Menulis Letter of Intent untuk Beasiswa YTB

13:35:00 Add Comment

Niat yang menentukan bagaimana isi aplikasimu nantinya, akan sampai di mana kamu berjalan

[Foto www.myhotcourses.com]
Beasiswa pemerintah Turki (YTB) menggunakan kriteria utama seperti yang telah dijelaskan dalam situs resmi mereka ataupun dalam email-email yang dikirim kepada para applicants yang tak lolos seleksi, academic success. Prioritas beasiswa diberikan bagi mereka yang dinilai berhasil dalam studi, mempunyai nilai tinggi. Namun, nilai tinggi juga tak terlalu membantu jika isi aplikasi yang kamu ajukan tak menarik (tak bermutu). Apa saja yang diperlukan agar lembar aplikasimu mampu menggota tim penyeleksi?

Berdasarkan pengalaman dalam hal daftar-mendaftar, saya rangkum beberapa poin penting bagi saya, yang mungkin bisa menjadi pertimbangan kawan-kawan:

Niati

Niat yang menentukan bagaimana isi aplikasimu nantinya, akan sampai di mana kamu berjalan. Beberapa orang yang kurang serius, hanya akan menyediakan bahan-bahan yang bernama ‘apa adanya’. Beberapa kawan bahkan memerlukan dua kali usaha untuk mencapai tahap wawancara, dan akhirnya lolos pada periode selanjutnya. Bayangkan jika dia menyerah pada langkah pertama.

Baca dan Teliti

Melakukan hal yang benar-benar baru bagi kita, aplikasi beasiswa YTB misalnya, memanglah sulit, perlu sebuah petunjuk. Maka, agar tak tersesat dalam aplikasi beasiswa kita perlu membaca petunjuk yang telah dijelaskan oleh penyedia beasiswa. Syarat-syarat, kriteria, serta fasilitas dari beasiswa. Bagi mereka yang mau membaca, tak akan ada komentar “syaratnya apa ya?”, “nilaiku segini cukup nggak ya?”, “mohon info lengkap tentang beasiswa S1” dan lain-lain.

Teliti. Teliti syarat-syarat yang diajukan secara mendetail. Bukan karena pihak YTB tak mensyaratkan sertifikat bahasa (TOEFL/IELTS), lantas kamu tak perlu menyediakannya. Sebelum memilih kampus dan jurusan yang dituju, teliti syarat masuk jurusan tersebut. Boğazici University mensyaratkan TOEFL 550 serta ALES 70 untuk jurusan filsafatnya, sedangkan Istanbul University tak meminta TOEFL untuk pendaftar di jurusan yang sama.

Setelah kamu merasa cocok dengan jurusan serta kampus yang dipilih, mampu memenuhi syarat-syaratnya, tempatkan pilihan tersebut pada prioritas pertama. Untuk mempertegas pilihanmu, kamu dapat memperkuatnya di kolom Letter of Intent. Di sana kamu akan menjumpai pertanyaan macam “sebutkan dan jelaskan topik yang kamu pilih untuk studi di program ini”, “fungsi dan manfaat topik tersebut” serta “akademisi atau universitas yang konsentrasi atau sedang meneliti topik tersebut”. Di bagian ini, saya mempunyai trik seperti ini:

Cari universitas tujuan > Cari calon dosen > Bongkar CV dosen > Lihat kajian/fokus penelitian mereka > Tentukan topikmu! 
ATAU 
Tentukan topikmu > Cari kajian milik calon dosen yang sesuai dengan topikmu!
Mengapa?

Adanya persamaan atau korelasi tema penelitian antara kamu dan calon dosen kamu menjadi alasan penting bahwa penelitian kamu memang harus dilakukan di Turki bersama calon dosen yang bersangkutan. Hal ini juga menjadi jawaban pertanyaan ke empat “mengapa harus di Turki”.

Maka, kupas topik yang dipilih secara EFISIEN (700 kata/6000 karakter) di LoI-mu!

Hubungi

Jika memungkinkan, hubungi calon dosen/professor yang kamu sasar secara langsung. Rata-rata website kampus-kampus Turki menyediakan profil tiap professor beserta email hingga nomor telefon mereka. Komunikasikan minat penelitianmu kepada mereka, utarakan hasil komunikasimu di LoI yang siap menyihir tim seleksi.

Apalagi, jika kamu mampu mendapatkan surat rekomendasi dari calon dosenmu itu, nilai besar!

Koreksi

Pergunakan istilah-istilah yang berhubungan dengan studi dalam merancang LoI-mu. Jangan lupa, manfaatkan fungsi internet sebagai tempatmu mengoreksi serta mengomparasi LoI sebelum kamu tempelkan ke kolom aplikasi. Mudah, pastinya banyak sekali contoh/template motivation letter yang bertebaran di internet.

Benahi

Kolom selanjutnya adalah “apa rencana yang akan kamu lakukan selepas studi di Turki”. Tak hanya rencana dan gambaran masa depan, kamu harus mampu menyebutkan apa saja yang telah ataupun sedang kamu kerjakan sebagai kontribusi kepada masyarakat. Tak perlu muluk-muluk, jelaskan pula relasi antara studimu serta manfaatnya buat membenahi bangsamu.

Kata Kunci

Dalam pengisian aplikasi, saya menggunakan beberapa kata kunci agar mampu fokus pada tujuan utama.

Hati-Hati

Jangan sekalipun membahas nama Fethullah Gulen, dan siapapun yang menjadi lawan pemerintah Turki yang sedang berkuasa, dalam aplikasimu. Saya yakin tim penyeleksi tak akan suka membacanya.

Sekian 
Semoga berhasil
Materi tulisan di atas diambil dari blog penulis


M Mu'afi Himam
Penulis adalah penerima beasiswa YTB dan tengah studi Jurusan Felsefe ve Din Bilimleri Bölümü di Uludağ Üniversitesi Bursa, Turki. Tulisan-tulisanya bisa dibaca di website pribadinya di sini

Denyut Cinta Maulana Rumi

01:39:00 1 Comment
[Makam dan Museum Maulana Rumi di Kota Konya. Foto +Turkish Spirit]
Bagi penempuh jalan sunyi, kisah-kisah yang terpendar dari seluruh kehidupan sufi adalah hikmah tanpa tepi. Kisah Maulana Rumi, menjadi referensi betapa energi sufi mampu menjadi jembatan cinta manusia lintas benua, manusia lintas bahasa.


Maulana Rumi memiliki nama lengkap Maulana Jalaluddin Rumi Muhammad bin Hasan al-Khattabi al-Bakri. Beliau lahir di Balkh (kawasan Afghanistan) pada 6 Rabiul Awwal, 604 H /30 September 1207 M. Ayahanda Rumi bernama Bahauddin Walad, keturunan Abu Bakar. Keluarga ibundanya dari silsilah kerajaan Kwarazm.

Ayahanda Rumi merupakan seorang Syaikh dan cendekia yang berpengaruh, juga guru di kawasan Balkh. Saat tentara Mongol datang menyerbu daerah ini, keluarga Maulana meninggalkan kampung halaman menuju Khurasan dan Syuriah, hingga di Provinsi Rum di Anatolia Tengah. Keluarga Rumi juga pernah singgah di Nishapur yang menjadi kawasan tempat kelahiran penyair dan ahli matematika ternama, Omar Khayyam. Di Nishapur, Rumi juga bertemu dengan penyair dan sufi Fariduddin Atthar. Di hadapan Rumi, Atthar meramalkan bahwa bocah pengembara dari Balkh ini kelak akan menjadi bintang terang, yang menghiasi jagad khazanah pengetahuan Islam.

