Catatan

Sastra

Wacana

Tulisan Terhangat

Kalelawar Malam

15:34:00 Add Comment

Yang paling dekat dalam hidupku adalah wajah perempuan bermata ela gözlü itu

[Versi Cetak di Jawa Pos. 9/07/2017Foto @bjeben]
Aku terus memegang kedua telapak tangannya dengan erat, menatap lekat matanya yang berpijar, lalu memeluknya hangat. Dua senjata api M4A1 dengan kantung peluru yang melingkar di tubuh kami, empat bom molotov dan dua pistol di selempang saku menjadi saksi bagi gelora yang berdebar di jiwa kami. Aku sangat mencintainya, dia pun tahu itu. Dari matanya, ketulusan itu kutangkap begitu dalam.

“Muaz, kamu harus kembali.”

Kalimat itu selalu terucapkan menjelang kita berpisah untuk tugas masing-masing. Di tengah tugas gerilya wajahnya selalu hadir setiap kali kutarik pelatuk senjata api dan lalu diikuti oleh rentetakn tembakan balasan dari arah-arah yang sulit kutebak. Saat begitu, yang paling dekat dalam hidupku, selain senyum seorang ibu yang sudah berpulang dua tahun silam, adalah wajah perempuan bermata ela gözlü itu.

Setiap kali mendengar kalimat itu, aku membalasnya dengan senyum dan dua jari yang kuangkat ke atas, sembari meriakkan “her biji Kurdistan!”

Dia membalas dengan isyarat yang sama. Lalu diimbuhi senyuman. Ya, senyum tulus yang selalu membuatku merasa ada di tengah-tengah perjuangan keras seperti ini.

Kali ini, di dalam bungker yang kami buat tepat di pintu keluar kota Şırnak, untuk pertama kalinya kami berada dalam satu titik pertempuran. Serangkaian serangan sengit semalam telah membuat kami menyelamatkan diri ke tempat-tempat persembunyian di tengah kota. Kami tahu kapan harus bersembunyi dan kapan pula harus keluar bagai singa kelaparan dan menembak habis pasukan tentara Turki. Eyyup, Gizem, Murat dan anggota lainnya dari satu pasukan kami juga telah menyelamatkan diri masing-masing. Dan aku—entah bagaimana takdir merencanakannya—bisa berdua dengan perempuan yang sudah lima tahun lebih kukenal ini. Selama itu, kebersamaan menyemaikan rasa cinta yang dalam. Cinta kami tumbuh subur di dalam goa di pegunungan tandus di kamp pelatihan perang.

Anda mungkin mengenali kami sebagai kelompok pemberontak negara Turki, atau apapun istilahnya yang biasa diberitakan oleh media. Aku, lebih tepatnya kami, tidak pernah mempedulikannya. Kami mempunyai cinta yang sama kepada tanah kelahiran yang harus dibela. Entah menurut Anda, tentu semuanya berbeda memaknai cinta kepadanya. Yang kami tahu makna cinta adalah cara bertaruh nyawa dan darah. Tanpa darah, cinta kepada tanah kelahiran adalah cerita fiksi. Cinta kami demi menyongsong keadilan, kebebasan, kemerdekaan dan mengakhiri monopoli kelompok-kelompok persetan yang terus menginjak dan menggencet kami, rakyat jelata yang lahir di luar kelompok mereka. Di tanah ini, cita-cita kemerdekaan tanpa penindasan akan segera terbit bersinar bersama matahari yang tak pernah ingkar seperti bendara kami.

Hari ini cinta itu bersatu di dada kami, hati dua pecinta yang berada dalam satu nasib dan pertaruhan. Aku menatap wajahnya yang tegas dan pemberini. Tak ada tanda menyerah atau keragu-raguan di sana. Dia sudah mengabdi menjadi martir lebih dari lima tahun untuk tanah Kurdistan.

