10 Akun Twitter Turki dengan Pengikut Terbanyak

14:02:00 Add Comment
Di era internet seperti sekarang ini persebaran informasi makin cepat tak terbendung dan media sosial  sangat berperan penting dalam menyebarkan informasi. Salah satu media sosial yang paling banyak penggunanya adalah Twitter. Dalam tulisan ini saya ingin menilik pengguna Twitter Turki dengan pengikut terbanyak. Menurut data yang dirilis http://twitturk.com/  berikut 10 pengguna Twitter Turki dengan follower terbanyak per 10 April 2016.

1. Cem Yılmaz (11.011.308 pengikut)
[Sumber Foto +vidivodo]
Cem Yılmaz adalah seorang komedian, aktor, penulis skenario dan juga sutradara terkenal asal Turki. Salah satu film paling populer yang dibintanginya adalah Bir Çanakkale Filmi : ‘The Water Diviner’. Film ini bercerita tentang seorang ayah asal Australia yang kehilangan tiga anaknya karena ikut berperang di Çanakkale. Skenario film tersebut ditulis oleh Andrew Knight. Cem Yılmaz dikenal luas sebagai salah satu komik / stand up comedian Turki paling populer. Stand up berjudul ‘Ne vereyim abime?’ bercerita tentang seorang pelayan restoran garson kental dengan unsur ke-Turki-an. Penasaran bagaimana lucunya? Tonton aja di Youtube hehe.

2. Recep Tayyib Erdoğan (8.154.257 pengikut)
[Sumber Foto @imctv.com.tr]
Recep Tayyib Erdoğan merupakan presiden Turki yang saat ini sedang menjabat. Pada pilpres langsung tahun 2014 Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) mengusung Erdoğan sebagai capres dan berhasil membawa Erdoğan ke kursi presiden. Sebelum menggantikan Abdullah Gül sebagai presiden, Erdoğan pernah tiga kali menjabat Perdana Menteri. Politisi yang mengawali karir politik bersama Partai Refah ini semasa SMA juga sempat bermain sepakbola di liga amatir. Mantan walikota Istanbul ini berhasil memperbaiki perekonomian Turki sejak menjabat sebagai PM pada tahun 2002. Erdoğan mempunyai jiwa nasionalisme tinggi.  Contohnya adalah dia memungut bendera Turki yang jatuh di lantai, bendera yang harus ada sebagai penunjuk tempat para pemimpin negara saat sesi foto kenegaraan berlangsung di acara G20 France 2011 dan ditaruh di sakunya.

3. Abdullah Gül (7.639.465 pengikut)
[Sumber Foto @Haberplatosu.com]
Abdullah Gül adalah presiden Turki ke 11. Pada saat menjadi presiden tepatnya tahun 2011—atas undangan presiden SBY—Abdullah Gül pernah melakukan kunjungan resmi ke Indonesia. Abdullah Gül juga mendapat gelar doktor kehormatan dari Universitas Indonesia. Abdullah Gül merupakan salah satu pendiri partai AKP bersama Recep Tayyib Erdoğan. Pria asal Kayseri tersebut sekarang sedang ‘menikmati masa tenang’ karena sudah tak aktif di dunia politik.

4. Galatasaray SK (6.379.801 pengikut)
[Fans Galatasaray. Sumber Foto +YouTube]
Galatasaray SK merupakan klub olahraga yang berdiri tahun 1905 di Istanbul. Tim sepakbola Galatasaray pernah menjadi juara Piala Eropa pada tahun 2000 setelah mengalahkan Arsenal di pertandingan final. Selain sepakbola , Galatarasy SK juga mempunyai tim basket, bola voli, handball dsb. Sebagai pendukung Galatasaray, saya sedikit kurang senang melihat posisi tim berjuluk Cimbom ini di liga Turki. Galatasaray berada diurutan ke-4 di bawah Torku Konyaspor.

5. Fenerbahçe SK (5.037.860 pengikut)
[Sumber Foto @Kazete.com.tr]
Fenerbahçe SK berdiri tahun 1907 di Istanbul. Klub ini merupakan musuh bebuyutan Galatasaray SK di semua bidang. Derbi Istanbul antara kedua tim sepakbola tersebut selalu menarik perhatian seluruh pecinta sepakbola di Turki. Tanggal 13 April 2016 yang akan datang akan berlangsung pertandingan derbi Istanbul di markas Galatasaray. Pertandingan ini sebenarnya dijadwalkan berlangsung minggu kemarin. Namun waktu itu Turki sedang waspada akan serangan teroris yang sedang marak, maka pertandingan diundur.

6. Ata Demirer (6.168.676 pengikut)
[Sumber Foto @Uakor.com]
Ia mengawali karir di panggung hiburan sebagai pianis di salah satu klub malam di Bursa. Karir musiknya kemudian dilanjutkan di Istanbul. Lagu-lagu ciptaannya bergenre ala Turka. Lagu dia yang saya suka karena ritmenya yang enak di telinga adalah : Fıldır fıldır Hayriye, Bu fasulye 7,5 lira. Selain berkarir di dunia musik, Ata melebarkan sayapnya ke dunia komedi. Ia sering tampil sebagai komika seperti Cem Yılmaz.

7. NTV Spor (5.499.944 pengikut)
NTV Spor adalah media milik Doğuş Yayın Grubu yang memulai siaran televisi pada tahun 2008. NTV Spor hadir menyediakan berita olahraga lebih detail dan dengan masa siaran yang lebih lama.

8. Okan Bayülgen (5.653.883 pengikut)
[Sumber Foto @Kimnereli.com]
Okan Bayülgen adalah seorang aktor, fotografer dan juga host di sebuah acara televisi.

9. NTV (5.593.576 pengikut)
NTV merupakan kanal televisi swasta yang berdiri tahun 1996. Pada tahun 1999 Doğuş Yayın Grubu mengakuisisinya. Kehadiran NTV Spor bertujuan untuk melengkapi berita olahraga yang disiarkan oleh NTV.

10. Demet Akalın
[Sumber Foto +Haberler]
Demet Akalın adalah penyanyi pop perempuan Turki. Akalın dijuluki pop müziğin kraliçesi (ratu musik pop). Salah satu lagu populernya adalah Çalkala yang telah ditonton lebih dari 58 juta kali di Youtube.

Demikian 10 daftar akun Twitter Turki dengan follower terbanyak. Kita bisa mengelompokkan pengguna Twitter tersebut ke dalam tiga bidang, politik (Reccep Tayyib Erdoğan, Abdullah Gül), Olahraga dan Berita (Galatasaray SK, Fenerbahçe SK, NTV Spor, NTV) dan hiburan (Cem Yılmaz, Ata Demirer, Okan Bayülgen, Demet Akalın). 


Hari Pebriantok
Salah satu pendiri Turkish Spirit. Mahasiswa asal Sragen sedang studi Jurnalistik di Selcuk University, Konya Turki dan pecinta fotografi.

Museum of Innocence, Ekspedisi Kepolosan!

21:26:00 Add Comment

"Hal unik lain dari proyek Museum Kepolosan ini adalah upaya menghidupkan fiksi secara masif, di Istanbul sebagai lokusnya" 

[Buku Kepolosan Kenangan Edisi Bahasa Turki. Foto +Bernando J. Sujibto]
Jumat 25 Maret 2016, bersamaan dengan penayangan serentak film Hatıraların Masumiyeti (Kepolosan Kenangan) di kota-kota besar Turki, buku dengan judul yang sama berisikan skenario, esai-esai pendek hal-ihwal Museum Kepolosan (The Museum of Innocence/Masumiyet Müzesi) dan obrolan Orhan Pamuk dengan sutradara Grant Gee hadir juga ke hadapan pembaca. Skenario yang ditulis sendiri oleh tangan dingin Pamuk ini menghadirkan kejutan dan kebaruan dengan perspektif yang unik.