Di hadapan Rumi, Atthar meramalkan bahwa bocah pengembara dari Balkh ini kelak akan menjadi bintang terang

Petualangan Rumi berlanjut. Ia bertemu dengan gurunya, Syamsuddin Tabriz pada 1244. Sang guru inilah yang membimbing Rumi menaiki tangga spiritual ke maqam yang tinggi. Ia menapaki suluk bathinnya dengan keindahan dan kedamaian. Dengan bantuan Syamsuddin Ghalabi, Maulana Rumi kemudian mendiktekan karya monumentalnya, Matsnawi. Rumi juga berguru kepada Burhanuddin Muhaqqiq at-Turmudzi, sahabat ayahandanya. Atas saran gurunya ini, Rumi melanjutkan petualangan ilmu ke Syam (Suriah).

Petualangan Ilmu

Ayah Rumi, Syaikh Bahauddin Walad Muhammad bin Husein merupakan seorang guru berpengaruh yang bermazhab Hanafi. Syaikh Bahauddin dikenal memiliki kharisma kuat dan keilmuan mendalam, hingga mendapat julukan Sulthanul Ulama. Namun, karena pesona pengetahuan dan pengikut yang besar, Syaikh Bahauddin sering mendapatkan fitnah dari kelompok yang cemburu dengan ketenaranya. Akhirnya, sang penguasa Balkh ikut memusuhi Syaikh Bahauddin, hingga ia pindah dari tanah kelahiran.

Perjalanan keluarga ini, sampailah di Konya, Turki. Raja Konya, Alauddin Kaiqubad mengangkat ayah Rumi sebagai penasihatnya. Syaikh Bahauddin juga diangkat sebagai pimpinan lembaga pengajaran agama di Konya, hingga beliau mengembuskan nafas terakhir. Syaikh Bahauddin wafat ketika Rumi berusia 24 tahun.

Setelah menyelesaikan petualangan pengetahuan, Rumi kembali ke Konya pada 634 H. Di Konya, Rumi membantu mengajar di perguruan yang dibesarkan ayahandanya. Syaikh Burhanuddin Muhaqqiq, teman dekat ayahanda Rumi, menjadi pemimpin perguruan setelah wafatnya Syaikh Bahauddin.

Sejak itu, Maulana Rumi tekun mengajar murid-muridnya  hingga perguruan agama berkembang pesat. Jumlah muridnya sekitar 4000 orang, dari pelbagai kawasan di sekitar Konya. Kealiman dan pengetahuan Rumi menjadikan murid-muridnya mendapatkan pencerahan dalam keilmuan. Inilah yang menjadi penarik minat murid-murid untuk belajar dengan Rumi.

Di tengah kerumunan majlis ilmu, datanglah seorang pengelana, bernama Syamsuddin at-Tabrizi. Pengelana ini bertanya: “Apa yang dimaksud Riyadhah dan ilmu?” Mendengar pertanyaan ini, seketika Maulana Rumi terkesima. Ia merasa mendapatkan pertanyaan yang menusuk pemikiran, menggelitik nurani. Rumi tidak mampu menjawab, hingga kemudian berkenalan dengan Syamsuddin. Sejak itu, Maulana Rumi berguru dengan Syamsuddin at-Tabrizi, keduanya betah berdiskusi hingga berhari-hari.

Pertemuan Rumi dengan Syamsuddin bagaikan murid kecil dengan Syaikh yang bergelimah ilmu hikmah. Rumi, yang saat itu berusia 48 tahun, bagaikan anak kecil yang terpengaruh dengan pesona tiada tara, terkesima dengan cahaya pengetahuan sang guru. Sultan Walad, putra Rumi, mengomentari ayahandanya: “Sesungguhnya, seorang guru besar tiba-tiba menjadi murid kecil. Setiap hari, sang guru besar harus menimba ilmu darinya, meski sebenarnya beliau cukup alim dan zuhud. Dalam diri Syamsuddin at-Tabrizi, sang guru besar itu melihat kandungan ilmu tiada tara,”.

Namun, pergumulan pengetahuan Rumi dengan gurunya, Syamsuddin tidak berlangsung lama. Murid-murid Rumi merasa cemburu, merasa diabaikan karena lama tidak mendapat sentuhan pengajaran. Murid-murid menginginkan “orang asing” bernama Syamsuddin, meninggalkan kawasan Konya. Syaikh Syamsuddin, akhirnya pergi secara diam-diam meninggalkan kota Konya, meninggalkan murid kinasihnya dalam lipatan lara.

Mendengar gurunya yang meninggalkan kota, Rumi merasa dirundung duka mendalam. Ia tidak lagi memiliki gairah hidup, karena pesona kerinduan dan pengetahuan yang berasal dari cahaya-cahaya ilmu Syaikh Syamsuddin. Di tengah putus asa, Rumi mengutus anaknya untuk mencari sang guru ke Damaskus. Atas permohonan Rumi, Syaikh Syamsuddin bersedia untuk kembali ke Konya.

Dialog pengetahuan antara murid dan guru kinasih, Maulana Rumi dan Syaikh Syamsuddin, terulang kembali tanpa menghitung waktu. Maulana Rumi merasa mendapatkan api semangat ketika bertemu gurunya. Malangnya, murid-murid Rumi merasa resah karena tidak pernah diajar, guru mereka lupa dengan kewajibannya mengajar karena pesona Syaikh Syamsuddin.

Sang Syaikh kemudian pergi tidak kembali. Rumi bersama putranya berusaha mengejar keberadaan sang Guru, namun tidak pernah ketemu. Berkat pergaulan dengan Syaikh Syamsuddin dan renungan-renungan atas khazanah pengetahuan yang dilakukan, Rumi telah menjadi sufi. Ia menuangkan kerinduan dan pesona terhadap sang Guru, dengan puisi-puisi indah. Dari persentuhan dengan cahaya pengetahuan dari Syaikh Syamsuddin at-Tabrizi, Rumi menulis Diwan Syams at-Tabriz. Wejangan-wejangan inspiratif sang Guru diterbitkan dalam kitab Maqalat-i Syams at-Tabriz.

Wasiat Ilmu Mualana Rumi

Bagi Rumi, cinta menjadi dasar bagi pengabdian dan penghayatan atas ilmu. Segala hikmah yang disampaikan oleh Rumi menjadi teladan bagi murid-muridnya, serta pengikutnya menembus zaman. Petuah cinta Rumi menjadi mutiara hikmah dan pendar cahaya ilmu bagi penempuh suluk di lintas benua, menembus sekat-sekat geografis.

