Catatan

Sastra

Wacana

Tulisan Terhangat

Bincang Beasiswa Turkey Scholarships (YTB)

04:02:00 1 Comment

Bincang Beasiswa Turkey Scholarships (YTB) Bersama Turkish Spirits (TS)


[Sonia/TS]

Hari, tanggal   : Selasa, 20 Februari 2018
Pukul               : 16.00 - 19.00 EEST / 20.00 - 23.00 WIB
Media              : Grup Whatsapp
Peserta             : 250 orang
Moderator       : Roida Hasna Afrilita
  S1 Pend. Bahasa Turki Çanakkale Onsekiz Mart Üniversitesi
  Awardee Beasiswa YTB tahun 2013


SESI I (Moderator)

Beasiswa Türkiye Bursları atau Turkey Scholarships atau biasa disebut juga Beasiswa YTB adalah beasiswa resmi dari Pemerintah Turki di bawah tanggung jawab Yürtdışı Türkler ve Akraba Topluluklar atau Direktorat untuk Diaspora Turki dan Komunitas Terkait. Beasiswa ini tidak bersifat mengikat, jadi tidak ada kontrak harus bekerja di Turki setelah lulus nanti. Beasiswa YTB buka setiap tahun, dan hingga hari ini tercatat ada kurang lebih sebanyak 16.000 mahasiswa internasional di Turki sebagai penerima atau biasa disebut pula awardee. Lebih lengkapnya bisa dibaca di https://www.turkiyeburslari.gov.tr/en/english-home/.

Turkish Spirits atau dikenal juga dengan singkatannya, yaitu TS, merupakan platform yang dibuat oleh sekumpulan mahasiswa yang pernah belajar di Turki untuk memberikan informasi tentang Turki yang masih jarang terdengar di Indonesia. Selain itu, TS juga berusaha untuk menerjemahkan beberapa karya terbaik dari Turki ke dalam bahasa Indonesia. Saat ini TS sudah memiliki 2 buah karya dalam bentuk buku yang bisa ditemukan di toko buku terdekat, termasuk Gramedia. Buku pertama adalah Turki yang Tak Kalian Kenal! (November, 2017) dan yang kedua Seribu Warna Türkiye (Maret, 2018). Untuk mengenal TS lebih dekat silakan baca portal kami www.turkishspirtis.org, like fanpage Facebook Turkish Spirits, dan follow instagram kami @spiritturki.


SESI  II (S2)

Narasumber 1: Gesta Fauzia Nurbiansyah
Saat ini menempuh S2 South Asian Studies and International Relations di Necmettin Erbakan Üniversitesi. Merupakan awardee Beasiswa YTB tahun 2016, dan sebelumnya lulus jenjang  S1 di jurusan Hub. Internasional UMY. Aktif di berbagai organisasi dan saat ini menjabat sebagai Ketua PPI Turki 2018/2019.

Poin-poin yang akan disampaikan:
1. Beasiswa yang didapat untuk S2
2. Syarat umum dan khusus pendaftaran S2
3. Tahapan seleksi S2

1. Untuk S2 (master) pihak YTB akan mengcover:
a.     Tiket pesawat dari Indonesia ke Turki ketika telah dinyatakan diterima
b.    Tiket pesawat dari Turki ke Indonesia setelah selesai masa studi 
c.     Uang saku 950 TL/bulan atau sekitar Rp3.500.000,00 (yang akan ditransfer ke rekening bank Turki penerima beasiswa di minggu pertama setiap bulan)
d.    Asuransi kesehatan
e.     Biaya tempat tinggal di asrama (termasuk biaya makan pagi dan petang)
f.     Seluruh biaya studi dan TÖMER (persiapan bahasa Turki satu tahun pertama)

2. Apa saja sih yang harus dipersiapkan?
a.     Persiapkan mental baja untuk mengikuti beasiswa (beasiswa bukan untuk lucu-lucuan)
b.    Rajin mencari berita dan info terkait beasiswa terkait dari website resmi, blog awardee, atau IG dan medsos PPI Turki lainnya
c.     Budayakan membaca informasi dari website terkait sebelum bertanya (karena di website penyedia beasiswa sendiri sudah ada informasi lengkap terkait beasiswa)

Persyaratan umumnya apa?
1.    Warga negara selain Turki (mereka yang sebelumnya merupakan warga negara Turki tidak dapat mendaftar)
2.    Akan/sudah lulus sebelum perkulihan di Turki dimulai (sebagai contoh perkuliahan di Turki mulai September/ Oktober, maka Juli sudah lulus S1)
3.    Berumur tidak lebih dari 30 tahun per tanggal 1 Januari
Berikut batas usia untuk pelamar beasiswa YTB tahun 2018:
S1: 01.01.1997
S2: 01.01.1988
S3: 01.01.1983
4.    Pelajar yang sedang berkuliah di Turki tidak diperkenankan untuk mendaftar beasiswa untuk jenjang yang sama. Misal, Mahasiswa S2 mendaftar program untuk S2
5.    Memiliki kondisi kesehatan yang baik.

Persyaratan berkasnya apa?
a.    KTP/ Paspor
b.    Recommendation Letter
c.    Sertifikat-sertifikat (seminar, kegiatan volunteer, kejuaraan, dll)
d.    Ijazah/ Surat Keterangan Akan Lulus
e.    Surat Rekomendasi dari dosen pembimbing atau atasan tempat bekerja
f.     LoI (Letter of Intent), seperti Motivation Letter dalam bentuk tanya-jawab
(Semua file disiapkan dalam bentuk scan karena diwajibkan untuk diupload di dalam aplikasi beasiswa)
3. Tahapan-tahapan penting dalam seleksi
a.    Pendaftaran S2 dan S3 untuk Seleksi Administrasi (5 Februari - 5 Maret 2018)
b.    Pengumuman Seleksi Berkas/ Administrasi (15 Mei 2018* bisa berubah)
c.    Seleksi wawancara
d.    Pengumuman seleksi wawancara (biasanya 1-2 bulan setelah pengumuman lolos seleksi administrasi)
e.    Jika lolos, tunggu konfirmasi pembuatan visa dan tiket dari pihak YTB
Pada normalnya, para awardee akan mendapatkan tiket ke Turki pada akhir bulan September hingga pertengahan Oktober dengan tanggal yang belum bisa dipastikan setiap tahunnya.

Narasumber 2: Hadza Min Fadhli Robby
Menyelesaikan pendidikan S1 Hub. Internasional UGM. Saat ini sedang menempuh S2 Hub. Internasional di Eskişehir Osmangazi Üniversitesi dan saat ini tengah sibuk dengan pekerjaan riset yang bertema “Diskursus Demokrasi dalam Politik Luar Negeri Indonesia dan Turki (2003 - 2015)”. Merupkan awardee Beasiswa YTB tahun 2014.