Museum Kepolosan yang awalnya adalah karya novel (terbit 2008), lalu ditransformasikan ke dalam bentuk museum (dibuka 2012) dan kali ini diadaptasi ke film adalah pencapaian kreativitas yang luar biasa. Betul, sudah banyak karya novel hebat dunia difilmkan, tapi Museum Kepolosan mempunyai “arena operasinal” sendiri yang dieskplorasi secara distingtif, khususnya dalam aspek kreativitas seni dan sastra. Kehadiran buku dan film ini semakin menyempurnakan semesta Museum Kepolosan itu sendiri dengan sentuhan-sentuhan segar, sebagai produk imajiner dalam bentuk roman yang kemudian terdedah ke dalam konstruksi fiksi-yang-terlihat (baca: museum).

“Arena operasinal” Pamuk yang saya maksud adalah proses menghidupkan kota Istanbul. Pamuk tengah "berproyeksi" menasbihkan Istanbuller (Istanbullu) dalam dirinya, seperti Dubliner bagi James Joyce. Meski bukan Pamuk seorang yang menulis Istanbul, tak bisa dipungkiri bahwa hari ini Pamuk adalah si Istanbullu itu sendiri, seorang yang meniupkan nafas kepada kotanya. Atau sebaliknya, sebuah kota yang setia melumuri intuisi dan imajinasi kepada dirinya (hal 79).

Jika boleh bertaruh ihwal karya novel yang akan dikenang di masa depan—atau bahkan sepanjang sejarah—saya tak ragu untuk menyebutkan Museum Kepolosan. Alasannya karena novel ini sudah bertransformasi ke dalam bentuk-bentuk karya seni yang lain. Misalnya, Januari kemarin sebagian koleksi museum dibawa ke Somerset House London untuk dipamerkan. Sebelumnya buku Şeylerin Masumiyeti (Kepolosan Objek-Objek, 2012) terbit sebagai bentuk katalog. Lagi-lagi, buku katalog ini disentuh dengan teks-teks magis Pamuk sendiri yang semakin melengkapi bangunan fiksi novel Museum Kepolosan

Alasan mendasar dan paling prinsipil (di balik "keabadian" sebuah karya sastra) adalah karena novel ini telah menjadi ruh bagi sebuah kota, yaitu Istanbul dalam perspektif dan paradigma yang dibangun Pamuk sendiri sebagai personal. Alasan terakhir ini cukup menonjol bagi proses penyatuan karya dengan latar sosial dan sejarahnya. 

Secara general, proyek Museum Kepolosan adalah sebentuk upaya menghidupkan fiksi secara masif, di Istanbul sebagai lokusnya. Kemudian aspek lain yang menarik dan sulit ditolak di balik kerja kreatif ini adalah bahwa fiksi-yang-terlihat (yaitu koleksi-koleksi museum yang dikumpulkan berdasarkan narasi dalam novel) itu hadir dengan sebuah tesis: dunia fiksi dan non-fiksi sebenarnya adalah mitos yang dikonstruksi untuk ada, keduanya sama-sama memperkuat. Atau, dalam beberapa aspek, mungkin saja saling menegasikan!

Sebagai karya yang bersumbu dari satu pusat yaitu novel, ketiganya sangat identik. Membicarakan satu artinya harus siap bergulat dengan keempat karya seni (novel, museum, buku katalog dan film) tersebut. Namun, buku skenario film ini mempunyai cara pandang berbeda dalam mendekati semesta Museum Kepolosan. Pamuk menambahkan tokoh-tokoh yang sebelumnya tidak muncul dominan dalam novel--tetapi dalam buku ini, dalam film ini, diberikan ruang untuk hadir--sebagai karakter yang mewarnai dan melengkapi cerita, misalnya Ayla, Ara Güler, Tukang Kertas, Türkan Şoray, Kenan Evren, dsb. Pamuk juga menghidupkan karakter-karakter dialog yang—bagi saya—‘asal ingat’ atau memang sebentuk twist untuk mengganggu ingatan pembaca kepada beberapa dialog dalam novel (hal 45). Nilai plus dari buku skenario ini adalah esai-esai pendek tentang semesta Museum Kepolosan sehingga makin utuh dan mendalam.
[Versi Cetak Dimuat di +Jawa Pos. Foto +Ahmad Muhli Junaidi]
Di samping Kemal, Ayla adalah tokoh utama dalam film ini. Ayla diplot menjadi teman dekat Füsun yang pernah tinggal satu apartemen (daire). Daire mereka sederhana, ditempati oleh keluarga dari kalangan menengah ke bawah. Bersama ibunya yang seorang janda, Ayla menyewa rumah di lantai bawah apartemen yang ditempati Füsun dan keluarganya, apartemen kecil yang kini disulap menjadi museum. Sebagai teman dekat satu apartemen, Ayla sangat paham Füsun, karena dari tahun 1970-1980 Füsun dan Ayla kerap main bersama (hal 15). Artinya, waktu narasi dalam novel yang berlatar tahun 1974 terjadi, Füsun dan Ayla tengah asyik bermain sebagai seorang gadis yang baru lulus dari SMA. Bahkan dalam dialog perdana, Ayla menuturkan bahwa baju yang dipakai Füsun dan kini menjadi koleksi museum dibeli di toko murah oleh mereka berdua (hal 13).

Pamuk menghadirkan Ayla untuk menggantikan Füsun bukan tanpa alasan. Dan bagi saya, itu justru pilihan luar biasa yang mengejutkan karena tidak semua orang berpikir ke sana, ketika tokoh utama dihilangkan dan diganti oleh temannya yang dalam novel perannya sama sekali tidak dominan (nama Ayla dalam novel hanya disebutkan sebanyak lima kali, di halaman 302, 373, 538 dan 539). Tanpa diragukan, cara demikian adalah sentuhan jenius Pamuk agar Füsun yang lugu dan lemah (dalam novel menjadi objek dan represi kegilaan cinta Kemal dari kelas borjuis) terbatas menceritakan dirinya. Pembaca tentu paham bahwa novel ini adalah cerita cinta tunggal tentang Kemal dan kegilaan-kegilaanya, Füsun hadir dalam definisi dan perspektif Kemal. Untuk itu, Pamuk tak tega membiarkan Füsun menjadi objek derita yang pelik untuk kedua kalinya. Karena yang diinginkan Pamuk dengan novel ini sebenarnya bukan aspek eksploitasi (kelas, seks dan kapital), tetapi demi menghadirkan lini sejarah kelam yang pernah menghiasi Istanbul dan Turki.

Kejutan lain adalah ketika Ayla dengan gamblang bertutur bahwa dirinya tahu ketika Pamuk akan menulis kisah cinta antara Kemal dan Füsun. Karena ketika tengah menulis novel, Pamuk pernah bercerita kepada Ayla (hal 15).