Guru Rumi, Syamsuddin at-Tabrizi mengisahkan keindahan: “Bukanlah kematian yang menggelisahkan jiwaku. Ia, bagiku, bukanlah pemberhentian terakhir. Aku gelisah manakala aku mati tanpa meningalkan warisan pengetahuan. Aku ingin mengalihkan pengetahuan yang telah aku peroleh kepada orang lain, guru maupun muridku,”

Bagi at-Tabrizi, keindahan-keindahan yang terpancar dari pengetahuan menjadi denyut nadi untuk menempuh jalan cahaya, mendekat kepada-Nya. Jalan cahaya inilah yang mengilhami para darwish untuk terus menyebarkan inti dari pengetahuan, cahaya ilmu yang paling bersinar terang.

Para sufi menyebut Darwish sebagai :

الدرويش من يوزع الاسرار الخفية وفى كل لحظة يمن علينا بالملكوت ليس الدرويش من يستعطى خبزا الدرويش من يعطى الحياة

Darwish adalah orang yang menyebarkan rahasia-rahasia ilmu Ketuhanan. Pada setiap saat, ia membagi kepada manusia gagasan-gagasan tentang Kerajaan Langit. Darwish bukanlah orang yang meminta roti. Darwish adalah orang yang memberi kehidupan”.

Para penempuh jalan cahaya mengilhami manusia-manusia lintas zaman, dan menembus waktu. Kisah sufi Maulana Rumi mengilhami para pencari hikmah untuk terus mendekat pada keindahan, mencari makna dari ilmu yang diwariskan Nabi di muka bumi.

Maulana Rumi memberi wasiat kepada murid-muridnya: “Aku wasiat kepada kalian, bertaqwalah kepada Allah ketika sendiri dan sepi dan ketika terang yang ramai. Sederhanakan makanmu, kurangi tidurmu, sahajakan bicaramu, tinggalkan durhaka dan nakalmu, biasakan puasamu, langgengkanlah kontemplasimu, jauhkan selamanya, hasrat-hasrat rendahmu, tanggungkan dengan sabar keangkuhan semua manusia, tinggalkan bercengkrama dengan para ‘safih’. Temani orang-orang saleh dan mereka yang berbudi luhur. Manusia terbaik adalah mereka yang membagi keindahan pada orang lain. Ucapan terbaik adalah kata-kata sepatah tapi memberikan makna sejuta keindahan. Alhamdulillah.”

Rumi memberikan ajaran sufistik dari berbagai dimensi, ia mengelaborasi hakikat penciptaan manusia. Dalam karya “Fihi ma fihi”, Rumi mengungkap: Manusia melewati tiga jenjang. Pada jenjang pertama, ia menyembah apa saja—manusia, perempuan, uang, anak-anak, bumi/tanah dan batu. Kemudian, ketika sedikit lebih maju, ia menyembah Tuhan. Pada jenjang terakhir, ia berkata, ‘Aku menyembah Tuhan, maupun ‘Aku tidak menyembah Tuhan’ ia telah melewati jenjang ketiga.

Bagi Rumi, cinta dapat membawa manusia pada pencerahan lahir dan batin. ‘Panasnya ruang pembakaran mungkin terlalu berat bagimu untuk bisa mengambil manfaat dari pengaruh panasnya, sementara nyala api yang lebih lemah dari sebuah lampu bisa memberikan tingkatan panas yang engkau butuhkan’.


Maulana Rumi adalah garansi betapa cinta, ilmu dan hikmah bersatu dalam jalan cahaya yang mendekat kepada-Nya. Kisah Rumi adalah kisah pejalan sunyi, yang disekujur tubuhnya penuh cinta, berpendar makna. Alfaatihah.
Tulisan di atas disalin dari situs Islam.co

Munawir Aziz
Peziarah dan peneliti, menulis dan mengedit beberapa buku tentang Kajian Islam Nusantara, disapa via @MunawirAziz.

Rutinitas Ramadan di Kota Konya

16:08:00 Add Comment
Tidak terasa 7 hari bulan Ramadan telah terlewati. Tiga hal yang selalu mengiringi bulan Ramadan adalah puasa, tadarus Al-Quran dan salat tarawih. Dengan berbagai ritual dan ibadah, Muslim di seluruh belahan dunia berlomba-lomba mendekatkan diri pada Sang Pencipta.

Berikut adalah beberapa rutinitas selama Ramadan yang saya temui di Konya, salah satu kota paling regilius di Turki. Karena Konya, seperti sudah dikenal oleh semua kalangan, adalah kota yang menjadi identitas penting bagi tasawuf dan sufisme, salah satu faktornya dengan adanya Jalaluddin Rumi dan ulama-ulama dari masa kejayaan Kesultanan Saljuk. 

Mukabele di Masjid Kapı Camii

Mukabele adalah kegiatan membaca atau menghafal Al-Quran yang dilakukan secara bergantian—para jemaah menyimak pembacaan Al-Quran dalam hati. Di masjid yang dibangun oleh  salah satu keturunan Maulana Jalaluddin Rumi-- Hasanoğlu Şeyh Hüseyin Çelebi pada tahun 1658 ini tradisi mukabele sudah berlangsung selama 50 tahun. 
[Jemaah yang sedang Menyimak Pembacaan Alquran, Foto : Hari Pebriantok]
Kegiatan mukabele bisa kita ikuti selepas salat zuhur. Para hafiz secara bergantian menghafal Al-Quran di mimbar masjid sambil disimak oleh para jemaah. Posisi masjid Kapı Camii tidak jauh dari makam Maulana Jalaluddin Rumi. Letaknya yang strategis membuat masjid ini selalu penuh oleh para insan yang beribadah.
[Para Hafiz sedang Menghafal Alquran di Mimbar Masjid, Foto : Hari Pebriantok]
Ziarah Makam Wali

Masyarakat Turki masih akrab dengan tradisi ziarah kubur para wali dan tak  sibuk ricuh tentang masalah bid’ah.  Pada bulan Ramadan jumlah peziarah di makam para wali semakin meningkat. Di Konya, salah satu tujuan peziarah selain ke makam Maulana Jalaluddin Rumi adalah makam Sadruddin Konevi, seorang ulama tasawwuf abad 13. 
[Para Peziarah di Makam Sadreddin Konevi, Foto : Hari pebriantok]
Tarawih di Pelataran Masjid Selimiye

Salah satu ibadah sunah pada bulan Ramadan adalah salat tarawih. Masyarakat Konya setiap malam berduyun-duyun memadati halaman masjid Selimiye—salah satu masjid peninggalan Kesultanan Osmani. Masjid Selimiye mulai dibangun pada zaman kekuasan Sultan Selim II (1558-1567). Letak masjid ini di komplek makam Maulana Jalaluddin Rumi. Salat tarawih di tempat ini berjumlah 20 rekaat, setiap dua rekaat salam- dan setelah salam para jemaah membaca salawat atau kalimat tasbih bersama-sama.
[Salat Tarawih di Pelataran Masjid Selimiye, Foto : Hari Pebriantok]
Minum Teh di Kedai-kedai

Setelah melaksanakan ibadah salat tarawih, masyarakat Konya biasa bercengkerama sambil menyesap çay-- teh Turki di kedai-kedai yang bersebaran di sekitar masjid. Sebagaimana kita tahu setiap ibadah yang diperintahkan Allah adalah untuk meningkatkan hubungan vertikal dan horizontal secara seimbang. Hubungan vertikal antara makhluk dengan sang pencipta, hubungan horizontal yaitu hubungan sesama makhluk Allah SWT.  Menurut saya minum teh sambil bercengkrama yang bermanfaat adalah salah satu cara menyeimbangkan hubungan vertikal dan horizontal masyarakat Konya dan Turki pada umumnya. Obrolan-obrolan di kedai teh ini mengalir hingga larut.
[Kedai yang Dipenuhi Para Penikmat Teh, Foto : Hari Pebriantok]
Demikianlah beberapa rutinitas Ramadan di Konya yang saya abadikan di beberapa foto. Semoga bermanfaat dan selamat menjalankan ibadah puasa untuk seluruh pembaca TS.


