Bulan Rajab dan Tradisi Şivlilik

12:33:00

"Perayaan tradisional sebagai ekspresi budaya lokal khas Turki terhadap ajaran dan tradisi Islam sangat mudah dijumpai di semua daerah di negara bekas Daulah Usmani ini"

[Şivlilik, Anak-Anak dengan Plastik Berisi Penganan Manis. Foto dar İnstagram @konyadan] 
Dalam pemahaman rakyat Turki, bulan Rajab adalah salah satu dari tiga bulan mulia yang kehadirannya dirayakan secara khusus. Mereka sangat antusias menyambut dua bulan sebelum tiba bulan Ramadhan (Rajab dan Sya’ban) tersebut dengan cara-cara khas tradisi mereka sendiri. Perayaan tradisional sebagai ekspresi budaya lokal khas Turki terhadap ajaran dan tradisi Islam sangat mudah dijumpai di semua daerah di negara bekas Daulah Usmani ini. Bahkan masjid-masjid Turki di negara lain ikut menyemarakkan perayaan tersebut.
[Masjid Turki yang Baru Diresmikan Beberapa Minggu Kemarin di Washington. Foto +Anadolu Agency]
Dalam literatur Islam bulan Rajab dinobatkan sebagai salah satu bulan mulia, dikenal dengan
asyhurul hurum (bulan-bulan haram). Pada bulan-bulan haram tersebut manusia dilarang (diharamkan) untuk berperang, kecuali dalam keadaan membela diri dan terdesak. Di samping itu ada beberapa hadis yang menganjurkan untuk puasa pada bulan-bulan haram (mulia) tersebut. Rajab sebagai bulan haram misalnya tertera dalam hadis berikut:
“Setahun ada 12 bulan, di antaranya terdapat 4 bulan haram: tiga yang awal adalah Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, dan Muharam. Sedangkan Rajab yang penuh kemuliaan antara dua jumadil dan sya’ban.” (HR. Bukhari No. 3025).

Khusus di Turki (tentu saja seperti cara beragama di negara-negara lain termasuk Indonesia) ada banyak perayaan yang berhubungan dengan bulan-bulan mulia Islam. Turki sangat terkenal dengan ragam perayaan tradisi yang berkaitan dengan tradisi dan ajaran keislaman, misalnya tradisi menyambut 10 Syuro, malam Lailatul Qadar, dsb. Orang-orang Turki merayakan tradisi Islam dengan budaya khas mereka sendiri. Untuk menyambut 1 Rajab misalnya bisa dipastikan cami (masjid besar) dan mescit (mushalla) di seluruh Turki menggelar pengajian (sohbet) khusus, doa lebih lama dan shalat lebih anteng. Asrama-asrama mahasiswa, kampus dan lembaga sosial kemasyarakatan ikut menyemarakkan hari-hari penting dalam kalender Islam.

Contoh lain yang menarik misalnya anak-anak muda—meski sebenarnya jarang ibadah—kerapkali ikut shalat dan berdoa pada hari-hari mulia tersebut. Artinya, momentum-momentum seperti ini sudah mendarah daging di tengah-tengah masyarakat Muslim Turki sendiri. Uniknya, perayaan-perayaan khusus terhadap hari-hari besar Islam tersebut serentak dan antusias tanpa ada ricuh soal bid’ah misalnya dan masyarakat Turki merayakannya dengan khidmat. Di antara perayaan hari-hari khusus tersebut, kita akan mudah menjumpai makanan-makanan khas.

Di beberapa daerah mereka mempunyai cara-cara tersendiri yang mungkin saja berbeda dan sulit ditemui di daerah lain. Di Konya misalnya, untuk menyambut 1 Rajab yang dikenal dengan istilah Regaib Kandili ada tradisi khas bernama Şivlilik.
[Grup Şivlilik. Foto +Yeni Meram]
Şivlilik merupakan tradisi turun temurun yang menandai tibanya Regaib Kandili. Regaib Kandili adalah hari raya sebagai tanda dimulainya tiga bulan istimewa yaitu: Rajab, Sya’ban dan Ramadhan. Di Konya Şivlilik adalah satu perayaan tambahan untuk menyambut Regaib Kandili. Tentu, siapapun tidak akan menemukan Şivlilik di daerah lain. 

Perayaan Şivlilik dimulai satu hari sebelum Regaib Kandili. Şivlilik dimulai pada malam hari sebelum Regaib Kandili. Setelah Magrib anak-anak beserta bapak-ibunya berkumpul di Kültürpark (taman kota di) Konya untuk menerbangkan lampu lampion yang terbuat dari kertas. Mereka berkumpul bergembira merayakan tradisi ini. Ada pementasan khusus untuk anak-anak. Tradisi ini disebut Fener Alayı, prosesi obor. Kemudian sebelum anak-anak dan bapak-ibunya datang, para ‘tetua lingkungan’ menyalakan api unggun di tempat yang sudah ditentukan. Kemudian mereka berkumpul melingkari api unggun itu. Setelah itu, bagi siapapun yang pengin bisa melompat di atas api tersebut dipersilahkan.

Malam Kamis (6 April) kemarin di mahalle dekat asrama, saya melihat anak-anak melompat di atas api unggun. Kegembiraan ini mengalir hingga larut malam. Hari selanjutnya merupakan Şivlilik günü. Pagi harinya anak-anak dengan tas plastik di tangannya berkeliling dari pintu ke pintu rumah atau toko dan mahalle satu ke mahalle lainnya. Mereka sambil mengucapkan ‘Kandiliniz mübarek olsun’ mengetuk pintu. Tak lupa mereka juga bilang Şivlilik dengan maksud untuk mendapatkan hadiah-hadiah. Warga yang sudah mempersiapkan penganan manis seperti coklat, permen, biscuit dsb membukakan pintu dan memberikannya ke anak- anak yang datang untuk mengucapkan selamat hari raya Regaib Kandili. Anak-anak datang bergiliran dari pagi sampai sore. Di toko-toko, berbagai panganan manis langsung ditaruh di depan pintu. Siapapun khususnya anak-anak gratis mengambilnya.

Diadaptasi dari berbagai sumber.


Hari Pebriantok
Salah satu pendiri Turkish Spirit. Mahasiswa asal Sragen sedang studi Jurnalistik di Selcuk University, Konya Turki dan pecinta fotografi.

Silahkan Baca Juga

Previous
Next Post »

1 comments:

Write comments