Aku mengenal perempuan di depanku ini sebagai kelelawar pembunuh, karena kemampuannya melumpuhkan tentara Turki di malam hari. Sudah tak terhitung berapa tentara yang meregang nyawa di tangannya. Setiap kali pulang dari gerilya, dia tersenyum puas, “Lima biji zaitun sudah runtuh,” ujarnya. Kami paham, itu kode bahwa tangannya telah menghantarkan takdir kematian kepada lima tentara Turki.

Setiap kali mengingat titimangsa kebersamaan kami di kamp pelatihan, namanya tercatat sebagai pejuang perempuan paling mematikan. Kadangkala kami menyebutnya sebagai titisan Salahuddin Al-Ayyubi.

Keberanian tidak pernah memandang jenis kelamin. Kami sangat percaya itu. Pada suatu waktu, dia berada dalam kepungan di sebuah lobang gua di pebukitan. Berita pengepungan itu menyebar kepada kami. Pada waktu yang sama aku menjalankan tugas di tempat berbeda. Tapi aku tidak pernah ragu atas kejeniusannya dalam bertahan.

Meski kabar dari komando kamp menyatakan bahwa gua itu tidak mempunyai jalur tunel untuk evakusi, aku yakin dia akan menemukan cara untuk lolos dari penyergapan. Pengalaman kami bertahun-tahun hidup di gua, dari satu bukit ke bukit lain, telah mengajarkan menjadi singa liar, menjadi ular yang bisa bergerak meliuk licin di antara daun-daun dan batu-batu. Untuk itu, bagi perempuan yang ada di depanku ini, aku tidak pernah cemas.

Akhirnya, di suatu malam yang kacau, setelah satu minggu lebih kehilangan kontak, Berivan datang ke kamp kami. Saat itu, kami kehilangan dua yoldaş yang harus meregang nyawa. Berivan hanya berbisik dengan tenang kepada kami, “Aku diselamatkan oleh batu-batu.” Entah apa maksudnya. Mungkin itu sebuah keajaiban.

Tapi, apakah keajaiban itu akan hadir untuk kami yang tengah berada dalam kepungan mahasengit? Di luar sana bunyi peluru terus berdenting di antara gang-gang sempit dan batu-batu aspal di sekitar kami. Berivan menatapku dengan mata tajam. Kami paham ini adalah pertaruhan terakhir, antara hidup dan mati. Kami menghitung maut, seperti merangkai kehangatan kebersamaan kami yang tak pernah terjadi sebelumnya.

Tapi apakah maut tega memporak-porandakan hati seorang pecinta seperti kami?

Saat ini, kami berada dalam deburan cinta dan gelora yang tak biasa. Biarlah bungker kecil ini menjadi saksi keabadian bagi cinta dua martir yang bertahan demi tanah kelahirannya. Biarpun rentetan peluru bagai hujan deras terus menghantam, kami ingin mengatakan dengan lantang bahwa cinta kami telah menyatu.

“Apakah kita harus berpisah, Cane mın? Kamu ke arah timur lewat tembok di belakang pohon kayısı dan aku menyisiri tepi pagar beton hingga tiba di titik serang yang sama, tepat di bawah Markas Kedua?”
“Sebentar, Cana mın. Kita pastikan dulu dari mana bunyi tembakan itu berasal. Dari situ kita bisa bergerak ke arah mereka. Di sana bisa menjadi titik serang kita, menghabisi mereka. Jika tidak mungkin, ada Markas Pertama ke arah kiri atau kita langsung ke Markas Abadi lewat terowongan di pinggir sungai.”
“Mereka memakai strategi perang menyebar sehingga sulit diidentifikasi posisinya.”
“Tapi setidaknya sumber suara tembakan mereka kita dengar.”
“Setiap menembak mereka bersamaan dari banyak arah.”
“Sebentar, aku akan menembak.”

Dengan isyarat kedipan matanya sebagai tanda setuju, aku melepaskan dua tembakan ke dinding besi di arah timur, dengan peredam suara. Serentak terdengar suara tembakan memberondong peluru dari segala penjuru.

“Ini bukan waktu yang tepat untuk keluar, Cane mın. Mereka menyebar di mana-mana. Sepertinya, mereka juga menyiapkan sniper.”

