10 Lagu Pop Turki yang Enak di Kuping Indonesia

01:09:00 27 Comments

Lagu-lagu pop pilihan TS ini akan diurutkan dari yang paling sedikit ditonton sampai yang paling banyak ditonton di Youtube

[Iren Dirici. Foto @hurriyet.com.tr]
Industri musik Turki bisa dibilang cukup maju. Hampir tiap bulan terus bermunculan karya-karya baru  dari musisi-musisi Turki. Kemajuan musik-musik Turki salah satunya tentu karena faktor apresiasi tanggi dari rakyatnya sendiri. Agak berbeda dengan Indonesia di mana restoran, kafe dsb lebih sering memutar musik atau lagu-lagu luar negeri, orang Turki cenderung lebih banyak menikmati lagu-lagu karya musisi dalam negeri sendiri. Hal itu bisa menjadi bukti jumlah viewer lagu-lagu Turki di Youtube menanjak dari yang puluhan juta sampai di atas 100 juta, meski jumlah penduduk Turki hanya sekitar 70 jutaan. 

Meski industri musik Turki berkembang pesat dan maju, yang unik adalah identitas atau rasa musik Turki tidak ditinggalkan begitu saja. Cengkok ala Turki dan alat musiknya seperti bağlama dsb masih sering terdengar di dalam lagu-lagu yang sekalipun banyak mengadopsi kemajuan musik Barat.

Kali ini Turkish Spirit (TS) ingin merekomendasikan 10 lagu pop Turki yang populer dalam 3 tahun terakhir dan yang  cocok di kuping Indonesia. Tentu saja karena kuping orang Indonesia sangat banyak dan variatif seleranya, rekomendasi ini sangat subyektif, semacam “kuping” Turkish Spirit dari begitu banyak lagu pop Turki yang ditayangkan Youtube. Lagu-lagu pop pilihan TS ini akan diurutkan dari yang paling sedikit ditonton sampai yang paling banyak ditonton di Youtube.  Yang paling sedikit ditonton pun telah ditonton sebanyak 44 juta kali, yakin deh pasti bisa melenturkan pikiran yang kaku.  

1. Mustafa Ceceli - Hüsran
Sampai dengan 30 Maret 2016 telah ditonton 44,382,954 kali

2. Toygar Işıklı - Hayat Gibi
Sampai dengan 30 Maret 2016 telah ditonton 45,484,507 kali

3. Gökhan Türkmen - Çatı Katı
Sampai dengan 30 Maret 2016 telah ditonton 50,214,741 kali

4. Zakkum - Ben Ne Yangınlar Gördüm
Sampai dengan 30 Maret 2016 telah ditonton 54,798,154 kali

5. Gülden Mutlu - Yatsın Yanıma
Sampai dengan 30 Maret 2016 telah ditonton 66,834,290 kali

6. Gülşen feat. Murat Boz - İltimas
Sampai dengan 30 Maret 2016 telah ditonton 72,733,601 kali

7. Demet Akalın - Koltuk
Sampai dengan 30 Maret 2016 telah ditonton 86,322,616 kali

8. Ozan Doğulu feat. Ece Seçkin - Hoşuna mı Gidiyor
Sampai dengan 30 Maret 2016 telah ditonton 120,804,779 kali

9. Hadise - Prenses
Sampai dengan 30 Maret 2016 telah ditonton  120,861,278 kali

10. İrem Derici - Kalbimin Tek Sahibine
Sampai dengan 30 Maret 2016 telah ditonton 163,572,732 kali

Yanuar Agung Anggoro
Mahasiswa Selcuk University, Konya asal Batang, Jawa Tengah. Gemar membuat bakso sendiri, penikmat Lahmacun, dan fans garis keras Manchester City. Tulisan-tulisannya bisa dijumpai di blog penulis di sini.

Planet Biru, Harapan Baru

01:18:00 3 Comments

"Video ini menyedot perhatian luas karena tersimpan kisah di balik anak kecil yang menyanyikannya: Hatice pergi meninggalkan Diyarbakir yang dalam satu tahun terakhir terjadi operasi militer oleh keamanan Turki untuk menumpas gerakan separatis PKK."

[Foto @Youtube] 
Di tengah gejolak konflik dan kekerasan yang terus merundung Turki dan beberapa kasus pemerkosaan terhadap anak yang dalam waktu bersamaan menghiasi media-media lokal dalam minggu-minggu ini, seorang siswi Sekolah Dasar bernama Hatice menyanyikan sebuah lagu anak yang populer di Turki beejudul Mavi Gezegen (Planet Biru). Lagu yang diposting oleh pengguna Youtube Boğaziçi Caz Korosu, sebuah kelompok paduan suara dari Universitas Boğaziçi, dalam waktu beberapa jam langsung menyedot perhatian publik Turki. Lagu ini dinyanyikan oleh Hatice dengan iringan gitar yang dipetik oleh gurunya sendiri.

Menurut situs http://odatv.com/, video ini menyedot perhatian luas karena tersimpan kisah di balik anak kecil yang menyanyikannya: Hatice pergi meninggalkan Diyarbakir yang dalam satu tahun terakhir terjadi operasi militer oleh keamanan Turki untuk menumpas gerakan separatis PKK. Ia pergi ke Mardin, provinsi tetangga, yang relatif lebih aman.

Tetapi, akun resmi Youtube Boğaziçi Caz Korosu sendiri tidak menjelaskan di mana video ini berasal. 

