Tiga Hantu Teror di Turki

15:10:00

Dalam konteks Turki, saya melihat ISIS adalah kelompok buram seperti hantu tanpa tuan, bebas bergentayangan dan menyerang siapa saja dan kapan saja

[Versi Cetak di Jawa Pos, 30 Juni 2016]
Dalam tiga tahun terakhir eskalasi kekerasan melalui serangan bom di Turki semakin masif. Sudah ratusan korban nyawa hilang karena manuver gerakan terorisme yang mulai mengancam serius negeri bekas Ottoman ini.

Jejak ledakan bom yang menyasar langsung rakyat sipil bisa ditandai sejak tragedi Suru, Sanlıurfa (20 Juli 2015) dengan korban tewas berjumlah 34. Sejak tragedi tersebut, Turki benar-benar dihantam beberapa serangan teroris yang terus mengancam hingga detik ini.

Namun sebelum itu, statistik mencatat bahwa ledakan besar yang menelan korban rakyat sipil secara beruntun pernah terjadi pada 15 November 2003 di sebuah Sinagog, Istanbul (28 tewas) dan berlanjut lima hari berikutnya pada tanggal 20 di Konsulat Amerika, Istanbul (28 tewas). Dua ledakan bom oleh AL-Qaeda itu terjadi pada periode awal AKP (Partai Keadilan dan Pembangunan) menjadi penguasa di Turki.

Setelah itu, tercatat sejak tahun 2015 ancaman bom di Turki makin meluas dan terjadi di berbagai titik, hingga lokasi-lokasi publik.  Setelah tragedi Suruç, bom mengguncang Ankara, masing-masing pada Rapat Besar Partai Demokrasi Rakyat (HDP) pada 10 Oktober 2015 (109 tewas), Konvoi Polisi pada 17 Februari 2016 (29 tewas) dan ledakan bom mobil terjadi di Kızılay pada 13 Maret 2016 (38 tewas).

Sementara di Istanbul ledakan bom yang menyasar rakyat sipil terjadi misalnya di area padat turis Sultan Ahmet pada 12 Januari 2016 (11 tewas), pada 9 Maret 2016 ledakan bom terjadi di pusat keramaian jalan Istiklal (5 tewas), pada 7 Juni 2016 bom meledak di  Vezneciler (13 tewas) dan terakhir terjadi di Bandara Ataturk, kemarin pada hari Selasa tanggal 28 Juni dengan menelan korban tewas berjumlah 44 orang.

Selain bom mobil yang meledak di tengah-tengah konvoi polisi pada 17 Februari 2016, serenetan serangan bom itu sudah tidak lagi head-to-head melawan aparat keamanan. Kali ini sasarannya adalah rakyak sipil yang tidak punya sangkut paut dengan urusan politik dan kekuasaan.
Agen eskternal yang mendukung PKK juga banyak. Selain kelompok suku Kurdi di Irak dan Suriah yang sudah mempunyai otoritas tanah dan otonomi di dua negara tersebut, negara-negara seperti Rusia, Inggris dan Prancis ada di balik mereka
Balas Dendam

Balas dendam adalah istilah yang tepat untuk menggambarkan serangkaian serang bom di Turki akhir-akhir ini. Dua organisasi teroris PKK dan ISIS secara terbuka menyatakan perang dengan Turki. Misalnya, bom di Kızılay jelas sekali sebagai balas dendam PKK (Partai Pekerja Kurdistan) yang sejak tiga tahun terakhir dihabisi dan dibersihkan dari Turki. Serangkaian operasi oleh pasukan keamanan Turki telah membuat kelompok separatis ini menyerang membabi-buta. Mereka sudah berani meledakkan bom di tengah taman kota di mana rakyat sipil berkumpul. Tujuan balas dendam untuk membuat chaos di Turki secara masif bisa dibaca sebagai senjata terakhir yang dipakai PKK yang sudah makin ringkih.

Sementara bom kemarin di Bandara Ataturk adalah balas dendam ISIS. Kali ini sasaran korbannya lebih luas dan masif. ISIS geram setelah Turki sejak awal tahun ini semakin gencar membombardir pusat pelatihan dan kamp-kamp militernya. Dalam lima bulan terakhir mereka sudah banyak mengirimkan roket dari perbatasan Suriah ke Turki.