Aku terdiam menyimak arahan perempuan yang baru pertama kali mengucapkan kalimat cane mın untukku itu. Entah dari mana kalimat itu muncul. Sebenarnya, meski tak ada kosa kata cane mın dalam bahasa kami, rasa cinta kami sudah melebihi semua muatan yang dipikul bahasa. Ia tanda bagi kata benda dan sekaligus kata kerja yang mengalir dalam darah kami. Senyum, tatapan mata, dan sapaan lembutnya di setiap pagi menjelang latihan ringan untuk kebugaran yang rutin dilakukan di kamp pelatihan adalah cinta itu sendiri, yang susah diterka dalam bahasa. Cane mın adalah setitik tanda bagi samudera kebahagian yang mengalir deras di jiwa kami.

Atas pertimbangan berdua, kami memutuskan untuk tidak keluar dari bungker. Di sekitar kami bergentayangan pasukan terlatih Turki. Aku memastikan kepada kekasihku bahwa nyawa kami tidak boleh dijual murah di tengah posisi terkepung seperti ini. Sebagai pasukan terlatih, cara terbaik kita adalah bertahan untuk menyerang dan menghabisi lebih banyak tentara yang tak punya nurani itu.

Aku mengenal Berivan ketika kami sama-sama mengikuti latihan khusus di Gunung Kato, sejak lebih lima tahun silam. Di tahun yang sama kami mendaftar menjadi barisan pembela kemerdekaan Kurdistan. Saat itu usiaku baru 17 dan Berivan 16 tahun. Kami mempunyai kisah serupa, sama-sama putus sekolah dan berlari meninggalkan orang tua kami di kampung. Aku dan Berivan, juga para martir seangkatan di kamp pelatihan ini, sudah lebih lima tahun tidak bertemu keluarga.

Awal-awal Berivan tiba di kamp, aku melihat rasa cemas terpancar di wajahnya. Di sela-sela berlatih dan mendapatkan suntikan spirit tentang arti perjuangan, dia bercerita bahwa ibunya tidak mengizinkan dirinnya menjadi pejuang PKK.

“Ibu ingin aku menjadi guru atau advokat dan melanjutkan sekolah hingga ke universitas.” Berivan menghirup nafas panjang lalu dihembuskan perlahan.

“Pilihan hidup hadir dengan risiko masing-masing. Kamu sudah tiba di gunung, artinya jalan final menjadi martir kemerdekaan Kurdistan,” tuturku.

“Ya, aku paham. Kedatanganku ke sini bukan atas paksaan siapa-siapa. Aku mencari jalan untuk berjuang melawan penindasan yang puluhan tahun kami derita. Aku ingin menebus nyawa kakekku yang dulu dibunuh tentara Turki dalam tragedi Dersim. Ayahku merasakan betul luka dan derita itu. Seandainya dia masih hidup, pilihan jalanku ini akan menjadi kebanggaan baginya, satu-satunya anak yang dilahirkannya atas nama kebesarannya, Berivan Dersim.”

“Ayahmu juga terbunuh oleh tentara?”

Berivan mengangguk, lalu menunduk. Air matanya terantuk.

“Ayahmu akan bangga melihatmu berada di sini.”

Setelah obrolan itu, Berivan berubah menjadi sosok yang tegar dengan langkah yang kokoh. Latihan fisik dan menembak dilakoni dengan penuh seluruh. Di luar jam latihan, dia keluar ke lapangan bawah untuk latihan menembak dan dilanjutkan dengan panjat tebing. Kelebihan lainnya dia ahli bermain pisau jarak jauh.

“Apakah malam ini kita akan keluar dari sini?” bisikan Berivan menyadarkan lamunanku. Aku langsung kembali memeluknya erat. Mengambil kedua tangannya yang sedari tadi memegang gagang senjata.

“Kita tenang di sini dulu, Cana mın. Sampai semuanya benar-benar aman.”