Silahkan simak lirik lengkap lagu karya Yavuz Durak berikut:

Mavi Gezegen 

Sen ve ben ikimiz gidelim gel de sen
Çok uzak küçücük orası masmavi bir gezegen

Gündüz güneş sımsıcak gecemize
Ay varmış gökyüzü ışıl ışıl
Onun adı dünya

Kuşlar uçarmış tüm çiçekler açarmış
Çocuklar hep oynarmış dünyada

Aslında içinde yaşadığımız dünya
Ne uzak ne küçük çok yakın
Çok büyük bir dünya

Aslında önemli olan fark etmek
Değerini bilmek korumak
Ona çok çok iyi bakmak

Dünyamız bir tane
Bir eşi yok bu evrende
Sonsuzlukta parlayan bir hazine

Planet Biru
[Terjemah Didit Haryadi]
Ayo kau kemari kita pergi bersama
Ke planet biru yang kecil nan jauh
Hangat sinar mentari untuk malam kita
Bulan kelap kelip di awan
Itulah dunia
Burung-burung terbang dan bunga-bunga bermekaran
Di sana anak-anak selalu riang bermain
Sebenarnya dunia yang kita huni
Tak jauh ataupun kecil tapi sangat dekat
Sungguh, dunia sangat luas
Sebenarnya yang penting adalah kesadaran
Menghargai dan melindungi
Jagalah dunia
Dunia kita hanya satu
Di alam semesta ini tidak ada yang menyamainya
Sebuah harta karun yang kemilaunya


<ts/bjeben> 
Sumber: Youtube Boğaziçi Caz Korosu dan http://odatv.com/

Mihrimah, Ekspresi Cinta Mimar Sinan

13:58:00 Add Comment

Dari sekian banyak bangunan yang ia dirikan, ada dua masjid yang ia bangun sebagai ekspresi cintanya kepada seorang perempuan yang tak tersampaikan

[Mihrimah Diperankan oleh Pelin Karahan dalam Drama Muhteşem Yüzyıl. Foto : @Startv.co.tr]
Mimar Sinan adalah arsitek ulung yang hidup pada masa kekhalifahan Usmani, lahir dan dibesarkan di kota Kayseri. Sejak dipercaya oleh Celebi Lutfi Pasa menjadi arsitek di Istanbul tahun 1539 M, tak butuh waktu lama Mimar Sinan dikenal di kalangan elite kekhalifahan Ottoman.

Hingga akhir hayatnya, Mimar Sinan telah membangun 476 bangunan yang terdiri dari  94 bangunan masjid besar, 57 gedung sekolah, 52 bangunan masjid kecil, 48 tempat pemandian, 35 istana, 22 makam, 20 caravanserai, 17 dapur umum, delapan jembatan, delapan gudang penyimpanan, tujuh madrasah, enam pengatur air, dan tiga rumah sakit. Karyanya yang paling terkenal adalah Masjid Sulaiman di Istanbul. Ada pula Masjid Selimiye di Edirne, dan Masjid Banya Bashi di Sofia di Bulgaria.


Namun dari sekian banyak bangunan yang ia dirikan, ada dua masjid yang ia bangun sebagai ekspresi cintanya kepada seorang perempuan yang tak tersampaikan. Hingga saat ini kedua masjid itu pun diberi nama sama seperti nama gadis yang dicintainya, Mihrimah.

Suatu hari pada 21 Maret 1522, setiap sudut Istana Topkapi dipenuhi kegembiraan, hal ini dikarenakan Sultan Sulaiman mempunyai seorang puteri yang baru saja lahir, Puteri Mihrimah. Namanya diambil dari bahasa Persia, Mihir berarti Matahari dan Mah adalah Bulan.

17 tahun pun berlalu, Puteri Mihrimah semakin mempesona. Usia 17 tahun adalah usia yang ideal untuk menikah saat itu. Maka hadirlah dua calon yang ingin menikahi sang puteri. Gubernur Diyarbakir, Rustem Pasa. Dan seorang lagi tak lain adalah Mimar Sinan.

Namun sayang, Mimar Sinan saat itu telah berusia 50 tahun dan juga telah menikah. Sedangkan Rustem Pasa sangat berambisi untuk menikahi Mihrimah. Bahkan ia pun mencoba untuk menyuap beberapa orang di Istana. Akhirnya, Rustem Pasa pun menikahi Mihrimah. Mimar Sinan pun mengubur dalam-dalam cintanya kepada Mihrimah.

Waktu pun berlalu cepat. Sebuah kelaziman jika seorang ningrat membangun sebuah masjid sebagai pelayanannya kepada rakyat untuk beribadah. Maka Mihrimah pun meminta Mimar Sinan untuk membangun sebuah masjid di tempat yang indah di Istanbul.

Nereye yapılmasını arzu edersiniz (Di mana Anda menginginkan dibangun)?” tanya Mimar Sinan kepada Mihrimah.
“Di tempat manapun yang kamu pilih,” jawab Mihrimah.

Maka di Tahun 1540 Mimar Sinan memilih Gerbang dermaga Kota Uskudar (Istanbul bagian Asia) sebagai tempat untuk membangun masjidnya. Peletakan dasar-dasar Masjid ini selesai pada tahun 1548 M. Di hari peresmiannya, Mihrimah mendatangi masjid tersebut bersama Mimar Sinan. Dan ia menjelaskan, butuh sekitar 14 tahun lagi untuk mempercantik dan menghias masjid ini.

Tahun 1562, Mihirmah kembali mendatangi Mimar Sinan. Ia memintanya untuk kembali membuatkannya masjid di tempat lain di Istanbul. Mihrimah juga meminta, masjid ini diberi nama sama dengan masjid sebelumnya, Masjid Mihrimah. Untuk masjid ini, Mimar Sinan membangunnya di Edirnekapi (Istanbul bagian Eropa) karena lokasinya yang tinggi.
[Mimar Sinan Sang Arsitek Ulung. Foto +islami yaşam]
Konon, cinta Mimar Sinan kepada Mihrimah yang tidak tersampaikan menjadi ekspresi cintanya dalam pembangunan dua Masjid Mihrimah ini. Arsitektur dan hiasan seni di dalamnya mengguratkan cinta yang mendalam. Bahkan, konon dua bangunan masjid ini jika dilihat dari dataran yang lebih tinggi dari jauh nampak seperti seorang perempuan. Masjid Mihrimah di Edirnekapi seperti seorang perempuan yang memegang sapu, sedangkan Masjid Mihrimah yang ada di Uskudar seperti seorang perempuan dangan dua kepang rambut mengenakan rok lebar. Imajinasi Minar Sinan tak lain dan tak bukan adalah untuk mengekspresikan sosok Mihrimah.

