Drama Turki dan Intrik Budaya Pop di Indonesia

00:36:00

"Turki termasuk negara dengan mayoritas masyarakat yang mempunyai pandangan inward-looking, bahwa Turki-lah segala-galanya sehingga mereka tidak tertarik dengan gedebus perkembangan budaya popular di luar sana."

[Adegan dalam Drama Kara Para Ask. Foto dari @haber.star.com.tr]
Acara Meet & Greet Elif and All Stars di salah satu stasiun swasta di Indonesia telah menggoda saya untuk menulis catatan singkat ini. Dengan mengggunakan bahasa Turki, para pemain Elif menyapa penggemar setia serial Elif yang sudah tayang di SCTV dalam beberapa bulan terkahir. Panggung budaya populer khususnya dunia tontonan Indonesia pun mulai dihiasai oleh salah satu pendatang baru yang kali datang dari Negeri Dua Benua (Eurosia) tersebut, bukan lagi melulu dari Amerika/Eropa, India dan Korea/Jepang.

Budaya populer Turki (yang diwakili oleh dunia sinema) bisa dibilang baru satu tahun terakhir mulai merambah publik Indonesia, setidaknya bisa ditandai khususnya setalah serial Abad Kejayaan ternyata disukai oleh penonton telivisi di tanah air. Setelah itu, secara beruntun drama-drama Turki pun mulai ditayangkan di Indonesia seperti Zahra, Elif dan Cinta di Musim Cherry.

Sejauh ini kita mengenal Turki lebih karena faktor sejarah dan peradaban tua yang masih bisa dikunjungi, termasuk situs perjumpaan sejarah Islam dan Kristen seperti Hagia Sophia dan Blue Mosque yang menjadi ikon dunia. Selain itu, pelajaran sejarah perkembangan Islam banyak menyebutkan imperior Islam terakhir bernama Ottoman di mana Turki menjadi suksesornya.

Nuansa drama Turki jelas berbeda dengan drama-drama yang sebelumnya sudah membombardir kita. Misalnya drama Korea. Turki mempunyai perbedaan yang signifikan dalam aspek tradisi dan kebudayaan. Semua pemiarsa Indonesia saya pastikan akan menemukan cirikhas dan karakter yang berbeda dalam konteks tradisi dan budaya secara signifikan. Turki menjadi salah satu negara yang cukup tertutup dalam aspek kebudayaan luar. Secara kebudayaan, jika pandangan kita bersepakat dengan kaca mata dan perspektif globalisasi dan liberalisasi, Turki termasuk negara dengan mayoritas masyarakat yang mempunyai pandangan inward-looking, sebuah perspektif yang meyakini bahwa Turki-lah segala-galanya sehingga mereka tidak tertarik dengan gedebus perkembangan budaya popular di luar sana.

Meskipun film-film Hollywood, Jepang dan negara-negara Eropa bisa masuk, aspek-aspek tradisi dan kebudayaan komunal mereka tetap dijaga dengan baik, atau setidaknya bisa bertahan lebih alot. Salah satu faktor yang menjaga mereka adalah kebanggaan kepada negara republik yang dibangun oleh Mustafa Kemal Ataturk dan sejarah-sejarah kebesaran mereka yang terus ditanamkan secara kuat sejak di bangku sekolah dasar. Di samping itu, rasa nasionalisme dengan setangkup mitos-mitos kebesaran sebagai bangsa terus dipupuk subur, seperti keyakinan bahwa Turki adalah bangsa penakluk, pekerja keras, pernah menguasai setidaknya sepertiga dunia dan sebagainya.

İmplikasi dari penanaman nilai-nilai sejarah republik Turki adalah nasionalisme yang sangat kental dan kuat di jiwa masyarakatnya. Bisa dipastikan bahwa Turki menjadi satu dari sedikit negara yang bangsa terus-menerus mengibarkan bendera di banyak tempat hingga ke pelosok negeri. Di Turki Anda akan kesulitan menemukan nama-nama orang selain nama khas Turki itu sendiri, padahal masyarakat Turki terdiri dari suku-suku bangsa yang berbeda. Alih-alih bergaya nama Barat seperti Michael, Bernando, Robert, Johanna, dll. Dalam konteks ini, proyek nasionalisme Turkinisasi oleh Ataturk berhasil. Hingga hari ini film-film yang masuk di Turki dan tayang di bioskop pasti melewati sensor ketat dengan rata-rata sistem dubbing.

Sementara itu, dalam satu dekade terakir apabila ada film-film baru dari bahasa Inggris masuk ke Indonesia, dipastikan judulnya tidak akan berubah. Bahkan film-film lokal yang dibikin oleh sineas kita justru memakai judul bahasa Inggris (buat gaya atau apa?). Di Turki, Anda tidak akan menemukan panorama demikian. Meskipun ada, itu hanya satu dua. Tidak masif. Judul film semudah apapun teks bahasa Inggris pasti dialihbahakan ke Turki, misalanya Final Destination menjadi Son Durak dan Don Quixote pun menjadi Don Kişot.