Aku mengambil bekal makanan dari tas dan menyiapkannya untuk makan malam. Ada roti, sucuk yang sudah matang dan sebungkus buah zaitun. Dengan bekal makanan di tas, setidaknya kami bisa bertahan 2-3 hari ke depan. Kami menyantap makan malam tanpa cahaya yang cukup. Hanya ada celah-celah bungker yang bisa menerima kiriman cahaya dari lampu kota yang pucat. Sementara rakyat sipil di distrik ini harus berdiam dalam rumah karena sejak dua hari lalu diberlakukan sokağa çıkma yasak.

Setelah santapan makan malam selesai, aku kembali memeluknya. “Berivan, aku akan menikahimu,” kalimat ini tiba-tiba meloncat dari bibirku. Aku coba melihat sorot matanya di antara pendar cahaya yang masuk dari celah-celah bungker. Kedua tangannya lalu terbuka dan bergelayut ke leherku. Aku mencium aroma nafasnya yang bergelora. Udara yang keluar dari hidungnya begitu hangat. Dia lalu mencium bibirku dengan pelan. Ini ciuman pertama dalam hidupku.

“Ya, kita menikah secepatnya. Merayakan pesta pernikahan di gunung, bersama saudara-saudara kita di kamp pelatihan.”

Suara Berivan terdengar seperti getaran hebat, antara berbisik atau memantapkan kecupannya yang mulai liar di pelipisku. Aku mendengar kalimat itu seperti wahyu yang turun di malam gelap.

Namun, seketika kami dihentikan oleh suara mobil patroli yang lewat di depan kami. Mata Berivan menabur pandang keluar dari sela-sela lubang intip. Setelah mobil itu melaju agak jauh ke barat, dia mengangkat M4A1. “Aku akan melumpuhkannya!” bisiknya sembari menempatkan posisi tembak.

Jedes! Jedes! Jedes!!!

Aku mendengar tiga tembakan melecut. Berivan menarik pelatuk M4A1 dengan jitu. Tank itu lalu meraung-raung lalu menghantam bangunan di luar sana. Seketika tembakan dan suara-suara berdesingan dari berbagai arah.

“Tiga buah zaitun lenyap,” bisiknya.
 “Selamat,” timpalku.

Pagi dini hari setelah bunyi tembakan berhenti, kami sepakat untuk keluar. Tujuan kami adalah terowongan tepi sungai menuju Markas Abadi. Kami harus berpisah karena ini bukan pasukan beregu yang bisa saling melindungi. Dengan cara berpisah, jalan hidup adalah pertaruhan; siapa yang selamat di antara kami adalah hadiah di tengah situasi mencekam seperti ini.

 Di tengah misi menuju terowongan di tepi sungai, kami mulai mendengar tembakan silih berganti di sekitar. Satu per satu tentara kami lumpuhkan dengan tembakan peredam suara. Tapi jumlah mereka berlapis-lapis. Kami pun harus berjuang hingga tetes darah terakhir demi sampai ke terowongan di tepi sungai, demi kembali bertemu dan merencanakan pernikahan kami. Tapi di tengah kepungan hebat begini, aku akhirnya terjungkal, jatuh tertembak di bagian kepala.

Beruntung, Berivan selamat dan lolos dari penyergapan karena tubuhnya tiba-tiba berubah menjadi kelelawar malam yang berkelebat cepat dan lenyap. Dialah yang akhirnya berhasil membawa cerita ini kepada hadapan pembaca semua.


[Turki, 2016/2017]

Catatan:

Cana mın: (Kurdi) Panggilan kekasih untuk perempuan
Cane mın: (Kurdi) Panggilan kekasih untuk laki-laki
Ela gözlü: (Turki) Warna mata cokelat kehijau-hijauan
Her biji Kurdistan: (Kurdi) Hidup Kurdistan
Yoldaş: (Turki) Sebutan untuk kawan sejalan seperjuangan
PKK: (Kurdi) Partai Pekerja Kurdistan, dinobatkan sebagai kelompok teroris dan pemberontak di Turki
Kayısı: (Turki) pohon berbuah, sejenis aberikos
Sucuk: (Turki) serupa sosis dari campuran daging
Sokağa çıkma yasak: (Turki) “Dilarang keluar ke jalan.” Kebijaan seperti ini berlaku ketika pasukan keamanan Turki sedang melakukan operasi untuk menumpas para separatis. Biasanya, kebijakan ini hanya diberlakukan di daerah-daerah yang rawan gerakan separais, yaitu daerah Turki timur.

