Catatan

Sastra

Wacana

Tulisan Terhangat

Masal Masal İçinde: Turki, Negeri Dongeng

14:49:00 1 Comment

"Dongeng sebagai makna lugas dan leksikal, cerita yang diwariskan kepada anak cucu. Bahkan di Turki, kepada para pelajar. Sesederhana membaca dongeng, fiksi yang laris dan menjadi kegemaran di Turki ternyata bisa berguna sebagai media ‘aktualisasi diri’."

(Buku: Masal Masal İçinde, Karya Ahmet Ümit. Foto: Goodreads)

Banyak orang mencoba membayangkan bagaimana sebenarnya wujud dari negara Turki, hingga mereka masuk pada kesimpulan tentang negara yang mirip seperti negeri dongeng. Hal ini disebabkan karena panorama alam yang sangat indah beserta jejak sejarahnya yang sangat mashur dan menjadi daya pikat yang luar biasa bagi para pelancong dan pelajar. Bahkan dewasa ini, Turki masih menjadi pilihan untuk destinasi utama wisata sejarah, arkeologi ataupun tentang riset ilmu pengetahuaan pada bidang sosial politik, kebudayaan, agama, budaya dan sastra.

Turki, selain perwujudan perkembangan dalam negeri yang cukup cepat, di dalamnya justru tersimpan hal-hal yang esensial. Ada dongeng yang lebih bermakna bagi banyak pemudanya. Dongeng sebagai makna lugas dan leksikal, cerita yang diwariskan kepada anak cucu. Bahkan di Turki kepada para pelajar. Sesederhana membaca dongeng, fiksi yang laris dan menjadi kegemaran di Turki ternyata bisa berguna sebagai media ‘aktualisasi diri’. Banyak yang tidak tahu dan tidak ingin tahu tentang hal-hal sederhana seperti ini. Padahal, justru dari sinilah individu hingga sebuah bangsa bisa belajar tentang negaranya. 

Sebuah buku dongeng Turki favorit yang terbit pada tahun 1995 berjudul “Masal Masal İçinde” pun memiliki pesan eksplisit yang demikian. Dongeng ini memiliki pesan yang mendalam agar kita keluar dan berkelana, mencari ilmu pengetahuan dengan melihat keadaan yang sebenarnya di berbagai tempat. Bertemu orang sampai tantangan yang berbeda-beda. Apapun gelar dalam diri kita, idealnya tidak harus membatasi proses untuk belajar. Justru yang lebih penting adalah terus mengasah simpati dan kepekaan, berpikir-bertindak sederhana namun tegas dan cerdas, serta meluruskan rasa percaya diri dan keingintahuan.

“Masal-masal İçinde” sendiri merupakan sebuah buku dongeng yang ditulis oleh penulis novel tersohor Turki, Ahmet Ümit. Ia merupakan novelis akhir abad 20 yang masih aktif dengan karya-karya yang terus saja dinanti. Pria kelahiran Gaziantep ini sudah menerbitkan banyak karya. Beberapa karya sastra Ahmet Ümit yang terkenal di antaranya adalah Sokağın Zulası (The Street's Secret Hiding Place, 1998), Sis ve Gece (Fog and Night, 1996), Kar Kokusu (The Fragrance of Snow, 1998), Beyoğlu Rapsodi (Beyoğlu Rhapsody, 2003), Kavim (Tribe, 2006). Secara umum, karya-karyanya bercerita tentang kehidupan sosial dan perenungan yang terjadi dalam masyarakat Turki.

“Masal” sendiri merupakan bahasa Turki yangg bermakna “dongeng”, sementara “içinde” berarti “di dalam”. Secara harfiah, Masal Masal İçinde bermakna ‘Di dalam dongeng-dongeng’. Cerita dalam dongeng ini menyimpan pesan yang besar, berjangka panjang, namun terkadang sering terlupakan. Buku ini adalah satu dari beberapa buku sastra wajib untuk pelajar SMA di Turki. Namun demikian buku ini tetap dapat dinikmati berbagai kalangan dan masyarakat umum. Untuk memotivasi para pelajar untuk menekuni bidang literasi, ada satu pesan yang selalu disampaikan oleh pengajar, "karena sastra tidak mengenal usia,” demikian kata seorang dosen bahasa Turki yang seperti umumnya mewajibkan mahasiswa berbagai jurusannya untuk membaca buku-buku sastra, termasuk dongeng.