Selain arsitek ulung, Mimar Sinan juga adalah seorang matematikawan hebat. Dalam pembangunan dua masjid ini ternyata ia menyembunyikan rahasia lain. Ia telah menghitung, bahwa setiap tahunnya, ada beberapa hari antara bulan April dan Mei (konon 21 Maret, sesuai dengan hari ulang tahun Mihrimah) dari dua masjid ini akan nampak pemandangan yang luar biasa, matahari dan bulan dapat disaksikan secara bersama-sama di masing-masing dari kedua masjid ini. Matahari senja yang akan tenggelam dapat dilihat dari masjid Mihrimah yang ada di Edirnekapi, dan bulan yang baru muncul dapat dilihat dari Masjid Mihrimah yang ada di Uskudar. Mihrimah adalah Matahari-Bulan.


Catatan :
Prof. Dr. Ekrem Buğra Ekinci, seorang sejarawan Turki membantah kisah indah ini dan menilai kisah cinta antara Mimar Sinan dan Mihrimah hanyalah dongeng belaka.



Abdul Ghaffar Chodri
Dosen di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya dan alumni Necmettin Erbakan üniversitesi, Konya Turki. Alamat blog di sini.

Daya Tahan Turki terhadap Pengeboman

22:44:00 Add Comment

Pengeboman target sipil biasanya dituduhkan ke ekstremis asing, termasuk ISIS. Tujuannya, membuat Turki tidak stabil sehingga kelompok ekstrem bisa lebih eksis

[Amasya, Salah Satu Kota Terbaik di Turki. Foto @kucukoteller.com.tr]
TURKI pernah membanggakan diri sebagai pulau stabilitas di Timur Tengah. Di tengah pergolakan tetangga-tetangga Arabnya, bangsa Turki memang relatif stabil. Ekonominya juga pesat sejak rezim Recep Tayyip Erdogan memerintah per 2003. Capaian itu menjadikan popularitas Erdogan moncer secara internasional, termasuk di Indonesia.

Namun, dengan lima serangan bom sejak Januari lalu, pulau stabilitas itu kini terguncang. Tahun sebelumnya, Ankara, ibu kota Turki, juga diguncang bom bunuh diri yang bengis. Empat serangan lain terjadi selama 2015 di Istanbul, kota terbesar Turki yang jadi pusat kebudayaan, turisme, dan perdagangan.

Dua dari lima serangan bom sejak Januari mempunyai dua ciri yang berbeda. Bom bunuh diri di kawasan Istiklal (Istanbul Asia) pada Sabtu lalu (19/3) dan di Sultanahmet (Istanbul Eropa) pada Januari lalu menyasar kawasan turis. Sementara itu, tiga pengeboman lain (dua di Ankara, satu di Cinar, Diyarbakir, provinsi mayoritas Kurdi di Turki Tenggara) menyasar simbol-simbol pemerintahan (polisi, tentara).

Pengeboman target sipil biasanya dituduhkan ke ekstremis asing, termasuk ISIS. Tujuannya, membuat Turki tidak stabil sehingga kelompok ekstrem bisa lebih eksis. Ekstremisme memang berhabitat di kawasan yang kacau. Erdogan memang keras memerangi ISIS, Al Qaeda, serta ekstremis-ekstremis Timur Tengah.

Biasanya Turki mendukung NATO atau Barat dalam serangan terhadap mereka. Namun, di sisi lain, Turki turut mengupayakan Presiden Syria Bashar Al Assad turun dari pemerintahan. Faktor Sunni Turki dan Assad yang Syiah turut memanaskan suasana.

Kalau targetnya simbol pemerintahan, pelaku diasosiasikan kepada kelompok-kelompok separatis Kurdistan. Kelompok yang mengupayakan kemerdekaan di wilayah Turki Tenggara (termasuk beririsan dengan wilayah Iraq dan Syria) itu kini menguat lantaran pergolakan di perbatasan Turki, Syria, dan Iraq.

Separatis Kurdi terus mendapat angin karena instabilitas yang kian ruwet di Syria. Iraq juga sedang lemah oleh rentetan kekacauan tak berkesudahan setelah Iraq diagresi dan Saddam digantung Bush Junior.

Syria sangat ruwet. Itu terjadi seiring pemberontakan untuk menjatuhkan Bashar. Pemain liar, seperti ISIS, yang ingin menyikat Bashar sekaligus punya aspirasi negara lintas perbatasan Syria-Iraq ikut memperkeruh suasana. Terjadi pertempuran multiarah.

Kekacauan di Syria (juga Iraq) itu jelas membuat Turki menderita. Sekitar 2 juta pengungsi Syria kini membanjiri negeri Erdogan.

Di tengah suasana seperti itu, Turki tak bisa menutup perbatasan. Selain sulit dan mahal secara teknis, juga bisa mengesankan situasi genting. Hal tersebut akan menghancurkan sumber pendapatan dari turisme. Sebagai negeri yang sekujur wilayahnya peninggalan banyak peradaban besar (Yunani, Romawi, Kristen, Islam), Turki sangat menarik perhatian turis. Turki yang berpenduduk 70 juta jiwa setiap tahun dikunjungi 20 juta–40 juta turis.

Tentu saja hal tersebut menyerap tenaga kerja dan sumber pendapatan yang sangat besar.

Kelihatan gamblang tujuan pengeboman itu mengacaukan stabilitas dan menakut-nakuti turis agar ekonomi Turki guncang. Apalagi, tempat wisata tersebut titik wisata paling ramai di Istanbul, di kompleks Masjid Biru dan Hagia Sophia. Itu seperti Kuta-nya Pulau Bali.

Pengeboman di kawasan Istiklal kemarin juga menyasar lokasi turisme. Bisa diduga, hal tersebut dilakukan kelompok ekstremis yang berafiliasi dengan geng asing seperti ISIS. Geng seperti itu tak peduli citra dan prospek pengakuan internasional untuk mendirikan negara.

Pengeboman di Ankara pada 10 Oktober 2015 menjadi contoh betapa konflik di Turki menjadi ruwet karena instabilitas di negeri-negeri tetangganya. Pengeboman di luar stasiun kereta Ankara itu menewaskan 103 orang.

Pengeboman tersebut tentu saja sulit dituduhkan kepada kelompokkelompok separatis Kurdi (gerakan kemerdekaan Kurdi terpecah ke dalam banyak organisasi). Mereka turut menjadi korban secara tidak langsung.