Peribahasa Turki yang Erat Dengan Indonesia

06:49:00 Add Comment

United we stand divided we fall

[Antusiasme Masyarakat Turki pada Acara Kampanye, Konya. Foto +Bernando J. Sujibto]
Selain memiliki kekayaan sejarah, Turki juga menyimpan nilai-nilai local wisdom yang diterjemahkan ke dalam laku kehidupan sosial sehari-har mereka, yaitu ungkapan dan ekspresi bahasa yang khas mereka. Dalam ragam dan ungkapan Bahasa Turki, selain mengenal adanya bentuk waktu (zaman), majas (mecaz) dan puisi (şiir) ternyata juga terdapat peribahasa (atasözü). Atasözü dalam masyarakat Turki secara umum memiliki kedekatan dengan peribahasa yang sudah ada di Bahasa İnggris dan Bahasa İndonesia (Endonezya Dili/Bahasa).

Di samping itu, banyak sekali nasehat yang diungkapkan dalam bentuk atasözü, puisi ataupun bentuk lainnya mengajak kepada kebijaksanaan. Sebut saja ajaran Mevlana (Jalaluddin Rumi, 1207-1273) yang sudah terkenal di seluruh dunia, misalnya salah satu wejangan terkenalnya cömertlik ve yardım etmede akarsu gibi ol (dalam kedermawanan dan tolong menolong, jadilah seperti air sungai yang mengalir), şefkat ve mevhamette güneş gibi ol (dalam perasaan terharu dan syukur jadilah seperti mentari), tevazu ve alçak gönüllülükte toprak gibi ol (dalam sopan santun dan kerendahan hati, jadilah seperti bumi) dan hoşgörülükte deniz gibi ol (dalam bertoleransi, jadilah seperti laut).

Untuk mengenal peribahasa Turki, berikut ini adalah tujuh atasözü yang memilliki kedekatan makna dengan peribahasa dalam Bahasa İndonesia.

Damlaya damlaya göl ölür

Peribahasa ini berpesan agar setiap melakukan sesuatu secara bertahap, sedikit demi sedikit dan secara berkelanjutan, atau dalam peribaha kita dikenal misalnya 'sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit'. Dalam Bahasa İnggris misalnya kita kenal dengan little and often fills the purse.

Kurda ensen neden kalın demişler, kendi işimi kendin görürüm demiş

Keyakinan dalam meraih sebuah cita tentunya harus dibarengi dengan kerja keras yang maksimal. Dalam peribahasa ini, makna yang tersirat adalah ‘jika menginginkan sesuatu terlaksana dengan baik maka lakukanlah (sendiri)’. Peribahasa ini dekat dengan ungkapan ‘berakit-berakit ke hulu berenang-berang ke tepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian’. Peribahasa ini menunjukkan kerja keras dan usaha maksimal.

Anasına bak kızını al, kenarına bak bezini al

Peribahasa di atas dekat dengan idiom kita: Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Dalam Bahasa İnggris kurang lebih like father like son. Masyarakat Turki juga mengenal ungkapan yang serupa.

Söz günümüşse sükut altındır

Diam itu adalah emas’ adalah peribaha kita bangsa Indonesia. Ungkapan ini menyimpan pesan yang sangat dalam. Dalam kultur masyarakat barat, mereka mengenal ‘speech is silver, silence is golden’. Dan sepertinya pesan bijak dari ungkapan ini masih relevan dalam konteks tertentu.

Birlikten kuvvet doğar

Bhinneka Tunggal İka merupakan semboyan yang sudah lekat dan menyatu dengan masyarakat İndonesia. Hal ini tentu saja karena mendasari keragaman budaya, bahasa dan suku yang terbentang dari Sabang sampai Merauke. Ungkapan ini juga berusaha menjelaskan pesan bijak, ‘united we stand divided we fall’, bersatu kita teguh bercerai kita runtuh.

