Catatan

Sastra

Wacana

Tulisan Terhangat

Kultus Militer dan Bumbu Nasionalisme

14:28:00 Add Comment

Puluhan ribu rakyat sipil membacakan takbir dan doa sembari menyemut sejak di rumah alhamrhum di Emek Mahallesi, kabupaten Safranbolu

[Rakyat Turki ikut menyalati dan mendoakan seorang tentara. Foto Yeniakit]
Mungkin saya berlebihan jika mengatakan bahwa rakyat Turki adalah rakyat paling mencintai tentara dan angkatan perang di antara negara-negara lain di dunia. Ada aspek-aspek lain yang sangat sulit ditemukan di balik pertontonan dukungan dan kecintaan mereka terhadap angkatan perang. Selain Turki, tentu saja ada Amerika yang sama-sama sangat menghargai dan mencintai pasukan militer mereka. Khususnya setelah misinya berhasil pada Perang Dingin—dengan sendirinya kembali mengangkat moral tentara setelah gagal di Perang Vietnam—tentara Amerika menjadi kebanggaan seluruh rakyatnya dan dianggap sebagai generasi terbaik yang mengendalikan kekuatan dunia. Setelah itu, karena faktor kekuatan yang membanggakan, tentara Amerika menjadi “tentara dunia” yang bisa datang kapan saja dan mengintervensi negara-negara lain dengan sangat mudah.

Namun begitu saya sadar bahwa pembuktian dan parameter di balik kecintaan rakyat terhadap mereka tentu membutuhkan data valid dan ukuran-ukuran yang rigid sebelum menjadi klaim. Tetapi dalam kesempatan kali ini, saya ingin menunjukkan sebuah peristiwa yang menggambarkan antusiasme rakyat Turki ketika menyalati dan mengantar seorang tentara yang meninggal dalam perang di Afrin, Suriah. Antusiasme rakyat Turki terlibat dalam prosesi ritual agama hingga seremoni resmi kenegaraan adalah potret unik yang tidak bisa ditemukan di negara lain, baik dalam aspek jumlah maupun gairah dukungan yang berlimpah.

Memang, Turki secara kekuatan militer jauh di bawah negara-negara seperti Amerika, Rusia dan China (dengan anggaran dana untuk militer yang fantastis), tetapi moral bangsanya yang mewujud dalam komitmen dukungan dan partisipasi kepada militer telah ditunjukkan dalam setiap laku keseharian. Jangan terkejut jika kita mendapati banyak rakyat Turki menyatakan siap menjadi pasukan sukarelawan yang kapan saja bisa dilatih dan ikut misi perang. Jika dilacak lebih jauh, faktor adanya wajib militer (askerlik) yang terus dijalankan hingga sekarang (khusus untuk laki-laki) bisa menjadi basis lahirnya kesadaran dan komitmen nyata dari segenap lapiran masyarakat Turki. Inilah yang saya sebut sebagai keunikan, hal-hal lain di balik kecintaan, di mana logika maupun premis-premis ilmiah mandul.

Namanya Ömer Bilal Akpınar, pejabat infanteri senior berpangkat sersan dari angkatan bersejata Turki yang meninggal pada 8 Februari 2018. Ada dua hal yang sangat menyentuh hati dan emosi mayoritas rakyat Turki dari sosok yang mengabdikan hidupnya untuk membela negara dan bangsa itu. Pertama tentu saja jumlah rakyat yang ikut menyalati, mendoakan dan hingga mengantarkannya ke liang lahat. Seperti dilaporkan oleh media-media lokal Turki termasuk Yeniakit, puluhan ribu rakyat sipil membacakan takbir dan doa sembari menyemut sejak di rumah alhamrhum di Emek Mahallesi, kabupaten Safranbolu. Setelah itu, janzahnya dibawa ke pusat kota Karabük (Karabük kent meydani) dan dilakukan upacara pelepasan di Karabük Valiliği (Karabük’te şehidi, alana sığmayan on binler uğurladı, 08/02/2018).

Kedua adalah surat wasiat yang ditulisnya sendiri. Surat wasiat adalah bagian dari ritual para tentara sebelum berangkat tugas dan mengangkat senjata. Ketika menjalankan tugas mereka hanya mempunyai dua kemungkinan: kembali pulang atau meninggal di pertempuran. Ömer Bilal menjadi salah satu dari mereka yang menulis surat wasiat dan membuat rakyat Turki tersedak. Tulisnya, “Saudaraku, perang ini adalah perang salib, melawan dengan iman, antara kebenaran dan kebatilan, kekufuran dan tauhid… jagalah keluargaku. Kuburkan aku di Safranbolu, Saudaraku.” Dalam hal mengocok emosi dan memperdalam rasa empati, surat wasiat menjadi salah satu media yang bisa dipakai oleh para tentara sebelum berangkat perang.