Lebih lanjut, ada tiga ancaman serius yang akan terus menghantui Turki di bawah pemerintahan AKP yang berkuasa dalam satu dekade terakhir. Saya mencermati tiga kelompok di bawah ini akan menjadi tantangan serius bagi Turki ke depan. Meski sebenarnya, kekerasan berdarah di Turki sudah menjadi bagian dari sejarah mereka tanpa melihat siapa dan dari kelompok mana yang berkuasa. Karena faktanya setiap pemerintahan yang menguasai Turki—apapun ideologinya—selalu disertai konflik berdarah.

Saya ingin menghadirkan tiga kelompok yang sudah melakukan perlawanan dengan kekerasan di Turki. Pertama adalah gerakan separatis suku Kurdi yang diwakili PKK. Ini kekerasan laten, bahkan sebelum PKK lahir tahun 1978. Sebagai gerakan masif dengan para eksponen dan saluran dana yang kuat, PKK terus mengembangkan sayapnya untuk memperkuat basisnya di internal Turki. Sementara itu, secara politik ada HDP yang secara implisit telah menjadi corongnya di parlemen.

Di samping itu, tumbuh pula sayap pemuda mereka dengan nama YDG-H (Patriotic Revolutionary Youth Movement). Eksistensi PKK ini bagi saya akan menjadi ancaman laten yang tak pernah mudah diselesaikan. Dan agen eskternal yang mendukung PKK juga banyak. Selain kelompok suku Kurdi di Irak dan Suriah yang sudah mempunyai otoritas tanah dan otonomi di dua negara tersebut, negara-negara seperti Rusia, Inggris dan Prancis ada di balik mereka.

Kelompok lain dari suku Kurdi yang lebih militan dan tanpa kompromi adalah TAK (Falkon Pembebasan Kurdistan). Kelompok ini memang tidak secara langsung terbuka menyatakan diri berafiliasi dengan PKK, tetapi banyak ditengarai bahwa kelompok yang didirikan tahun 2004 ini sebenarnya bagian dari PKK untuk  mengganggu proses damai PKK-Turki. Perjuangan TAK dikenal militan dan ingin merdeka dari Turki tanpa syarat damai. Jika PKK melunak kepada pemerintah—karena adanya perjanjian damai misalnya—TAK tetap muncul dengan ancaman-ancaman kekerasan bom. Bom mobil di Kızılay adalah bukti nyata sayap militan kelompok Kurdi yang satu ini.

Kedua adalah kelompok kiri-komunis yang diwakili DHKP/C (Front-Partai Pembebasan Rakyat Revolusioner). Kelompok ini sudah terbukti biasa memainkan bom dan senapan api dengan menyerang pasukan keamanan Turki. Sejauh ini, aksi DHKP/C dan grup yang berafiliasi dengannya, khususnya dari front kiri, menyasar apparatus state, khususnya pasukan keamanan (polisi) sebagai target mereka. Mereka sudah banyak meledakkan bom dan menembak polisi dalam 10 tahun tarakhir.

Uniknya, PKK dan DHKP/C mempunyai akar ideologis serupa: berangkat dari paham revolusioner kiri. Grup pertama berjuang untuk merdeka dari Turki, yang kedua murni sebagai perjuangan ideologis dengan melawan bentuk-bentuk kebijakan kapitalisme dan neo-liberalisme yang berlaku di Turki di bawah AKP.

Kelompok ketiga adalah ISIS. Sebagai mahluk mengerikan yang baru lahir, ISIS adalah fenomena baru. Sejujurnya, saya sulit membaca target dan perjuangan kelompok yang satu ini di Turki. Nyaris jalan perjuangan mereka tidak bisa dibaca secara pasti. Saya ingin menunjukkan bukti betapa kelompok ini bisa dipakai untuk menyerang kelompok siapapun dari rakyat sipil di Turki. Misalnya, ISIS menyerang kelompok aktivis kiri di Sanlıurfa (Juli 2015), menghantam massa HDP di Ankara (10 Oktober 2015), menumpas gerombolan turis di Sultan Ahmet Istanbul (Januari 2016), lalu kemarin meledakkan diri di bandara.

Dalam konteks Turki, saya melihat ISIS adalah kelompok buram seperti hantu tanpa tuan, bebas bergentayangan dan menyerang siapa saja dan kapan saja. Dari ketiga poin di atas, ISIS adalah kelompok yang paling rapuh tapi sekaligus sangat membahayakan.


Bernando J. Sujibto Penulis dan Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi di Selcuk University, Konya Turki. Sedang merampungkan riset tesis tentang karya Orhan Pamuk. Follow Twitter @_bje.

Silahkan Baca Juga

Previous
Next Post »