Poin-poin yang akan disampaikan:
1. Reputasi kampus Turki untuk S2
2. Lingkungan akademik S2
3. Tips dan trik mendaftar Beasiswa YTB khusus S2

PERTAMA, mengenai reputasi kampus Turki untuk S2 secara umum. Awalnya, perlu diketahui bahwa semua universitas Turki tercakup dalam skema perjanjian Proses Bologna yang disepakati oleh negara-negara anggota Eropa dan kawasan sekitar. Sebagai konsekuensi dari perjanjian ini, proses perkuliahan dan gelar yang dikeluarkan oleh universitas di Turki diakui sejajar dengan universitas-universitas lain di Eropa. Kredit perkuliahan yang berlaku di Turki akan berlaku pula di Eropa, dan begitupun sebaliknya.

Meskipun semua universitas di Turki memiliki akreditasi dari perjanjian Bologna, namun secara kualitas akademik universitas-universitas di Turki memiliki tingkatan kualitas yang berbeda. Penilaian kualitas akademik untuk seluruh universitas di Turki, selain dilakukan oleh institusi internasional seperti THE-QS dan Webometrics, juga dilakukan oleh institusi dalam negeri yang bernama URAP. URAP mengeluarkan laporan setiap tahun terkait performa dan kualitas akademik pendidikan tinggi di Turki. Untuk laporan URAP terbaru bisa dilihat di link berikut ini: http://tr.urapcenter.org/2017/2017.php. Informasi peringkat yang dikeluarkan oleh URAP bisa dijadikan dasar untuk menentukan pilihan saat mendaftar beasiswa. Sebagai institusi lokal, peringkat yang dirilis oleh URAP lebih akurat dan terpercaya. Secara umum semua institusi perguruan tinggi Turki telah diakreditasi oleh Direktorat Pendidikan Tinggi Turki, namun tidak seperti di Indonesia, Direktorat Pendidikan Tinggi Turki tidak memberikan penilaian dengan markah A, B, atau C untuk mengklasifikasi perguruan tinggi di Turki.

KEDUA, mengenai lingkungan akademik S2 di Turki. Seperti di kebanyakan negara lain, S2 berlangsung selama dua tahun. Basis program S2 di Turki adalah coursework atau kuliah reguler, bukan berbasis pada riset. Masa 1 tahun awal pada program S2 akan dilewati dengan kuliah reguler. Dalam satu semester masa coursework rata-rata ada 5 mata kuliah yang akan diambil, namun ini tergantung peraturan universitas dan jurusan masing-masing, serta tergantung dari jumlah kredit total yang harus dipenuhi. Setelah tahun pertama, pada tahun kedua akan berlangsung proses riset dan penulisan tesis. Pada semester akhir masa coursework, mahasiswa akan diminta untuk mempersiapkan proposal tesis. Akan lebih baik jika sudah dipersiapkan sejak masa coursework.

Menjalani S2 di Turki, mahasiswa asing mungkin akan merasakan tekanan. Tekanan ini bisa disebabkan karena perbedaan budaya dan bahasa. Terutama sekali faktor bahasa. Karena di kebanyakan kampus Turki, kegiatan perkuliahan, diskusi kelas, dan penugasan akan menggunakan bahasa Turki. Banyak teman-teman mahasiswa asing yang mengalami kesusahan untuk berpartisipasi di kelas karena masih belum menguasai bahasa Turki secara komprehensif. Memang YTB telah memberikan kursus bahasa Turki, namun kursus tersebut tidak cukup untuk membekali teman-teman dalam proses akademik, sehingga di beberapa universitas diberlakukan kelas wajib Bahasa Turki untuk Kebutuhan Akademik bagi mahasiswa asing dari segala tingkat. Cara terbaik untuk menghadapi tekanan ini adalah dengan terus belajar bahasa Turki dan terus mempraktikkannya tanpa henti dengan teman-teman sekelas.

Kemampuan teman-teman Turki sebenarnya tidak jauh beda dengan teman-teman Indonesia. Daya saing kita sebagai lulusan Indonesia tidak bisa dianggap main-main. Kita bisa dominan dan menjadi contoh bagi teman-teman di Turki asalkan kita rajin dan serius dalam berkuliah dan melakukan riset. Saran saya, ketika teman-teman diterima nanti, banyaklah buka diskusi dan pertemanan dengan teman-teman Turki, bangunlah hubungan dengan dosen-dosen dan asisten riset karena mereka bisa jadi sumber inspirasi, dan banyaklah membaca. Jangan kuper dan jangan malas-malasan karena kesempatan teman-teman untuk mengembangkan diri di Turki sebenarnya besar.

Pengalaman selama studi di Turki mengajarkan saya bahwa buah dari kerja keras adalah keberhasilan yang akan membuat kapabilitas teman-teman diakui. Pada saat awal saya masuk, saya merasakan tidak mudahnya untuk berkuliah S2 di sini, karena berbagai macam persoalan termasuk bahasa. Tapi saya tahu, kalau saya tidak bisa memanajemen persoalan tersebut maka tujuan saya untuk berkuliah di sini akan tidak bermakna. Saya mulai mencoba berteman dengan beberapa teman-teman Turki, mengajak diskusi dosen dan asisten riset dan banyak membaca bacaan lain selain apa yang telah ditugaskan dalam kuliah. Alhamdulillah sekarang saya sudah hampir menyelesaikan S2 saya, meskipun dengan penuh tantangan dan susah payah. Selain kerja keras, bantuan dari teman-teman di Turki dan juga dukungan dari dosen-dosen yang suportif dan perhatian, serta doa dan dukungan dari keluarga adalah faktor-faktor keberhasilan kita.

KETIGA atau yang terakhir adalah tips dan trik seputar pendaftaran Beasiswa YTB khusus S2.
1. KETAHUI APA YANG HENDAK TEMAN-TEMAN TELITI. Setahu saya, saat ini YTB mengutamakan riset-riset seputar negara awardee, atau studi komparasi antara negara awardee dengan negara Turki. Oleh karena itu, dari sekarang siapkan proposal riset sebaik-baiknya. Contoh proposal riset ada di mana-mana, dan bisa ditulis pakai bahasa Inggris.
2. KETAHUI KOTA DAN UNIVERSITAS YANG AKAN TEMAN-TEMAN PILIH DAN DENGAN DOSEN SIAPA TEMAN-TEMAN AKAN MENGERJAKAN TESIS. Cara mengetahuinya adalah dengan browsing, cari informasi sedetil mungkin di internet. Saat ini semua informasi sudah tersedia tinggal bagaimana teman-teman memilih dan mengolah informasi tersebut. Terutama sekali yang perlu diperhatikan dalam memilih universitas adalah kota tempat universitas itu berada, fokus penelitian dari universitas tersebut, dan formasi dosen dari universitas tersebut. Untuk soal penelitian dan formasi dosen, teman-teman bisa merujuk ke website jurusan atau fakultas universitas tersebut, lalu mencari nama dosen di scholar.google.com untuk melihat riset-riset apa yang telah dilakukan untuk mengetaui peluang riset yang akan teman-teman lakukan.
3. SIAPKAN BERKAS DENGAN LENGKAP DAN SEBAIK-BAIKNYA. Tonjolkan kemampuan akademik dan non-akademik teman-teman dengan melampirkan makalah, program seminar, organisasi yang pernah teman-teman ikuti. Lebih bagus lagi kalau dokumen-dokumen yang dilampirkan ini memang sesuai dengan program riset yang hendak teman-teman jalani di Turki. Siapkan juga Letter of Intent yang sejalan dengan proposal riset, serta alasan yang dapat menguatkan teman-teman untuk dapat diterima di Turki.