Bagi Turki, surat wasiat bukan melulu urusan personal yang, misalnya permintaan maaf kepada semua kerabat, kerap kali dimunculkan secara mendalam. Ia juga dipentaskan menjadi narasi heroik bagi nasionalisme, menyajikan sebuah sosok yang hadir di tengah-tengah emosi publik demi melindungi bangsa dan negara dari ancaman. Wasiat dengan narasi begitu akhirnya menjadi milik bersama semua rakyat Turki karena sentimen membela negara dan bangsa (juga agama meski tidak selalu masif) telah menjadi keyakinan dirinya berkorban demi negeri (vatana kurban). Dengan begitu, nasionalisme dan patriotisme muncul dan terasah secara terus-menerus.

Selain Ömer Bilal, dalam laporan www.haberler.com ada Hüseyin Şahin dari provinsi Samsun yang proses sebelum pemakamannya juga dihadiri oleh ribuan orang dan bahkan diklaim hingga mencapai jumlah sekitar (Samsunlu Şehidi 10 Bin Kişi Son Yolculuğuna Uğurladı, 11/02/2018); Nurullah Seçen dari kabupaten Ereğli, Konya juga dilaporkan bahwa rakyat yang hadir di hari pelepasan mencapai puluhan ribu; dan terakhir, seperti dilaporkan oleh ensonhaber.com terjadi pada sosok tentara Ahmet Aktepe yang berasal dari Erzurum dengan dihadiri ribuan pelayat yang ikut menyolati dan mendoakannya (Afrin şehitleri son yolculuğuna uğurlandı, 06/02/2018).

Saya tidak bisa menyebutkan satu per satu acara pelepasan untuk para tentara yang gugur di Afrin selama operasi militer Turki yang sudah berjalan lebih dari 23 hari hingga 12 Februari 2018. Jumlah tentara Turki yang gugur selama ini sudah lebih dari 100 personal dan melumpuhkan lebih dari 1480 teroris dari pihak musuh. Tapi saya bisa memastikan bahwa dalam situasi rumit seperti ini—di mana Turki berada dalam ancaman yang cukup serius di tengah absennya otoritas pemerintahan Suriah di bagian utara negara itu dan dinilai Turki akan menjadi tempat infiltrasi gerakan teroris yang mengancam negara—rakyat Turki hadir secara nyata memberikan dukungan dan menyampaikan terima kasih kepada para pejuang negara.

Sebelum lebih jauh, saya ingin memastikan bahwa jumlah angka yang tertera dalam pemberitaan di atas tidak bisa diverifikasi secara pasti. Tetapi secara gamblang kita bisa melihat gambar-gambar dan video yang menunjukkan partisipasi rakyat dalam keramaian yang sangat sesak seperti itu, misalnya keramaian masif di Karabük. Meksipun jumlah yang hadir tidak bisa dihitung secara pasti, antusiasme rakyat Turki dengan menghadiri proesesi sebelum pemakaman harus dilihat sebagai gerakan kesadaran dan kepedulian atas nama bangsa dan negara. Artinya, solidaritas seperti itu tidak akan pernah muncul di tengah masyarakat yang kehilangan wawasan dan orientasi nasional, apalagi di negara-negara yang mempunyai konflik dan kekerasan antarmasyarakat dalam situasi terpolarisasi secara maksimal.

Mereka yang hadir di tengah-tengah pelepasan para şehit (syahid), istilah yang dipakai oleh orang Turki untuk menyebut mereka yang gugur membela negara, adalah rakyat jelata yang terpanggil secara tulus menyampaikan belasungkawa dan empati yang mendalam sebagai bangsa dan warga negara. Meski tidak sedikit yang beroposisi terhadap pemerintahan dan menunjukkan penentangan atas kebijakan-kebijakan yang dimabil Presiden Recep Tayyip Erdoğan, rakyat Turki tidak bisa beroposisi melawan tentara mereka. Rakyat Turki menitipkan amanah kesatuan negara dan kedamaian internal bangsa kepada militer yang bertugas baik di perbatasan maupun di daerah-daerah yang menjadi sarang konflik di Turki.