Sejak Juni 2015 setidaknya ISIS dikaitkan dengan empat pengeboman di Turki. ISIS juga memasukkan kelompok separatis Kurdi sebagai musuh. Sebab, wilayah yang ingin dimerdekakan kelompok Kurdi juga diklaim sebagai wilayah yang ingin dibebaskan ISIS.

Saat partai pro-Kurdi, Partai Rakyat Demokratik (HDP), berpawai di Diyarbakir pada Juni 2015, bom meledak dan menewaskan empat orang.Ruwetbenarpetakonflikdisana. Sampai kapan Turki bisa mempertahankan citra stabilitasnya di tengah hantu guncangan bom itu? Sejauh ini turis masih membanjir ke Turki. Bahkan, sebulan setelah pengeboman di Diyarbakir tersebut, jumlah turis yang masuk ke Turki mencapai rekor: 5,48 juta. Rerata kedatangan turis per bulan 1,6 juta dalam 1993–2016.

Secara politis, pemerintahan Erdogan juga masih populer. Kemakmuran hampir 14 tahun menjadikan pemerintahannya sulit digulingkan oposan. Meski perolehan suara pemilu turun naik, tetap dominan.

Namun, gangguan keamanan itu lama-kelamaan bisa meredupkan Turki bila tak kunjung ada solusi komprehensif. Repotnya penyelesaian tersebut tak hanya berada di dalam negeri Turki (separatisme), tetapi bergantung pula hasil pertikaian segi tiga di negeri tetangga terdekat: rezim Bashar Assad di Syria versus ISIS versus pemberontak anti-Bashar (ditambah campur tangan superpower dunia). Entah sampai kapan kolam tetangga yang telanjur keruh itu kembali bening. 

Versi cetak diambil dari Jawa Pos, 21 Maret 2016


Rohman Budijanto
Penulis adalah wartawan Jawa Pos (email: roy@jpip.or.id), menulis buku "Santri Eropa: Perjalanan 4.000 Kilometer di Daratan Turki dan Siprus".

5 Alasan Kenapa Kalian Harus Nonton Drama Turki

21:17:00 7 Comments

"Buat para jomblowati yang tak diapeli pada malam Minggu, tak perlu khawatir, serial Turki tayangnya setiap hariPasti tak keberatan dong ditemani abang-abang ini?"

[Adegan dalam Film Kara Para Aşk. Foto +YouTube]
Halo dear pembaca Turkinesia... sudah tahu dong drama televisi asing yang sedang booming sekarang? Serial tanah air Shahruh Khan yang panjang khas pelototan mata, lewat! Zaman boyband cowok-cowok berponi juga sudah turun pamor! Lalu serial apa dong sekarang? Ya, ini nih Abad Kejayaan, Elif dan Inspektur Omer. Berikut ini 5 alasan kenapa kalian harus menonton drama Turki:

1. Cuci Mata

Deterjen kali cucian? Hehe. Ya, perpaduan wajah Eropa, Asia Minor dan Timur Tengah pada pemeran-pemerannya pasti tak membuat kita bosan untuk menontonnya. Hidung bangir, dengan warna mata asli, kulit putih, rambut hitam panjang atau pirang, alis tebal yang tidak terlihat seperti alis Sincan—karena dilukis. 
[Dalam Film Paramparça. Foto +YouTube]
Apalagi buat kaum wanita penonton setia drama tv, pastinya tidak akan bosan melihat pemain lelaki dengan cambang dan kumis yang memperlihatkan kejantanannya, senyum yang menawan atau tipe pria cool yang digemari kaum hawa. Buat para jomblowati yang tak diapeli pada malam Minggu, tak perlu khawatir, serial Turki tayangnya setiap hari. Pasti tak keberatan dong ditemani abang-abang ini?

2. Serasa Berlayar di Bosphorus dan Melihat Keindahan Istanbul
[Film Kara Para Aşk. Foto +YouTube]
Buat yang sudah ngefan dan pengin banget ke Turki, melihat drama-drama asal Negeri Dua Benua  ini pasti gregetan sambil ngomong “duh kapan ya gue bisa ke sana? Apalagi drama yang berlata Istanbul, kita bisa melihat serial Shehrazat (Binbir Gece) yang salah satu adegan saat sarapan menghadap Bhosporus. Begitu juga serial Cansu dan Hazal (Paramparça) yang bersebelahan langsung dengan selat yang memisahkan dua benua itu; jangan lupain serial cinta Elif (Kara Para Aşk), masih inget kantornya Omer?  Ya, letaknya masih berada di area Sultanahmet dan tidak jauh dari Grand Bazaar. Ya, bagi kalian para pecinta Kara Para Aşk tentu pengin foto di situ dengan caption finally gue sampe di kantornya komiser Omer’.

3. Mengintip Kebudayaan Turki lewat Filmnya

Ini yang paling penting. Memang, baik film India maupun Korea tidak luput menunjukkan budaya mereka. Misalnya drama Korea yang biasa menunjukkan kebiasaan menggunakan kaos kaki ketika tidur, menyediakan beberapa sandal rumahan untuk digunakan dalam rumah baik untuk sendiri dan para tamu, dan well kebiasaan buruk mereka yang selalu ‘minum’ kalau ada masalah, lalu tanpa sengaja curcol dalam keadaan mabuk dan ketika pulang sang lelaki menggendong wanitanya. Kebudayaan dalam film India juga bisa dikenali misalnya lewat tari-menari, beberapa upacara dan cara sembahyang menyembah dewa. Sampai akhirnya muncullah drama dari negeri yang sedikit sama kebudayaannya karena satu kesamaan yaitu negara demokrasi dengan Muslim yang menjadi mayoritas (baca: Turki). Lalu apa saja budaya yang saya maksud.
  • Cium tangan
Hal lazim yang jamak kita lakukan bila ingin pamit pergi atau bertemu dengan orang tua adalah mencium tangan, walau mungkin hal itu sudah tergerus zaman. Beda halnya dengan budaya Barat yang memang soal penghormatan terhadap orang tua kurang (bahkan hanya memanggil nama tanpa tuturan). Dalam drama Turki kita akan kembali dipertunjukkan bagaimana cara bersikap sopan kepada orang tua, ya cium tangan! Kalau kalian perhatikan, ada sedikit perbedaan cara mencium tangan ala Turki. Pertama adalah mencium tangan lalu meletakkan tangan orang tua di dahi kita. Benar? Dan hebatnya genre apa pun film ini cium tangan ini tidak terlupakan. Tapi di film Indonesia saja harus genre tertentu (misalnya Islami atau film pendidikan anak) baru kita lihat adegan cium tangan terhadap orang tua.
  • Minum teh
Dengan melihat film kita jadi tahu bahwa teh adalah minuman kebesaran Turki,  dengan gelas kecil khas berbentuk tulip. Isinya lebih sedikit memang dibandingkan dengan kebiasaan kita minum teh dengan menggunakan cangkir atau gelas, tapi lihat saja berapa sering mereka minum. Dalam scene pertemuan biasanya yang dihidangkan adalah teh, bandingkan dengan film Indonesia kalau hang out di restoran minumannya pasti selalu jus atau sirup, benar atau benar?