“Masal Masal İçinde” pun dapat menjadi referensi untuk siapa saja yang ingin mengasah kemampuan bahasa Turki. Seperti karya-karya sastra lain di Turki, buku ini dapat menambah pengetahuan kosa kata dan skill sastra, karena gaya bahasa serta penggunaan Osmanlıca atau bahasa Turki lama masa Ottoman dalam beberapa bagiannya. 


Sonia Dwita
Bergabung dengan tim Turkish Spirit. Calon mahasiswi S1 Journalism Studies, Selçuk University, Konya, Turki. Saat ini sibuk menikmati kelas persiapan bahasa Turki. Pernah aktif menjadi jurnalis remaja di Koran Kedaulatan Rakyat Yogyakarta. Concern dan turun tangan pada isu pendidikan dan lingkungan. Jatuh hati pada dunia seni khususnya musik, sejak belasan tahun silam. Sonia hobi menulis catatan harian juga puisi, kadang dibagi di blog pribadinya di sini.

Warisan Ilmu Nahwu dari Birgivi

07:13:00 Add Comment

Di Turki, salah satu ulama yang menekuni satu dari kedua ilmu tersebut (yakni ilmu nahwu) adalah Imam Birgivi

[Makam Imam Birgivi di Ödemiş, İzmir. Foto: Penulis]
Ketika mempelajari Bahasa Arab, kita sebagai seorang penuntut ilmu tidak akan terlepas dan tidak mau tidak mau harus berkenalan dengan caang ilmu alat, yaitu ilmu nahwu dan sorof. Dalam panggung sejarah, para ulama ilmu nahwu dan sorof memiliki dua sudut pandang yang berbeda yaitu antara ulama Basrah dan ulama Kuffah.

Di Indonesia mayoritas ulama para pelajar ilmu nahwu dan sorof mengikuti ulama Kuffah sedangkan di Turki mengikuti ulama Basrah. Di Turki, salah satu ulama yang menekuni satu dari kedua ilmu tersebut (yakni ilmu nahwu) adalah Imam Birgivi.

Mengenal Imam Birgivi

Imam Birgivi memiliki nama asli Taqiyuddin Mehmed bin Pir Ali. Dia lahir pada tahun 1523 M di desa Kepsud, Balıkesir, Turki dan wafat pada tahun 1573 M di desa Ödemiş, İzmir. Ayahnya adalah seorang sarjana terkenal pada pada zamannya. Imam Birgivi pergi ke Istanbul untuk melanjutkan pendidikannya dan ia menjadi guru di daerah Edirne. Selama di Istanbul Imam Birgivi melihat para ulama sufi yang menurutnya tidak sesuai dengan ajaran syariat islam. Imam birgivi meninggalkan banyak karya tulis yang sampai saat ini masih dilestarikan atau digunakan oleh para umat Muslim maupun non-Muslim, seperti para orientalis dan oksidentalis yang sedang mengkaji baik sejarah maupun ajarannya. 

Imam Birgivi, menurut penulis, merupakan ulama religius komprehensif, karena beliau mengabdikan hidupnya untuk agama Islam, juga tidak kurang dari 53 kitab telah ditulisnya dalam berbagai topik tentang permasalahan keislaman. Salah satu karya masterpiece-nya adalah al-Tariqah al-Muhammadiya yang ditulis dalam Bahasa Arab dan diterjemahkan dalam Bahasa Turki oleh Dr. Nedim YIlmaz berjudul Tarikat-I Muhammediyye, berisi tentang nasihat-nasihat ajaran-ajaran syariat Islam. Oleh karena itu, para sarjana tidak sedikit yang mengkaji ajaran etika sang Imam.