Kehadiran tokoh dan karakter yang dalam novel hanya disebutkan nama (untuk menghadirkan realisme sejarah Turki) atau bahkan yang tak pernah ada merupakan catatan kaki untuk melengkapi lanskap cerita dan panorama Istanbul secara lebih luas. Hadirnya Kenan Evren misalnya, komandan kudeta militer paling beringas tahun 1980, melengkapi intrik dan intimidasi politik yang menanamkan kecemasan dalam memori bangsa Turki (hal 46-47). Dipungkasi oleh karakter Ara Güler, fotografer nomor satu Turki yang dijuluki the eye of Istanbul itu.
[Masumiyet Müzesi Trailer. Foto +YouTube]
Karakter aktris tersohor tahun 1970-an Türkan Şoray (hal 42-43) semakin memperkuat karakter Füsun dalam novel. Füsun bermimpi menjadi aktris dan pernah mengikuti kontes model kecantikan tapi gagal. Pamuk cukup lengkap mengeksplorasi dunia perfilman Turki era 70-80-an untuk menghidupkan karakter Füsun yang ingin berkecimpung dalam dunia film. Bahkan Füsun pernah dilirik seorang sutradara untuk mengambil peran dalam sebuah film (novel Museum Kepolosan bab 52-62).

Di samping itu, karakter Sopir Taksi, Tukang Kertas dan Reporter semakin melengkapi semesta Museum Kepolosan. Tentu, sebagai film yang digarap secara unik (semacam donumenter atas karya fiksi) Pamuk menjadi komando dalam menarasikan film, narator untuk menjelaskan Museum Kepolosan. Padahal dalam novel sendiri, Pamuk berposisi sama –sering mencampuri karakter Kemal yang dia ciptakan sendiri. Seperti terjadi dalam karya yang lain, Pamuk lihai memainkan peran alter ego yang bahkan mengaburkan cerita antara dirinya dengan tokoh-tokohnya.

Terakhir, sebagai ending tercanggih adalah ketika antara Pamuk dan Kemal kembali terjadi dialog: “Dalam novel kalimat terakhirku jangan lupa, Tuan Orhan,” pesan Kemal. “Unutmam (aku tidak lupa),” jawab Pamuk (hal 55). Dialog ini mengingatkan saya pada bagian akhir novel (bab 83 halaman 531-2) ketika Kemal menyerahkan tugas narator kepada Orhan Pamuk, dan novel setebal 561 halaman tersebut pada akhirnya berubah menjadi ‘suara’ Pamuk seutuhnya (!).


Bernando J. Sujibto
Penulis dan Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi di Selcuk University, Konya Turki. Sedang merampungkan riset tesis tentang karya Orhan Pamuk. Follow Twitter @_bje.

Rahasia Alam Semesta di balik Rempah-Rempah

18:05:00 Add Comment

"Kehidupan, seperti halnya memasak, juga memiliki siklus yang sama: preparation, main course, dessert dan presentation"

[Cuplikan Film A Touch of Spice. Foto +YouTube]
Beberapa bulan lalu, saya tidak mengetahui apapun tentang Turki selain pada dua hal ini: Orhan Pamuk dan Istanbul. Saya mengenal Orhan Pamuk melalui novelnya yang berjudul My Name is Red. Kemudian saya jatuh cinta dan mulai membaca karyanya yang lain seperti Snowd anThe Musseum of Innocence. Ia menjadi salah seorang penulis favorit saya setelah Haruki Murakami dan Tagore. Dan pengetahuan saya tentang Istanbul sebenarnya tidak banyak juga selain bahwa kota indah ini menjadi latar belakang dalam film favorit saya sepanjang masa yang berjudul A Touch of Spice.

A Touch of Spice sendiri bukanlah film asli Turki, melainkan film produksi Yunani (didistribusikan juga di Turki dengan judul: Bir Tutam Baharat) yang mengambil setting di Istanbul pada tahun 1955-1978 di mana Istanbul Pogrom sedang terjadi. Di tengah kekisruhan pengusiran komunitas Yunani dari Istanbul (dan Turki secara keseluruhan), FanisIakovides menghabiskan masa kecil bersama kakeknya yang seorang Turki di Istanbul. Kakek Fanis memiliki toko rempah-rempah terkenal dan di sanalah Fanis jatuh cinta pada astronomi dan seorang gadis untuk pertama kalinya.

A Touch of Spice diawali dengan kembalinya Fanis yang telah menjadi professor astronomi dan astrofisika ke Istanbul untuk menengok kakeknya yang sedang sakit keras dan sekarat. Perjalanan ke Istanbul rupanya memanggil kembali memori masa kanak-kanak yang ia habiskan di toko rempah-rempah milik kakeknya. Kakek Fanis adalah seorang culinary philosopher dan ia mengajari Fanis tentang filosofi rempah-rempah dan kaitannya dengan sistem tata surya. Sebagai contoh, ia mengumpamakan kayu manis sebagai Venus,"Like all women, cinnamon is both bitter and sweet."
[Foto +YouTube]
Sepanjang film, kita disuguhi dengan pemandangan indah kota Istanbul dan selat Bosporus. Saat Fanis bertemu kembali dengan cinta pertamanya yang seorang perempuan Turki, kita diajak melihat struktur bangunan Turki yang merupakan perpaduan Eropa dan Timur Tengah. Selain sisi artistik, film ini juga menampilkan sisi kelam kehidupan keluarga Fanis sendiri.

Fanis sudah aktif dan mengenal dunia dapur sejak kecil. Berawal dari alat dapur mainan, ia kemudian menggunakan alat dapur yang asli dan mulai memasak makanan. Ia sangat suka memasak karena segala hal yang telah diajarkan kakeknya mengenai filosofi bumbu dapur membuatnya merasa dekat dengan sang kakek. Setiap kali ia ingin menggunakan kayu manis sebagai bumbu masakan, ia akan selalu teringat pada cinta pertamanya, Saime.

Rupanya kesenangan Fanis dalam memasak membuat ibunya takut. Ibu Fanis berpikir bahwa seorang anak lelaki tidak seharusnya senang berada di dapur. Awalnya ia membiarkan Fanis karena memahami kesulitannya untuk beradaptasi ke dalam lingkungan baru. Namun lambat laun ketakutannya membuat ia berpikir bahwa Fanis akan mengalami disorientasi seksual ketika tumbuh dewasa. Untuk memisahkan Fanis dari dapur, ia mengirim anak lelakinya itu ke pelatihan militer. Akan tetapi, seperti jalinan takdir, Fanis tetap kembali ke dapur.

Setelah menonton film ini, saya menyadari bahwa kehidupan kita sekompleks filosofi masakan dan aktivitas tata surya. Kehidupan, seperti halnya memasak, juga memiliki siklus yang sama: preparation, main course, dessert dan presentation. Untuk menciptakan masakan yang lezat, kita harus mengetahui bumbu apa yang saling bertentangan, pun dalam kehidupan. Pepper is hot and scorches like the sun rupanya tidak sekedar tagline, tapi mewakili keseluruhan ide dan simbol yang seringkali membuat saya kewalahan untuk memahami esensi kehidupan, kaitannya dalam rempah-rempah dan manusia sebagai pelengkap tata surya. <ed/ts/laelil>


Windha Larasati DF
Lahir dan besar di Denpasar, Bali. Kemudian meneruskan pendidikan menengah di Tambakberas, Jombang dan menghabiskan masa muda dengan bersenang-senang sambil belajar di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, mengambil jurusanI lmuKomunikasi. Aktif di beberapa komunitas sastra selama kuliah, kemudian vakum untuk mencari jati diri sebagai wanita karir yang mapan. Saat ini tengah mendaftarkan diri untuk menjadi mahasiswi S2 Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Akun Twitter @windhalarasati.

Selfie si Baja Hitam

01:13:00 Add Comment

"'Selfie si Baja Hitam' di tengah area taman Tulip yang dilarang dimasuki"

[Lokasi: Taman Tulip Alaaddin Tepesi. Foto +Bernando J. Sujibto  

Bernando J. Sujibto
Penulis dan Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi di Selcuk University, Konya Turki. Sedang merampungkan riset tesis tentang karya Orhan Pamuk. Follow Twitter @_bje.