Dalam banyak kasus, sebagai negara yang mempunyai tradisi militeristik yang kuat, masyarakat Turki mempunyai kebanggaan tersendiri tehadap militer dan angkatan perang mereka. Tetapi bukan berarti bahwa semua anggota militer menjadi panutan ataupun sumber kebanggaan. Banyak rakyat Turki juga tidak menghendaki kekuatan militer yang justru masuk ke relung-relung kekuasaan, misalnya dengan dalih menjaga konstitusi, tetapi dalam praktiknya justru dipakai oleh para jenderal dan orang-orang internal militer untuk menguasasi negara, misalnya lewat kudeta militer yang sudah biasa terjadi di Turki sejak tahun 1960.

Singkatnya, masyarakat Turki mencintai tentara dan personel pasukan militer yang jelas-jelas berjibaku dengan tugasnya yang secara fisik bisa mereka lihat. Rasa cinta tersebut kemudian diekspresikan khususnya ketika di antara mereka ada yang gugur di medan perang. Situasi seperti itu kerap kali menciptakan narasi heorik yang diproduksi secara masif oleh media dan pada gilirannya akan menjadi bumbu bagi nasionalisme rakyat Turki.

Nasionalisme

Kenapa rakyat Turki bergitu besar menunjukkan antusiasne dan dukungan terhadap pasukan militer, khususnya yang bertugas perang dan menumpas separatis? Pertanyaan seperti ini sebenarnya sudah lama menjadi bagian dari renungan dan pengamatan saya sendiri. Saya seringkali tertegun diam menyaksikan antusiasme rakyat Turki terhadap apapun yang menyangkut dengan perjuangan harga diri bangsa dan negara. Untuk menjawab pertanyaaan seperti itu saya coba masuk ke tengah emosi rakyat dan memori bersama (collective memory) yang hidup dan bergeriat dalam laku keseharian mereka.

Terma nasionalisme khas Turki tentu saja bisa diketengahkan di sini sebagai faktor umum yang sudah terbentuk dan membentengi bagian terluar dari kehidupan bangsa. Jika diibaratkan sebuah benteng, nasionalisme bertugas melindungi warga negara Turki dari serangan dan ancaman musuh dari luar. Tetapi di sisi lain, nasionalisme Turki justru sangat embedded dan terinternalisasi dalam jiwa setiap warga, menjadi paradigma dan karakter kebangsaan di bawah republik Turki. Rancangan ideologis tentang Turki modern yang diproduksi oleh para ideolog Turki modern dan telah meletakkan fondasi nasionalisme seperti Namık Kemal (1940-1888), Ziya Gökalp (1876-1924), Ahmed Agaoğlu (1869-1939) dan Yusuf Akçura (1876-1935) tetap bertahan hingga nyaris satu abad. Nasionalisme Turki adalah proyek ideologi politik dan kebudayaan untuk meneguhkan eksistensi suku bangsa Turki (Turk sebagai suatu etnik), dalam semua aspeknya, yang nyaris sama seperti langkah Jepang dengan mengidentifikasi dasar-dasar gerakan nasionalisme mereka melalui kebudayaan (Nihonjinron).

Sebagai ideologi negara, nasionalisme bekerja sangat efektif dalam mengelola sentimen atas nama nation dan national. Dua ranah ini sangat penting bagi nasionalisme Turki dengan misalnya dibuatkan Undang-Undang Pasal 301 yang mengatur secara khusus tentang sentimen negatif terhadap nation dan national, salah satunya misalnya tentang insult Turkishness atau Turkish nation. Di bawah kekuasaan Tayyip Erdoğan lewat Partai Keadilan dan Pembangunan (APK) istilah Turkishness akhirnya diganti menjadi Turkish nation untuk mewadahi secara lebih luas bangsa dan warga negara Turki, tanpa melihat identitas etnik mereka. Pasal tersebut satu sisi sangat rawan menjadi alat pembungkaman, misalnya pernah menyasar ke novelis Orhan Pamuk. Tetapi di sisi lain, ia menjadi sangat efektif dalam proses ideologisasi nasionalisme dengan mengangkat sentimen bangsa.

Selain nasionalisme, saya melihat ada ancaman nasional (national threat) yang faktor penyatu bagi mereka. Di balik kegagahannya sebagai bangsa besar dan penakluk, Turki di waktu bersamaan adalah bangsa yang cukup vulnerable, yaitu bangsa yang selalu merasa dikepung dan diancam oleh para musuh. Saya memakai terma vulnerable bukan dalam makna etimologi, tetapi lebih kepada pemahaman terminologi untuk mewadahi perasaan masif dari sebuah bangsa yang merasa selalu ingin dipecah-belah, semacam reproduksi emosi dan mental yang kerap kali dideklarasikan oleh kelompok ultranasionalis (kasus Turki) ataupun oleh militer sendiri (dalam kasus di Indonesia), dengan tujuan agar warga negara menyatukan langkah dan komitmen membela negara. Meski narasi ini tidak bisa diklaim sebagai memori kolektif yang menyasar secara massal, perasaan rentan akan perpecahan (karıştırmak) menjadi narasi yang cukup mudah ditemui di tengah-tengah rakyat.