Imam Birgivi juga dikenal sebagai ulama Sufi, tentu saja karena pengaruh karya masterpiece-nya al-Tariqah al-Muhammadiya tersebut. Di dalam buku tersebut juga berisi tentang ajaran-ajaran untuk mengerjakan perintah Alquran dan Sunnah dan meninggalkan sesuatu yang bid’ah dan sesuatu yang meragukan (subhat). Meskipun dalam pengkajian buku tersebut oleh para sarjana menghasilkan perbedaan pandangan, Naoki Yamamoto (sarjana dari Jepang) melaporkan bahwa Imam Birgivi dalam bukunya al-Tariqah al-Muhammadiya mengkritik para sufi lain yang tidak sesuai dengan argumen beliau. Seperti para sufi yang melakukan tarian dan nyayian. Bagi Imam Birgivi, orang yang melakukan tarian dan nyanyian ialah tidak mengikuti perintah al-Quran dan Hadis. Tetapi itu adalah sebuah perbedaan argumen dan keduanya sama-sama memiliki dalil masing-masing.

Ilmu Nahwu

Kata Imam Birgivi syariat adalah maqam yang paling utama, oleh karenanya sudah barang tentu Imam Birgivi menguasai bahasa Arab sebagai pintu menuju pemahaman ilmu-ilmu syariat seperti Alquran, fikih, kalam, mantiq dll.

Selain buku al-Tariqah al-Muhammadiya, buku nahwu (grammar) merupakan karya masterpiece Imam Birgivi. Buku tersebut masih digunakan sampai saat ini oleh para santri yang sedang belajar Bahasa Arab khususnya di Turki. Buku Nahwu tersebut ada dua buku yaitu Awamil dan Izhar. Awamil dan Izhar merupakan buku nahwu yang mengikuti ulama Basrah. Seperti yang telah diketahui bahwa Turki menganut ulama Basrah dalam konteks ilmu nahwu dan sorof sedangkan di Indonesia menganut ulama Kuffah. Buku-buku yang termasyhur di pesantren salaf di Indonesia seperti al-Jurumiyyah, Imrity, dan Alfiyah.

Inilah beberapa warisan dari Imam Birgivi yang sangat berharga, karena warisan yang paling berharga adalah ilmu yang diamalkan dan ditulis. Karena kata Sayyidina Ali R.A; “Tulisan itu abadi. Tulislah sesuatu yang akan menyenangkanmu di akhirat nanti”. Semoga warisan-warisan Imam Birgivi bisa menyenangkan beliau dan pembaca di akhirat nanti. Wallahua’lam…


Warto’i Muzaffer
Lulusan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta jurusan Studi Agama-Agama. Sekarang sedang belajar Bahasa Arab di Kota Manisa, Turki.

Peribahasa Turki yang Erat Dengan Indonesia

06:49:00 Add Comment

United we stand divided we fall

[Antusiasme Masyarakat Turki pada Acara Kampanye, Konya. Foto +Bernando J. Sujibto]
Selain memiliki kekayaan sejarah, Turki juga menyimpan nilai-nilai local wisdom yang diterjemahkan ke dalam laku kehidupan sosial sehari-har mereka, yaitu ungkapan dan ekspresi bahasa yang khas mereka. Dalam ragam dan ungkapan Bahasa Turki, selain mengenal adanya bentuk waktu (zaman), majas (mecaz) dan puisi (şiir) ternyata juga terdapat peribahasa (atasözü). Atasözü dalam masyarakat Turki secara umum memiliki kedekatan dengan peribahasa yang sudah ada di Bahasa İnggris dan Bahasa İndonesia (Endonezya Dili/Bahasa).