Taman Tulip

11:12:00 1 Comment
Spring adalah musim yang menakjubkan di Negeri Dua Benua ini. Salah satu yang tak bisa dihapuskan dari Turki adalah bunga Tulip. Semerbak aroma dan kelopak indah nan istimewa dari jenis bunga yang hanya tumbuh di musim semi—di sedikit negara yang mengalami musim dingin sebelumnya—ini dari hari ke hari semakin serius dikampanyekan oleh Turki. Alasannya tentu untuk meyakinkan dunia bahwa Tulip sebenarnya berasal dari Turki sebelum sekitar abad 17 dibawa ke Belanda dan dikembangkan di Negeri Kincir Angin tersebut. Untuk merebut perhatian tersebut, Turki berproyeksi dengan Tulip secara besar-besaran sejak 10 tahun terakhir. Selain Istanbul yang menyajikan Tulip Festival setiap tahunnya, Provinsi Konya dan tepatnya di kabupaten Çumra, mempunyai kebun Tulip sekitar 300 hektare, paling luas se Turki. Taman Tulip ini menjadi semacam studio ratusan fotografer profesional dan penggemar foto lainnya bebas menikmati salah satu hadiah dari Tuhan semesta. Gambar-gambar berikut adalah karya Orhan Akkanat, dari Anatolia News Agency.




Solidaritas pada Secangkir Teh Turki

18:05:00 Add Comment

 "Muara dari proses keakraban yang terajut pada secangkir teh akan menciptakan solidaritas yang unik dan kuat"

[Teh Gratis Silahkan Dinikmati: Pesan pada Gambar. Foto @Didit Haryadi]
Masyarakat Turki sangat akrab dengan minuman çay, yang dalam Bahasa berarti teh. Di setiap sudut-sudut jalan, çayevi (warung teh), cafe, ataupun restauran sangat mudah dijumpai jenis minuman yang satu ini. Bagi Anda yang terbiasa untuk minum kopi, sepertinya kopi bisa dibilang minuman nomor dua di negeri Sang Penakluk ini.

Berikut adalah kutipan menarik dari salah satu artikel dalam situs www.theistanbulinsider.com, sebuah situs yang mengupas tuntas İstanbul dan orang-orangnya, menempatkan teh sebagai minuman yang paling digemari:

The most widespread drink in Istanbul is tea (çay), served in small, tulip-shaped glasses. Turks consume it during breakfast, and continue drinking it throughout the day. They’ll offer it to you in shops and bazaars, and even in banks and offices. What about their famous Turkish coffee (Türk kahvesi) then? Locals usually drink it mid-morning and to finish off a meal.

Teh, dalam artikel di atas,  jelas sekali mendapatkan posisi yang sangat istimewa dalam keseharian masyarakat Turki. Mereka mulai mengkonsumsinya saat sarapan dan mengiringi aktivitas mereka sepanjang harinya. Pasar, di sepanjang jalan kota, bazar, perkantoran dan tempat umum lainnya adalah lokasi yang cukup akrab untuk melihat orang-orang minum teh.

Sebagai catatan penting jika Anda datang ke Turki, jangan merasa kaget jika teh yang dihidangkan mempunyai ukuran gelas kecil. Umumnya mereka memiliki gelas khas untuk minum teh. Untuk menyajikan çay, secara umum prosesnya menggunakan wadah khusus, misalnya mesin yang terhubung dengan sumber listrik sebagai pemanas air dan teh. Cara ini lebih modern dan sangat banyak dijumpai di mana-mana. Ada juga cara lain yaitu dengan menggunakan tungku api di mana di atasnya dipasang wadah yang disebut çay demlik (panci teh khas Turki).

Begitupun dengan kopi. Mereka mempunyai kultur khusus dalam menyeduh kopi dan menyediakan gelas khusus demi menikmati setiap tegukan kafeinnya. Tentunya dengan cara penyajian yang juga berbeda. Misalnya, khusus untuk penyajian Kopi Turki (Türk Kahvesi) adalah dengan cara memanaskan air dan kopi dalam satu wadah khusus di atas bongkahan bara sambil diaduk-aduk dengan perlahan hingga aroma kopi menyeruak.

Satu hal yang sangat menarik dari tradisi minum teh di Turki bersama arkadaş (sejawat) dan hoca (guru) adalah hadirnya keakraban satu sama lain. Tak jarang, keakraban ini dapat muncul juga secara spontan.

Karena orang Turki dikenal sangat meraklı, memiliki rasa penasaran yang sangat tinggi terhadap sesuatu dan hal-hal baru, maka jangan heran jika Anda berkunjung ke Turki kemudian menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang sangat personal, mulai dari arti nama Anda, usia, keluarga, pekerjaan bapak, ibu, adik, kakak, dan lain sebagainya. Ini semua menunjukkan bahwa cara mereka berkenalan dan berkawan dengan orang lain sangatlah khas dan unik. Tapi bagi sebagian masyarakat dengan kultur yang berbeda cara-cara seperti ini pasti menjengkelkan dan mengancam privasi mereka.

Yang perlu dicatat adalah muara dari proses keakraban yang terajut pada secangkir teh akan menciptakan solidaritas yang unik dan kuat. 

Emile Durkheim, salah satu pemikir yang sangat berpengaruh dalam sosiologi, berbicara tentang solidaritas dan tipe struktur sosial. Secara sederhana, istilah solidaritas menunjuk pada satu keadaan hubungan antara individu dan atau kelompok yang didasarkan pada perasaan moral dan kepercayaan yang dianut bersama yang diperkuat oleh pengalaman emosional bersama. Ikatan ini lebih mendasar daripada hubungan kontraktual yang dibuat atas persetujuan rasional, karena hubungan serupa itu mengandaikan sekurang-kurangnya satu tingkat/derajat konsensus terhadap prinsip-prinsip moral yang menjadi dasar kontrak.

Suasana solidaritas yang dijelaskan oleh Durkheim dapat dijumpai dalam tradisi minum teh masyarakat Turki. Di sana bisa dijumpai banyak sekali obrolan-obrolan sederhana, topik-topik bebas dan dibumbui dengan gelak tawa. Semuanya mengalir dengan sangat spontan, natural dan tidak memerlukan persetujuan kontraktual, seperti yang banyak dijelaskan oleh sosiolog seperti Spencer dan Rousseau misalnya. Namun tidak jarang juga ada topik-topik serius, tergantung konteks dan lawan bicara yang diajak mengobrol.

Ada dua jenis solidaritas yang dikemukakan Durkheim, yaitu solidaritas mekanik dan organik. Solidaritas mekanik didasarkan pada suatu ‘kesadaran kolektif’ bersama (collective consciousness/conscience) yang merujuk pada ‘totalitas kepercayaan-kepercayaan dan sentimen bersama yang rata-rata ada pada warga masyarakat yang sama’. Lebih jelas, dalam karyanya yang berjudul The Division of Labor in Society (terbit pertama tahun 1893), ia menjelaskan bahwa solidaritas mekanik merupakan solidaritas yang tergantung pada individu-individu yang memiliki sifat-sifat yang sama dan menganut kepercayaan dan pola normatif yang sama pula. Oleh karena itu, individualitas tidak berkembang; individualitas itu terus menerus dilumpuhkan oleh tekanan yang besar sekali untuk konformitas.

Pada sisi yang lain ada solidaritas organik, didasarkan pada tingkat saling ketergantungan yang tinggi. Saling ketergantungan itu bertambah sebagai hasil dari bertambahnya spesialisasi dalam pembagian pekerjaan, yang memungkinkan dan juga menggairahkan bertambahnya perbedaan di kalangan individu. Dalam konteks yang sangat umum, konsep solidaritas mekanik biasanya dijumpai pada masyarakat tradisional. Sedangakan mayarakat kota diidentikan dengan solidaritas organik.