Untuk itu, rakyat Turki sangat taktis dan efektif dalam hal mengenali siapa musuh-musuh mereka dan narasi tentang musuh yang harus diwaspadai karena berpotensi mengganggu tetap dikelola oleh penguasa sebagai upaya polulis untuk mendapatkan legitimasi di tengah publik. Akhirnya, rakyat Turki dengan cukup mudah dapat mengidentifikasi musuh-musuh mereka, misalnya Armenia, Yunani, Rusia, Prancis, Inggris, Israel dan Amerika. Selain dua negara terakhir, rakyat Turki mengenang mereka sebagai musuh yang menyejarah. Sementara Israel dan  Amerika tidak lebih sebagai musuh yang lahir belakangan.

Musuh-musuh yang saya sebutkan di atas bukan lantas tidak menjalin hubungan kerja kedua negara. Mereka sangat terkait erat dengan memori dan ingatan sejarah bangsa Turki. Karena selain Armenia, Turki mempunyai hubungan bilateral dengan negara-negara di atas.

Di samping itu, organisasi yang berpotensi memecah-belah seperti PKK (Partai Pekerja Kurdistan), kelompok komunis dan organisasi yang berafiliasi dengannya, Al-Qaeda, Hizbut Tahrir dan ISIS adalah musuh nyata dalam internal  negara. Sementara dari luar negeri khususnya di perbatasan mereka, muncul nama organisasi seperti PYD/YPG (faksi militer Kurdi di Irak dan Suriah) yang menjadi target operasi militer Turki lewat operasi Ranting Zaitun (Zeytin Dali Harekati). Siapa pun yang berani berafiliasi dan mendukung kelompok di atas secara gamblang akan menjadi musuh bersama (common enemy) bagi rakyat Turki.

Dalam kondisi demikian, kepercayaan rakyat Turki hanya bersandar kepada pasukan keamanan, mulai dari polisi hingga angkatan bersenjata yang mereka miliki. Karena pasukan keamanan Turki selalu berjibaku dengan berbagai ancaman baik dari internal maupun eksternal dan rakyat Turki melihat dan merasakan secara nyata keberpihakan militer terhadap negara. Keterlibatan militer yang begitu dalam terhadap negara dan bahkan dunia politik sekalipun tidak bisa dilepaskan dari tradisi militer yang membentengi republik Turki. Khususnya sebelum AKP berkuasa, militer mempunyai kendali sangat besar terhadap negara yang secara gamblang bisa dilihat dari praktik-praktik kudeta yang sekaligus merontokkan demokrasi. Seperti dikutip M. Alfan Alfian dari M Naim Turfan dalam Looking After and Protecting the Republik: The Legitimation of The Military’s Authority in Turkey, militer diposisikan sebagai garda depan revolusi dengan hak untuk campur tangan dalam politik, jika kelangsungan negara dalam bahaya (Alfian, 2018: 33). Meski tentu saja bercorak otoritarian ketika intervensi militer terus membayangi negara, pertemuan sipil-militer dalam tingkat grass root cenderung menyisakan aspek-aspek emosional karena mereka dianggap sebagai benteng negara. Tetapi, ketika sudut pandang yang dipakai adalah relasi sipil-militer dalam konteks demokrasi, negara Turki tentu bukan model yang ideal, untuk tidak mengatakan buruk.

Dalam tulisan ini, saya tidak sedang membicarakan relasi sipil-militer dalam diskursus dan kajian demokrasi, tetapi lebih fokus ingin mengungkap sisi-sisi “pertemuan emosi” antarmereka yang sangat akrab, dekat dan penuh cinta! Kematian seorang tokoh politik sekalipun sangat susah untuk dihadiri oleh rakyat hingga di atas 10 ribu. Tetapi Ömer Bilal Akpınar, sebagai pasukan perang yang kesehariannya tidak terekspos secara berlebihan, mempunyai cerita lain dan, bagi saya, sangat beruntung karena telah berhasil menyedot perhatian dan cinta, setidaknya, dari masyarakat Karabük dan sekitarnya.