Ada satu kebijakan lagi yang membuat saya begitu kagum dan sekaligus respek: semua pelajar internasional yang mendapatkan beasiswa dari Pemerintah Turki (Türkiye Bursları) harus melewati kursus bahasa Turki di kelas persiapan. Meskipun di kelas pengantarnya akan memakai bahasa Inggris, skenario beasiswa oleh pemerintah kali ini harus diikuti. Penerima beasiswa yang jumlahnya mencapai sekitar 50 ribu dari semua negara harus melewati kursus bahasa Turki dengan sertifikat. Skenario Turki untuk menjadi suatu kekuatan dunia pada tahun 2030 sudah dipersiapkan secara rapi sejak satu dekade terakhir di bawah pemerintahan AKP (Partai Keadilan dan Pembangunan). Salah satunya dengan “memaksa” pelajar asing yang dibiayai oleh negara harus tahu bahasa Turki yang secara gamblang bisa dipahami bahwa mereka akan menjadi agen-agen kebudayaan Turki di masa depan, setelah para pelajar ini lulus dan kembali ke negara masing-masing. Bisa dibayangkan betapa akan terus bertambah jumlah kuantitas generasi muda dari negara-negara berkembang yang bisa berbahasa Turki!

Strategi Budaya

Semakin maraknya nama Turki disebut dan disiarkan ke publik Indonesia baik oleh sebagian partai politik sebagai fans berat Recep Tayyip Erdogan dan partainya, apresiasi besar dari kelompok keagamaan tertuntu, hingga berkembangnya budaya populer Turki di Indonesia semakin menjustifikasi bahwa Turki telah masuk di depan mata kita. Saya tidak akan mempersoalkan buruk atau tidaknya fenomena masif yang berkembang tersebut. Tetapi, sebagai mahasiswa Indonesia di Turki, saya cukup merasakan gesekan dan intrik di balik strategi kebudayaan melalu jalur-jalur hubungan politk, ekonomi dan politik kebudayaan itu sendiri. Salah satu intrik terbaik dari strategi budaya tentu saja lewat kerjasama beasiswa besar-besaran yang dipraktikkan Turki terhadap negara-negara berkembang lainnya.

Perlu dicatat bahwa Indonesia tidak menjadi prioritas Turki atau mungkin begitu juga sebaliknya. Hubungan kerjasama Indonesia-Turki bisa dibilang kecil dan tidak masif, tidak seperti kerjasama dengan China, Jepang dan Amerika. Tengarai ini bisa saja berujung pada satu titik, yaitu  karena aliran investasi dan uang Turki dilihat tidak cukup menggiurkan bagi Indonesia yang akhir-akhir ini makin kepitalis-liberal. Tetapi kenapa aspek budaya populer Turki justru hadir dengan mulus? Yang pasti, ada aspek menarik atau mungkin intrik ke tengah kondisi masyarakat kita yang makin haus budaya populer-bombastis dan pola pikir yang bergeser ke arah sekuler-liberal begini.

Intrik dan strategi budaya inilah yang harus digarisbawahi sebagai pelajaran penting bagi kita di Indoneisa. Karena kenyataannya produk-produk kebudayaan kita banyak kalah bersaing di depan negara-negara berkembang sekalipun atau bahkan kita kurang kelihatan sebagai negara yang aspek kebudayaannya patut diperhitungkan. Tetapi sebaliknya, Indonesia sebagai negara dengan penduduk besar justru menjadi objek jualan yang potensial oleh pasar internasional. Aspek budaya populer menjadi pintu masuk menanamkan dan menjual branding.

Lebih lanjut, strategi budaya yang berkembang dewasa ini, miminjam istilah Douglas Holt dan Douglas Cameron dalam Cultural Strategy: Using Innovative Ideologies to Build Breakthrough Brands, berlumur strategi branding yang memanfaatkan spirit cultural innovation dengan tujuan untuk menciptakan dan sekaligus menjual brand itu sendiri. Cultural mimicry yang disebut oleh penulis sebagai cultural orthodoxy sudah dilampau dengan membentuk budaya baru yang sembunyi dalam penyediaan ruang subculture (2010). Aspek-aspek masif subcultures inilah yang kemudian membuka ruang-ruang bebas terbentuknya inovasi-inovasi kultural dalam masyarakat. Pesan dan warna kebudayaan yang dibawa oleh drama-drama Korea atau Turki akan menciptakan branding baru di tengah masyarakat kita yang makin sekular dan liberal tetapi lemah dalam aspek kesadaran kultural.

Akhirnya, secara sadar harus diakui bahwa dalam konteks kebudayaan kita adalah bangsa yang sangat aktif mencari bentuk-bentuk ekspresi subculture yang datang dari luar untuk mengisi ruang-ruang kosong atau memodifikasi kejemuan waktu luang pada ruang tontonan yang monoton. Budaya populer Turki dengan cirikhasnya dapat menambah dan sekaligus menambal ruang ekspresi kebudayaan kita, dan di waktu bersamaan kita harus siap menerima berbagai branding yang dijual sebagai strategi inovatif dari keubudayaan. Mari kita cermati bersama-sama bagaimana ikon-ikon tradisi, bahasa, emosi, sejarah dan kebudayaan Turki akan menjadi salah satu tontonan alternatif yang mengisi memori pemiarsa televisi di Indonesia.

Tulisan ini pernah dimuat di Jawa Pos 29 Agustus 2015


Bernando J. Sujibto
Penulis dan Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi di Selcuk University, Konya Turki. Sedang merampungkan riset tesis tentang karya Orhan Pamuk. Follow Twitter @_bje.

Silahkan Baca Juga

Previous
Next Post »