Panggilan Cinta Şeb-i Arus

13:37:00

Gel, gel, ne olursan ol yine gel,İster kafir, ister mecusi,İster puta tapan ol yine gel

[Perayaan Şeb-i Arus Tahun 2013, di Depan Gedung Valilik Konya. Foto +Bernando J. Sujibto]
Memasuki bulan Desember yang dingin, setiap tahun kota Konya Turki menghias diri dalam rangka mengadakan sebuah acara besar, dikenal dengan Şeb-i Arus.

Şeb-i Arus adalah istilah peringatan malam meninggalnya (di Indonesia sering menggunakan istilah haul) tokoh sufi, ulama dan penyair besar, Jalaluddin Rumi. Şeb-i berasal dari kata Persia yang berarti malam, sedangkan Arus berbau bahasa Arab berarti Pengantin. Malam meninggalnya Jalaluddin Rumi disebut sebagai Malam Pengantin tidak lain karena pada malam kematiannya ini Ruh Rumi sebagai pecinta bertemu dengan Dzat Kekasih Hakikinya di alam abadi.

Puncak acara Şeb-i Arus jatuh pada setiap tanggal 17 Desember setiap tahunnya. Namun untuk menyambut kedatangan para tamu dan peziarah Rumi dari berbagai negeri, kota Konya membuat serangkaian acara selama tujuh hari sejak tanggal 10 Desember. Acara ini didukung penuh oleh semua pihak seperti pemerintah kota Konya, kampus, yayasan atau komunitas tertentu dan lain sebagainya.

"Ölümümüzden sonra mezarımızı yerde aramayınız! Bizim mezarımız âriflerin gönüllerindedir.” (Ketika aku mati, jangan kau palingkan matamu ke pusaraku! (karena) pusaraku berada di hati orang-orang yang arif).

Sudah tiga tahun berturut-turut saya selalu menghadiri Şeb-i Arus yang diadakan oleh Thariqoh Maulawiyah, tarekat Tasawuf yang dikembangkan oleh Sultan Walad untuk melestarikan ajaran-ajaran tasawuf ayahnya, Maulana Jalaluddin Rumi. Mursyid tarekat Maulawiyah di Konya saat ini bernama Syekh Ali Baba.
[Di Langit Konya, Keindahan, Cinta dan Merpati. Foto +Bernando J. Sujibto]
Sehabis menunaikan sholat maghrib, saya menunggu seorang teman di Masjid Sulta Selim, sebuah masjid yang ada di sebelah makam Rumi. Tapi karena tramway peninggalan Jerman di Konya berjalan lamban, dia pun terlambat dari waktu yang sudah disepakati. Akibatnya, ketika kami masuk ke dergah tarekah Maulawiyah, pintu sudah tertutup. Bersama musafir pecinta Rumi yang lain, kami menunggu di depan pintu. Sayang pintu tak kunjung dibuka. Pemilik bakkal (toko kelontong) di samping dergah meminta kami datang selepas isya. Kami pun pergi untuk sekedar minum teh.

Tak mau terlambat, kami seringkali melirik handphone untuk mengira-ngira jam berapa kami beranjak kembali menuju dergah. Akhirnya kami berhasil masuk, namun sayang karena jamaah yang begitu melimpah, kami tidak dapat masuk di ruang utama tempat dzikir. Kami pun tak puas dan berencana untuk balas dendam dan akan datang lebih awal.
[Pejabat Konya dan Keluarga Rumi Bersiap Menyalakan Lilin di Titik Perjumpaan Rumi dan Shams Tabrizi]
Di dapur Dergah Maulawiyah

Dua hari kemudian, kami kembali menghadiri Şeb-i Arus di Dergah Maulawiyah. Ada satu teman lagi turut ikut serta. Kami jadinya bertiga. Sejak siang hari kami sudah berkumpul. Selepas sholat Maghrib di Masjid Sultan Selim, kami beranjak cepat menuju dergah, Alhamdulillah pintu masih terbuka lebar. Kami masuk dan berdiri di pintu. Jamaah tarekat Maulawiyah masih sedang membaca wirid ba’da sholat maghrib. Terdengar lantunan Lailaaha Illa Allah dibaca berkali-kali.

Sejurus kemudian, sosok pria jangkung mempersilahkan kami bertiga pergi ke dapur. Saya yang sudah mengerti karena sudah beberapa kali menghadiri acara. Saya pun dengan segera memimpin Mas Agung dan Mas Bje (nama kedua teman tadi) untuk mengambil posisi duduk di meja makan. Tak lama kemudian hidangan khas Turki dihadirkan di tengah-tengah meja, setelah habis disusul dengan makanan jenis lain. Tak berhenti di situ, penganan tulumba khas Turki juga ikut mengenyangkan kami, diakhiri dengan minum teh sebagaimana telah menjadi kultur masyarakat Turki.

Dapur tersebut dipenuhi dengan puluhan orang dari mancanegara, telinga saya sendiri pun terasa gatal mendengar berbagai macam bahasa dicakapkan. Sedangkan Mas Bje sibuk ngobrol dengan seorang nenek entah dari negara mana. Selepas makan, seorang lelaki berperawakan jangkung tadi memimpin doa selepas makan dengan bahasa Persia, kami yang tak memahami satu kalimat pun hanya melongo sembari meng-amin-kan. Amin.
[Di Konya, Ornamen Tari Darwish]
Tarian Cinta Sang Darwish

Mengerti akan penuhnya ruang dzikir nanti, kami pun segera beranjak menuju ruang dzikir. “Meluruskan kaki sejenak untuk menghilangkan lelah saja kamu akan kesulitan karena ruangan penuhnya manusia,” ujar saya menjelaskan agar segera mencari posisi yang baik. Saya sendiri mendapatkan posisi tepat di samping para pemusik.