Azmin elinden hiçbir şey kurtulmaz

Untuk memulai sesuatu biasanya ada pertimbangan sebelum mengambil keputusan. Dan peribahasa ini berusaha menyampaikan pesan yang sangat sederhana ‘dimana ada kemauan, di situlah ada jalan’. Nilai bijak yang mungkin sudah menguniversal ini biasa dikenal dengan ‘when there is a will, there is a way’.

Vakit nakittir

Memaksimalkan waktu adalah sebuah syarat yang harus dilakukan dalam setiap usaha dan kerja. ‘Waktu adalah uang’, merupakan pesan bijak dalam memanfaatkan waktu. Dalam dunia bisnis mengenal frasa ‘time is money’, dan peribahasa inilah yang dipraktikkan oleh masyarakat Turki.

Masih banyak pelajaran moral yang mengajak kepada kerja keras, saling menghormati dan nasehat-nasehat perihal kehidupan yang bersumber dari kedalaman sejarah dan tradisi lokal Turki. Semoga dengan tujuh kiasan di atas, dapat membantu dan memperkaya pengetahuan dan pemahaman tentang peribahasa masyarakat Turki.


Didit Haryadi
Pimpinan Redaksi Turkish Spirit. Mahasiswa master program Sosiologi di Istanbul University. Person In Charge untuk Indonesia Turkey Research Community (ITRC) di Istanbul.

Menjaring Berkah Lewat Sofra

12:57:00 Add Comment

"Setelah makan, sebelum bangkit dari Sofra, orang Turki juga masih melakukan do'a bersama yang disebut Bereket Duasi. Intinya adalah untuk bersyukur kepada Allah SWT atas segala rizki dan karunia yang telah diberikan.

(Sofra berupa meja beralas sofra bez Sumber: bosnjaci.net)

Pada tulisan saya sebelumnya, saya sempat menyinggung tentang proses pembuatan
ekmek (roti) orang desa di Laut Tengah. Kini saya ingin  menyinggung tentang kebiasaan makan bersama warga Turki yang masih sangat tradisional dan berakar keislaman yang kuat.
Baik di perdesaan maupun perkotaan, kebiasaan sebagian warga Turki untuk makan bersama tidak berubah. Jam makan sudah pasti waktunya, sarapan, makan siang dan makan malam. Semua anggota keluarga harus duduk bersama, setidaknya di waktu makan malam.
Kesibukan dunia kerja dan sekolah membuat sarapan sehari-hari hanya ringkas dan seperlunya saja. Hal ini bisa dimaklumi karena harus menyesuaikan dengan jadwal rutinitas lainnya. Minum Teh di waktu sarapan adalah hal yang sebenarnya sangat penting bagi orang Turki, susah dilakukan dalam waktu yang sempit.
Oleh karenanya,  sarapan di hafta içi (hari kerja) biasanya cukup roti panggang isi dan teh celup saja. Kemudian bergegas ke sekolah dan ke tempat kerja.
Namun lain lagi dengan sarapan diHhari Minggu dan hari libur lainnya, boleh dibilang sarapan besar ala Turki dengan berbagai pernak-pernik hidangan. Saking lengkapnya bahkan ada istilah“sadece kuş sütü yok” alias semuanya ada, hanya susu burung saja yang tak ada. Padahal memang burung memang tidak menghasilkan susu. Ini hanya sebuah ungkapan untuk menggambarkannya.
Anekdot ini bahkan muncul di internet berupa meme keluarga Davutoğlu (mantan Perdana Menteri Turki) yang sedang sarapan bersama keluarganya. Di sana ditulis oleh sang pembuat meme “perlu google earth untuk mencari lokasi mangkuk madu berada”, saking banyaknya mangkuk dan piring kecil berisi pernak-pernik sarapan memenuhi meja.
Jika anda berfikir budaya lesehan hanya ada di Indonesia, ternyata orang turki lesehan juga. Bahkan sampai sekarang. Jadi tidak perlu kaget jika anda diundang makan malam oleh orang Turki, dan ternyata hidangannya digelar secara lesehan.
Sofra, yang mengacu kepada meja bulat pendek dengan kaki yang bisa dilipat, bisa juga mengandung arti hidangan atau sajian. Sehingga tidak menjadi patokan kalau lesehan itu harus menggunakan meja bulat tadi.
Sofra selalu berkawan dengan sofra bez. Sofra bez merupakan selembar kain serupa taplak meja yang digelar di atas karpet. Kemudian barulah meja sofra diletakkan di atasnya. Fungsi dari sofra bez adalah untuk menampung remahan roti sehingga tidak mengotori pangkuan dan karpet di sekelilingnya. Jadi, sofra bez tidak untuk diduduki, melainkan ujungnya diangkat dan dipakai untuk menutupi pangkuan kita.
Karena sofra tidak selalu harus dengan meja sofra, terkadang makanan juga dihidangkan tanpa meja, melainkan langsung diatas nampan bulat super besar yang dinamakan sini, yang diletakkan diatas sofra bez.