SESI  III (S1)

Narasumber 1: Fridya Nur Oktavia
Merupakan awardee Beasiswa YTB tahun 2017 yang sedang belajar bahasa Turki di TÖMER Çanakkale Onsekiz Mart Üniversitesi. Akan menempuh S1 di jurusuran Agriculture Biotechnology di universitas yang sama. Saat ini aktif sebagai tim kesekretariatan PPI Amerop.
Poin-poin yang akan disampaikan:
1. Beasiswa yang didapat untuk S1
2. Syarat, tahapan Seleksi, dan timeline 2018 untuk S1

1. Apa saja yang akan didapatkan melalui beasiswa YTB ini?
1.    Tanggungan biaya kuliah sepenuhnya
2.    Tunjangan bulanan 700 TL untuk S1 atau sekitar Rp2.450.000,00
3.    Asrama pemerintah/ swasta (termasuk makan pagi dan malam)
4.    Tiket pesawat PP Turki-Indonesia (saat berangkat dan setelah kelulusan)
5.    Tanggungan asuransi kesehatan
6.    Kursus bahasa Turki (TÖMER) sampai level C1+ selama 1 tahun sebelum menjalani masa kuliah

2. Apa saja persyaratan dan proses seleksinya?
Persyaratan Umum:
1.    Merupakan warga negara selain Turki (mereka yang sebelumnya merupakan warga negara Turki tidak dapat mendaftar)
2.    Bagi pelamar S1: telah/ akan lulus SMA/ SMK/ sederajat (lulusan pondok/ MAN pun bisa mendaftar)
3.    Berumur tidak kurang dari 21 tahun per tanggal 1 Januari
Berikut batas usia untuk pelamar beasiswa YTB tahun 2018
S1: 01.01.1997
S2: 01.01.1988
S3: 01.01.1983
4.    Pelajar yang sedang berkuliah di Turki tidak diperkenankan untuk mendaftar beasiswa untuk jenjang yang sama. Misal, Mahasiswa S1 mendaftar program untuk S1
5.    Memiliki nilai rapor dan ijazah (atau kualifikasi pendidikan lainnya) minimal 70% untuk yang ingin mempelajari hampir semua bidang studi; kecuali Kedokteran, Kedokteran Gigi, dan Farmasi yang harus mempunyai nilai minimal 90%.
7.    Memiliki kondisi kesehatan yang baik.


Persyaratan berkas dan proses seleksinya apa saja?
1.    Seleksi berkas
Tahun 2018, diumumkan bahwa Seleksi Berkas dilakukan pada 16 April - 14 Mei 2018, dan Seleksi Berkas diumumkan pada 24 Juli 2018 *bisa berubah.
Proses seleksi yang pertama yaitu seleksi berkas secara online. Ada lebih dari 900.000 pendaftar dari seluruh dunia, jadi harus berhati-hati dan jangan main-main dalam pengisian application form. Karena di tahap pertama inilah yang paling banyak menggugurkan peserta. Berkas yang perlu disiapkan:
a. File foto (sebaiknya pas foto resmi berpakaian rapi)
b. Scan KTP/ Paspor
c. Ijazah yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris bagi yang sudah lulus
d. Transkrip Nilai Rapor semester 1-akhir dalam bahasa Inggris
e. Surat Keterangan Akan Lulus bagi yang belum lulus dalam bahasa Inggris (opsional)
f.  Sertifikat TOEFL/ IELTS (opsional). Bagi yang tidak memasukkan sertifikat TOEFL/IELTS tidak akan terkualifikasi untuk jurusan dengan bahasa pengantar bahasa Inggris
g. Recommendation Letter dari kepala sekolah/ guru/ pejabat/ dosen/ petinggi instansi yang dikenal dengan baik, dalam bahasa Inggris. Bisa melampirkan 1-3 surat.
h. Scan piagam/ sertifikat/ project/ volunteer yang pernah diikuti. Tidak perlu diterjemahkan dalam bahasa Inggris, karena ada kolom deskripsi
i. CV dalam bahasa Inggris (opsional)
j. Letter of Intents, yaitu Motivation Letter dengan format tanya-jawab (maks. 3000 karakter per pertanyaan) tentang alasan belajar ke Turki, mengapa memilih bidang studi tsb, rencana karir setelah lulus, dsb
k. Kolom hobi dan bakat
l. Pilihan universitas dan jurusan (maksimal 12 pilihan). Sebaiknya fokus pada satu jurusan.
2.    Interview/ wawancara
Diumumkan 1-2 bulan setelah berakhirnya Seleksi Berkas/ Administrasi. Interview dilaksanakan di Jakarta dan Aceh, umumnya 10-15 menit per peserta dengan bahasa Inggris. Pertanyaan untuk S1 adalah seputar pribadi, prestasi, alasan memilih Turki, alasan memilih jurusan tersebut dan pengetahuan tentang jurusan tersebut, dsb.


Narasumber 2: Sonia Dwita Prafitri
Merupakan Mahasiswi S1 Jurusan Jurnalistik, Fakultas Komunikasi di Selçuk Üniversitesi dan awardee Beasiswa YTB tahun 2016. Aktif di PPI Turki dan beberapa grup kepenulisan.
Poin-poin yang akan disampaikan:
1. Reputasi kampus Turki untuk S1
2. Lingkungan akademik S1
3. Tips dan trik mendaftar Beasiswa YTB untuk S1

PERTAMA, tentang reputasi kampus Turki bagi mahasiswa S1. Dari hasil diskusi mahasiswa asing di sini, kualitas pendidikan tinggi di Turki relatif baik mengingat tingkat kesenjangan kualitas antar beberapa universitas tidak begitu tinggi, tapi bukan berarti sama. Menurut data dari lembaga survey pendidikan tinggi di Turki, yaitu URAP Center, ada beberapa nama kampus Top Turki yang juga masuk dalam list Beasiswa YTB (tidak semua kampus masuk dalam list Beasiswa YTB), seperti Boğaziçi dan Koç University untuk swasta, lalu untuk negeri ada İstanbul, İstanbul Teknik (İTÜ), Hacettepe, Ankara, Ege, Gazi, Marmara, nama-nama kampus para narasumber di sini, dan banyak lagi. Calon pendaftar bisa membuat preferensi universitas dari data yang dimiliki URAP maupun lembaga survey pendidikan tinggi lain di dunia, seperti THE-QS, Webometrics, dan Shanghai.

