Nasionalisme ala Turka

14:50:00

"Nasionalisme yang diekspresikan dengan luar biasa saat ini di Turki tidak lain adalah keberhasilan indoktrinasi dengan bumbu represi rezim militer yang ditanamkan sejak terbentuknya republik." 

[Salah Satu Acara Nasional di Turki dengan Bendera Sepanjang 1919 Meter. Foto @Memurlar.net]
Satu hari saya dan dua orang teman Indonesia sedang duduk santai sambil ngemil di kantin asrama. Beberapa orang Turki kami lihat duduk di kursi yang dekat dengan televisi. Pada saat asyik-masyuk menikmati kwaci dengan teknik makan kwaci ala Turki, tiba-tiba saya melihat semua orang Turki yang ada di kantin itu berdiri dengan ‘sikap sempurna’ baik pemuda yang berada di depan TV maupun bapak-bapak penjaga kantin.

Saya lalu melihat ke arah TV dan baru menyadari kalau lagu nasional Turki “İstiklal Marşı” sedang ditayangkan sebelum pertandingan sepakbola dimulai. Untuk menghormati situasi yang terjadi di kantin itu, saya dan kedua orang teman saya pun ikut berdiri untuk menyimak İstiklal Marşı. Saat berdiri itu, saya lihat beberapa orang Turki yang baru masuk ke ruang kantin mendadak berhenti dan berdiri dengan sikap sempurna ikut menyanyikan İstiklal Marşı mereka.

Merinding rasanya menyaksikan langsung apa yang dilakukan oleh orang-orang Turki. Maklum, dulu saat di Indonesia saya tidak melihat (atau melakukan sendiri) hal seperti itu dilakukan saat lagu Indonesia Raya ditayangkan sebelum pertandingan sepakbola. Dulu kalaupun ada lagu Indonesia Raya ditayangkan, saya tetap duduk santai dan melanjutkan ngemil kacang yang tersedia. 

Saya tidak mau bilang atau dibilang orang Indonesia termasuk saya tidak punya nasionalisme ya. Tapi kalau boleh menilai soal ekspresi, menurut saya orang Turki lebih kuat dalam mengekspresikan nasionalisme mereka di banding orang Indonesia.

Kasus berdiri saat mendengar İstiklal Marşı hanya salah satu saja yang pernah saya lihat langsung. Hal-hal kecil lain seperti sticker bendera Turki atau tulisan “ne mutlu türküm diyene/bahagia sebagai orang Turki” banyak terpasang di mobil-mobil orang Turki, juga pada aksesoris- aksesoris yang dipakai di badan seperti cincin, kalung, kaos, termasuk juga bendera Turki yang sering terlihat terpasang di rumah-rumah orang Turki. Atau misalnya, jika Anda berteman dengan orang Turki di media sosial atau suka kepoin mereka, jangan terkejut kalau Anda melihat bendera mereka kerap muncul di profile picture atau di dinding mereka. Bentuk-bentuk nasionalisme tersebut juga terasa kental dalam kehidupan sehari-sehari misalnya dalam makanan, musik dan kebudayaan.

Namun di balik kentalnya nasionalisme  Turki, sebenarnya terdapat permasalahan mendasar yang sampai hari ini menjadi problem. Konflik yang terjadi hari ini menyangkut suku Kurdi bisa dibilang merupakan bagian utama dari permasalahan mendasar itu.

Meski dalam Anayasa (Undang-Undang Dasar) Turki disebutkan bahwa negara dan nations (bangsa) Turki tidak didasarkan atas “cultural communities“/etnik/ras tertentu, tetapi pilihan untuk memberi nama negara baru paska dibubarkannya kekhilafahan Usmani dengan nama “Turki”, seperti mengidentikkan negara Turki sebagai negara-bangsa yang berbasis etnik Turki, dibanding negara-bangsa yang berbasis political communities. Sehingga etnik-etnik lain di wiliyah Turki menjadi problem bagi mereka sendiri.

Persoalan tentang negara berbasis etnik atau komunitas politik ini sebenarnya bisa dilacak sejak era akhir kekhalifah Usmani. Yusuf Akçura sebagai salah satu tokoh Young Turks secara terang-terangan memberi dukungan kepada munculnya negara baru yang berbasis etnik Turki. Dalam tulisannya berjudul Üç Tarzı Siyaset, yang disensor oleh pemerintah Usmani. Akçura mengidentifikasi tiga jalan politik yang berkembang di akhir kekhalifahan Usmani. Tiga jalan itu adalah Usmani Milleti, Pan Islamisme dan negara baru berdasarkan etnis Turki.

Usmani Milleti (Bangsa Usmani) adalah jalan yang dipilih di Era Tanzimat (era reformasi yang dilakukan Usmani) di mana gagasan utamanya adalah mendefinisikan ulang negara Usmani dengan masuknya gagasan baru dari Eropa, terutama revolusi Perancis, termasuk aturan baru yang mengatur bahwa setiap warga negara Usmani sama kedudukannya di mata hukum. Orang-orang yang berada di wilayah Usmani adalah warga negara Usmani, yang memiliki hak dan kewajiban setara, terlepas latar belakang etnis, suku maupun agama. Dengan sistem baru ini, diharapkan dapat menarik dan memberi kemantapan bagi warga negara Usmani non-Muslim yang selama ini seperti berada di strata kedua dalam kehidupan sosial politik sebagai kaum dzimmi. Sistem ini mungkin mirip dengan sistem yang digunakan oleh Amerika Serikat sebagai negara multikultural.