Hari Pebriantok Salah satu pendiri Turkish Spirit. Mahasiswa asal Sragen alumni studi Jurnalistik di Selcuk University, Konya Turki dan pecinta fotografi dan film, juga aktif menulis untuk blog pribadi.

Diplomasi Pelajar di Luar Negeri

13:02:00 Add Comment
Dia melihat masyarakat yang murah senyum, sopan santun, serta keindahan alamnya yang sangat memukau
[Foto Budy Sugandi]
Akhir Desember 2015, kami mengundang beberapa tamu kehormatan dari Turki. Mereka terdiri dari perwakilan akademisi Marmara University Istanbul, Ergun Yildirim (Dekan Fakultas Komunikasi), Mufti Turki, Sevki Aydin, serta Himpunan Alumni Sekolah Islam Imam Hatip ONDER, Halit Bekiroglu (direktur) dan Fatih Serenli. 

Dalam kunjungan singkat tersebut, kami mengajak mereka berkeliling ke beberapa kota, organisasi, dan universitas dalam bertukar pengetahuan seputar hubungan Turki dan Indonesia untuk berdiskusi seputar pendididikan, politik, agama, dan budaya. Kami mengunjungi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Raden Intan Lampung, Universitas Mercu Buana Jakarta, Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kudus, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) DKI Jakarta.

Diplomasi budaya dan pendidikan semacam ini saya rasa sangat efektif. Selain tidak perlu membeli tiket pesawat dan akomodasi ke luar negeri yang tidak murah, diskusi ini juga bisa dinikmati oleh banyak orang (baca: orang Indonesia) dengan cukup menghadirkan orang-orang yang kompeten di bidangnya masing-masing. Ini juga bisa menjadi ajang untuk memperkenalkan kekayaan alam dan budaya kita secara langsung yang mungkin selama ini hanya mereka dapatkan dari berita surat kabar atau televisi.

Setelah berkeliling Pulau Sumatera dan Jawa. Mengunjungi masjid, pondok pesantren, sekolah dan berbaur dengan masyarakat langsung, Ergun Yildirim yang merupakan dosen jurusan Sosiologi sangat terkagum-kagum dengan Indonesia. Dia melihat masyarakat yang murah senyum, sopan santun, serta keindahan alamnya yang sangat memukau hingga akhirnya dia menuliskan sebuah kolom khusus di salah satu koran nasional Turki, Yeni Safak, dengan judul Endonezya’da Seyahatler yang merupakan ungkapan ketakjubannya pada negeri surga kita.

Dia menulis: Warna biru muda laut, dikelilingi hijau pegunungan, rumah-rumah di bawah rindangnya pepohonan, dan masyarakat yang murah senyum langsung saja menarik pembicaraan. 

Selain itu, saya juga merasa tersanjung ketika gurauan kami tentang kesepakatan untuk mengubah namaku, Budy Sugandi, menjadi Mehmet Gandi agar makin keren katanya. Budy'ye “adın Mehmet Gandi olsun, İstanbul'dan sana hatıra kalsın” diyorum (Namamu sekarang Mehmet Gandi, kenang-kenangan dari Istanbul, kataku pada Budy).”

Dalam seminar di kampus-kampus, PBNU, dan MUI DKI Jakarta tersebut, para tamu dari Turki menyampaikan materi tentang dinamika yang terjadi di negaranya (Turki) yang dikomparasi dengan pemateri dari Indonesia. Mereka melihat kesamaan antara sistem pendidikan di pesantren dengan sekolah Islam Imam Hatip Turki. 

“Nahdatul Ulama adalah organisasi masyarakat yang berperan penting dalam usaha kemerdekaan. Pada tahun-tahun selanjutnya mulai meluaskan gerakan di bidang pendidikan. Organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia dengan jumlah anggota sekitar 70 juta. Media pendidikannya ialah pesantren, sistem yang hampir sama dengan sekolah Islam Imam Hatip di Turki. Santri tinggal di pondok. Setidaknya ada 150 pesantren hanya di kota ini. Pengurus pesantren dan kiai di sini ramah dan sangat mudah akrab dengan saya sebagai orang asing. Menyambut kami dengan hangat,” kata delegasi Turki. 

Sementara itu, pemateri dari Indonesia, di antaranya dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Azyumardi Azra, dan Dede Rosyada. Pada saat itu saya bertindak sebagai moderator. 

Saat masih menempuh studi di Marmara University Turki, saya ikut menjadi mediator antara universitas yang berkunjung ke Turki, di antaranya STAIN Kudus, IAIN Lampung, yang dihadiri rektor, penjabat kampus, dosen, serta Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) Komisi Kebudayaan yang dihadiri oleh Toeti Heraty Rooseo, Amin Abdullah, dan Musda Mulia. Jadi bisa dikatakan kunjungan delegasi Turki ke Indonesia ini adalah kunjungan balik atau lanjutan dari kunjungan sebelumnya.

Di sini saya melihat besarnya peluang pelajar Indonesia di luar negeri (selanjutnya cukup ditulis pelajar) yang jumlahnya tidak sedikit untuk tidak sekadar menyelesaikan studinya, mengharap selembar kertas berupa ijazah, tetapi bisa juga bisa menjadi mediator untuk menjembatani antara Indonesia dan negara tempat studi dalam segala bidang sesuai dengan kapasitasnya masing-masing. 

Kita patut berbangga hati karena tidak sedikit pelajar yang sering diundang untuk menjadi peneliti, pembicara dalam konferensi, asisten dosen, bahkan menjadi pengajar di beberapa kampus di luar negeri. Tentu akan selalu ada perdebatan mengenai definisi cinta Tanah Air. 

Apakah bintang yang sedang bersinar itu harus kembali ke Indonesia atau boleh berkarya di luar? Semua ada konsekuensinya. Saya pribadi lebih setuju di era global, teknologi maju, setiap orang bisa dengan mudah berkomunikasi, definisi cinta Tanah Air bukan berarti harus kembali ke Tanah Air. Lebih-lebih pemerintah belum mampu memberikan kesejahteraan yang sesuai. Terlepas dari perdebatan mengenai cinta Tanah Air, kita membutuhkan orang-orang yang mempromosikan Indonesia dari luar.

Dalam bidang seni dan budaya, pelajar juga aktif mempromosikan kekayaan budaya Indonesia. Menampilkan seni budaya melalui kegiatan yang diselenggarakan oleh pemerintah setempat. Di Turki, tim Indonesia bisa dikatakan sebagai langganan juara ketika mengikuti event pertunjukan seni antarnegara. Salah satu sebabnya adalah kekayaan budaya dan keunikan pakaian adatnya. Tentu, selain latihan keras dari mereka yang tampil dalam mengharumkan nama bangsa.