Di luar itu semua, tradisi minum çay yang dilakukan secara kolektif sepertinya mampu memunculkan rasa solidaritas yang sangat tinggi satu sama lain. Tidak memandang perbedaan latar belakang dan status sosial yang melekat pada setiap individu. Rasanya sangat sulit untuk tidak meneguk çay dalam satu hari di Turki. Karena minuman ini sangat lekat dengan keseharian mereka. Bahkan sekitar sebulan lalu, video promo sebuah iklan di Turki yang tersebar di media sosial menggambarkan ekspresi beberapa pengunjung cafe yang melakukan kahvaltı (sarapan) tanpa disuguhi teh. Terlihat sekali mereka nampak tidak senang, dan beberapa di antaranya merasa sangat aneh dengan mengatakan “kenapa tidak ada teh?”

Sungguh, teh adalah tradisi yang sangat unik dan patut dijaga, sebagai usaha membangun solidaritas dan keakraban dalam kebersamaan. Seperti kata kawan saya, jika Anda minum çay sendirian, kemungkinan Anda sedang dalam suasana hüzün (melankolik).

Akhirnya, saya ingin mengutip salah satu peribahasa Turki yang sangat menarik, “çay sıvı bilgeliktir” (tea is the liquid of wisdom). Haydi çay içelim!


Didit Haryadi
Pimpinan Redaksi Turkish Spirit. Mahasiswa master program Sosiologi di İstanbul University. Person İn Charge untuk İndonesia Turkey Research Community (İTRC) di İstanbul.

Istimewanya Makan Siang Mahasiswa di Turki

01:31:00 4 Comments

"Pilihan menu makan pun dibuat seirit mungkin, misalnya menu stereo atau sego tempe loro (nasi tempe dua) dengan kuah atau sayur secukupnya."

[Suasana Makan Siang Mahasiswa Universitas Selcuk di Sosyal Tesisler. Foto @https://www.selcuk.edu.tr]
Anda pernah mengalami kesusahan dalam urusan makan selama menjadi mahasiswa? Untuk anak orang kaya, tentu tak ada masalah. Tetapi apakah rakyat Indonesia semuanya kaya? Kita sama-sama tahu. Banyak lho di antara kita para pelajar datang ke kota untuk kuliah dengan bekal pas-pasan, atau bahkan menjadi nyambi kerja demi kuliah. Bagi kelompok yang banyak ini, makan siang adalah sebuah pertaruhan!

Tulisan ini ingin kembali menyalakan kenangan bahwa makan siang adalah sebuah setumpuk perjuangan yang tak boleh dilupakan. Suka-duka bergelayut hebat saat perut keroncongan, bukan?

Dulu saat di Jogja, sebagai mahasiswa dengan kantong pas-pasan, saya sering menghemat dengan menggabungkan makan pagi dengan siang atau makan siang dengan malam. Pilihan menu makan pun dibuat seirit mungkin, misalnya menu stereo atau sego tempe loro (nasi tempe dua) dengan kuah atau sayur secukupnya.

Lalu bagaimana makan siang bagi mahasiswa di Turki? Fakta berputar sekitar 180 derajat. İni salah satu fakta yang unik di Turki bahwa mahasiswa/pelajar mendapatkan santunan dari negara! Makan siang di Turki sebagai mahasiswa, kalau dipikir-pikir, lebih terjamin dibandingkan ketika saya menjadi mahasiswa di Indonesia.

Saat ini di Konya, sebagai mahasiswa peraih beasiswa dari pemerintah Turki saya mendapatkan fasilitas asrama termasuk makan pagi dan malam sudah ditanggung oleh pemerintah Turki. Kalau siang masih perlu makan, kampus menyediakan fasilitas makan siang dengan harga yang sangat miring.

Sebagai perbandingan, makan siang di ‘kantin khusus’ bernama Sosyal Tesisleri yang disediakan Universitas Selçuk hanya perlu membayar 2 Lira untuk sekali makan. Mahasiswa hanya perlu membayar di muka untuk minimal 10 kali makan atau 20 Lira. Bahkan pada tahun 2012, sebelum banyak mahasiswa asing, bagi mahasiswa asing digratiskan makan di kantin ini. Kualitas makanan yang disediakan di kantin kampus ini bisa dibilang ‘melebihi harganya’, dalam artian makanan itu kalau di restoran lain harganya paling tidak 10 Lira-an.
[Menu Makan Siang di Sosyal Tesisler (Sote) dengan Roti, Ayam, Nasi, Çorba dan Tatlı. Foto @Yanuar Agung]
Sementara itu jika makan di kafetaria kampus, seperti warung kebab atau döner, köfteci, kumru, dsb, paling tidak akan menghabiskan uang sebesar 6 Lira. Sebagai contoh, tavuk döner atau yang di Indonesia dikenal dengan kebab dengan isi ayam yang paling murah harganya 2,5 Lira belum termasuk minumnya. Bila memilih makan dengan menu yang lebih banyak menggunakan piring, tentu saja harganya lebih mahal. Misalnya menu mie, ayam, dan ayran di bawah ini dihargai sebesar 10,5 Lira.
[Menu Makan Siang di Kafetaria Kampus: Mie, Ayam, Salata, Roti dan Ayran. Foto @Yanuar Agung]
Dengan perbandingan harga yang begitu jauh antara kantin yang disediakan kampus dengan kafetaria swasta, banyak mahasiswa yang memilih untuk makan di kantin kampus. Tidak hanya untuk mahasiswa, kantin kampus juga menyediakan makan  ‘murah berkualitas’ bagi dosen dan pegawai kampus. Namun, karena banyak peminat, untuk makan di kantin kampus itu harus mengantre panjang. Pengalaman saya kira-kira 10 menit dalam antrean. Kalau tidak mau antre dan tidak suka dengan makanan di kantin kampus, mahasiswa bisa makan di kafetaria swasta. İtu sebabnya yang membuat kafetaria swasta ramai atau tidak kehilangan pembeli meski ada kantin kampus yang murah meriah.
[Suasana Antrean di Sote Kampus. Foto @Yanuar Agung]
Harga makan siang yang murah meriah berkat subsidi pemerintah ini tidak hanya berlaku di Universitas Selçuk. Semua universitas negeri di kota lain juga memberi potongan harga kepada mahasiswanya untuk makan siang. Misalnya saja di Universitas Yıldırım Beyazıt Ankara (2 Lira), Middle East Technical University Ankara (1,75 Lira), Istanbul Technical University (2 Lira) dan Universitas Istanbul (1,85 Lira). Nah, ini namanya negara hadir untuk generasi muda yang konon menjadi penerus masa depan bangsa negara.
[Suasana Makan di Sote Kampus. Foto @Yanuar Agung]
Dengan fasilitas yang diberikan oleh pemerintah Turki khususnya kepada mahasiswa asing penerima beasiswa pemerintah Turki, kita tentu tidak lagi pusing dengan urusan mengatur makan agar hemat sebagaimana yang pernah saya alami di Jogja dulu. Mahasiswa hanya dituntut untuk belajar, belajar dan belajar.


Yanuar Agung Anggoro
Mahasiswa Selcuk University, Konya asal Batang, Jawa Tengah. Gemar membuat bakso sendiri, penikmat Lahmacun, dan fans garis keras Manchester City. Tulisan-tulisannya bisa dijumpai di blog penulis di sini.