Pertemuan emosi antara sipil dan militer tentu saja tidak terbentuk secara gegabah dan serampangan. Bagi saya, semua itu adalah hasil dari kinerja ideologi pancasila dengan meletakkan posisi militer sebagai guardian terhadap negara dan bangsa. Yang awalnya diletakkan sebagai garda depan untuk menjaga republik (cumhuriyet bekçisi) yang sekuler, militer Turki di bawah Erdoğan semakin didekatkan kepada rakyat dan di waktu bersamaan rakyat sipil diperkuat pengetahuan demokrasinya. Sehingga akhirnya rakyat Turki menolak segala bentuk kudeta (darbeye hayır) yang secara gamblang dibuktikan lewat aksi turun ke jalan untuk melawan percobaan kudeta 15 Juli 2016.

Pertemuan emosi antara sipil-militer dan kehadiran solidaritas di antara rakyat sipil, bagi saya, disebabkan oleh situasi Turki terkini. Militer di Turki bekerja melawan maut yang secara langsung terlibat dalam misi perang ataupun operasi keamanan di perbatasan. Saya menyaksikan sendiri bahwa tentara dan pasukan keamanan Turki tidak pernah berada dalam situasi yang tenang dan nyaman. Lihat saja korban-korban tewas dari pihak militer Turki yang terus berguguran dari waktu ke waktu, dalam operasi yang dilakukan menumpas PKK di bagian tenggara dan timur. Sejak kelompok separatis itu aktif melakukan perlawanan dengan mengangkat senjata sejak tahun 1980-an, sudah tidak terhitung jumlah pasukan keamanan Turki yang tewas dalam menjalankan tugasnya.

Untuk itu, solidaritas, empati dan bahkan emosi yang lahir di tengah situasi seperti itu adalah keniscayaan yang harus lahir di Turki. Saya percaya bahwa nasionalisme dan kecintaan rakyat Turki (atau bahkan kita semua) kepada aparat militer semakin menggebu-gebu di tengah situasi di mana negara dan bangsa berada dalam ancaman. Tetapi sebaliknya, jika aparat keamanan dan pasukan militer sekalipun hanya menggebuki rakyatnya sendiri karena melakukan demo mempertahankan tanahnya dari penggusuran misalnya, jangan berharap mendapatkan empati dan rasa cinta yang tulus dari rakyat. 


Bernando J. Sujibto
Penulis adalah peneliti sosial dan kebudayaan Turki. Alumni pascasarjana Sosiologi di Selcuk University, Konya Turki. Follow Twitter @_bje.

Pantomim

10:28:00 Add Comment

Kebenaran seperti kematian

[Foto dari internet]
Di Haseki ada sebuah rumah dengan tiga kamar di ujung jalan buntu, seperti sebuah kuburan, dihantui kesunyian yang panjang. Tempat itu terletak di tengah-tengah barang-barang bekas yang terlupakan dan terbengkalai. Balok kayu yang jatuh dari atap, batu ubin yang retak dan berlepasan dari lantai dan batu-batu lain yang menempel di dinding-dinding bertahun-tahun rontok teronggok di tempat yang sama. Kadang kala seorang perempuan tua Yunani yang jelek—dengan menampakkan kemampuan khusus seperti seorang penyihir yang mandraguna—mengambil dan menjual barang-barang yang dibutuhkan di rumah itu dan dengan cepat kilat menghilang kembali ke rumahnya. Sebuah pohon besar di dekat dinding pada kebun kecil rumah itu, saat terik matahari bulan Juli mencampakkan Istanbul dalam belaian udara panas, angin sejuk yang tersembunyi antara dedaunan di rumah itu mulai memancarkan udara seperti kipas angin hijau besar di lingkungan itu.

Hari Jumat musim panas, sekira siang hari, dari rumah itu ada seorang lelaki bangkit dari kursi dan keluar dengan sebuah bundelan, mendorong dan menutup pintu kembali dengan awas dan beranjak pergi. Dilihat dari belakang orang ini seperti berusia 33 tahun dengan punggungnya yang tampak gemuk dan lebar, tapi pada kakinya yang mungil terlihat ada beban yang hendak dibawa ke sebuah tempat sehingga membuatnya begitu susah bergerak. Seonggok tubuh yang menyusuri jalan-jalan panjang nan sepi di kawasan dengan wajah muram dan penuh pikiran itu datang untuk menghibur raykat jelata. Ia datang ke depan sebuah rumah yang di sekitarnya ditopang dengan kayu-kayu sebagai penyanggah. Di atas pintu rumah itu ada kertas besar tertulis:

"Pantomim Paskal yang Terkenal. Di sini setiap hari Jumat dan Minggu Paskal yang terkenal dengan humor yang jenaka akan tampil, Paskal yang telah berhasil merebut hati penonton setiap minggu akan menyuguhkan permainan-permainan baru ke atas panggung!"