Akhirnya, ketika dihadapkan dengan tantangan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus mampu menunjukkan keunggulan diri, baik dari dalam maupun luar. Dari luar, ide yang tertulis di atas mungkin bisa diterapkan, jika kita tidak ingin sekadar menjadi penonton. Dari dalam, pemerintah dan masyarakat harus menyiapkan diri semaksimal mungkin agar menjadi tuan di negeri sendiri. Jika ini semua berhasil kita lakukan, MEA bukanlah sebuah tantangan, melainkan peluang dan bukan tidak mungkin justru negara lain akan ketar-ketir dalam melihat Indonesia. 
Dimuat di Lampung Post, 04 Februari 2016 


Budy Sugandi
Alumni Turki, Dosen Universitas Mercu Buana, Jakarta. Saat ini "mengamen" ke daerah-daerah di Indonesia.

Semarak Buka Puasa Bersama di Turki

02:33:00 Add Comment
[Di Halaman Kantor Kota Meram, Konya. Foto +Turkish Spirit]
Anak-anak muda Turki semakin semarak melakukan ibadah ubudiyah, mulai dari shalat hingga mereka yang menjalankan ibadah puasa Ramadan. Pada bulan Ramadan kali ini misalnya, acara buka bersama yang difasilitasi oleh pemerintah melalui organisasi-organisasi saya dan yang berafiliasi ataupun oleh organisasi Islam lainnya sangat mudah dijumpai nyaris di semua daerah di Turki. Foto ini adalah buka bersama diadakan oleh Majelis Pemuda Meram (Meram Gençlik Meclisi), Konya pada 10 Juni 2016.

[Tim Turkish Spirit, Hari Pebriantok dan Bernando J Sujibto, Konya. Foto +Turkish Spirit]


Hari Pebriantok
Salah satu pendiri Turkish Spirit. Mahasiswa asal Sragen sedang studi Jurnalistik di Selcuk University, Konya Turki dan pecinta fotografi.

Kibarkan Bendera Turki pada Kompetisi Internasional di Irlandia

04:44:00 Add Comment
[Rezonans. Foto +Aldy Muhammad Zulfikar]
Tidak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, di samping kesibukan kuliah program Master di Istanbul Medeniyet University, aku tetap menjalani hobi bernyanyi bersama beberapa paduan suara berbeda di Istanbul. Pengalaman bernyanyi bersama paduan suara sudah kumulai sejak menempuh kuliah jenjang S1 Universitas Hasanuddin, bernyanyi bersama Paduan Suara Mahasiswa (PSM) Universitas Hasanuddin (Unhas) sejak 2009 hingga lulus dari almamater tahun 2013. Berbagai kompetisi dan festival paduan suara internaional telah kami lalui dan berhasil mengibarkan bendera Indonesia dalam momen tersebut untuk kategori Folk Songs. Aku sendiri sempat terlibat dalam beberapa kejuaran, seperti kompetisi international di Bandung-Indonesia (2011), Guangzhou-China (2012) serta Rimini-Italy (2013).

Aku tiba di Istanbul september 2014 yang lalu setelah berhak atas beasiswa dari pemerintah Turki (Türkiye Bursları) untuk melanjutkan pendidikan S2 di negeri dua benua ini bersama dengan rombongan penerima beasiswa lainnya.  Rutinitas mempelajari bahasa Turki di tahun pertama lumayan dipenuhi oleh kebosanan kareka tiap hari kerja harus berangkat ke sekolah untuk kursus bahasa. Hal ini tentu saja membuatku ingin menemukan aktivitas lain di samping menjalani pedidikan bahasa Turki. Melintaslah di benakku untuk kembali menyibukkan diri dalam kegiatan bernyanyi bersama paduan suara. Dimulailah pencarianku terhadap paduan suara yang berbasis di kota Istanbul.

Penghujung 2014 aku telah bergabung dengan dua paduan suara berbeda seperti: Istanbul European Choir dan Coristanbul Chamber Choir. Bersama dua paduan suara ini aku ikut terlibat sebagai salah satu penyanyi mereka untuk turut terlibat beberapa konser di kota Istanbul, bahkan konser di Hamburg-German (Juni 2015). Namun, takdir akhirnya mempertemukanku dengan Rezonans di september 2015 yang lalu ketika mereka mempersiapkan group mereka menuju Cork International Choral Festival, Ireland (2016). Rezonans merupakan salah satu kelompok paduan suara yang terbilang cukup muda, terbentuk di tahun 2010 yang lalu tapi memiliki prestasi yang sangat menjanjikan.

Rezonans was founded in 2010 by a young team with an  innovative and dynamic understanding of music. Having accomplished numerous international projects to date, Rezonans shares its repertoire that focuses on a capella music with music lovers all around Turkey.Finding the opportunity to work with world famous conductors including Simon Carrington, Volker Hempfling, Klaus-Jürgen Etzold, and Paulo Lourenço, Rezonans also performed with conductors such as Nigel Short, one of the founding members of the King’s Singers; Brady Allred, who gives master classes on choral conducting in various countries; and Jo-Michael Scheibe, the president of the American Choral Directors’ Association, as a part of its latest project focusing on the music of Grammy© winning choral conductor and composer Eric Whitacre. On November 8, 2015,  the choir presented an unforgettable music show under the baton of Eric Whitacre in Zorlu Performing Arts Center.Rezonans has represented Turkey at Europa Cantat XIX organized by the European Choral Association in Pécs, Hungary, in July 2015. The choir is getting ready to take part in international festivals and competitions throughout Europe (sumber di sini)

Setelah menjalani audisi yang ketat, akhirnya aku dapat bergabung bersama Rezonans. Aku bersama 7 orang Turki lainnya tercatat sebagai anggota baru sejak akhir 2015. Aku menjadi salah satu dari dua penyanyi tenor yang diterima tahun ini untuk bergabung bersama Rezonans mempersiapkan beberapa program selama satu musim (2015/2016). Paduan Suara ini dipenuhi oleh orang-orang Turki dan membuatnya sangat spesial bagiku, dapat bergabung walaupun sebagai seorang foreigner. First meeting and rehearsal season ini pun dimulai dengan memperkenal proyek dan lagu-lagu yang dipersiapkan setahun ke depan. Maka dimulailah persiapan kami menuju satu kompetisi internasional di Irlandia.
[Aldy Bersama Tim Paduan Suara. Foto +Aldy Muhammad Zulfikar]
Cork International Choral Festival merupakan salah satu festival paduan suara tertua di Eropa sejak tahun 1950, bahkan saat ini memiliki salah satu kompetisi paduan suara international yang bergengsi. Untuk dapat terlibat dalam kompetisi ini, paduan suara harus melakukan registrasi via online dengan mengirimkan form, profil, dan rekaman suara group. Melalui penjurian yang ketat secara internasional ditentukan peserta yang turut serta dapat terlibat dalam festival. Bahkan, dapat mengikuti Flesichmann International Trophy Competition, yang merupakan kompetisi paduan suara internasional bergengsi yang terdapat dalam festival yang kusebutkan sebelumnya. Penuh rasa syukur Rezonans menjadi salah satu paduan suara terpilih untuk dapat terlibat pada festival serta kompetisi di tahun 2016 ini yang berada diantara 11 kelompok lainnya yang berhasil lolos seleksi dari seluruh penjuru dunia.

