Pengkhianat Negara!

22:20:00

"Kalimat burası Türkiye ini rata-rata berkonotasi “kesombongan” dan mudah dijumpai dalam konteks kekerasan, anomali-anomali nasionalisme atau untuk menunjukkan kebesaran-diri"

[Sumber Foto @9gag.com]
Sebutan vatan haini (traitor) atau pengkhinat negara pasti sangat mudah Anda dengar jika sempat tinggal di Turki atau ikut perkembangan isu-isu sosial politik di negara bekas Ottoman ini. Ungkapan vatan haini ini sebenarnya bisa kita telisik sebagai indikator penting, atau setidaknya menjadi salah satu pintu untuk mengintip ventilasi sosial politik internal Turki sendiri.

Politik di Turki sangat keras, tepatnya penuh kekerasan! Kekerasan yang diaktori negara secara langsung, atau kekerasan oleh agen dari masing-masing kepentingan (biasanya bersifat ideologis). Dan, meski cukup jarang, ada sesekali kekerasan masif oleh rakyat Turki sendiri. Tapi yang terakhir, saya bisa memastikan tidak terlalu populer di Turki. Misalnya bentuk-bentuk kekerasan drop-dropan, geng-gengan, tawuran masif atau kekerasan antarsuku dalam skala masif.

Sebenarnya, potensi kekerasan masif yang diaktori oleh rakyat secara langsung sangat mungkin terjadi di Turki. Misalnya tawuran antar mahasiswa yang berseberangan secara ideologis, atau tawuran antarkelompok simpatisan yang secara ideologis berlawanan langsung. Tapi yang menarik, setidaknya bagi saya sendiri, aksi-aksi kekerasan tersebut rata-rata berlandaskan kepada kerangka juang-ideologis. Gampangnya, ada jejak-jejak ideologis yang bisa dirunut jika menyangkut dengan kekerasan politik. Tentu, bukan karena pacar direbut kemudian menjadi tawuran antarsekolah, atau karena geng si A keren kemudian didrop ramai-ramai oleh geng-geng yang lain. Contoh yang terakhir ini adalah produk abal-abal dari masyarakat bersumbu pendek!

Kenapa kekerasan masif begitu tak mudah terjadi di Turki? Alasannya, aparat keamanan sigap dan hadir di titik-titik yang berpotensi munculkan kekerasan. Bahkan jangan terkejut kalau di kampus-kampus sekalipun ada banyak TOMA (toplumsal olaylara müdahale aracı), mobil yang dipakai untuk meredam demonstrasi, dan polisi-polisi yang terus siap berjaga-jaga.

Potret singkat di atas sengaja saya ketengahkan untuk melihat secara kasar bagaimana kondisi kerasnya kehidupan politik di Turki. Dalam konteks isu-isu politik dan kenegaraan, Turki adalah contoh entitas negara yang penuh pergolakan dan tensi tinggi. Ada satu kalimat yang selalu muncul—ibarat pemakluman ihwal kerasnya Turki—untuk menggabarkan apa Turki dan kenapa Turki: burası Türkiye (di sini Turki). Kalimat ini seperti hendak mempertegas Turki sebagai sebuah negara yang distingtif, khususnya dalam aspek kekerasan politik.

Kalimat burası Türkiye ini rata-rata berkonotasi “kesombongan” dan mudah dijumpai dalam konteks kekerasan, anomali-anomali nasionalisme dan lainnya atau untuk menunjukkan kebesaran-diri. Misalnya, kalau ada orang ditembak mati karena dianggap sebagai vatan haini dan proses hukumnya hilang begitu saja, kalimat burası Türkiye kerap dipakai.

Misalnya saya ambil cuplikan komentar jurnalis terkenal Turki Can Dündar yang hari ini (6/5/2016) selamat dari dua biji peluru yang ditembakkan oleh orang tak dikenal setelah berteriak “Can Dündar Anda pengkhianat negara!” Ini komentar Dündar: "Gayet iyiyim. Türkiye burası. Saldırganın kim olduğunu bilmiyoruz. Sadece kimlerin bizi hedef haline getirdiğini biliyoruz."