Paskal seorang diri. Setelah memasuki panggung, membuka bundelan, memakai kerucut berwarna putih yang tak pernah diganti dan mengolesi wajah bagian bawah mata hitam dengan warna merah—di antara pikiran-pikiran kosong yang menyeruak tanpa jiwa itu—Paskal menyuguhkan pertunjukan yang dilumuri gelak tawa dan sorak sorai.

Dalam pemintasan itu, Paskal yang tengah berperan sebagai seorang gadis kasmaran mengundang tawa ketika dirinya mengemis-ngemis di lantai untuk menunjukkan kesukaan dan menghadirkan bahasa cinta demi merebut hati kekasihnya. Seorang penonton dengan sebatang rokok di mulutnya menghentikan pertunjukan, sembari bersandar pada galah sisi belakang panggung dan memegang kain yang menutupi kepalanya:

"Apakah suara Paskal tidak bisa nyaring? Orang-orang tertawa terpincut karenanya!” ujarnya.

Sebagian besar orang yang duduk di kursi-kursi kecil di sekitar tempat itu menyetujui permintaan orang tadi. Pada sebuah ungkak di sebelah tempat pertunjukan, seorang gadis muda dengan senyum kekanak-kanakan demi melerai luka-derita hidupnya bertepuk tangan sambil menyentuhkan kedua tangannya dengan begitu tulus, seperti burung-burung yang terbang mengepakkan sayap-sayapnya dengan kegembiraan yang utuh. Setiap minggu gadis berusia 20 tahun bernama Eftalya itu datang ke pertunjukan bersama seorang perempuan yang sudah renta.

“Anakku, kamu sangat menyukai pertunjukan ini?” tanyanya suatu waktu.

Eftalya menuturkan kepada perempuan tua itu tentang Paskal yang mengingatkan dirinya pada seekor anjing kesayangannya yang mati, juga pada seekor kera yang sangat disenangi dan pernah sekali dijumpainya.

Pada suatu hari, dengan kain putih dan senyuman magis di tengah-tengah keramaian, gadis muda itu melemparkan bunga dari ungkak tempatnya duduk ke arah pemain karena begitu menyukainya dan juga karena seperti sedang melihat binatang piaraan yang dicintainya. Ketika bunga-bunga yang dilempar itu menyentuh wajah dan dadanya, Paskal meraba jantungnya terasa menyakitkan seperti dihantam hewan pemangsa dari sebuah tempat yang jitu. Beberapa menit kemudian, dia terus menangis sembari duduk di atas tanah di dalam area pertunjukan, di antara gelak tawa orang-orang yang bergemuruh. Paskal yang malang ternyata menyukai Eftalya yang cantik itu. Sosok yang malang ini mencintai seorang perempuan yang sempurna!

Tetapi Paskal bahkan tidak berani mengatakan rasa cintanya di mana kondisi seperti ini sudah biasa ditanggungnya sejak kecil dan itu hanya mampu disimpannya di sudut paling rahasia hatinya, bahkan kepada pelayan tua di rumahnya sekalipun. Dalam hidupnya tidak ada seorang pun yang terlibat memberikan pandangan dalam urusan hubungan dengan perempuan yang disukainya. Semua yang membuatnya tertawa berasal dari darinya yang kesepian! Lihat, dalam keadaan kacau seperti ini pun, pada tintik air mata yang mengalir karena kesedıhan, semua orang masih tertawa terbahak-bahak.

Tengah malam seusai pertunjukan, Paskal menyusuri jalan pulang sembari membawa bundelan itu ke rumahnya. Setelah membuka pintu kamar dan setelah paham bahwa tak ada seorang pun di dalam rumah, tak ada pula yang datang dan ketika di jalanan sudah sepi, Paskal mulai memikirkan seorang gadis bernama Eftelya yang cantik itu.

Sebenarnya kenapa hari itu orang-orang tertawa begitu lepas kepada dirinya? Setelah mengeluarkan bunga dari pelukannya dan tidak ingin mencederainya sedikit pun, Paskal mencium bunga itu dengan rasa hormat lalu ditaruh di sebuah tempat paling tinggi di kamarnya. “Oh, bunga, oh bunga ini akan membunuhku,” racaunya.

