Berkunjung ke Sekolah Anak-Anak Pengungsi Suriah

00:28:00

Bahasa pengantar memakai bahasa Arab, tetapi mereka tetap diajari bahasa Turki biar hidup sehari-hari mereka semakin mudah berinteraksi dengan masyarakat lokal

[Anak-Anak Suriah Sehabis Bermain Tenis Meja. Foto +Turkish Spirit
Pada hari Rabu 30 Maret 2016, kami mengunjungi sebuah sekolah informal bagi anak-anak Suriah di Konya. Sekolah tersebut difasilitasi oleh salah satu organisasi keagamaan bernama Insan ve Medeniyet Hareketi (Gerakan Kebudayaan dan Kemanusiaan). Kantornya terletak sekitar 600 meter dari taman kota Konya yang dikenal dengan Alaaddin Tepesi.
[Ruang Kelas di gedung IMH. Foto +Turkish Spirit]
Insan ve Medeniyet Hareketi (IMH) adalah organisasi nirlaba yang berpusat di Eyup, Istanbul. Organisasi keislaman yang berakar dari Ikhwanul Muslimin ini muncul sejak tahun 1970-an dengan didahului oleh kelompok gerakan mahasiswa yang ingin mempelajari dan menyiarkan Islam di tengah-tengah negara Turki yang sangat sekuler waktu itu.

“IMH membuka cabang di Konya 2008. Sudah ada sekitar 50 cabang di setiap kota Di Turki. Di samping itu kami juga punya rumah gratis bagi mereka yang membutuhkan. Misalnya, pelajar seperti Anda tidak mempunyai tempat tinggal, kami bisa menampungnya, atau tamu-tamu dari luar kota,” terang Mustafa İpek, mantan guru agama sekolah Imam Hatip dan menjadi guru bahasa Turki di sekolah anak-anak Suriah.
[Mustafa İpek, salah satu guru di IMH. Foto +Turkish Spirit]
Kedatangan kami ke sekolah tersebut dihantar oleh Mine Korkut, salah satu tenaga sukarelawan yang menangani program kepemudaan dan mahasiswa. Program tetap IMH adalah pengajian hadis dan tafsir, juga kitab-kitab keislaman untuk generasi muda Turki. Setiap akhir pekan mereka mengadakan program seminar kecil untuk para pelajar yang bertempat di ruang salon di kantor mereka. Melalui dukungan para relawannya, IHM juga memberikan pendampingan gratis kepada pelajar-pelajar setingkat SMA yang tengah mempersiapkan ujian masuk universitas.
[Jam Dinding Menggambarkan Visi dan Misi IMH. Foto +Turkish Spirit]
“Kami membuka sekolah untuk anak-anak Suriah sejak sekitar 4 tahun silam, ketika pengungsi karena perang di Suriah semakin meningkat. Sekarang jumlah orang Suriah di Konya sekitar lebih dari 450 ribu orang. Anak-anak mereka harus tetap belajar. Di samping ada sekolah formal untuk mereka, organisasi nirbala seperti IMH juga ikut mewadahi demi memenuhi hak pendidikan mereka,” tambah Mustafa.
[Dari Kiri: Mine, Ahmet dan Hari Pebriantok. Foto +Turkish Spirit]
Pukul 13.40 siang kami sampai di kantor IMH. Murid-murid Suriah yang berusia sekitar3-5 tahun sedang mengikuti kelas bahasa Turki yang diampu Bapak Mustafa. Sebagian murid yang tak punya kelas memanfaatkan waktunya untuk bermain tenis meja dan mengobrol bersama kami. Rata-rata dari mereka masih sangat dasar penguasaan bahasa Turki.
[Lambang Rabia dalam Buletin Terbitan IMH. Foto +Turkish Spirit]
“Bahasa pengantar memakai bahasa Arab, tetapi mereka tetap diajari bahasa Turki biar hidup sehari-hari mereka semakin mudah berinteraksi dengan masyarakat lokal,” terang Ahmet, guru matematika asal negara Suriah sendiri.
[Proses Pembelajaran di Salah Satu Ruang Kelas. Foto @IMH]
Gedung di lantai tiga itu menampung sekitar 115 murid dengan jadwal kelas yang berbeda. Khusus untuk mülteci okulu (sekolah pengungsi) ini mereka mempunyai 5 hari jam pelajar dengan tenaga guru relawan lima orang, dibantu oleh mahasiswa Turki yang ikut menjadi volunteer. Di samping itu, lembaga informal ini dibantu oleh badan-badan independen, masyarakat umum dan UNESCO.

<ts/bjeben - ts/hariantok>


Silahkan Baca Juga

Previous
Next Post »