(Sini beralas Sofra bez Sumber: pembesinti.blogspot.com.tr)


Makan lesehan di sofra seperti ini, biasanya hidangannya juga dimakan secara beramai-ramai, jadi tidak menggunakan piring untuk setiap orangnya, kecuali sup yang disajikan khusus. Walaupun ada pula yang tetap menyediakan porsi-porsi personal untuk setiap orang yang duduk di sofra.
Jika ada tamu yang tidak berkabar sebelumnya datang menjelang waktu makan, maka tamu akan diundang makan bersama, “gelin sofraya !”, ayo silakan duduk di sofra..
Kalaupun tidak ada masakan untuk disajikan, tuan rumah selalu bisa menyajikan teh dan sajian sarapan. Yang  dimasak hanya teh dan menggoreng kentang saja, tambahannya bisa tomat dan timun segar, selada, berbagai selai, keju, mentega dan zaitun. Roti-roti segar bisa dibeli dari fırın (bakery) saat itu juga. Daaan, sofra hazir (hidangan siap)..
Masa setelah Perang Dunia I dan II merupakan masa kekurangan pangan yang menyedihkan bagi orang Turki. Mereka menyebutnya kıtlık alias masa susah/paceklik. Kenangan akan masa susah menjadikan orang Turki menghargai makanan, terutama roti, yang merupakan makanan pokok.
Maka tak heran orang Turki sangat peduli dengan remahan roti. Roti yang segar dari fırın memang biasanya lebih renyah dan kalau disobek akan mengeluarkan banyak remahan. Remahan yang jatuh ke meja sofra juga harus dimakan, karena prinsip orang turki, kita tidak tahu Allah menitipkan berkah di remahan roti yang mana dan di butiran nasi yang mana, sehingga semua makanan harus dihabiskan temasuk remahan roti yang jatuh.
Setelah makan, sebelum bangkit dari sofra, orang Turki juga masih melakukan doa bersama yang disebut bereket duasi. Intinya adalah untuk bersyukur kepada Allah SWT atas segala rizki dan karunia yang telah diberikan.
Ketika doa selesai dan semua mengaminkan, lalu bangkit dari sofra untuk duduk di kursi.  Piring-piring diangkat dan meja sofra dibersihkan dengan kain basah dan sedikit sabun cuci. Lalu dilap sekali lagi dan dikeringkan dengan kain kering. Meja sofra diangkat dan disimpan ditempat yang aman supaya tidak digelindingkan oleh anak-anak atau jatuh ke lantai tempat bayi yang sedang belajar merangkak.
Sofra bez digulung supaya remahan roti yang mungkin ada di dalamnya tidak jatuh ke karpet. Sofra bez dibersihkan dengan cara dikibas-kibaskan diatas bak cuci piring sampai semua remahan roti yang mungkin ada jatuh semua. Setelah dilipat rapi sofra bez biasanya kembali disimpan di laci dapur, kecuali kalau ia terkena kuah sayur, maka setelah dikibas-kibaskan, sofra bez akan mudah masuk ke dalam mesin cuci.
Dahulu, cukup aneh bagi saya ketika pertama kali diundang makan malam di rumah teman suami dan saya langsung melipat sofra bez setelah makan tanpa membersihkannya. Namun untungnya sang teman sangat bijak, tanpa menyinggung perasaan saya, dia mengambil vacuum cleaner kecil dan membersihkan karpet dapur dari remahan roti yang bagi saya waktu itu tak terlihat.