S1 di Turki terikat dengan restrukturisasi pendidikan tinggi di Eropa dengan akreditasi yang dinamakan Proses Bologna. Kreditnya adalah ECTS (European Credit Transfer and Accumulation System). Umumnya perkuliahan S1 di Turki memerlukan waktu 4 tahun seperti di Indonesia, kecuali pada jurusan-jurusan tertentu, seperti Kedokteran Gigi dan Farmasi membutuhkan 5 tahun masa studi, serta Kedokteran Umum membutuhkan 6 tahun masa studi melingkupi teori dan co-as. Sebagai catatan, setiap ijazah dari luar negeri nantinya perlu disetarakan di Kemenristekdikti.

KEDUA, mengenai lingkungan akademik S1. Kebanyakan program S1 di sini menggunakan bahasa Turki, sehingga perlu persiapan belajar bahasa sebagaimana yang telah difasilitasi YTB, kursus bahasa Turki dari level A1 sampai C1+. Setelah lulus level C1+, umumnya kita sudah bisa bercakap bahasa Turki, lancar untuk percakapan sehari-hari. Namun demikian kapasitas tersebut belum mencukupi untuk mendukung kegiatan akademik, karena kursus ini bukanlah seperti "Studienkoleg" apabila di Jerman. Kursus tambahan “Bahasa Akademik” akan dilanjutkan sambil mengikuti perkuliahan awal dengan durasi hampir 1 semester. Tantangan bahasa memang cukup besar, sebagaimana yang sudah dipaparkan oleh Mas Hadza pada pembahasan tentang lingkungan akademik S2. Namun dengan usaha yang keras dan kuat, tidak ada yang tidak mungkin. Melihat realita yang ada, memang banyak mahasiswa Indonesia di Turki yang kesulitan dalam mengikuti perkuliahan. Tapi tidak sedikit pula mahasiswa Indonesia yang berprestasi dalam hal akademik khususnya, sehingga bisa menjadi 3 besar bahkan terbaik se-angkatan semasa kuliah maupun pada saat lulus.

Dua tahun pertama perkuliahan, umumnya diisi dengan full materi, walau relatif tergantung jurusan. Tahun ke-3 kebanyakan jurusan dan universitas menyarankan bahkan mewajibkan untuk mulai magang. Pada tahun ke-4, ada yang diwajibkan untuk membuat skripsi, sebagian besar cukup membuat makalah, dan pada jurusan-jurusan tertentu seperti Arsitektur dan Planologi diwajibkan untuk membuat projek akhir.

Dari sisi fasilitas akademik dan kehidupan sehari-hari, mahasiswa S1 terfasilitasi dengan sangat baik. Sebagai contoh, yaitu tersedianya kartu-kartu discount mahasiswa untuk transportasi umum seperti metro/ tram/ bus, makan di kampus, dll. Selain itu banyak perpustakaan kampus yang buka 24 jam. Semua tinggal bagaimana pribadi kita memanfaatkan dengan baik, dan tentu ditambah dengan mencari lingkungan akademik dan pertemanan yang baik. Di sini, kita bukan masuk ke kelas internasional dengan teman asing saja, apalagi hanya dengan orang-orang Indonesia yang notabene cara bergaulnya sudah akrab bagi kita. Di sini, kebanyakan teman kelas justru mahasiswa asli Turki, demikian pula di asrama. Penting untuk mudah membaur, harus bisa menjadi "yes man" yang mau berteman dengan siapa saja dalam konotasi positif, mau membuka diri dan memperluas pergaulan.

KETIGA, sedikit tips dan trik khusus untuk calon pendaftar S1. Untuk mengikuti beasiswa YTB ini, kuatkan dan bulatkan tekad. Dengan itu, alasan kalian untuk menjadi penerima beasiswa ini pun semakin besar. Sebanyak-banyaknya carilah pula informasi dan referensi yang dapat dipertanggungjawabkan perihal teknis dan non-teknisnya. Kegiatan akademis di sini nantinya adalah yang utama, sehingga kontribusi maksimal dalam kegiatan akademik adalah hal yang sekali-kali tidak boleh dilalaikan. Itulah mengapa informasi menjadi sangat penting. Teman-teman harus memahami perihal faktor-faktor yang dapat mendukung keberhasilan akademis di sini nantinya. Yang pertama tentulah MENTAL, mental baja untuk hidup mandiri misalnya. Selain itu adalah pilihan KOTA, KAMPUS, dan tentunya JURUSAN. Apakah di kota tersebut ada pelajar Indonesia, apakah banyak pelajar asing di kampus dan kota itu, apakah jurusan yang dipelajari sudah benar-benar sesuai, serta apakah ada komunitas untuk mengembangkan ilmu akademik kita jika memang dibutuhkan, dan lain sebagainya. Untuk menjawab hal-hal tersebut secara lebih detail tentu satu yang perlu diingat, jangan pernah malas MEMBACA.


SESI  IV (Q&A)

1. Bagaimana contoh penempatan nama untuk mengisi bagian identitas?
Contoh 1: Roida Hasna Afrilita
Nama pertama: Roida
Nama kedua:  Hasna
Nama keluarga/terakhir: Afrilita  
atau
Nama pertama: Roida Hasna
Nama kedua: (kosong)
Nama keluarga/terakhir: Afrilita  
Contoh 2 : Fridya Nur
Nama pertama: Fridya
Nama kedua : (kosong)
Nama keluarga/terakhir: Nur  
Contoh 3 : Fridyanur
Nama pertama : Fridyanur
Nama kedua : (kosong)
Nama keluarga/terakhir : Fridyanur
Jika tidak memiliki nama keluarga yang resmi (tercatat di akte/passport/dokumen sah lainnya) masukkan nama terakhir sebagai nama keluarga.

2. Jenis sertifikat seperti apa yang boleh dicantumkan?
Tidak ada batasan atau syarat khusus untuk sertifikat. Silahkan masukkan seluruh sertifikat yang kalian punya khususnya sertifikat di bidang yang bisa mendukung pilihan jurusan.

3. Apakah sertifikat yang akan dikumpulkan memiliki batas tahun? 
Tidak.

4. Jika belum memiliki Ijazah dan SKHUN, apakah kita kita bisa menggantikannya dengan nilai rapor dari semester 1-terakhir?
Ijazah bisa digantikan dengan Surat Keterangan Akan Lulus dalam bahasa Inggris (opsional), dan Transkrip cuku diisi dengan rapor semester 1-terakhir yang diterima.

5. Jenis TOEFL apa yang harus dicantumkan?
Sesuaikan dengan syarat dari kampus. Bisa dilihat di kolom “Preference”/ langsung ke website kampus

6. Nilai ujian yang mana yang harus kita masukkan? Ujian Sekolah, Ujian Madrasah atau Ujian Nasional? 
Pada dasarnya diminta untuk memasukkan Transkrip (kumpulan nilai). Bisa gabungan nilai semester saja jika belum lulus, atau nilai semester dan ujian akhir. Dapat yang mana saja, tapi biasanya Ujian Nasional memiliki preferensi tertinggi.

7. Dimana kita bisa melihat database mahasiswa Indonesia di kampus-kampus?
Beberapa tersedia di website masing-masing kampus di bagian “Students”.