Andai saja diizinkan oleh dirinya… kamar itu akan dihias dengan pot bunga, Eftelya yang cantik itu diminta duduk di pojok, permintaan cerita apapun yang paling aneh akan dipenuhinya, sepenuh malam akan membuatnya tertawa. Paskal lalu mengangkat kepalanya seolah terbangun dari tidur nyenyak penuh mimpi indah. Ah, selalu buruk, dunia sandiwara! Paskal pun mulai menangis…

Pada hari-hari terakhir, begitu cepat bulan datang dan pergi membawa berita berkabung. Pertunjukan itu dua minggu sudah tanpa Eftalya karena ia tengah melangsungkan pernikahan. Tepat pada hari Jumat setelah Paskal yang malang membuat Eftelya bersama suaminya yang datang ke pertunjukan terpingkal-pingkal, demi tidak merasakan kesedihan hatinya yang hancur lebur dia kembali ke rumahnya dengan kepala tertunduk, lalu menutup pintu dan terkubang di dalam kamarnya.

Beberapa hari kemudian, tepatnya setelah siang hari, ketika seorang Yunani tua itu tidak mendapatkan jawaban meski sudah menggedor-gedor pintu, dengan rasa takut ia memangil orang-orang di kawasan itu lalu mendobrak pintu dan masuk ke dalam rumah Paskal. Mereka yang masuk ke kamar itu pun sontak tertawa lepas: melihat Paskal yang seperti meniru seseorang yang sedang gantung diri, dengan bentuk dan desain talinya yang ajaib.

Seperti kehidupannya untuk menghibur orang-orang, pada hari kematiannya pun Paskal tidak membuat orang menangis, meski saat itu dia bukan sedang bersandiwara, kebenaran seperti kematian.

Diterjemahkan oleh Bernando J. Sujibto dari cerita berjudul Pandomima karya Sami Pasazade Sesai.

Partai AKP dan Perjudian di Turki

10:01:00 Add Comment

Ketika tahun pertama partai AKP berkuasa di tahun 2002 pendapatan dari judi 1.43 miliar Lira dan telah meningkat dua kali lipat pada tahun 2016 menjadi 2.814 miliar Lira.

[AKP dalam salah satu kampanyenya di Konya, 2014. Foto: Bernando J. Sujibto]
Cuaca dingin tak menghalangi warga istanbul untuk antri membeli nomor togel Nimet Abla di kawasan Eminonu, Istanbul (Hurriyet, 2017). Toko yang tepat bersebelahan dengan masjid Yeni Cami ini telah bertahun-tahun menjual togel terutama pada akhir tahun ketika undian berhadiah besar dilakukan. Perjudian di Turki diatur oleh pemerintah lewat sebuah badan perjudian nasional (Milli Piyango Idaresi). Lalu bagaimana dengan perjudian di Turki di zaman partai AKP yang terkenal Islami itu?

Judi togel telah ada di Turki bahkan  dari zaman kesultanan Osmai pada pertengahan abad ke 19. Sempat dilarang oleh Sultan Abdulmajit pada tahun 1855 dan kembali diperbolehkan ketika Sultan Abdulaziz berkuasa pada tahun 1865. Lalu Sultan Abdulhamid II memperbolehkan perjudiaan togel ini dengan syarat uang yang diperoleh sebagian digunakan untuk kepentingan masyarakat (Idaresi, 2013). Dengan izin sultan, walikota Izmir pada waktu itu membuat undian togel untuk membantu pembangunan rumah pekerja pada tahun 1887. Untuk membantu para janda akibat perang Osmani-Yunani di tahun 1897 diadakan juga undian togel. Komunitas penerbang (teyyare cemuiyeti) di tahun 1926 hingga tahun 1939 memonopoli judi togel di Turki dan menggunakan uang yang diperoleh untuk membeli pesawat untuk kepentingan militer (Toplum, 2016). Barulah pada tahun 1939 badan urusan perjudian nasional Turki didirikan.

Hingga Turki di bawah kekuasaan partai AKP yang digambarkan sangat Islami itu pun perjudian tetap berlangsung bahkan jumlah konsumennya meningkat 2.5 lipat dari tahun 2003 (Odatv, 2009). Badan perjudian nasional Turki berada di bawah Kementrian Keuangan Turki dan perjudian tebak gol dalam sepak bola juga memiliki garis koordinasi dengan Kementrian Pemuda dan Olahraga Turki. Hal yang menarik juga ialah ketika anak seorang mantan kepala penasihat mufti Istanbul menjadi direktur judi bola Spor Toto dari tahun 2006 hingga 2012 lalu digantikan oleh salah satu penasihat di Kementrian Pendidikan Turki hingga sekarang. Jenis judi pun semakin beragam dengan diluncurkannya judi Bola Super Loto 6/54 di tahun 2007 yang sekarang menjadi salah satu judi yang paling digemari di Turki. Diperkirakan setiap hari ada lebih dari empat juta orang menjadi konsumen judi.