Setelah melalui beberapa persiapan yang cukup melelahkan beberapa bulan terakhir, mulai dari latian setiap akhir pekan 4 hingga 5 jam per hari, menyajikan beberapa konser penting di kota Istanbul, hingga pencarian dana dan persiapan keberangkatan menuju Irlandia (Visa, Tiket Pesawat, Akomodasi). Akhirnya, 27 April 2016 group kami pun berangkat menuju Dublin, Irlandia melalui International Atatürk Airport. Setelah mendarat di kota Dublin kami pun meneruskan perjalanan menuju kota Cork tempat festival diselenggarakan. Dari Dublin ke kota Cork memakan waktu 4 jam dengan menggunakan bus. Festival berlangsung sejak 27 April hingga 02 Mei 2016 di kota Cork.

Selama 5 hari di kota Cork, kegiatan kami dipenuhi oleh beragam konser dan performans di beberapa spot di kota ini. Dalam festival ini tidak hanya untuk berkompetisi, kami turut serta dalam berbagai kegiatan. Sabtu, 30 April 2016 hari dimana Flesichmann International Trophy Competition berlangsung yang diikuti oleh 11 peserta dari seluruh dunia dan Rezonans berhak berpartisipasi dalam kompetisi ini sebagai satu-satunya delegasi dari Turki atau bahkan dari Timur Tengah. Kompetisi pun dimulai dengan penuh keyakinan, sebagai nomor urut peserta ketiga naik ke panggung, dan menyajikan penampilan yang terbaik. Dengan membawakan lagu O Magnum Mysterium [Victoria], Bach (Again) [Edwin London], dan Yeniden [Hasan Uçarsu] dalam durasi 12 menit performans.

Keesekokan harinya, di Minggu sore yang cerah, tibalah momen mendebarkan sekaligus ditunggu-tunggu oleh semua peserta. Pengumuman hasil kompetisi yang berlangsung sehari sebelumnya. Setelah pembawa acara membacakan beberapa penghargaan dan beberapa kategori apresiasi, akhirnya posisi Juara III diraih oleh paduan suara asal Amerika Serikat. The 2nd Prize is Award with 90.56 point is Award to Rezonans from Turkey. (bacak di sini)

Akhirnya, kelompok kami mendapat salah satu penghargaan tertinggi sebagai Juara II dengan selisih 1 poin dengan Juara pertama yang diraih oleh kelompok paduan suara asal Swedia. Suatu kebanggan tersendiri bagiku pribadi dapat turut serta mengibarkan bendera Turki di kompetisi paduan suara international bergengsi di tahun 2016 ini.

Setelah melalui perjuangan latihan selama 7 bulan (September 2015-April 2016), buah manis dengan meraih penghargaan ini adalah ganjaran istimewa. Kami membawa berita baik untuk Turki dengan prestasi yang ditorehkan Rezonans. Pengalaman ini semakin menambahkan kedekatanku dengan kehidupan paduan suara di Turki dan khususnya dengan budaya Turki.

Sepenggal kisah ini ditulis dalam perjalanan dari Istanbul menuju Ankara dengan YHT (Yüksek Hızlı Tren).


Aldy Muhammad Zulfikar
Mahasiswa program master di Jurusan Ilmu Hubungan International, Istanbul Medeniyet University. Asal Makassar, Indonesia dan menjadi Penyanyi Tenor di Paduan Suara Rezonans, Istanbul, Turki.

Şanslı Kız

21:39:00 Add Comment

Ia selalu menganggap semua hal sebagai keberuntungan. Termasuk yang menurutku masuk dalam hitungan kesialan

[Gambar Zeynep Özatalay]
Aku mengikat tali sepatuku cepat-cepat sebelum kemudian menyambar tas samping yang tergeletak di lantai. “Aku pergi, Anne[1]!” teriakku tanpa menunggu jawaban. Kususuri tangga demi tangga dari lantai tiga menunju lantai dasar. Huff. Melelahkan. Inilah yang kulakukan tiap kali pergi ke luar. Apartemen kami tidak memiliki lift. Sesuatu yang membuatku mengeluh sepanjang waktu walaupun Anne selalu mengatakan bahwa ini baik untuk kesehatanku.

Kutepuk bahu kiri gadis berambut hitam lebat yang berdiri di samping pintu. “Hadi gidelim, kanka[2]!”

Ia membalasku dengan senyuman yang membuat sepasang lesung pipitnya terlihat. Itulah Marwa. Tak pernah mengeluh walaupun aku seringkali membuatnya terlambat datang ke kelas. Padahal, yang seharusnya terlambat itu Marwa, bukan aku. Aku selalu pulang ke rumah setelah kelas. Namun Marwa harus pergi bekerja di rumah makan kebab dari jam empat sampai sepuluh malam tiap haftaiçi[3] setelah kelas. Itulah sebabnya ia baru akan sampai di rumahnya pada pukul 23.00 atau 23.30 waktu Turki. Meski demikian, ia selalu mengatakan bahwa ia sungguh beruntung lantaran tidurnya selalu pulas karena kelelahan.  

Setelah saling mengecup pipi sebanyak tiga kali, aku dan Marwa pun segera berlari beriringan menuju stasiun kereta Izban yang terletak di antara hiruk pikuk Karşıyaka[4]. Karena jam kelas kami bersinggungan dengan jam para pekerja, mau tidak mau kami harus menyusup di antara kerumunan yang membuat waktu kami lebih terulur lagi. Aku dan Marwa berlarian menyusuri tangga panjang menuju ke terowongan tempat kami menunggu kereta Izban dan menabrak beberapa orang tua yang menyisakan gerutu panjang. Tepat ketika kaki kami berhasil menginjak baris terakhir tangga, kereta Izban yang hendak kami tumpangi tampak melaju pergi.
         
Off! Salak ya![5]” kupukul jidadku sebanyak tiga kali. Semua ini dimulai karena aku tidur terlambat kemarin malam lantaran sibuk menyusun rencana liburan ke kota Bodrum. Akibatnya, aku bangun kesiangan. Keterburu-buruanku menyebabkan sarapan yang sudah disiapkan Anne tidak tersentuh. Gara-gara itu, bukan hanya soal perut, kami juga ketinggalan kereta Izban. Tentu saja masih ada kereta berikutnya. Namun, siapa yang mau menunggu?

Kutemukan Marwa terkekeh-kekeh melihat perilakuku. “Sakin ol, kız![6] Baksana kanka! Kereta Izban tadi sangat sesak. Bisa jadi Izban berikutnya akan lebih sepi. Şanslıyız yani.[7]

Aku hanya mengernyitkan sebelah alis. Gadis aneh, gumamku. Ia selalu menganggap semua hal sebagai keberuntungan. Termasuk yang menurutku masuk dalam hitungan kesialan. Transportasi publik dari kawasan ramai seperti Karşıyaka tak pernah sepi, asal tahu saja.