8. Berapa kuota untuk Indonesia?  
Tidak ada kuota pasti yang disebutkan oleh YTB, tapi biasanya ada 30-60 awardee dari Indonesia per-tahunnya.

9. Apakah topik penelitian harus berhubungan dengan Indonesia?
Tidak harus. Tema riset bisa komparatif. Tapi tidak dianjurkan untuk meneliti tentang Turki karena tema tentang Turki sudah banyak dibahas oleh teman-teman di Turki, kecuali kalau kalian punya basis kuat mengapa harus menganalisa hal itu.  

10. Apakah kita boleh memperpanjang masa studi, jika iya apakah masih mendapatkan beasiswa?
Wajib hukumnya menyelesaikan dalam tenggang waktu 2 tahun kecuali ada hal-hal mendesak seperti riset yang memang kondisi dan situasinya tidak mudah serta hal lain yang tidak bisa diantisipasi sebelumnya. YTB menerima perpanjangan studi hanya dalam masa tertentu dan hanya atas persetujuan supervisor. Setelah masa tersebut maka tidak akan ada kesempatan perpanjang dan beasiswa dicabut.

11. Tips dan Trik dalam menulis LoI?
Tunjukkan bahwa kamu memiliki genuine interest, ketertarikan yang murni terhadap Turki. Tidak hanya karena ingin lanjut studi saja, tapi kamu ingin memberikkan manfaat kepada Turki dan hubungan Turki-Indonesia setelah kamu lulus, serta kaitkan hal-hal ini dengan minat risetmu (untuk pascasarjana).

12. Bagaimana kita menyikapi culture shock pada tahun pertama kuliah di luar negeri?
Setiap orang merasakan culture shock yang berbeda, dan punya cara yang berbeda dalam menyikapinya. Namun pastikan kita memiliki teman yang sudah lebih dulu di Turki, dan dapat terbuka jika ada permasalahan yang dihadapi, dalam hal ini kaitannya culture shock. Sadari bahwa itu hanya syok sementara yang lazim terjadi, dan biasakan diri terhadap hal-hal yang belum biasa/ sulit, terutama melatih untuk berkomunikasi bahasa Turki.

13. Apakah dokumen yang sudah diterjemahkan harus dilegalisir oleh kedutaan?
Untuk masa pendaftaran tidak perlu. Kita akan melegalisasi dokumen di kedutaan setelah dinyatakan lolos, untuk kepentingan pembuatan visa dan pengurusan dokumen sesampainya di Turki nanti. (YTB akan mengirimkan email untuk tahap selanjutnya)

14. Apakah setelah kursus Bahasa Turki ada tes lagi untuk masuk ke universitas?
Tidak ada. Ujian sebelum masuk ke universitas adalah ujian kemampuan Bahasa Turki. Calon mahasiswa hanya diminta menyerahkan sertifikat ujian bahasa tsb ke fakultas masing-masing.

15. Apakah wajib mencantumkan GRE/GMAT/SAT?
Tergantung syarat dari universitas. Bisa dilihat syarat khusus dari universitas di kolom “Preference”/ langsung ke website kampus

16. Apakah dokumen tersebut wajib diterjemahkan ke penerjemah tersumpah?
Tidak wajib, tapi lebih baik tersumpah atau sudah diterjemahkan oleh pihak kampus.

17. Apakah kita bisa ikut seleksi dari kampus lalu mendapatkan beasiswa dari YTB?
Mendaftar beasiswa YTB sudah satu skema/ otomatis mendaftar ke kampus yang kita pilih. YTB juga tidak meminta syarat LOA (Letter of Acceptance)

18. Apakah kita harus mengirimkan ijazah SMP dan SMA untuk seleksi S2?
Ya, di sistem tahun ini kita harus mengisi data pendidikan SMP, SMA dan S1 

19. Apakah anak dari homeschooling/ sekolah kesetaraan/ pondok pesantren bisa mendaftar YTB?
Tentu bisa jika kamu memiliki ijazah yang legal dan diakui, serta memenuhi persyaratan YTB.
 
20. Apakah bisa mendaftar S2 jika belum lulus S1?
Tergantung syarat dari kampus, ada yang mengharuskan lulus sebelum bulan Juli atau September.

21. Apakah ada form rekomendasi yang disiapkan oleh YTB?
Tidak. Silakan rekomendasi dibuat dengan format dari instansi pemberi rekomendasi.

22. Apakah YTB mengizinkan dan membiayai mahasiswa S2 yang membawa keluarga selama masa belajar?
Mulai tahun 2018, YTB akan memberikan biaya tambahan untuk awardee pascasarjana (S2 dan S3) yang membawa keluarga.

23. Bagaimana pengalaman membawa keluarga ketika studi di Turki?
Belum banyak awardee yang membawa keluarga, karena pembiayaan tsb adalah kebijakan baru.

24. Apakah kita harus memilih 12 pilihan?
Tidak. Pilih sesuai dengan prioritas kita (max.12). Jangan lupa pendaftar hanya bisa memilih universitas di Kota Istanbul, Ankara, dan Izmir maksimal setengah dari total pilihan (misal membuat 10 pilihan, berarti pilihan di 3 kota tersebut hanya bisa maksimal 5). Dan saran dari kami, manfaatkan pilihan tsb untuk memperbanyak pilihan universitas, bukan jurusan. Jauh lebih baik fokus pada satu jurusan yang ingin dipelajari, karena bisa berpengaruh terhadap seleksi.

25. Apakah kita boleh pulang ke Indonesia setiap tahun ketika libur semester?
Boleh tapi dengan biaya sendiri. YTB tidak memfasilitasi tiket gratis semasa studi.

26. Apakah ada perbedaan peluang kelulusan ketika memilih universitas negri atau swasta?
Tidak ada. Selagi universitas tersebut masuk dalam list universitas yang dicover Beasiswa YTB, maka peluangnya sama.

27. Apakah surat rekomendasi boleh lebih dari satu?
Boleh.

28. Apakah mayoritas prodi yang dipilih awardee sebelum-sebelumnya mempengaruhi pengambilan prodi saat ini?
Tidak. YTB tidak menggunakan sistem seperti SNMPTN yang melihat alumni sebelumnya.

29. Saya baru masuk kuliah sampai semester 2 dan ingin mendaftar YTB, apakah saya perlu mencantumkan transkrip ipk?
Tidak. Karena YTB tidak menerima program transfer, jika ingin mendaftar S1 harus mengulang dari awal dengan mencantumkan nilai SMP dan SMA

30. Bagaimana prospek kerja lulusan S1 dari Turki?
Banyak di antara lulusan S1 Turki yang melanjutkan studi S2. Banyak yang menjadi akademisi, juga praktisi dan bisnis.

31. Apakah kalimat di surat rekomendasi berbeda-beda jika kita ingin memberikan lebih dari satu rekomendasi?
Lebih baik berbeda-beda, karena setiap pemberi rekomendasi memiliki pandangannya masing-masing.

32. Apakah harus wawancara dengan Bahasa Arab jika kita mengambil jurusan Ilahiyat?
Tidak harus. Tetapi biasanya sebagian besar yang  mengambil jurusan Ilahiyat menggunakan bahasa Arab pada saat wawancara.