Ketika tahun pertama partai AKP berkuasa di tahun 2002 pendapatan dari judi 1.43 miliar Lira dan telah meningkat dua kali lipat pada tahun 2016 menjadi 2.814 miliar Lira. Jumlah uang yang didapat itu telah diatur pembagiannya melalui Undang-Undang Nomor 5602 tahun 2007 tentang pengaturan pajak permainan keberuntungan dan pembagiannya. Menurut peraturan itu jumlah uang yang dibagikan untuk pemenang ialah 40-59 persen dari total pendapat tahun itu. Lalu pemerintah mengambil pajak permainan keberuntungan sebesar 8% serta pajak pertambahan nilai sebesar 15%. Publik juga mendapat bagian dari uang judi sebesar 18-21% dan sisanya dipakai untuk membagi keuntungan bersama reseller nomor togel serta operasional perusahaan (Idaresi, MPI Yillik Raporu, 2016).

Meskipun bagian untuk publik itu terlihat lumayan signifikan (digunakan sebagai bantuan sosial masyarakat), uang tersebut diprioritaskan untuk mendukung industri pertahanan di mana kebijakannya cenderung cepat berubah dalam satu waktu. Hingga tahun 2016 Badan Perjudian Turki telah membangun tiga pusat rehabilitasi, 10 asrama pelajar, 40 sekolah, 348 unit apartemen guru, dan satu unit kompleks olahraga. Sekolah yang dibangun juga bukan hanya sekolah sekuler pemerintah, tapi juga sekolah islam Imam Hatip di daerah Bagcilar, Istanbul. Uang tersebut juga digunakan untuk mendukung klub olahraga di Turki (Idaresi, MPI Yillik Raporu, 2016). Meskipun Diyanet (Direktorat Urusan Agama Islam Turki) telah mengeluarkan fatwa haram permainan yang berdasar untung-untungan tersebut, namun masyarakat tetap ikut andil dalam perjudian.

Ada beberapa anggapan dari masyarakat luar Turki bahwa rakyat Turki—karena pengalaman sekulerisasi dan sebagainya—masih jauh dari nilai-nilai agama Islam. Namun kalau memang pemerintah AKP yang sudah sangat kuat itu tidak menghendakinya, dalam hitungan menit pun seluruh jenis perjudian di Turki akan ludes  jadi ampas. Tapi kenapa hingga sekarang masih dibiarkan? Tanyakan pada ombak yang berkecipak di Bosphorus….

Turki nampaknya berhasil mengelola uang panas itu untuk digunakan dalam industri  pertahanan dan kepentingan sosial negara. Antusiasme masyarakat juga meningkat yang berarti pengelolaan uang itu juga dapat dipercaya. Badan Perjudian Nasional Turki juga tengah meningkatkan pelayanan agar lebih baik dengan cara digitalisasi sistem judinya. Perjudian juga diberikan kebebasan untuk beriklan dan ada koran khusus yang terbit membahas judi dan hasil undian.

Daftar rujukan:
Hurriyet. (2017, December 21). Retrieved december 29, 2017, from Hurriyet.com:        http://www.hurriyet.com.tr/61-milyonluk-milli-piyango-bileti-kuyrugu-40685623
Idaresi, M. P. (2013, december 29). Retrieved december 29, 2017, from www.millipiyango.gov.tr: http://millipiyango.gov.tr/node/40
Idaresi, M. P. (2016). MPI Yillik Raporu. Ankara: Milli Piyango Idaresi.
odatv. (2009, Maret 10). Retrieved December 29, 2017, from www.odatv.com: https://odatv.com?akp-kumarbaz-cikti-1003091200_m.html
Toplum, T. (2016). Retrieved december 29, 2017, from www.tarihtoplum.org: http://www.tarihtoplum.org/osmanlida-milli-piyango/


Fikri Rahmat
Penulis adalah mahasiswa S1 Ilmu Politik dan Hubungan Internasional, Yıldız Teknik Üniversitesi, İstanbul. Penerima beasiswa YTB 2014. Minat kajian sejarah politik, kebijakan publik, dan bahasa.