Kami berdiri lumayan lama demi menunggu kereta Izban yang datang berikutnya. Huff! Perjalanan yang sangat panjang. Bayangkan! Dari Karşıyaka, kami harus melalui beberapa stasiun hingga sampai ke Halkapınar yang menghabiskan waktu sekitar 11 menit. Dari stasiun Halkapınar, kami harus ke luar dari kereta Izban dan berpindah ke kereta Metro arah Evka 3 untuk menuju stasiun Ege Üniversitesi. Itu belum termasuk waktu yang kami gunakan untuk berlarian berpindah tempat. Belum lagi, setelah sampai di stasiun Ege Üniversitesi, kami harus menyusun beberapa langkah cepat untuk sampai ke Fakultas Ilmu Komunikasi.

Benar saja, aku dan Marwa terlambat. Kami tidak diperbolehkan masuk. Kuatur nafasku dengan bersandar di dinding dekat pintu kelas. “Devamsızlıktan kalcaz, kız[8],” kataku seraya menatapnya nanar. Sekarang apalagi yang akan dikatakannya, he?

Marwa tersenyum, lagi. Ditepuknya bahuku beberapa kali. “Inshaa Allah enggak. Kita masih punya...,” tangannya tampak sibuk menghitung, “kita bisa bolos kelas maksimal dua kali lagi.”

Alis mata kananku semakin naik. Ia melanjutkan, “Yine şanslıyız biz. Kita bisa pergi sarapan sekarang. Kamu belum sarapan kan?”

Dasar aneh, gerutuku dalam diam.

Aku tak pernah bisa memahami bagaimana Marwa mampu mengambil sisi emas dari kesialan. Hatiku jadi bertanya-tanya, apakah ia tidak pernah bersedih, marah atau pun kecewa?

Setelah menyadari bahwa rupanya kami sudah terlalu lama berdiam diri di ambang pintu tanpa melakukan apa-apa, aku dan Marwa pun pergi ke Ziraat Cafe yang tidak jauh dari fakultas kami untuk sarapan.
         
Aku dan Marwa duduk di pojok cafe. Sibuk menikmati açma[9] dan çay[10] yang kami beli sambil mendengarkan alunan lagu-lagu Turki yang diputar dan berisiknya mahasiswa/i yang saling berseda gurau atau bermain tavla di sekeliling kami. Mataku berkeliling menatap satu per satu mahasiswa yang mulai ramai berdatangan layaknya kawanan semut dari arah pintu. Tiba-tiba aku teringat sesuatu yang sudah kurencanakan sejak kemarin malam.

Setelah menelan gigitan açma isi keju terakhirku, dengan senyum selebar daun kelor, kuungkapkan niatanku pada Marwa untuk mengajaknya jalan-jalan sebelum vize[11] tiba. “Ke Bodrum yuk!”

“Bodrum?”

Aku mengangguk cepat dan menimpali, “Sebelum vize dimulai, sayang. Lihat deh!” Kubuka ponselku demi menunjukkan padanya beberapa foto kota Bodrum yang sudah kutelusuri semalam suntuk. Aku terus mengoceh tanpa menyadari bahwa Marwa mulai terisak. Mata dan hidungnya sangat merah. Tangannya yang gemetar hebat membuat çay yang sama sekali belum diteguknya tumpah mengenai meja. Kontan aku tercekat. Kupegang jemarinya yang mendingin, erat-erat. “Ne oldu?[12] Aku salah ngomong ya?”

Marwa berusaha menahan tangisnya. Namun gagal. Beberapa bulir air matanya berderai hebat. Kupegang bahunya erat-erat dalam kebingungan. Kami hening beberapa saat lamanya. Hanya isakan Marwa yang terdengar, di samping lagu-lagu Turki yang larut dalam keramaian kafe. Kuletakkan kepala Marwa ke bahuku dalam pelukan lantaran aku merasa keberadaan kami telah menarik perhatian beberapa pengunjung kafe.

Dentum detik bergerak sangat lambat rasanya. Marwa menarik kepalanya dan mulai bercerita. Menceritakan luka lama yang belum begitu kering dalam memori.

Semuanya bermula ketika kakek dan pamannya yang seorang tentara bertengkar dengan ayahnya yang seorang staff pengajar. Waktu itu Marwa masih tinggal bersama keluarganya di Aleppo, salah satu kota yang kini jadi antah-berantah di Suriah akibat perang. Kakek dan paman memaksa ayah Marwa untuk ikut membela negeri, konon. Namun ayah Marwa menolak dengan alasan bahwa ia adalah staff pengajar. Bukan tentara yang pandai bermain dengan senjata seperti kakek dan paman Marwa.

Marwa masih ingat jelas waktu itu. Ia, adik lelakinya Ali dan ibunya mendengarkan diskusi ayah, kakek dan pamannya di ruang tengah yang berakhir dengar pertikaian yang bertajuk teriakan, gertakan, dentum kursi ditendang dan kata-kata kasar hingga ia dan Ali terlelap. Ia tak tahu bagaimana akhirnya ayah mereka mampu meyakinkan kakek dan paman untuk tidak memaksanya ikut berperang.

Esok sampai beberapa hari berikutnya, bom jatuh di mana-mana. Suara tembakan dan ledakan mulai terbiasa didengar oleh Marwa sekeluarga. Bau anyir darah yang membungkus daging segar mudah didapati dimana-mana. Kakek, paman dan beberapa anggota keluarga Marwa meninggal akibat kekejaman yang tidak pandang bulu itu. Aleppo kampung halamannya sudah tidak aman. Kamis malam itu, pada tengah malam ketika semua orang terlelap, ayah membangunkan Marwa dan adiknya untuk cepat-cepat berkemas dan meninggalkan Aleppo. Marwa sama sekali tidak menyangka bahwa itu adalah malam terakhirnya untuk tidur di kasur kesayangannya; di ruangan yang biasanya ia habiskan untuk tidur, menonton film, membaca buku ataupun bercanda gurau dengan Ali, adiknya. Sama seperti apa yang dilakukan remaja dan anak-anak pada umumnya.

“Setelah melewati perbatasan Turki, kita akan pergi ke Bodrum. Dari Bodrum, kita akan pergi ke Pulau Kos. Dari sana, kita bisa pergi ke Athena naik ferry. Dari Athena, kita akan pergi  ke Italia, Prancis, lalu Inggris melalui terowongan Channel. Kita bisa mencari suaka di sana. Abi[13] punya kenalan di Inggris. Inshaa Allah mereka bisa membantu kita,” jelas ayah kepada ibu Marwa yang hanya memandangannya tanpa ekspresi. Kedua tangannya sibuk menimang-nimang Ali yang terus saja menangis. Sedangkan Marwa, ia hanya duduk terdiam di pojok truk yang mengangkut keluarganya. Membisu dengan air mata yang sudah kering di kedua belah pipinya. Masa depannya tampak buram. Apakah ia dapat menggapai cita-citanya sedangkan perjalanan panjang yang terjal dan melelahkan menghadang di hadapannya? Perjalanan yang mengharuskan ia meninggalkan sekolah, kampung halaman yang dicintainya dan segala sesuatu yang akan sangat ia rindukan suatu saat nanti. Mungkinkah...
         
Hampir dua bulan Marwa dan keluarganya menumpang di rumah orang Turki yang merupakan kawan ayahnya. Ia beruntung tidak perlu menderita di tenda pengungsi atau tercecer di taman bermain kota dengan hanya makan ekmek[14] dan yogurt setiap hari atau membiarkan ulat-ulat menggerogoti dagingnya yang semakin tipis.