Uğur Mumcu dan Mereka yang Dilenyapkan

01:32:00 1 Comment

“Apalagi cuma dipenjara, jurnalis dibunuh sudah biasa. Di sini nyawa siapa pun murah! Kamu harus sangat hati-hati masuk ke isu-isu sensitif baik bagi negara ataupun bagi rakyat Turki sendiri.”

[Muda-Mudi tengah briefing sebelum di kantor ADD. Foto +Bernando J. Sujibto
Kamis, 21 Januari 2016, kelar sejenak dari urusan tesis tentang nobelis sastra Orhan Pamuk, saya pergi dari Istanbul menuju Bursa, sebuah kota penting dalam peta sejarah politik Turki pra-Konstantinopel. Saya datang ke sana atas undangan ringan Serhan Sopyan, kawan keturunan Albania yang menyebut dirinya seorang Atatürkçü atau Kemalis. Asosiasi tempatnya bergiat, bernama Atatürkçü Düşünce Derneği atau Organisasi Pemikiran Atatürk (disingkat ADD), akan mengadakan satu acara peringatan pada 24 Januari untuk Uğur Mumcu (1942-1993), jurnalis dan pemikir yang terbunuh karena keberaniannya menentang kekerasan negara.

Berangkat menuju Bursa dari Istanbul bagian Eropa adalah sepucuk kenikmatan dunia tiada tara yang sekaligus meringkus kerinduan saya kepada Tanah Air. Penyebabnya adalah Laut Marmara, terusan selat Bosphorus yang membelah Istanbul sebelum ke Laut Hitam. Dengan memakai kapal ferry yang berdurasi sekitar setengah jam, saya seperti berlayar di selat Madura, dari Surabaya. Tetapi tanah yang menyambutku kali ini bukan Madura, melainkan Yalova, tetangga Bursa!
[Laut Marmara di Yaova. Foto +Bernando J. Sujibto]
Tanggal 22 Januari adalah perjumpaan pertama saya dengan mereka di kantor ADD sendiri. Meski warisan sekulerisme Atatürk pelan-pelan mulai ditinggalkan dan dihapus oleh penguasa berideologi Islamis AKP (Partai Keadilan dan Pembangunan), proses transfer dan penanaman ideologi sekuler dan Kemalisme terus berlangsung, salah satunya melalui ADD yang telah hadir nyaris ke semua kabupaten di Turki. Proses ideologisasi di Turki—baik nasionalis, Islamis, komunis ataupun kaum sekuler—sudah sampai pada tahap yang natural; terinternalisasi ke dalam laku keseharian mereka. Artinya, secara mayoritas paradigma, pola pikir dan prilaku rakyat Turki bisa dibaca dan dipahami menurut posisi ideologinya masing-masing. Yang abu-abu sedikit!

Kali ini saya tengah berada dalam lingkaran kecil komunitas anak-anak muda sekuler, para pelanjut perjuangan Atatürk. Gedung tak begitu mewah itu terletak tepat di pinggir sungai bernama Kirmasti (Yunani Kuno: Kremaste), atau orang lokal sendiri lebih akrab menyebutnya dere (sungai kecil/anak sungai), Kirmasti Deresi. Orang-orang Turki mempunyai persepsi sendiri untuk menyebut sungai (nehir/river/bengawan): airnya besar dan tak mati, misalnya Dicle Nehri (Sungai Tigris), Fırat Nehri (Sungai Euphrate), Aras Nehri (Sungai Aras), dll yang mempunyai panjang hingga ratusan kilometer, bahkan melintasi negara lain. 
[Sungai Kirmasti di Puncak Musim Dingi. Foto +Bernando J. Sujibto]
Tepat di tepi dere di tengah kota Mustafakemalpaşa saya bersama anak-anak muda dan pelajar SMA yang aktif menjadi lokomotif dan penggerak dalam organisasi penyelamat pemikiran dan idelogi sekuler tersebut menyiapkan sebuah acara memorial untuk mengenang seorang jurnalis penting yang dilenyapkan nyawanya: Uğur Mumcu.

Di lantai yang sama ada birahane (warung bir) yang menghadap ke samping. Sejak masuk ke ruangan kantor ADD di Mustafakemalpaşa, saya mencium aroma bir sedikit liar. Untuk memastikan, saya menghampirinya yang hanya berjarak sekitar belasan langkah dari pintu masuk kantor ADD. Untuk ukuran sebuah kota kabupaten, Mustafakemalpaşa dapat dibilang sebagai kota di mana ruh dan spirit sekulerisme Kemalis masih terasa berdetak. Di sini cukup mudah dijumpai meyhane (bar), pavyon (klub malam) dan jenis-jenis tongkorangan berbau alkohol lainnya, sebentuk identitas yang ditanamkan dan didukung oleh para Kemalis. 

Budaya minum bir berjalan bersamaan dengan proyek modernisme di bawah Atatürk yolu (jalan/cara Atatürk), yaitu di antaranya jalan kebebasan rakyat, jalan ilmu pengetahuan, jalan bangsa Turk (yang unggul dan tercerahkan), jalan kemenangan, jalan pemikiran, jalan demokrasi, dan jalan modernisme dan negara hukum (Güventürk, 1963: 26). Juga, penamaan atas kabupaten ini, nisbat kepada Bapak Republik Turki Mustafa Kemal Atatürk yang juga dikenal dengan Mustafa Kemal Paşa, pun menancap dalam memori orang-orang setempat. Menyebut nama Mustafakemalpaşa yang tergenang dalam pikiran rakyat Turki, khususnya orang lokal di kabupaten itu, adalah Mustafa Kemal Atatürk itu sendiri.

Jurnalis Dibungkam
[Pawai ADD Memuju Tempat Aksi. Foto +Bernando J. Sujibto]
Jauh sebelum Mumcu, jurnalis yang tewas dibunuh di Turki berjumlah puluhan. Menurut data Committee to Protect Journalists, Turki kerap menduduki tiga teratas sebagai negara yang paling banyak memenjarakan wartawan, selain Tiongkok dan Iran. Pada 2013 misalnya, ada 40 wartawan yang dibui otoritas Turki (posisi teratas tahun itu). Yang terbaru adalah penangkapan wartawan kawakan Can Dündar, pemimpin redaksi Cumhuriyet, pada November 2015. Dalam lima tahun terakhir, menurut sebuah laporan, kebebasan pers di Turki mengalami kemunduran seiring aturan ketat terbaru yang mendukung penyensoran negara terhadap situs web dan media sosial.
“Apalagi cuma dipenjara, jurnalis dibunuh sudah biasa. Di sini nyawa siapa pun murah! Kamu harus sangat hati-hati masuk ke isu-isu sensitif baik bagi negara ataupun bagi rakyat Turki sendiri,” pesan Serhan suatu waktu ketika saya mengutarakan rencana dan ketertarikan riset ihwal gerakan suku Kurdi di Turki bagian Timur dan Tenggara.
[Serhan Sopyan ketika Orasi. Foto +Bernando J. Sujibto]
Menurut rilis Çağdaş Gazeteciler Derneği (Progressive Journalists Association), salah satu persatuan jurnalis berpengaruh selain Türkiye Gazeteciler Cemiyeti (The Turkish Journalists' Association), jurnalis yang terbunuh di Turki berjumlah 77 orang. Sebanyak 19 jurnalis-cum-penulis dari 77 tersebut dilenyapkan pada masa-masa akhir keruntuhan Kesultanan Ottoman.