Belum lagi beberapa penganan khas seperti simit.
[Simit, Sarapan Omer dan Arda Turan :D. Foto @posta.com.tr]
4. Ide Menarik, Alur Kuat dan Penggarapan Musik yang Wow!

Gaya saya sudah seperti produser film ketika menyebut alasan keempat. Tapi jauh sebelum penonton memutuskan untuk menonton atau tidak serial yang dihadirkan, para produser pasti sudah memikirkan detail di atas. Hal ini menjadi alasan yang kita putuskan untuk menonton atau tidak sebuah serial, atau di Indonesia dikenal dengan nama sinetron. Apakah ide ceritanya seperti kebanyakan? Misalnya, perebutan harta, cinta segitiga dengan pemeran pembantu wanita menjadi antagonis yang merebut si lelaki dengan dukungan keluarga pemeran utama pria karena lebih kaya dari pemeran utama wanita yang miskin. Yang seperti itu pastinya membosankan, bukan? Maka beralihlah ke sinema Turki dengan ide segarnya.

Lalu alurnya seperti apa? Ini penting, alur lebih disebut sebagai sebab akibat? Kenapa sih Shehrazat pegawai kecil bisa menaklukkan bos cool semacam Onur yang tidak percaya akan cinta dan wanita? Karena di saat ia membutuhkan biaya untuk pengobatan anaknya yang terkena leukimia, hanya Onur yang memungkinkannya menolong dengan syarat biaya pengobatan dibayar dengan ‘satu malam’. Dari sinilah konflik seru dengan penuh kejutan dimulai.
[Simit dan Teh Turki untuk Sarapan. Foto @posta.com.tr]
Selanjutnya penggarapan musik yang tidak main-main, instrument antara tokoh satu dengan lainnya berbeda. Misalnya, instrumen yang dipakai ketika pertemuan antara Elif dan Omer (dalam Kara Para Aşk) berbeda dengan ketika pertemuan Elif dan saudaranya (Nilufer, Asli), begitu juga instrumen untuk menunjukkan sang antagonis Tayyar Dundar. Hebatnya musik tidak hanya asal diambil dari sebuah lagu, tapi pembuatannya tidak main-main dan yang sudah biasa dipakai melainkan membuat instrumen sendiri dengan alunan biola, piano dan alat musik khasTurki bağlama

5. Kampus Ternama ternyata Almamater Aktor/Aktris Ngetop ini Loh
      
Sstt, sama dengan drama Turki yang mulai booming, beasiswa pendidikan yang di Indonesia dikenal seperti beasiswa Pemerintah Australia (AAS), Amerika (Fullbright), Inggris (Chevening), sejak 2012 sampai tahun ini beasiswa Pemerintah Turki yang bernama Turkiye Burslari (YTB) pun mendadak jadi primadona.

Terus hubungannya dengan drama Turki apa?

FYI, sebagian kampus yang masuk list YTB kampusnya para artis papan atas Turki loh, jadi kalo kalian masih bingung mau kuliah dimana, nih saya kasih pertimbangan, pilih saja kampus yang pernah menjadi almamater aktris/aktor cantik Turki. Kan jadi keren kalau ditanya, kuliah dimana? Di Mimar Sinan Universitesi, kampusnya Tuba Buyukustun alias Elif Denizer, loh.
[Minar Sinan University. Foto @www.msgsu.edu.tr/]
Atau langsung menuju ibu kota, Universitas Ankara, jadi deh kalian satu almamater dengan Engin Akyurek alias Omer alias Kerem di Fatmagul.

Kalau nggak dapat di 3 kota besar, kuliah dimana? Di Abdullah Gul University saja, letaknya di Kayseri, itu loh kampung Tuan Burhan dan Nyonya Nadide.

(abaikan pertimbangan ini ya, yang pasti cari saja jurusan keinginan kalian, ingat cari pakai tangan dan mata, jangan nanyain admin Facebook YTB mulu, haha....)

Jadi yang ingin saya sampaikan, kalau ternyata pemilihan peran untuk pemain film/drama Turki itu sangat serius loh, bagaimana tokoh Elif Denizer seorang pengusaha berlian, di beberapa adegan kita melihat kan kalau Elif mendesain sendiri berliannya atau sesekali melukis, you know what? Dia adalah lulusan Fakultas Seni Universitas Mimar Sinan. Canggih nggak tuh?!

Masih yakin kalian nggak ganti kanal, rasakan sensasi kalau sudah tenggelam dalam pesona aktor tampan Turki, dijamin kalian semua yang selama ini nggak bisa move on dari mantan, bakalan move on dah.