33. Apakah kakak awardee juga mendaftar kuliah di Indonesia atau hanya fokus dengan YTB?
Kebanyakan tetap mendaftar di Indonesia, karena pengumuman YTB lebih lama. Hal ini dipengaruhi oleh jadwal akademik Turki pada Fall Semester/ dimulai musim gugur, kurang lebih akhir September. Silakan saja ambil kesempatan yang ada. Tapi perhatikan dan pertimbangkan prioritas serta sebab-akibatnya.


(Dirangkum oleh Sonia Dwita, Roida Hasna, Fridya Nur).

Kultus Militer dan Bumbu Nasionalisme

14:28:00 Add Comment

Puluhan ribu rakyat sipil membacakan takbir dan doa sembari menyemut sejak di rumah alhamrhum di Emek Mahallesi, kabupaten Safranbolu

[Rakyat Turki ikut menyalati dan mendoakan seorang tentara. Foto Yeniakit]
Mungkin saya berlebihan jika mengatakan bahwa rakyat Turki adalah rakyat paling mencintai tentara dan angkatan perang di antara negara-negara lain di dunia. Ada aspek-aspek lain yang sangat sulit ditemukan di balik pertontonan dukungan dan kecintaan mereka terhadap angkatan perang. Selain Turki, tentu saja ada Amerika yang sama-sama sangat menghargai dan mencintai pasukan militer mereka. Khususnya setelah misinya berhasil pada Perang Dingin—dengan sendirinya kembali mengangkat moral tentara setelah gagal di Perang Vietnam—tentara Amerika menjadi kebanggaan seluruh rakyatnya dan dianggap sebagai generasi terbaik yang mengendalikan kekuatan dunia. Setelah itu, karena faktor kekuatan yang membanggakan, tentara Amerika menjadi “tentara dunia” yang bisa datang kapan saja dan mengintervensi negara-negara lain dengan sangat mudah.

Namun begitu saya sadar bahwa pembuktian dan parameter di balik kecintaan rakyat terhadap mereka tentu membutuhkan data valid dan ukuran-ukuran yang rigid sebelum menjadi klaim. Tetapi dalam kesempatan kali ini, saya ingin menunjukkan sebuah peristiwa yang menggambarkan antusiasme rakyat Turki ketika menyalati dan mengantar seorang tentara yang meninggal dalam perang di Afrin, Suriah. Antusiasme rakyat Turki terlibat dalam prosesi ritual agama hingga seremoni resmi kenegaraan adalah potret unik yang tidak bisa ditemukan di negara lain, baik dalam aspek jumlah maupun gairah dukungan yang berlimpah.

Memang, Turki secara kekuatan militer jauh di bawah negara-negara seperti Amerika, Rusia dan China (dengan anggaran dana untuk militer yang fantastis), tetapi moral bangsanya yang mewujud dalam komitmen dukungan dan partisipasi kepada militer telah ditunjukkan dalam setiap laku keseharian. Jangan terkejut jika kita mendapati banyak rakyat Turki menyatakan siap menjadi pasukan sukarelawan yang kapan saja bisa dilatih dan ikut misi perang. Jika dilacak lebih jauh, faktor adanya wajib militer (askerlik) yang terus dijalankan hingga sekarang (khusus untuk laki-laki) bisa menjadi basis lahirnya kesadaran dan komitmen nyata dari segenap lapiran masyarakat Turki. Inilah yang saya sebut sebagai keunikan, hal-hal lain di balik kecintaan, di mana logika maupun premis-premis ilmiah mandul.

Namanya Ömer Bilal Akpınar, pejabat infanteri senior berpangkat sersan dari angkatan bersejata Turki yang meninggal pada 8 Februari 2018. Ada dua hal yang sangat menyentuh hati dan emosi mayoritas rakyat Turki dari sosok yang mengabdikan hidupnya untuk membela negara dan bangsa itu. Pertama tentu saja jumlah rakyat yang ikut menyalati, mendoakan dan hingga mengantarkannya ke liang lahat. Seperti dilaporkan oleh media-media lokal Turki termasuk Yeniakit, puluhan ribu rakyat sipil membacakan takbir dan doa sembari menyemut sejak di rumah alhamrhum di Emek Mahallesi, kabupaten Safranbolu. Setelah itu, janzahnya dibawa ke pusat kota Karabük (Karabük kent meydani) dan dilakukan upacara pelepasan di Karabük Valiliği (Karabük’te şehidi, alana sığmayan on binler uğurladı, 08/02/2018).

Kedua adalah surat wasiat yang ditulisnya sendiri. Surat wasiat adalah bagian dari ritual para tentara sebelum berangkat tugas dan mengangkat senjata. Ketika menjalankan tugas mereka hanya mempunyai dua kemungkinan: kembali pulang atau meninggal di pertempuran. Ömer Bilal menjadi salah satu dari mereka yang menulis surat wasiat dan membuat rakyat Turki tersedak. Tulisnya, “Saudaraku, perang ini adalah perang salib, melawan dengan iman, antara kebenaran dan kebatilan, kekufuran dan tauhid… jagalah keluargaku. Kuburkan aku di Safranbolu, Saudaraku.” Dalam hal mengocok emosi dan memperdalam rasa empati, surat wasiat menjadi salah satu media yang bisa dipakai oleh para tentara sebelum berangkat perang.

Bagi Turki, surat wasiat bukan melulu urusan personal yang, misalnya permintaan maaf kepada semua kerabat, kerap kali dimunculkan secara mendalam. Ia juga dipentaskan menjadi narasi heroik bagi nasionalisme, menyajikan sebuah sosok yang hadir di tengah-tengah emosi publik demi melindungi bangsa dan negara dari ancaman. Wasiat dengan narasi begitu akhirnya menjadi milik bersama semua rakyat Turki karena sentimen membela negara dan bangsa (juga agama meski tidak selalu masif) telah menjadi keyakinan dirinya berkorban demi negeri (vatana kurban). Dengan begitu, nasionalisme dan patriotisme muncul dan terasah secara terus-menerus.

Selain Ömer Bilal, dalam laporan www.haberler.com ada Hüseyin Şahin dari provinsi Samsun yang proses sebelum pemakamannya juga dihadiri oleh ribuan orang dan bahkan diklaim hingga mencapai jumlah sekitar (Samsunlu Şehidi 10 Bin Kişi Son Yolculuğuna Uğurladı, 11/02/2018); Nurullah Seçen dari kabupaten Ereğli, Konya juga dilaporkan bahwa rakyat yang hadir di hari pelepasan mencapai puluhan ribu; dan terakhir, seperti dilaporkan oleh ensonhaber.com terjadi pada sosok tentara Ahmet Aktepe yang berasal dari Erzurum dengan dihadiri ribuan pelayat yang ikut menyolati dan mendoakannya (Afrin şehitleri son yolculuğuna uğurlandı, 06/02/2018).