Sore itu, mereka memperoleh kabar bahwa Marwa sekeluarga bisa menyeberang dari Bodrum ke Pulau Kos, Yunani melalui laut Ege pada tengah malam. Sebenarnya, Marwa dan ibunya sangat tidak menyukai jalur laut. Ah! Mereka benci semua jalur, sesungguhnya. Perjalanan mencari suaka sangat menguras tenaga dan peluh. Mereka hanya ingin kembali ke rumah mereka di Suriah andaikata tidak ada pertumpahan darah. Jika mereka memiliki pilihan, hidup sederhana di rumah sendiri akan jauh lebih luar biasa daripada menjadi pencari suaka di negeri yang kaya raya.

Sekitar pukul 02.00 malam waktu Turki, pelabuhan Bodrum sangat ramai oleh para pencari suaka yang hendak menyebrang dengan perahu karet ke Pulau Kos yang jaraknya 4 km lebih.

Marwa sudah mengenakan jaket pelampungnya saat itu. Sepasang tangannya memegang tas berisi dokumen dan pakaian ketika ibunya sibuk memasangkan jaket pelampung untuk Ali yang terus menangis. Gemericik air, tangisan anak-anak, teriakan para pencari suaka, aroma asam keringat dalam malam yang semakin pekat membuat kepala Marwa terasa sakit. Walau hanya 4 km, ia merasa takut. Perahu karet yang hendak ditumpanginya tampak rapuh. Pun jumlah penumpang yang tidak sesuai dengan kapasitas seharusnya. Apalagi ditambah dengan angin yang malam itu berhembus kencang. Semuanya membuat Marwa takut. Ia takut tenggelam walau toh telah memakai jaket pelampung karena ia tidak dapat berenang.

Ibu Marwa mencium kening Marwa berulang kali sebelum akhirnya satu per satu dari mereka berempat bersama penumpang lainnya mulai naik ke perahu karet kecil itu. Ayah dan Ibu Marwa duduk di pojokan, sedangkan Marwa duduk di depan ayahnya. Kepalanya yang terasa berat ia sandarkan ke pangkuan ayahnya. Sepasang matanya yang mulai basah berusaha menenangkan Ali yang tangisannya mulai mereda. Marwa mengerti betul bahwa perjalanan panjangnya baru saja dimulai. Masih banyak liku terjal untuk memperoleh suaka di Inggris. Perjalanan yang akan memaksanya berlari dan bertumbukan dengan banyak pengungsi.

Perahu karet mereka pun mulai berjalan ke tengah laut Ege yang bergelombang karena hembusan angin. Waktu berjalan sangat pelan layaknya siput seiring ketakutan Marwa yang semakin meningkat. Bibirnya terus merapal doa. Sama seperti ayah dan ibunya. Sungguh, ia tak pernah menduga bahwa kehidupan indahnya di Aleppo akan tergores pisau tajam yang membuat hatinya cacat dan terapung pada lautan, angin, dan alam yang entah membawanya ke mana.

Lamunan Marwa terhenti ketika ia menyadari bahwa air laut mulai masuk ke perahu karet kecil mereka. Seluruh penumpang perahu yang mulai panik menepikan tas mereka supaya tidak basah ataupun melindungi dirinya dari air. Angin yang bertiup membuat gerakan pada perahu kecil itu tidak beraturan. Penumpang semakin panik. Anak kecil menjerit-jerit ketakutan akan semakin banyaknya air yang masuk ke perahu karet. Perahu kecil itu pun tidak bergerak di tengah lautan. Hanya terapung sebelum kemudian tenggelam perlahan.

Kejadiannya begitu cepat. Karena gelap, Marwa terlepas dari ibu, ayah dan Ali. Ia mendengar suara jerit dan tangisan yang samar.

“Abi! Ami! Ali![15]” teriak Marwa besahutan dengan teriakan para penumpang lainnya. Marwa yang tidak bisa berenang pun membiarkan tubuhnya terombang-ambing di lautan yang dingin; ketakutan. Matanya berusaha mencari cahaya. Kedua kakinya sibuk menendang-nendang air. Begitu juga tangannya. Namun bukannya menemukan pegangan atau mengenali setidaknya salah satu anggota keluarganya, ia justru merasa semakin jauh dari penumpang lainnya.

“Abi! Ami! Ali!” Marwa mulai menangis. Sebagian air masuk melalui mulutnya. Tak sengaja ia menelan beberapa. Nafasnya terasa sesak. Ia terus berteriak minta tolong hingga akhirnya ia mendengar tangisan Ali. Dihentakkannya kaki dan tangannya bersamaan demi menggapai sosok Ali yang tubuhnya terlihat sebagian. Badan bocah lelaki yang menangis itu tampak terlepas dari jaket pelampungnya. “Ali! Ali! الاصغر أخي. Akhi alasghar![16]” Merve terus menggerakkan kakinya tidak beraturan sambil menangis hingga dadanya terasa penuh oleh air. Angin sepoi malam yang seharusnya dapat dinikmati dengan kedamaian itu semakin mencekam. Tiba-tiba ia merasakan bajunya ditarik ke atas. Lalu semuanya menjadi gelap.

Marwa tak tahu hari apa itu ketika ia berbaring di sebuah kasur polos. Matanya mendapati beberapa orang yang bersahutan dalam bahasa Arab, Persia dan Turki di sekitarnya.

Kepalanya pun tiba-tiba sakit. Beberapa memoar kelam bergantian menghiasi kepalanya bagai komidi putar. Ia memukul kelapanya beberapa kali. Aku mimpi buruk, gumamnya sendiri.

“Dia sudah sadar!” seorang perawat Turki datang menghampirinya.

Semuanya berputar begitu cepat.

Kedua tangan Marwa menggenggam selimut dengan sangat erat. Tangannya gemetar. Ia terisak-isak tanpa air mata. Marwa kehilangan ayah, ibu dan adiknya Ali dimana jenazah ketiganya masih dalam pencarian.

 “Aku beruntung masih diberi kesempatan untuk hidup dan bertemu orang Turki yang baik mau menyekolahkanku,” ujar Marwa menutup ceritanya sambil menyeka air mata yang telah mengering. Jantungku seolah berhenti berdetak. Şanslı kız?[17]


[1] Ibu
[2] Ayo berangkat, Sob!
[3] Hari Senin-Jumat
[4] Salah satu nama setaraf kecamatan di kota Izmir, Turki
[5] Dasar bodoh!
[6] Tenang, girl!
[7] Kita beruntung.
[8] Kita akan tinggal kelas karena absensi.
[9] Sejenıs roti
[10] Teh
[11] Ujian Tengah Semester
[12] Kenapa?
[13] Ayah
[14] Roti yang merupakan makanan pokok orang Turki
[15] Ayah! Ibu!
[16] Tolong adik lelakiku
[17] Gadis yang beruntung.


Naelil Maghfiroh
Salah satu tim kontributor Turkish Spirit. Mahasiswa asal Jawa Timur ini sedang studi pada Jurusan Jurnalistik di Ege University, Izmir Turki. Aktif berorganisasi di PPI Turki dan menulis di blog pribadinya di sini.