Ohya, drama Turki bukan hanya popular di Indonesia loh. Saat ini drama Turki sudah diekspor ke lebih 50 negara. DramaTurki yang terbaru ditayangkan di Indonesia Fatmagul (Fatmagül'ün Suçu Ne?) sudah terlebih dulu menjadi favorit di Afganistan, Pakistan sampai Amerika Latin. Kita lihat apakah Fatmagul menjadi drama favorit terbaru, kalau menurut saya sih Kara Para Aşk tetap di hati karena Engin Akyurek yang bercambang dan berkumis lebih sekseh.
Medan, Maret 2016


Una Anshari
Sarjana ekonomi akuntansi yang ‘eneg’ liat angka-angka di salah 1 kampus swasta di Depok. Sukanya liatin tulisan atau film aja.Pecinta semua tentang Turki: negara, bahasa sampai drama televisinya. Impiannya bisa menjadi mahasiswa di Turki dan mendatangi seluruh tempat bersejarah di Negeri Dua Benua itu. Facebook dan Ig di akun Muna Arifah, Twitter dan Wattpad di Naarabian. Blog di sini.

Perkara Prosa di Turki

12:46:00 Add Comment

"Proyek modernisasi Turki di bawah Mustafa Kemal salah satunya mereproduksi kosakata asli bahasa Turki kuno (öztürkçe) atau Prancis untuk menggantikan kosa kata Arab dan Persia yang paling dominan. Dalam praktiknya, öykü lebih banyak digunakan tinimbang hikaye."

[Contoh Öykü dalam Malajah Online http://hayatedebiyat.com/]
Menjelang masa-masa akhir di Turki, saya tengah “bersitegang” dengan pemahaman (dan pengetahuan) diri saya sendiri. Pemicunya adalah perkara prosa di Turki, khususnya cerita pendek. Setelah cukup intens berkenalan dengan sastra Turki lewat Orhan Pamuk melalui genre novel, mau tidak mau saya harus berkencan lebih dekat dengan sejarah sastra mereka sendiri. Dan bertemulah dengan mahkluk bernama öykü!

Namun sebelum berbincang ihwal öykü, penting sedikit memotret aspek historis sastra Turki modern. Secara historis, ada periode urgen dalam sejarah sastra Turki, yaitu transisi dari masa Ottoman ke era Republik. Sejarah revolusi (inkilap tarihi) tersebut tak hanya fokus pada transisi politik dan pemerintahan, tetapi aspek kebudayaan termasuk bidang seni dan sastra digunakan sebagai media untuk mendukung visi demi melengkapi perkakas ideologisasi mereka, menjadi Turki modern. Karena, dalam praktiknya, tetek bengek ideogolis (yang awalnya adalah proyeksi politik) akan tercelup basah pada tubuh kebudayaan—resepsi dan memori masyarakat itu sendiri.

Nah, ada lubang serius yang harus ditanggung oleh proyek yang tak selesai ini. Efek paling kentara yang mudah dijumpai hari ini adalah perkara prosa, khususnya terkait dengan cerita pendek di Turki. Kita yang datang dari tradisi sastra (dipengaruhi) Barat akan terkejut ketika berhadapan dengan cerita pendek Turki hari ini. Aturan dan pakem yang dipakai oleh penulis cerita pendek dunia nyaris tak dihiraukan, seperti jumlah halaman dan unsur intrinsik (khususnya alur, latar, dan penokohan).

Memang, belum ada definisi final untuk jenis prosa fiksi bernama cerita pendek ini. Tetapi, meminjam istilah Edgar Allan Poe, “harus selesai dibaca sekali duduk”, secara tersirat ingin menghadirkan konsensus ihwal jumlah tulisan dan kebutuhan terhadap durasi, tentu dengan mengakomodasi sejumlah karakteristik cerita pendek seperti eksposisi plot, setting, karakter, konflik, dan sekaligus jumlah halaman.

Dalam literatur sastra Turki modern, ada dua istilah untuk prosa fiksi: roman (novel) atau öykü. Buku berjenis roman adalah cerita panjang yang kita kenal sebagai novel. Tetapi, dalam öykü kita akan dihadapkan kepada suatu problem. Karena dalam praktiknya, öykü ternyata dipakai secara bebas oleh para penulis prosa untuk menamakan jenis tulisan cerita (selain novel). Di luar itu, ada satu lagi--meski tak banyak disebut dalam konteks susastra--yaitu masal, jenis cerita fantasi dan cerita rakyat (Anatolia) yang biasanya khusus untuk anak-anak. Artinya, bentuk-bentuk cerita (apa pun) selain roman kemudian dengan mudah dikelompokkan ke dalam öykü atau hikaye! Baik cerita yang hanya terdiri dari dua kalimat (yang saya pikir awalnya adalah puisi), flash fiction, atau short story, digolongkan dalam satu istilah: öykü. Simak misalnya öykü yang terdiri dari dua kata karya Hasan Harmancı berjudul Dervis ile Ermis (Menjadi Sufi bersama Darwish) di bawah ini:

Dervis ile Ermis
-Masallah
-Estagfirullah

Di Turki, Anda cukup bilang öykü untuk mencari jenis karya sastra berupa cerita pendek. Kata öykü asli dari bahasa Turki yang berarti cerita, hikaye (Arab) atau dastan (Persia). Sampai sekarang ketiga istilah tersebut masih dipakai dalam bahasa Turki meski kata dastan (Turki: destan) mempunyai konotasi berbeda, yaitu dipakai untuk menyebutkan novel dan kisah-kisah epik, misalnya karya Orhan Pamuk terbaru Kafamda bir Tuhaflık (2014).

Meskipun istilah hikaye dan öykü sama-sama dipakai, öykü lebih akrab dengan para penulis cerita pendek dan pembaca sastra Turki. Menurut Kahraman (2015), istilah öykü diproduksi dari bahasa Turki sejak tahun 1930, kemudian dipakai dalam penulisan cerita pendek. Seperti diketahui, proyek modernisasi Turki di bawah Mustafa Kemal salah satunya mereproduksi kosakata asli bahasa Turki kuno (öztürkçe) atau Prancis untuk menggantikan kosa kata Arab dan Persia yang paling dominan. Dalam praktiknya, öykü lebih banyak digunakan tinimbang hikaye.