Di samping itu, banyak sekali nasehat yang diungkapkan dalam bentuk atasözü, puisi ataupun bentuk lainnya mengajak kepada kebijaksanaan. Sebut saja ajaran Mevlana (Jalaluddin Rumi, 1207-1273) yang sudah terkenal di seluruh dunia, misalnya salah satu wejangan terkenalnya cömertlik ve yardım etmede akarsu gibi ol (dalam kedermawanan dan tolong menolong, jadilah seperti air sungai yang mengalir), şefkat ve mevhamette güneş gibi ol (dalam perasaan terharu dan syukur jadilah seperti mentari), tevazu ve alçak gönüllülükte toprak gibi ol (dalam sopan santun dan kerendahan hati, jadilah seperti bumi) dan hoşgörülükte deniz gibi ol (dalam bertoleransi, jadilah seperti laut).

Untuk mengenal peribahasa Turki, berikut ini adalah tujuh atasözü yang memilliki kedekatan makna dengan peribahasa dalam Bahasa İndonesia.

Damlaya damlaya göl ölür

Peribahasa ini berpesan agar setiap melakukan sesuatu secara bertahap, sedikit demi sedikit dan secara berkelanjutan, atau dalam peribaha kita dikenal misalnya 'sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit'. Dalam Bahasa İnggris misalnya kita kenal dengan little and often fills the purse.

Kurda ensen neden kalın demişler, kendi işimi kendin görürüm demiş

Keyakinan dalam meraih sebuah cita tentunya harus dibarengi dengan kerja keras yang maksimal. Dalam peribahasa ini, makna yang tersirat adalah ‘jika menginginkan sesuatu terlaksana dengan baik maka lakukanlah (sendiri)’. Peribahasa ini dekat dengan ungkapan ‘berakit-berakit ke hulu berenang-berang ke tepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian’. Peribahasa ini menunjukkan kerja keras dan usaha maksimal.

Anasına bak kızını al, kenarına bak bezini al

Peribahasa di atas dekat dengan idiom kita: Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Dalam Bahasa İnggris kurang lebih like father like son. Masyarakat Turki juga mengenal ungkapan yang serupa.

Söz günümüşse sükut altındır

Diam itu adalah emas’ adalah peribaha kita bangsa Indonesia. Ungkapan ini menyimpan pesan yang sangat dalam. Dalam kultur masyarakat barat, mereka mengenal ‘speech is silver, silence is golden’. Dan sepertinya pesan bijak dari ungkapan ini masih relevan dalam konteks tertentu.

Birlikten kuvvet doğar

Bhinneka Tunggal İka merupakan semboyan yang sudah lekat dan menyatu dengan masyarakat İndonesia. Hal ini tentu saja karena mendasari keragaman budaya, bahasa dan suku yang terbentang dari Sabang sampai Merauke. Ungkapan ini juga berusaha menjelaskan pesan bijak, ‘united we stand divided we fall’, bersatu kita teguh bercerai kita runtuh.

Azmin elinden hiçbir şey kurtulmaz

Untuk memulai sesuatu biasanya ada pertimbangan sebelum mengambil keputusan. Dan peribahasa ini berusaha menyampaikan pesan yang sangat sederhana ‘dimana ada kemauan, di situlah ada jalan’. Nilai bijak yang mungkin sudah menguniversal ini biasa dikenal dengan ‘when there is a will, there is a way’.

Vakit nakittir

Memaksimalkan waktu adalah sebuah syarat yang harus dilakukan dalam setiap usaha dan kerja. ‘Waktu adalah uang’, merupakan pesan bijak dalam memanfaatkan waktu. Dalam dunia bisnis mengenal frasa ‘time is money’, dan peribahasa inilah yang dipraktikkan oleh masyarakat Turki.

Masih banyak pelajaran moral yang mengajak kepada kerja keras, saling menghormati dan nasehat-nasehat perihal kehidupan yang bersumber dari kedalaman sejarah dan tradisi lokal Turki. Semoga dengan tujuh kiasan di atas, dapat membantu dan memperkaya pengetahuan dan pemahaman tentang peribahasa masyarakat Turki.


Didit Haryadi
Pimpinan Redaksi Turkish Spirit. Mahasiswa master program Sosiologi di Istanbul University. Person In Charge untuk Indonesia Turkey Research Community (ITRC) di Istanbul.