Jalan kedua adalah Pan Islamisme. Pan Islamisme adalah gagasan baru dalam politik Islam di abad 19. Doktrin ini mulai digunakan oleh Sultan Abdul Hamid II setelah konsep Usmani Milleti dinilai kurang efektif dilaksanakan. Para diplomat Turki mulai menggunakan istilah pan Islamisme dalam diplomasi dengan kerajaan-kerajaan Islam di Asia Tenggara dan kawasan lain.

Dengan mulai pudarnya kekuatan Usmani dan munculnya beberapa negara berbasis etnik seperti Jerman, Akçura mendukung jalan politik ketiga yaitu pembentukan negara baru berdasarkan etnik Turki. Dengan kekayaan sejarah, kesamaan kultur, bahasa dan agama, membentuk negara baru berdasarkan etnik Turki—bagi Akçura—merupakan pilihan paling rasional dan terbaik untuk kondisi saat itu.

Pada akhirnya kekhalifahan Usmani runtuh di awal abad 20 dan kelompok yang digawangi Young Turks berhasil mendominasi wajah negara baru. Anayasa yang banyak dipengaruhi gagasan kelompok Young Turks memang tidak menyatakan secara eksplisit bahwa Turki adalah negara berdasarkan etnis Turki. Masalahnya adalah kenapa yang dipakai sebagai nama negara adalah “Türkiye” yang notabene nama mayoritas etnis di dalam wilayah negara itu? Türkiye berasal dari etonim Türk yang merujuk pada nama Etnis Türk dan akhiran abstrak –iye yang berarti “pemilik”, “tanah”.

Bandingkan misalnya dengan Indonesia. Indonesia adalah nama baru yang bukan merupakan nama salah satu etnik di dalam wilayah negara. Dengan pilihan nama Indonesia, bukan Jawa atau Melayu sebagai mayoritas etnik, negara Indonesia dapat merangkai dan mempersatukan perbedaan etnis dan bahasa yang ada. Coba misalnya nama yang dipake adalah Jawa, lalu bahasa Jawa dipakai sebagai bahasa resmi, dan ada slogan nasional “bahagianya aku menjadi Jawa”, mungkin saja saat ini negara Jawa itu telah tercerai berai menjadi beberapa negara.
Turki tidak didasarkan atas “cultural communities“/etnik/ras tertentu, tetapi pilihan untuk memberi nama negara baru paska dibubarkannya kekhilafahan Usmani dengan nama “Turki”, seperti mengidentikkan negara Turki sebagai negara-bangsa yang berbasis etnik Turki, dibanding negara-bangsa yang berbasis political communities

Pada kenyataannya tidak mudah memisahkan keberadaan negara Turki dengan mayoritas etnik Turki yang ada di dalam wilayah negara Turki sekarang. Sejarah menunjukkan setelah terbentuknya negara baru Turki, karakter multikultural yang dipelihara di masa kekhalifahan Usmani justru pudar. Sebagai negara baru, para pendiri Republik seperti ingin membentuk Turki menjadi negara bangsa dengan jati diri yang baru. Dalam hal bahasa misalnya, jika di era Usmani terdapat tidak hanya satu bahasa yang dipakai—yaitu Osmanlıca, bahasa Arab, Parsi, atau bahasa lokal yang dipakai etnis yang beragam—di Negara Turki Republik diperkenalkan bahasa Turki sebagai satu-satunya bahasa resmi.

Indoktrinasi oleh rezim baru pun dilakukan untuk memperkuat kecintaan, kebanggaan atau nasionalisme. Sayangnya indoktrinasi juga memaksakan keseragaman. Dengan kebijakan bahasa Turki, bahasa daerah yang dipake suku non-Turki seperti Kurdi dilarang untuk dipakai di ruang publik. Misalnya ada kasus orang suku Kurdi yang belum bisa bahasa Turki tidak dilayani oleh rumah sakit pemerintah karna dia memakai bahasa Kurdi. Yang lebih ekstrim pula adalah pemaksaan menggunakan bahasa Turki dalam mengumandangkan adzan.

Karena pengaruh kuat militer dalam mengatur negara, upaya membentuk jati diri Turki tentu dibumbui represi kepada mereka yang resisten terhadap nilai-nilai baru (pengalaman yang juga dialami Indonesia pada era Orde Baru) seperti sekulerisme dan westernisasi kehidupan di negeri yang sebelumnya Islami (di masa Usmani). Dengan kondisi semacam itu, tidak hanya etnis non Turki (Kurdi misalnya) yang terkenal religius, tapi juga orang “etnis” Turki sendiri yang selama era Usmani menjalani hidup dengan nilai-nilai Islam dengan bebas, merasa tertekan oleh indoktrinasi dan kebijakan-kebijakan pemerintah Turki republik.

Nasionalisme yang diekspresikan dengan luar biasa saat ini di Turki tidak lain adalah keberhasilan indoktrinasi dengan bumbu represi rezim militer yang ditanamkan sejak terbentuknya republik. Karena faktor indoktrinasi yang terus-menerus tersebut, wajar jika sampai hari ini masih ada ekspresi nasionalisme yang kental misalnya dengan berdiri khidmat saat ditayangkan lagu nasional İstiklal Marşı seperti yang saya sampaikan di awal tulisan.

Tetapi nasionalisme yang prosesnya represif ini sebenarnya menyisakan persoalan bagi etnik non-Turki sendiri, yang salah satunya muncul dengan serangkaian kekerasan terhadap suku Kurdi saat ini.


Yanuar Agung Anggoro
Mahasiswa Selcuk University, Konya asal Batang, Jawa Tengah. Gemar membuat bakso sendiri, penikmat Lahmacun, dan fans garis keras Manchester City. Tulisan-tulisannya bisa dijumpai di blog penulis di sini.

Silahkan Baca Juga

Previous
Next Post »