Karpet di tempat sofra tadi digelar biasanya juga langsung dibersihkan dengan vacuum cleaner untuk memastikan tidak ada remahan roti yang tersisa dan kemudian terinjak. Orang Turki sangat khawatir menginjak remahan roti karena bagi mereka itu günah alias dosa.
Ketika memberi makanan kecil semacam biskuit kepada anak-anak pun biasanya dialasi sofra bez sebagai alas mereka makan. Berkeliaran dengan biskuit atau coklat ditangan sangatlah dilarang!
Hal ini bisa difahami karena rumah-rumah di apartemen yang sempit, membuat semua ruangan bisa menjadi kamar tidur ketika malam tiba. Makanya karpet selalu dijaga bersih supaya bisa digelar kasur alias döşek diatasnya, dan seseorang bisa tidur dengan nyaman berselimut yorgan (dalam Bahasa Inggris: duvet).
Di desa sekalipun, rumah-rumah dibuat tidak terlalu besar, tidak ada kamar untuk setiap penghuni rumah. Kalau di desa masalahnya bukan tanah yang sempit, namun mereka lebih memilih rumah kecil dengan pertimbangan mudah untuk menghangatkannya saat musim dingin.
Kebiasaan makan dengan duduk di lantai ini memang sudah berakar dari nenek moyang orang Turki. Kursi dan meja memang buat kebudayaan mereka adalah baru. Bahkan makan dengan menggunakan garpu itu hal baru juga. Tradisi orang Turki adalah makan tanpa sendok, garpu, apalagi pisau. Apakah seperti orang Indonesia yang “muluk” dengan tangan? Ternyata tidak.
Jika ada hidangan pembuka berupa sup, maka tentunya makannya memakai sendok. Selepas itu, lauk pauk disuap dengan bantuan sobekan roti. Caranya, menyobek roti secukupnya saja hanya untuk sekali suap. Lalu dengan menggunakan jari telunjuk dan ibu jari, roti digunakan untuk mengambil lauk, dan langsung disuapkan ke mulut. Perhatikan bahwa jari-jari tidak menyentuk lauk-pauk secara langsung, melainkan hanya rotinya saja.
Konon cara makan seperti tu bertahan hingga awal abad ke-18, yaitu sampai dengan Usmani mulai bersentuhan dengan budaya Eropa, dan kemudian garpu mulai diperkenalkan, juga budaya makan di meja makan.
Sebagai tambahan, bukan hanya masyarakat Turki di desa saja yang mencintai sofra, tokoh politik juga! Acara iftar alias buka puasa, biasanya dijadikan ajang tokoh-tokoh politik untuk silaturahim ke rumah rakyat kecil, tentunya dengan diliput media.




(Emine Erdoğan duduk di sofra (memegang gelas) Sumber: http://www.yenicaggazetesi.com.tr )

Demikian ringkasan saya kali ini tentang adat dan budaya Turki, semoga bermanfaat untuk pembaca Turkish Spirits.
Lia Yulianti
Salah satu anggota redaksi Turkish Spirit ini akrab disapa “Lia” atau “Teteh Lia”. Menekuni pekerjaan paruh waktu sebagai penerjemah untuk pariwisata. Menulis buku Best of Turki (Elex Media Komputindo, 2014) bersama sabahabatnya, Dian Akbas. Salah satu tulisannya terangkum dalam buku Kumpulan Cerpen Bilik Sastra Jilid 3 (RRI World Service-Voice of Indonesia, 2014). Korespondensi bisa melalui email: lia_oke2001@hotmail.com.