Dalam sejarah kelam penghilangan nyawa jurnalis, Tevfik Nevzat dapat dicatat sebagai nama perdana yang tewas karena dibunuh ketika dikirim ke penjara. Selain tempat lahirnya di Izmir, tak ada catatan resmi kapan tanggal dan tahun Nevzat lahir. Yang terekam dalam jejak sejarah adalah bahwa sejak tahun 1884 Nevzat bersama sastrawan terkenal masa awal republik Halit Ziya Uşaklıgil (1866-27 Maret 1945) menerbitkan majalah sastra bernama Nevruz. Pada November tahun 1886 mereka berdua mempelopori terbitnya sebuah harian bernama Hizmet. Pun novel pertama Halit Ziya Uşaklıgil mulai diterbitkan secara bersambung di harian tersebut.

Karena media yang mereka dirikan dianggap berseberangan dengan pemerintahan masa-masa akhir kesultanan Ottoman di bawah Abdülhamit II, akhirnya Tevfik Nevzat dikirim ke sebuah penjara di Provinsi Adana. Di penjara tersebut Nevzat dibunuh pada 19 Maret 1905 dan keberadaannya hilang lenyap tanpa kabar.

Setelah Tevfik Nevzat, nama-nama jurnalis-cum-penulis yang dilenyapkan pada akhir era Ottoman adalah Hüseyin Kami (Konya, 26 Maret 1905), Hüseyin Hilmi Bey (Istanbul, 6 April 1905), Hasan Fehmi Bey (Istanbul, 6 April 1909), Ahmet Samim (Istanbul, 9 Juni 1910), Zeki Bey (Istanbul, 10 Juli 1911), Silahçı Tahsin (Istanbul, 27 Juli 1914), Rupen Zartanyan (Istanbul, 24 April 1915), Siamanto (Istanbul, 24 April 1915), Yervant Sırmakeşliyan (Erukhan) (Istanbul, 24 April 1915), Armen Darian (Istanbul, 24 April 1915), Levon Laents (Istanbul, 24 April 1915), Tılgdadints (Istanbul, 24 April 1915), Krikor Zohrab (Urfa, 15 Juli 1915), Taniel Varujan (Çankırı, 13 Agustus 1915), Rupen Sevag (Çankırı, Agustus 1915), Hasan Tahsin (Osman Nevres) (Izmir, 15 May 1919), Ali Kemal (Izmit, 6 November 1922) dan Ali Şükrü Bey (Ankara, 2 April 1923).

Setelah Turki menjadi republik, pemenjaraan dan pembunuhan terhadap jurnalis terus berlangsung sengit, termasuk terhadap Hrant Dink (tewas 19 Januari 2007), Ahmet Taner Kışlalı (21 Oktober 1999), Sayfettin Tepe (29 Agustus 1995), dan Onat Kutlar (11 Januari 1995). Ada pula kasuspenculikan dan penghilangan paksa, misalnya menimpa Nazım Babaoğlu (hilang 12 Maret 1994) dan İhsan Uygur (6 Juli 1993).

Ada beragam cara dan pelaku eksekusi terhadap para wartawan dan pemikir Turki ini. Pelaku terbanyak adalah agen negara atau intelijen dengan memasang bom atau membunuhnyadi tahanan. Tetapi ada juga pelakunya dari warga sipil sebagaimana terjadi pada Hrant Dink dan Kamil Başaran. Pelaku penembakan terhadap Dink adalah bocah berusia 17 tahun bernama Ogün Samast. Sementara Başaran ditembak oleh pemilik restoran hanya karena tidak suka dengan caranya menulis dan menurunkan liputan.

Di Turki, yang masyarakatnya sangat dinamis dalam haluan politiknya, kita cukup mudah mengenali individu atau kelompok sebagai kawan dan lawan. Selama studi dan tinggal di Turki dalam tiga tahun terakhir, saya menjumpai kecenderungan bahwa seseorang yang berseberangan secara ideologis akan sulit untuk menjadi kawan (dalam arti kompromis) bila sudah bertemu di arena politik. Perjuangan kelompok-kelompok politik ini acapkali bermuncratan darah, pelenyapan nyawa, dan tidakan teror lain.

Kaum sekuler akan sangat sulit mencapai titik temu dengan kelompok Islamis dalam konteks perjuangan ideologi mereka. Sama halnya gejolak massa nasionalis dan ultra-nasionalis melawan kelompok lain yang membawa bendera etnis selain Turk, misalnya HDP (Partai Rakyat Demokratik) yang berafiliasi dengan suku Kurdi. Belum lagi massa komunis yang diwakili oleh Partai Komunis Turki (TKP) dan kelompok-kelompok devrimci (revolusioner) lain yang berafiliasi dengan Marxist-Leninist seperti Front-Partai Pembebasan Rakyat Revolusioner (DHKP-C). Salah satu ketegangan kutub ideologis itu terlihat dari pemilu tahun lalu. Karena macet mencapai solusi di parlemen untuk membentuk pemerintahan dari pemilu 7 Juni 2015, digelarlah pemilu ulang pada 1 November.

Di bawah AKP, dengan membawa ideologi Islamis dan memakai jalan demokrasi, kutub ketegangan ideologi Turki bisa sedikit reda. Kelompok-kelompok yang sebelumnya berseberangan seperti kaum nasionalis (yang mendefinisikan diri Turk-Islam) dan komunitas suku Kurdi religius akhirnya mulai bisa dirangkul oleh penguasa dengan mempertemukan spirit dan simbol Islam. Namun ideologi kelompok sekuler-Kemalis berhaluan Atatürk yolu, seperti juga ditunjukkan oleh Uğur Mumcu, jelas tidak akan bisa bertemu dengan ideologi AKP.

Spirit Atatürk dan Mumcu yang ingin Turki menjadi independen dalam konteks ekonomi-politik belum bisa ditunaikan oleh AKP, karena praktik ekonomi dan politik pemerintah Turki cenderung liberal. Titik kontras itu tetap memupuk konfrontasi ideologis antara AKP dan CHP (Partai Rakyat Republik), corong kaum sekuler. Apalagi warisan-warisan sekulerisme ala Atatürk pelan tapi pasti mulai ditinggalkan.

Uğur Mumcu
[Pelaksana Aksi di Patung Mustafa Kemal. Foto +Bernando J. Sujibto]
Di seberang Kirmasti Deresi ada monomen patung Mustafa Kemal Atatürk, sebuah situs wajib di setiap daerah di Turki. Di area patung tersebut acara untuk mengenang Uğur Mumcu dihelat. Sebuah siang musim dingin, tepat tanggal 24 Januari sekumpulan massa yang didominasi anak-anak muda mengelilingi patung, membawa foto Uğur Mumcu dengan dihiasi bunga dan memampang figura para tokoh sekuler. Mereka lalu membaca Vurulduk Ey Halkım Unutma Bizi (Wahai Rakyatku, Ingat Kami yang Telah Dibunuh), sebuah puisi pamflet yang ditulis sendiri oleh Uğur Mumcu dan selalu dibaca oleh generasai-generasi Kemalis untuk mengenang tokoh-tokoh penting mereka yang hilang atau dibunuh.

Untuk menangkap pesan puisi pamflet tersebut, saya ingin menerjemahkan satu bait saja dari Vurulduk Ey Halkım Unutma Bizi seperti berikut ini:

Petani miskin di Giresun, kami mati demi kalian.
Pekerja tembakau di Aegean, kami mati demi kalian.
Orang-orang kampung tak bertanah di daerah Timur, kami mati demi kalian.
Para pekerja di Istanbul, di Ankara, kami mati demi kalian.
Di Adana, para pengumpul kapas dengan tangannya yang terberai lebur, kami mati demi kalian.
Kami ditempak, digantung, wahai rakyatku, ingat kami yang telah dibunuh....