Saya sangat tertarik mencermati vatan haini —siapa dan seperti apa ciri-cirinya. Nyaris setiap orang yang disebut vatan haini saya pasti mempelajari apa latar belakangnya, ideologinya dan terakhir aktivitasnya.

Di setiap kesempatan saya kerap bertanya langsung ke teman-teman Turki, kenapa si A dilabeli vatan haini kenapa si B tidak, dan sebagainya. Misalnya, saya membandingkan kepada Orhan Pamuk menjadi vatan haini dan kenapa Harun Yahya, Reza Zarrab, Kenan Evren atau para koruptor tidak dituduh sebagai vatan haini, dan sebagainya.

Bagi saya, ini jelas-jelas fenomena yang sangat menarik. Menurut kamus resmi bahasa Turki vatan haini diartikan sebagai “siapapun yang bekerja melawan kepentingan utama tanah kelahirannya.” Setiap negara sudah pasti mempunyai definisi sendiri ihwal vatan haini dengan aturan hukum positif masing-masing. Di Turki vatan haini sudah dibahas dalam bentuk hukum positif sejak 29 April 1920 dengan nama Hıyanet-i Vataniye Kanunu.

Dalam Hıyanet-i Vataniye Kanunu ada 8 butir, di antaranya adalah para vatan haini dihukum gantung; diputuskan selambat-lambatnya dalam 24 jam, dan tidak dapat dibanding.

Sementara dalam hukum positif yang berlaku hari ini di Turki (Türk Ceza Kanunu), vatan haini diartikan dengan orang/kelompok yang merongrong negara, bekerja sama dengan para musuh negara, menghasut/memprovokasi negara dengan perang, gerakan melawan kepentingan rakyat, mengadakan kerjasama dengan pihak musuh dan menghancurkan fasilitas militer.

Terlepas dari definisi di atas, frase vatan haini sudah menjadi semacam konsumsi sehari-hari di Turki, menjadi semacam kosa kata yang bergerilya dalam pikiran masing-masing kepala orang Turki. Rakyat sudah sangat gampang mengatakan si A vatan haini dan sebagainya.

Dari proses interaksi secara langsung dengan masyarakat Turki dan preferensi bacaan-bacaan, saya menemukan beberapa titik terang siapa dan bagaimana vatan haini.

Pertama, vatan haini adalah mereka yang menyerang ke-Turki-an, sebagai sebuah identitas. Mereka yang menggunakan atau menuduhkan vatan haini ini bisanya dari kelompok nasionalis. Tak terlalu penting seberapa besar serangan mereka. Ini yang paling banyak ditemukan dan sekaligus paling absurd!  Para korban poin pertama yang dituduh vatan haini ini adalah para penulis dan wartawan.

Kedua, kelompok teroris dan separatis, atau personal dan lembaga yang mendukung gerakan dari kelompok-kelompok yang ingin memecah Turki. Misalnya PKK dan lembaga afiliasi lainnya.

Ketiga, kelompok-kelompok kontra-pemerintah dari komunitas kiri, misalnya DHKP-C atau organisasi komunis lainnya, khususnya mereka yang memakai kekerasan kepada negara. Ini juga lumayan absurd dan sulit diidentifikasi.

Keempat, kelompok pejuang demokrasi dan hak asasi tetapi terlalu kritis melawan (identitas) negara. Korbanya banyak sekali, baik individu ataupun kelompok. Misalnya, orang-orang yang mengungkit kekerasan masa lalu di Turki, atau melawan secara terbuka kekerasan yang dilakukan negara terhadap satu komunitas atau suku tertentu.  

Bagaimana dengan organisasi Hizbut Tahrir dan kelompok Islam garis keras yang ingin mendirikan negara Islam di Turki? Saya belum mendengar mereka dituduh sebagai vatan haini….


Bernando J. Sujibto
Penulis dan Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi di Selcuk University, Konya Turki. Sedang merampungkan riset tesis tentang karya Orhan Pamuk. Follow Twitter @_bje.

Silahkan Baca Juga

Previous
Next Post »