Saya tidak bisa menyebutkan satu per satu acara pelepasan untuk para tentara yang gugur di Afrin selama operasi militer Turki yang sudah berjalan lebih dari 23 hari hingga 12 Februari 2018. Jumlah tentara Turki yang gugur selama ini sudah lebih dari 100 personal dan melumpuhkan lebih dari 1480 teroris dari pihak musuh. Tapi saya bisa memastikan bahwa dalam situasi rumit seperti ini—di mana Turki berada dalam ancaman yang cukup serius di tengah absennya otoritas pemerintahan Suriah di bagian utara negara itu dan dinilai Turki akan menjadi tempat infiltrasi gerakan teroris yang mengancam negara—rakyat Turki hadir secara nyata memberikan dukungan dan menyampaikan terima kasih kepada para pejuang negara.

Sebelum lebih jauh, saya ingin memastikan bahwa jumlah angka yang tertera dalam pemberitaan di atas tidak bisa diverifikasi secara pasti. Tetapi secara gamblang kita bisa melihat gambar-gambar dan video yang menunjukkan partisipasi rakyat dalam keramaian yang sangat sesak seperti itu, misalnya keramaian masif di Karabük. Meksipun jumlah yang hadir tidak bisa dihitung secara pasti, antusiasme rakyat Turki dengan menghadiri proesesi sebelum pemakaman harus dilihat sebagai gerakan kesadaran dan kepedulian atas nama bangsa dan negara. Artinya, solidaritas seperti itu tidak akan pernah muncul di tengah masyarakat yang kehilangan wawasan dan orientasi nasional, apalagi di negara-negara yang mempunyai konflik dan kekerasan antarmasyarakat dalam situasi terpolarisasi secara maksimal.

Mereka yang hadir di tengah-tengah pelepasan para şehit (syahid), istilah yang dipakai oleh orang Turki untuk menyebut mereka yang gugur membela negara, adalah rakyat jelata yang terpanggil secara tulus menyampaikan belasungkawa dan empati yang mendalam sebagai bangsa dan warga negara. Meski tidak sedikit yang beroposisi terhadap pemerintahan dan menunjukkan penentangan atas kebijakan-kebijakan yang dimabil Presiden Recep Tayyip Erdoğan, rakyat Turki tidak bisa beroposisi melawan tentara mereka. Rakyat Turki menitipkan amanah kesatuan negara dan kedamaian internal bangsa kepada militer yang bertugas baik di perbatasan maupun di daerah-daerah yang menjadi sarang konflik di Turki.

Dalam banyak kasus, sebagai negara yang mempunyai tradisi militeristik yang kuat, masyarakat Turki mempunyai kebanggaan tersendiri tehadap militer dan angkatan perang mereka. Tetapi bukan berarti bahwa semua anggota militer menjadi panutan ataupun sumber kebanggaan. Banyak rakyat Turki juga tidak menghendaki kekuatan militer yang justru masuk ke relung-relung kekuasaan, misalnya dengan dalih menjaga konstitusi, tetapi dalam praktiknya justru dipakai oleh para jenderal dan orang-orang internal militer untuk menguasasi negara, misalnya lewat kudeta militer yang sudah biasa terjadi di Turki sejak tahun 1960.

Singkatnya, masyarakat Turki mencintai tentara dan personel pasukan militer yang jelas-jelas berjibaku dengan tugasnya yang secara fisik bisa mereka lihat. Rasa cinta tersebut kemudian diekspresikan khususnya ketika di antara mereka ada yang gugur di medan perang. Situasi seperti itu kerap kali menciptakan narasi heorik yang diproduksi secara masif oleh media dan pada gilirannya akan menjadi bumbu bagi nasionalisme rakyat Turki.

Nasionalisme

Kenapa rakyat Turki bergitu besar menunjukkan antusiasne dan dukungan terhadap pasukan militer, khususnya yang bertugas perang dan menumpas separatis? Pertanyaan seperti ini sebenarnya sudah lama menjadi bagian dari renungan dan pengamatan saya sendiri. Saya seringkali tertegun diam menyaksikan antusiasme rakyat Turki terhadap apapun yang menyangkut dengan perjuangan harga diri bangsa dan negara. Untuk menjawab pertanyaaan seperti itu saya coba masuk ke tengah emosi rakyat dan memori bersama (collective memory) yang hidup dan bergeriat dalam laku keseharian mereka.

Terma nasionalisme khas Turki tentu saja bisa diketengahkan di sini sebagai faktor umum yang sudah terbentuk dan membentengi bagian terluar dari kehidupan bangsa. Jika diibaratkan sebuah benteng, nasionalisme bertugas melindungi warga negara Turki dari serangan dan ancaman musuh dari luar. Tetapi di sisi lain, nasionalisme Turki justru sangat embedded dan terinternalisasi dalam jiwa setiap warga, menjadi paradigma dan karakter kebangsaan di bawah republik Turki. Rancangan ideologis tentang Turki modern yang diproduksi oleh para ideolog Turki modern dan telah meletakkan fondasi nasionalisme seperti Namık Kemal (1940-1888), Ziya Gökalp (1876-1924), Ahmed Agaoğlu (1869-1939) dan Yusuf Akçura (1876-1935) tetap bertahan hingga nyaris satu abad. Nasionalisme Turki adalah proyek ideologi politik dan kebudayaan untuk meneguhkan eksistensi suku bangsa Turki (Turk sebagai suatu etnik), dalam semua aspeknya, yang nyaris sama seperti langkah Jepang dengan mengidentifikasi dasar-dasar gerakan nasionalisme mereka melalui kebudayaan (Nihonjinron).

Sebagai ideologi negara, nasionalisme bekerja sangat efektif dalam mengelola sentimen atas nama nation dan national. Dua ranah ini sangat penting bagi nasionalisme Turki dengan misalnya dibuatkan Undang-Undang Pasal 301 yang mengatur secara khusus tentang sentimen negatif terhadap nation dan national, salah satunya misalnya tentang insult Turkishness atau Turkish nation. Di bawah kekuasaan Tayyip Erdoğan lewat Partai Keadilan dan Pembangunan (APK) istilah Turkishness akhirnya diganti menjadi Turkish nation untuk mewadahi secara lebih luas bangsa dan warga negara Turki, tanpa melihat identitas etnik mereka. Pasal tersebut satu sisi sangat rawan menjadi alat pembungkaman, misalnya pernah menyasar ke novelis Orhan Pamuk. Tetapi di sisi lain, ia menjadi sangat efektif dalam proses ideologisasi nasionalisme dengan mengangkat sentimen bangsa.

Selain nasionalisme, saya melihat ada ancaman nasional (national threat) yang faktor penyatu bagi mereka. Di balik kegagahannya sebagai bangsa besar dan penakluk, Turki di waktu bersamaan adalah bangsa yang cukup vulnerable, yaitu bangsa yang selalu merasa dikepung dan diancam oleh para musuh. Saya memakai terma vulnerable bukan dalam makna etimologi, tetapi lebih kepada pemahaman terminologi untuk mewadahi perasaan masif dari sebuah bangsa yang merasa selalu ingin dipecah-belah, semacam reproduksi emosi dan mental yang kerap kali dideklarasikan oleh kelompok ultranasionalis (kasus Turki) ataupun oleh militer sendiri (dalam kasus di Indonesia), dengan tujuan agar warga negara menyatukan langkah dan komitmen membela negara. Meski narasi ini tidak bisa diklaim sebagai memori kolektif yang menyasar secara massal, perasaan rentan akan perpecahan (karıştırmak) menjadi narasi yang cukup mudah ditemui di tengah-tengah rakyat.