Penulis-penulis cerita pendek (öykücü) era akhir Ottoman dan awal Republik Turki yang berkiblat ke Eropa dan Amerika adalah Ahmet Mithat (1844-1912), Huseyin Gurpinar (1864-1944), Halit Ziya (1866-1945), Yakup Kadri (1889-1974), dan Refik Halit (1888-1965). Bagi mereka, era tanzimat, sebuah gerakan reformasi untuk memodernisasi sistem internal pemerintahan Ottoman tahun 1839-1876, diyakini menjadi fondasi yang memengaruhi mereka dalam berkarya.
[Öykü dalam Majalah Sastra Mahalle Mektebi, Edisi No. 26, November-Desember 2015]
Yang menarik, modernisasi terhadap sastra Turki klasik—perpaduan dua khazanah peradaban besar Arab dan Persia—bertahan hingga dekade 1970-an ketika Ferit Edgü menulis cerita fenomenal berjudul Dendam yang hanya berisi empat kalimat. Setelah itu, kebebasan bercerita dengan öykü akhirnya kembali menyeruak lepas. Untuk mewadahi ledakan ini, kritikus sastra Turki seperti Ramazan Korkmaz (2007) bekerja mengelompokkan ke dalam istilah kücürek öykü, öykücük, kıpkısa öykü, dan semacamnya yang artinya: cerita mini. Tetapi istilah-istilah itu tidak laku. Penulis ataupun pembaca sastra cukup menyebut öykü untuk menamai jenis cerita yang beragam tersebut. Misalnya lihat cerpen-cerpen yang diterbitkan oleh majalah sastra Varlık, salah satu majalah sastra Turki paling tua (terbit 1933), ataupun Hece Öykü dan Sözcükler. Mereka ikut memberikan ruang kepada cerita-cerita super-pendek yang hanya berisi satu halaman.

Melalui öykü, penulis-penulis prosa Turki kembali menemukan kebebasan untuk mengekspresikan khazanah sastra klasik mereka, misalnya bentuk-bentuk humor dan satire yang ditulis oleh Nasruddin Hoja. Gaya-gaya bercerita yang ratusan tahun sudah menyatu dengan kultur Turki seperti bentuk mesnavi (misalnya cerita-cerita mini dalam Masnawi karya Jalaluddin Rumi), gazel dan kaside (seperti gaya Divan Kabir-nya Rumi) pun akhirnya kembali diadopsi dalam karya-karya penulis cerpen dewasa ini.
[Penulis Buku Bahane Prof. Dr. Köksal Alver. Foto @konhaber.com]
Sebagai contoh, saya ingin menunjukkan buku kumpulan cerpen berjudul Bahane yang terbit akhir tahun 2015. Kumpulan öykü karya Prof. Dr. Koksal Alver (profesor sosiologi-cum sastrawan) ini memuat 23 cerita hanya dengan tebal hanya 94 halaman (!), dan dicetak dengan ukuran seperti buku saku. Yang menganut “standar cerpen” hanya ada 4 cerita. Yang lain rata-rata berkisar 1–2 halaman per cerita. Bahkan ada cerita yang cuma terdiri dari satu paragraf, misalnya Hikayeci (Tukang Cerita), Eskiyen (Basi), dan Yorgun Yazar (Penulis yang Lelah). Buku Alver ini menghadirkan sebuah percobaan literasi berupa permainan kata dalam membentuk irama kalimat. Cerita berjudul Avare (Kosong) tersusun dari frasa dengan akhiran seirama ken atau iken (arti: ketika). Nyaris seperti puisi lirik yang kita kenal!

Untuk membentuk irama akhir dalam sebuah kalimat, bahasa Turki mempunyai keunggulan karena mempunyai kata akhiran yang kaya. Nyaris semua kalimat dalam bahasa Turki bisa dimengerti karena faktor ini. Bernd Brunner (2015) menyebut bahasa Turki sebagai agglutinative language (eklemeli bir dil), yaitu bahasa yang banyak disusun dengan imbuhan. Bahasa Turki memainkan peran imbuhan tengah dan akhir yang memudahkan penulis membentuk irama sedemikian kaya.

Semakin dalam saya membaca sastra Turki (khususnya cerita pendek), ketegangan yang saya alami semakin memuncak. Perkembangan cerita pendek di Turki telah mengalami peluberan yang luar biasa. Bahkan tanpa batasan saklek yang mengikat kreativitas mereka. Mereka mempunyai kebebasan menulis öykü tanpa melihat pakem dan unsur-unsur dasar dalam cerita pendek itu sendiri. Ini tentu saja bisa dilihat sebagai sebuah kefatalan, tetapi bisa juga dinilai sebagai justifikasi sebuah gerakan yang harus diwadahi secara proporsional.

Akhirnya, di mata pembaca cerita pendek dengan standar yang berkembang secara global (dari Poe, Maupassant, Borges, O. Henry, Munro, hingga Budi Darma dan Seno Gumira Adjidarma), öykü yang berkembang di Turki modern tengah mengalami kegamangan (dan bahkan ambiguitas): antara mengikuti pakem Barat atau kembali menggali dan mengembangkan khazanah sastra lokal mereka dengan menganggit kembali cerita-cerita mini yang berkembang pesat di kalangan para sufi.

Tulisan ini sebelumnya dimuat di Basabasi.co


Bernando J. Sujibto,
Menulis cerita, esai dan kolom, juga menulis sejumlah buku. Saat ini sedang merampungkan penelitian tesisnya tentang Orhan Pamuk untuk Program Pascasarjana Sosiologi di Selcuk University, Konya Turki. Berceloteh di @_bje.

Karena Cinta adalah Kesabaran

20:18:00 Add Comment

"Film ini secara umum bercerita tentang kisah cinta yang bermula dari zaman perang dunia kedua, meski nanti penonton bisa dibawa ke mana-mana."

[Fragmen dalam Film Birleşen Gönüller. Foto +YouTube]
Kali ini saya mau membahas tentang film Turki yang berjudul Birleşen Gönüller atau Hati yang Menyatu. Film ini secara umum bercerita tentang kisah cinta yang bermula dari zaman perang dunia kedua, meski nanti penonton bisa dibawa ke mana-mana.

Film Birlesen Gönüller dimulai dengan menghadirkan kehidupan keluarga (Yunus Bey, istri, dan dua anaknya) yang berpindah ke Kazakistan. Sebab kepindahannya adalah karena Yunus, sebagai kepala keluarga, harus menyelesaikan sebuah projek, yaitu membangun sekolah. Singkat cerita, mereka berangkat ke Kazakistan dan di sana bertemu dengan keluarga Turki yang lain, Cennet Teyze dan anaknya. Keluarga Yunus akhirnya diantar ke rumah yang sudah disewa dan kebetulan berdekatan dengan rumah keluarga Cennet Teyze.