Syekh Ali Baba yang berperawakan sedikit pendek dan gemuk penuh senyum, beliau sudah duduk di atas kursi kecil dengan roman jumawa dan penuh gembira.
[Cinta dan Kebahagiaan di Şeb-i Arus. Penganan Gratis di Jalan Raya Mevlana, Konya]
Seseorang di barisan pemusik dengan suara tegas dan melengking memulai membaca tawassul dengan bahasa Persia. Dzikir pun dimulai, lantunan syair dalam bahasa Persia dinyanyikan dengan merdu, suara seruling ney yang ditiup membawa saya ke dunia antah berantah, def yang dipukul bertalu-talu menghentak saya bergerak ritmis. Semua terhanyut dalam dzikir.

Di tengah khusyuknya berdzikir, seorang darwish dengan hirka sufinya datang menghadap Syekh Ali Baba dengan isyarat meminta izin untuk menari. Sang Darwish pun berputar, berputar dan berputar diiringi lantunan dzikir. Hirka nya mengembang bagai mawar yang merekah, tangan kananya seolah menggapai cinta Allah dan dari tangan kirinya menyebarkan cinta yang didapatinya ke seluruh makhluk di muka bumi. Dan hati kami pun penuh dengan cinta.

Perlu diketahui, semua yang hadir dalam dergah Maulawiyah ini bukan hanya dari kalangan Muslim. Baik Nasrani, Majusi dan siapapun yang hadir di dergah bersama-sama berzikir menyebut nama Allah. Melihat kumpulan orang-orang ini, hati saya berbisik, sepertinya mereka inilah yang mendengar panggilan Jalaluddin Rumi sebagaimana yang terkenal dalam syairnya:

Gel, gel, ne olursan ol yine gel,
İster kafir, ister mecusi,
İster puta tapan ol yine gel,
Bizim dergahımız, ümitsizlik dergahı değildir,
Yüz kere tövbeni bozmuş olsan da yine gel...

Kemari! Datanglah kemari! Sipapaun Engkau, datanglah!
Apakah engkau seorang kafir, seorang Majusi,
Atau seorang penyembah berhala, datanglah kemari!
Dergah kami bukanlah tempat putus asa
Datanglah kemari meskipun dengan seratus penyesalan yang terkoyak

Burası Sır Kapısı (Di Sini Pintu Rahasia)

Kami bertiga beranjak pulang, baru saja keluar dari dergah kami bertemu dengan seorang perempuan tua yang semeja dengan kami tadi di dapur. Dia mengajak kami ke acara lain, ke sebuah komunitas yang dinamakan Dervish Brotherhood. Sebenarnya saya tak begitu berkenan karena terlalu lelah, namun Mas Bje sedikit memaksa. Dia memang haus dengan pengalaman.
[Jamuan Makam Malam Sebelum Dergah Dimulai]
Kami menuju satu tempat tak jauh dari makam Rumi. Nenek tadi mempersilahkan kami untuk masuk ke sebuah tempat yang artistik. Sebuah pintu dengan kain penutup hitam menarik perhatian saya, tertulis di atasnya “Burası sır kapısı….” Beberapa orang asing dengan wajah Eropa sibuk menyiapkan teh, sedang kami duduk di ruang luar yang masih sepi. Di ruang inilah sekitar setengah jam kemudian dipenuhi manusia-manusia dari berbagai bangsa. Seorang syekh dari India yang akan memimpin dzikir telah hadir, kami sedikit mengobrol dengan syekh berjanggut merah tersebut. Dia berbicara beberapa kalimat dengan bahasa Indonesia, ternyata adik iparnya adalah orang Jakarta.

Sebelum dzikir, syekh itu menjelaskan tentang apa itu Şeb-i Arus. Dia juga bercerita tentang seorang sufi besar dari India, Syekh Nizamuddin Chisti. Lalu dzikir pun dimulai, sedikit berbeda. Di komunitas ini syair yang dibaca menggunakan bahasa India, darwish yang menari berputar pun tidak seperti tarian darwish yang biasa saya lihat, tapi tarian India. Tariannya sangat indah. Tarian sufi ini pernah saya lihat di sinetron india Jodha Akbar, ketika raja Jalal dan istrinya Jodha pergi berziarah ke makam seorang wali di India, Ajmer Sharif.

Puncak Şeb-i Arus

Esoknya tanggal 17 Desember, saya dan Mas Bje menghadiri puncak Şeb-i Arus di makam Rumi. Baru kali itu saya melihat kawasan makam Rumi dipenuhi manusia sebanyak itu. Pintu utama tertutup, hanya dimasuki oleh para ulama dan pejabat-pejabat penting. Saya dan ribuan orang lain hanya bisa melihat para ulama yang sedang memimpin doa tepat di pusara Maulana Rumi itu dari layar proyektor yang disediakan di taman.
[Suasana Seb-i Arus di Makam Rumi, 2015]
Setelah selesai, ratusan anak-anak yang dari tadi gaduh di pelataran makam melepaskan ratusan balon ke udara dengan rekah senyum dan kebahaiaan. Balon itu pergi ke langit dengan sejuta cinta dari Jalaluddin Rumi, untuk umat manusia di muka bumi.


Abdul Ghaffar Chodri
Dosen di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya dan alumni Necmettin Erbakan üniversitesi, Konya Turki. Alamat blog di sini.

Silahkan Baca Juga

Previous
Next Post »