Untuk itu, rakyat Turki sangat taktis dan efektif dalam hal mengenali siapa musuh-musuh mereka dan narasi tentang musuh yang harus diwaspadai karena berpotensi mengganggu tetap dikelola oleh penguasa sebagai upaya polulis untuk mendapatkan legitimasi di tengah publik. Akhirnya, rakyat Turki dengan cukup mudah dapat mengidentifikasi musuh-musuh mereka, misalnya Armenia, Yunani, Rusia, Prancis, Inggris, Israel dan Amerika. Selain dua negara terakhir, rakyat Turki mengenang mereka sebagai musuh yang menyejarah. Sementara Israel dan  Amerika tidak lebih sebagai musuh yang lahir belakangan.

Musuh-musuh yang saya sebutkan di atas bukan lantas tidak menjalin hubungan kerja kedua negara. Mereka sangat terkait erat dengan memori dan ingatan sejarah bangsa Turki. Karena selain Armenia, Turki mempunyai hubungan bilateral dengan negara-negara di atas.

Di samping itu, organisasi yang berpotensi memecah-belah seperti PKK (Partai Pekerja Kurdistan), kelompok komunis dan organisasi yang berafiliasi dengannya, Al-Qaeda, Hizbut Tahrir dan ISIS adalah musuh nyata dalam internal  negara. Sementara dari luar negeri khususnya di perbatasan mereka, muncul nama organisasi seperti PYD/YPG (faksi militer Kurdi di Irak dan Suriah) yang menjadi target operasi militer Turki lewat operasi Ranting Zaitun (Zeytin Dali Harekati). Siapa pun yang berani berafiliasi dan mendukung kelompok di atas secara gamblang akan menjadi musuh bersama (common enemy) bagi rakyat Turki.

Dalam kondisi demikian, kepercayaan rakyat Turki hanya bersandar kepada pasukan keamanan, mulai dari polisi hingga angkatan bersenjata yang mereka miliki. Karena pasukan keamanan Turki selalu berjibaku dengan berbagai ancaman baik dari internal maupun eksternal dan rakyat Turki melihat dan merasakan secara nyata keberpihakan militer terhadap negara. Keterlibatan militer yang begitu dalam terhadap negara dan bahkan dunia politik sekalipun tidak bisa dilepaskan dari tradisi militer yang membentengi republik Turki. Khususnya sebelum AKP berkuasa, militer mempunyai kendali sangat besar terhadap negara yang secara gamblang bisa dilihat dari praktik-praktik kudeta yang sekaligus merontokkan demokrasi. Seperti dikutip M. Alfan Alfian dari M Naim Turfan dalam Looking After and Protecting the Republik: The Legitimation of The Military’s Authority in Turkey, militer diposisikan sebagai garda depan revolusi dengan hak untuk campur tangan dalam politik, jika kelangsungan negara dalam bahaya (Alfian, 2018: 33). Meski tentu saja bercorak otoritarian ketika intervensi militer terus membayangi negara, pertemuan sipil-militer dalam tingkat grass root cenderung menyisakan aspek-aspek emosional karena mereka dianggap sebagai benteng negara. Tetapi, ketika sudut pandang yang dipakai adalah relasi sipil-militer dalam konteks demokrasi, negara Turki tentu bukan model yang ideal, untuk tidak mengatakan buruk.

Dalam tulisan ini, saya tidak sedang membicarakan relasi sipil-militer dalam diskursus dan kajian demokrasi, tetapi lebih fokus ingin mengungkap sisi-sisi “pertemuan emosi” antarmereka yang sangat akrab, dekat dan penuh cinta! Kematian seorang tokoh politik sekalipun sangat susah untuk dihadiri oleh rakyat hingga di atas 10 ribu. Tetapi Ömer Bilal Akpınar, sebagai pasukan perang yang kesehariannya tidak terekspos secara berlebihan, mempunyai cerita lain dan, bagi saya, sangat beruntung karena telah berhasil menyedot perhatian dan cinta, setidaknya, dari masyarakat Karabük dan sekitarnya.

Pertemuan emosi antara sipil dan militer tentu saja tidak terbentuk secara gegabah dan serampangan. Bagi saya, semua itu adalah hasil dari kinerja ideologi pancasila dengan meletakkan posisi militer sebagai guardian terhadap negara dan bangsa. Yang awalnya diletakkan sebagai garda depan untuk menjaga republik (cumhuriyet bekçisi) yang sekuler, militer Turki di bawah Erdoğan semakin didekatkan kepada rakyat dan di waktu bersamaan rakyat sipil diperkuat pengetahuan demokrasinya. Sehingga akhirnya rakyat Turki menolak segala bentuk kudeta (darbeye hayır) yang secara gamblang dibuktikan lewat aksi turun ke jalan untuk melawan percobaan kudeta 15 Juli 2016.

Pertemuan emosi antara sipil-militer dan kehadiran solidaritas di antara rakyat sipil, bagi saya, disebabkan oleh situasi Turki terkini. Militer di Turki bekerja melawan maut yang secara langsung terlibat dalam misi perang ataupun operasi keamanan di perbatasan. Saya menyaksikan sendiri bahwa tentara dan pasukan keamanan Turki tidak pernah berada dalam situasi yang tenang dan nyaman. Lihat saja korban-korban tewas dari pihak militer Turki yang terus berguguran dari waktu ke waktu, dalam operasi yang dilakukan menumpas PKK di bagian tenggara dan timur. Sejak kelompok separatis itu aktif melakukan perlawanan dengan mengangkat senjata sejak tahun 1980-an, sudah tidak terhitung jumlah pasukan keamanan Turki yang tewas dalam menjalankan tugasnya.

Untuk itu, solidaritas, empati dan bahkan emosi yang lahir di tengah situasi seperti itu adalah keniscayaan yang harus lahir di Turki. Saya percaya bahwa nasionalisme dan kecintaan rakyat Turki (atau bahkan kita semua) kepada aparat militer semakin menggebu-gebu di tengah situasi di mana negara dan bangsa berada dalam ancaman. Tetapi sebaliknya, jika aparat keamanan dan pasukan militer sekalipun hanya menggebuki rakyatnya sendiri karena melakukan demo mempertahankan tanahnya dari penggusuran misalnya, jangan berharap mendapatkan empati dan rasa cinta yang tulus dari rakyat. 


Bernando J. Sujibto
Penulis adalah peneliti sosial dan kebudayaan Turki. Alumni pascasarjana Sosiologi di Selcuk University, Konya Turki. Follow Twitter @_bje.