Sehari setelah pindah, Yunus Bey tetap harus pergi ke lokasi pembangunan sekolah, dan terkesan tidak mempedulikan istrinya yang untuk pertama kalinya menginjak kaki Kazakistan dan tidak mengerti apa-apa. Tetapi Yunus Bey tetap pergi.

Siang hari. hujan tiba-tiba turun deras. Anak perempuan mereka yang tadinya ada di rumah, entah mengapa keluar rumah dan ternyata pingsan di tangga. Sang anak ternyata mengidap asma. Saat sang ibu dengan panik berlari mencari bantuan, Cennet Teyze seperti pahlawan tiba-tiba datang membantunya dan membawa anaknya ke dokter.

Yunus Bey, di saat yang sama, sedang berusaha menyelamatkan barang-barang di lokasi bangunan sekolah yang pada saat itu kebanjiran. Salah satu rekan kerja memberi kabar bahwa anaknya sedang berada di rumah sakit. Tapi, karena pada saat itu prioritas Yunus Bey adalah menyelesaikan sekolah tersebut, dia hampir tidak mau beranjak. Tetapi karema dipaksa oleh rekan kerjanya dan akhirnya dia pergi ke rumah sakit.

Yunus Bey merasa tenang setelah melihat anaknya dalam keadaan stabil. Menurut dokter anaknya hanya harus menunggu dia sadar. Yunus Bey. setelah mendengar kalimat tersebut, ingin segera kembali ke lokasi bangunan karena masih banyak yang harus diselamatkan. Sang istri emosi. Dia merasa sendiri. Tetapi Yunus Bey bersikeras untuk pergi.

“Kalau kamu pergi, tidak usah balik aja sekalian, ” akhirnya sang istri meluapkan emosinya. Mendengar kalimat keras itu, Yunus Bey sempat terhenti di pintu, tetapi berakhir dengan pergi ke lokasi bangunan.

Setelah kejadian itu, Cennet Teyze menceritakan kisah cintanya dan cerita pun dimulai.

Film ini dikemas dengan sangat baik, walaupun effecnya masih belum sebagus film Hollywood. Tetapi menurut saya sudah lumayan baik. Dengan pemain yang cukup mendalami peran, semuanya sudah sangat baik. Hanya saja, inti dari cerita ini yang masih sangat berantakan. Ini menjadi film yang tidak punya arah jelas hendak menyajikan apa kepada penonton.

Antara poster dan isi cerita, menurut saya, masih kurang nyambung. Poster menceritakan tentang kisah cinta dua manusia pada saat Perang Dunia 2. Tetapi, pada akhir film, malah ditampilkan foto-foto kegiatan Türkçe Olimpiyatları (Olimpiade Turki). Menurut saya, akan lebih baik kalau di akhir film, ditampilkan foto-foto Cennet Teyze dan suami, mengingat film ini diadaptasi dari kisah nyata.

Dari sisi cerita, menurut saya, penulis masih kurang menonjolkan inti dari film ini. Apakah sebenarnya film ini ingin menceritakan sejarah di balik Türkçe Olimpiyatları? Ataukah sebenarnya si penulis skenario mau menceritakan bagaimana romantisnya kisah Cennet Teyze dan Niyaz Amca?

Dan di film ini pun banyak saya temukan bloopers.

Dikisahkan, bahwa Cennet Teyze hamil. Padahal sepanjang cerita tidak pernah terlihat perut Cennet Teyze yang membuncit ataupun Cennet Teyze yang merasa tidak sehat karena sedang hamil. Tiba-tiba, pada saat Cennet Teyze dan Niyaz Amca bertemu dengan tidak sengaja di gerbong kereta para tahanan yang akan diperkerjakan Nazi, di situlah baru dibahas tentang Cennet hamil. Pada saat mereka mau kabur tapi Cennet tertahan oleh sang petugas, tiba-tiba Cennet kontraksi. Ketika sedang melahirkan melahirkan, bayi yang keluar dalam keadaan sudah bersih dalam durasi yang sulit dipercaya. Maaf sekali, bloopers ini yang membuat saya tertawa di tengah film.

Di akhir cerita, Cennet Teyze meninggal dan Niyaz Amca, yang ternyata masih hidup, berhasil bertemu dengan Cennet Teyze di menit-menit terakhir perhembusan nafas Cennet Teyze.

Jika yang ingin ditonjolkan adalah bagaimana Cennet Teyze dan Niyaz Amca bertemu, kisah mereka sungguh luar biasa, yaitu menggambarkan bagaimana cinta sejati sampai di ujung hayat tetap ada. Bagaimana tersentuhnya melihat dua manusia, saling jatuh cinta, dan tetap menunggu, walaupun dia tidak tau pasti—suaminya masih hidup atau tidak. Perlu diketahui, Cennet Teyze tetap menunggu kedatangan Niyaz Amca, walaupun dia belum tahu pasti, selain hanya menunggu kedatangan sang suami.

Akhirnya, film ini bagi saya adalah film paling berantakan yang pernah saya tonton: tidak tergarap dengan baik, riset yang tak lengkap dan keinginan menyelipkan pesan-pesan khusus di baliknya. Karena film ini sebenarnya partisan untuk menghadirkan kegiatan dan proyek Türkçe Olimpiyatları (produser film dari kelompok yang sama) sehingga tak bisa dipungkiri bahwa film ini pun menjadi tanpa arah--antara promosi kegiatan atau menyajikan film sejarah di balik Türkçe Olimpiyatları. Sementra dari awal tidak dijelaskan apakah film ini seperti sebuah dokumenter atau jenis film promosi kegiatan yang sudah go-internasional itu. So, karena cerita masih belum jelas arahnya, film ini saya beri nilai 5 dari 10.


Qori Fitrah Ananda
Mahasiswi pada jurusan Kedokteran di Selcuk University, Konya Turki. Suka berorganisasi dan berasal dari Balikpapan. Silahkan kunjungi blog Qori di sini.