Perşembe Pazarı dan Sedekah Sederhana

22:12:00

"Pengalaman ini memberikan semangat bahwa di negara yang menyatakan diri sebagai sekuler, masih banyak penduduknya yang menerjemahkan nilai-nilai Islam dalam perbuatan dan perkataan yang indah"

[Suasana Pasar Rakyat di Istanbul. Foto +tri sulistianing astuti]
Pasar tiban lumrah ditemukan hampir di tiap kampung di Istanbul, Turki. Lokasinya biasanya mengambil badan jalan yang tidak dilalui angkutan umum. Jalan akan ditutup sehari penuh. Barang yang dijual mulai dari sembako hingga pakaian, persis pasar kaget di Indonesia. Bedanya di sini tidak ada yang menjual makanan siap saji dan jajanan kaki lima. Esok harinya, jalanan sudah kembali bersih seperti sedia kala. Dalam seminggu terdapat satu hari khusus untuk berdagang di pasar tersebut. Di kampung kami, pasar muncul setiap hari Kamis sehingga disebut Perşembe Pazar atau Pasar Kamis dalam Bahasa.

Kami tinggal di pinggiran Istanbul sisi Asia, jauh dari kesan metropolis Istanbul sisi Eropa. Udaranya masih segar karena letaknya dipayungi Dudullu Tepe (Bukit Dudullu). Meskipun demikian, penduduknya beragam dari sisi penampilan maupun etnis. Gelombang pengungsi dari daerah konflik seperti Suriah, Afganistan, Pakistan, maupun daerah-daerah tetangga Turki sering kami jumpai di pasar berbaur dengan penduduk asli Turki.

Sejak Bapak Turki, Mustapa Kemal Attaturk, mengubah  Turki menjadi negara republik sekuler, penampilan warga Istanbul menjadi sangat beragam. Mudah sekali menemukan anak muda maupun orangtua memakai pakaian gamis panjang yang menjadi pakaian khas Turki, berkerudung lebar/berkopiah, sementara itu disampingnya berdiri tetangganya yang berpakaian musim panas ala Eropa. Namun, satu hal yang sama dari mereka adalah cara bertutur kata yang sopan dan kaya akan doa serta pujian pada Allah, meskipun mereka tidak semua Muslim.

Struktur bahasa Turki memang mengenal jenis-jenis kata dan kalimat dengan tingkat kesopanan seperti pada bahasa Jawa. Pada orang yang baru dikenal dan orangtua akan berbeda jenis kata yang digunakan dengan teman sebaya. Jangan heran mendengar orang Turki banyak mengucapkan “Alhamdulillah”, “Masya Allah”, maupun “Allah Allah” sebagai ekspresi bahasa dan kebiasaan.

Kata-kata ini berbaur dengan ungkapan doa dan pujian dalam bahasa Turki lainnya, salah satunya adalah kolay gelsin. Mungkin pecinta sinetron Turki di Indonesia yang sedang booming seperti Shehrazat dan Elif akan terbiasa mendengar kata-kata di atasbila tidak di-dubbing ke dalam Bahasasebagai bagian dari percakapan sehari-hari, termasuk di Perşembe Pazar.

Seperti layaknya di pasar tradisional, tawar-menawar harga biasa terjadi. Wajah yang asing serta kemampuan bahasa Turki yang terbatas, membuat kami sering ditanya asal negara. Dikira pengungsi adalah hal biasa karena posisi geografis Turki yang diapit negara-negara konflik perang. Beban sosial yang dirasakan penduduk di sini akibat banyaknya pengungsi sering membuat kami mendapat tatapan sinis.

Untuk menghindari stereotype negatif sebagai pendatang, saat menawar harga, tak jarang kami menyapa dan memperkenalkan diri dari Indonesia. Anehnya, harga yang biasanya susah ditawar di pagi hari, sedangkan kalau sore diskon besar-besaran, menjadi dapat ditawar atau malah diberi bonus banyak. Bukan karena kami dari Indonesia. Meskipun penduduk Indonesia namanya baik di Turki, sebagai efek dari kesopanan Jamaah Haji Indonesia yang terkenal suka berbagi shaf sholat dan ramah, tetapi karena suamiku menyebutkan diri sebagai pelajar. Beberapa penjual langsung tersenyum sambil memasukan ekstra sayuran/buah yang kami beli. Tak lupa mereka mengatakan, “Kolay gelsin.”

Kolay gelsin artinya semoga dimudahkan.  Awalnya kami merasa biasa saja dengan diskon maupun pemberian bonus serta “kolay gelsin”. Namun, peristiwa ini terus berulang. Penjual masih sering memberi diskon atau ekstra bonus. Tetangga kami pernah memberikan hadiah, yang berlebihan untuk orang asing, dengan alasan sedekah lalu ditutup dengan kolay gelsin. Aktivitas sederhana lain juga dibarengi dengan sapaan kolay gelsin

Ternyata bukan karena orang asing kami dapat diskon, melainkan status pelajar. Kata seorang pendagang, orang yang menuntut ilmu adalah Ibnu Sabil. Berjuang di jalan Allah. Orang yang ditinggikan derajatnya karena ilmunya. Anak-anak sekolah, remaja menuntut ilmu adalah pemandangan biasa saja di Indonesia. Semua memang wajib sekolah tanpa ada pemaknaan bahwa mereka sedang berjuang dan berhak untuk dibantu dan dimudahkan.

Mungkin tidak semua penduduk Turki seperti penjual di Perşembe Pazar maupun tetanggaku yang berpikiran sama tentang status pelajar. Namun, pengalaman ini memberikan semangat bahwa di negara yang menyatakan diri sebagai sekuler, masih banyak penduduknya yang menerjemahkan nilai-nilai Islam dalam perbuatan dan perkataan yang indah.

Jika tidak ada barang atau uang yang berikan, kolay gelsin pun dapat menjadi sedekah sederhana bersama dengan senyum saat mengucapkannya.
(Tulisan ini pernah dimuat di Majalan Ummi No. 02/XVII/Februari 2016/1437 H)
                       

Tri Sulistianing Astuti
Ibu rumah tangga tinggal di Istanbul bersama keluarga. Suka menulis dan traveling di sela-sela kesibukan.

Silahkan Baca Juga

Previous
Next Post »