coklat panas dan indomie goreng pakai telor. Instagram @ridho.ashidiqy.