Bizler Uğur Mumcu'nun etrafa dağılıp saçılan her parçasıyız, Mustafa Kemal'in gösterdiği yol onun açtığı ışıktan yürümeye devam edeceğiz,”* ujar Zeynep Nida Ortalık, ketua sayap pemuda ADD Mustafakemalpaşa, di sela-sela obrolan kami.

Uğur Mumcu lahir di Provinsi Kırşehir (Anatolia Tengah) 22 Agustus 1942. Mumcu menempuh pendidikan di Ankara hingga menyelesaikan sekolah hukum di Ankara University pada tahun 1965. Sejak awal kuliah Mumcu sudah dikenal sebagai aktivis gigih dan revolusioner. Di usia 20 tahun, Mumcu menulis artikel berjudul “Türk Sosyalizmi” di mana artikel ini menjadi pemenang pada lomba kepenulisan, semacam manifesto awal untuk jalan perjuangannya kelak. Setelah lulus sarjana Mumcu bekerja sebagai praktisi hukum, kemudian pada tahun 1969 mengakhiri karirnya di ranah hukum dan kembali ke almamaternya, bekerja menjadi asisten dosen hingga 1972.

Tahun 1960-an hingga 1990-an, saat banyak rekannya yang jurnalis dan pejuang kemandirian Turki tewas dibunuh, Mumcu adalah salah satu suara yang lantang. Saat rekannya Abdi İpekçi, redaktur utama Milliyet, dibunuh pada 1 Februari 1979, Mumcu menulis di harian Cumhuriyet pada 1 Februari 1980 bahwa “kekuatan negara tidak cukup mengungkap” pembunuhan itu. İpekçi dikenal berkat kolom-kolomnya yang menyuarakan kebebasan berekspresi, Kemalisme, dan Turki yang independen. Pembunuhan terhadap İpekçi kelak dialami Mumcu sendiri.

Mumcu adalah seorang Kemalis sejati, dikenal sebagai sosok yang gigih mengaplikasikan nilai-nilai Kemalisme tetapi harus meregang nyawa lebih awal. Tanpa memperhatikan ideologi, Mumcu berjuang melawan segala bentuk emperialisme demi menjaga hak-hak rakyat dan sekaligus menunjukkan kecintaannya kepada mereka. Hari ini orang yang tidak mengerti Uğur Mumcu saya pikir mereka tidak paham politik. Kami harus meniru pendirian dan keberaniannya. Kegiatan anma programı seperti ini dihelat di seluruh Turki oleh ribuah orang,” tambah Zeynep.

Pendirian dan keberanian Uğur Mumcu sudah terlihat sejak dirinya bekerja sebagai penulis kolom di surat kabar. Selain bekerja di Cumhuriyet sebagai penulis kolom tetap, Mumcu sempat menulis di beberapa surat kabar seperti Akşam, Yeni Ortam dan Milliyet. Karena tulisan-tulisannya yang kritis dan tajam melawan negara, Mumcu akhirnya dipenjara untuk pertama kalinya setelah kudeta meliter tahun  1971. Setelah keluar dari penjara, Mumcu semakin menjadi-jadi bersuara melawan segala bentuk kekerasan negara dan kedekatan Turki dengan negara imperealis, seperti Amerika dan Israel.

Evet, ülkemiz işgal altındadır; evet, güzel yurdumuz işgal edilmiştir. Evet, yeraltındaki kanlı çeteler ülkemizi işgal etmiştir,”** tulis Mumcu di harian Cumhuriyet, 11 Desember 1979.

Pekerjaan yang mengantar Mumcu pada kematian adalah sebuah proyek investigasi independen untuk mencari hubungan antara PKK (Partai Pekerja Kurdistan) dengan Organisasi Intelejen Nasional (MIT) Turki. Umcu percaya ada keganjilan di balik badan intelejen Turki terhadap PKK dan Abdullah Ocalan, sebagai pendirinya. Tetapi, sebelum kerja investigasi tersebut selesai, Mumcu tewas di halaman rumahnya pada 24 Januari 1993 ketika ia menghidupkan mesin mobil. Sebuah bom plastik yang dilekatkan di mobilnya meledak. Banyak yang menduga kematiannya terkait investigasi independen ketika dia menyelidiki hubungan antara Partai Pekerja Kurdistan (PKK) dan Organisasi Intelijen Nasional Turki. Proses keadilan atas kematiannya masih buram sampai kini, meski banyak yang meyakini melibatkan peran Mossad (dinas rahasia luar negeri Israel), CIA (dinas intelijen AS), dinas rahasia Turki, kekuatan negara dan bersenjata Turki, serta PKK sendiri.

Sebagai upaya mengenang perjuangannya, keluarga dan rekan-rekannya mendirikan sebuah yayasan bernama Uğur Mumcu Araştırmacı Gazetecilik Vakfı (Uğur Mumcu Investigative Journalism Foundation) pada Oktober 1994.

Setelah orasi dan pembacaan puisi pamflet, sekolompok massa melakukan yürüyüş (long march) dengan membentangkan bendera Turki dan simbol Mustafa Kemal Ataturk. Kemudian simbol-simbol anma yang hari itu dipakai untuk mengenang Mumcu mereka taruh di bawah patung Atatürk dengan sebuah spanduk bertuliskan: TERÖRÜ LANETLİYORUZ (Kami mengutuk Teror).
[Monumen Mustafa Kemal dan Poster Mumcu di Malam Hari. Foto +Bernando J. Sujibto]
Malam harinya, bersama Serhan dan teman-teman pemuda aktivis Kemalis yang lain, kami mengumpulkan barang-barang yang sehari tadi dipasang di monumen Atatürk tengah kota Mustafakemalpaşa. Inventaris itu kami simpan kembali di kantor ADD. Di malam musim dingin yang pucat, saat rintik-rintik salju tipis menerpa halus, kami meluncur ke sebuah meyhane. Di sana musik arabesk mengiringi kami memuncaki malam….

Note:
* Kami semua adalah bagian dari Mumcu yang dihabisi dan dicerai-beraikan, kami akan melanjutkan perjuangannya kepada jalan cahaya yang telah ditunjukkan oleh Mustafa Kemal.
**Ya, negeri kita berada di bawah pendudukan; ya, negeri kita yang indah ini telah dijajah. Ya, para mafia keparat telah mencabik tanah ini.

Turki, Januari-Februari 2016 
*) Tulisan ini disalin dari Pindai.org dengan versi lebih panjang. 

Daftar Bacaan

Mumcu, Uğur (2000). Dost Yüzlerde Zaman, UM:AG (Uğur Mumcu Araştırmacı Gazetecilik Vakfı): Ankara
Mumcu, Uğur (2000). Polemikler, UM:AG (Uğur Mumcu Araştırmacı Gazetecilik Vakfı): Ankara
Mumcu, Uğur (1997). Terörsüz Özgürlük, UM:AG (Uğur Mumcu Araştırmacı Gazetecilik Vakfı): Ankara
Mumcu, Uğur (1999). Söze Nereden Başlasam?, UM:AG (Uğur Mumcu Araştırmacı Gazetecilik Vakfı): Ankara.
Mumcu, Uğur (1999). Bu Düzen Böyle mi Gidecek?, UM:AG (Uğur Mumcu Araştırmacı Gazetecilik Vakfı): Ankara.
Güventürk, Faruk (1963). Gerçek Kemalizm, Okat Yayınevi: İstanbul


Bernando J. Sujibto
Penulis dan Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi di Selcuk University, Konya Turki. Sedang merampungkan riset tesis tentang karya Orhan Pamuk. Follow Twitter @_bje.