Orang-orang Dermawan di Negara Sekuler

22:39:00

Toleransi juga sangat terasa di bumi Al-Fatih ini

[Foto  iyilikdefteri.blogcu.com]
Setelah selesai ujian, saya dan beberapa mahasiswa asing lain disatukan di suatu asrama. Kebetulan beberapa hari lalu sebagian besar teman-teman asrama melaksanakan puasa pertengahan bulan Sya’ban hingga menyempatkan sahur bersama-sama. Bulan di mana Rasulullah sangat menganjurkan umatnya untuk meningkatkan ibadah sunah, juga sebagai pemanasan sebelum datangnya tamu agung Ramadan, kami pun mencoba memperbanyak amalan sunah secara berjamaah.

Seperti biasa, setiap hari-hari besar İslam HP saya dibanjiri pesan religius tentang hari besar tersebut. Petang harinya kita juga kebanjiran undangan berbuka dari berbagai sumber.

Mungkin aneh jika saya mengatakan kehidupan di negara sekuler ini sangat religius. Kelompok ibu-ibu berbondong menghadiri kajian-kajian agama, tak kalah juga para lelaki membuat perkumpulan zikir di masjid-masjid. Saya dan mahasiswi asing lainnya juga melaksanakan salat tasbih berjamaah. Kadang jika sedang mengikuti program-program tersebut, saya seperti tidak merasa berada di negara yang disebut sekuler. Setiap mereka, kalangan apa saja sangat menghargai agama. Toleransi juga sangat terasa di bumi Al-Fatih ini.

Yang lebih mengagumkan adalah sifat orang Turki yang sangat dermawan dan suka membantu. Hal berharga yang hanya saya temui di sini. Bantuan yang diberikan juga tidak tanggung-tanggung, setingkat menghadiahkan tiket pulang ke Indonesia. Luar biasa sekali bukan? Mereka sangat gemar bersedekah karena orang-orang Turki sangat percaya dan yakin akan kekuatan doa. Pengikut tren Barat sekalipun, walau tidak salat dan menutup seluruh aurat, mereka selalu membagi-bagikan hartanya. Terlebih kepada para mahasiswa asing dan para peminta dengan mengharapkan imbalan doa. Sifat suka membantu orang Turki ini diturunkan dari sifat-sifat para khalifah pada zaman Usmani. Masa di mana dinasti Islam pernah berjaya hingga Nusantara.
Para khalifah menumbuhkan sifat gemar bersedekah dan suka membantu kepada seluruh rakyatnya tanpa sedikitpun menumbuhkan sifat sombong dan besar kepala
Saya ingat kunjungan ke Masjid Biru pekan lalu. Ada pelajaran baru yang saya dapat di sana. Walaupun sudah berkali-kali salat, tapi saya selalu bilang bahwa setiap perjalanan itu memiliki nilai tersendiri. Selalu ada hal berbeda yang saya dapat dari setiap kesempatan berbeda.

Kali itu pemandu wisata rombongan kami menjelaskan tentang sejarah Masjid Biru. Salah satu ikon wisata Turki yang terkenal dengan interior birunya. Masjid tersebut didirikan oleh Sultan Ahmad I antara tahun 1909-1916. Hal yang mungkin tidak banyak diketahui oleh orang, masjid ini adalah tempat pengumpulan sedekah pada masa Usmani. Di salah satu pintu masjid terdapat dua ruang kecil kiri-kanan yang sengaja dikosongkan sebagai tempat bersedekah. Para khalifah dan orang-orang kaya di waktu itu meletakkan sumbangan berupa uang, perak, emas ke dalam lubang tersebut.

Di kesempatan berbeda orang-orang yang membutuhkan mengambil sedekah tersebut. Tanpa ada yang tahu siapa yang meletakkannya dan siapa yang mengambilnya. Begitu para khalifah mengatur dan menumbuhkan sifat gemar bersedekah dan suka membantu kepada seluruh rakyatnya tanpa sedikitpun menumbuhkan sifat sombong dan besar kepala.

Saya ingat 2 tahun lalu ketika saya dan teman-teman dari Aceh merayakan Idul Fitri di Istanbul di tahun kedatangan pertama kami. Ketika itu kami mendapat kiriman baju baru yang jika dikalkulasikan mencapai harga di atas jutaan dari seseorang pengirim yang hanya bertuliskan “Hamba Allah”.

Subhanallah, hidup ini begitu manis jika kita bisa saling berbagi dengan sesama.


Wardatul Ula, Mahasiswi asal Aceh, Indonesia ini aktif menulis untuk media-media lokal di Aceh. Menjadi kontributor untuk buku Berjalan di Atas Cahaya (bersama Hanum Rais) dan Dari Negeri Dua Benua (bersama FLP Turki). Saat ini sedang menyelesaikan studi pada Jurusan Ilahiyat (Teologi İslam) di Gaziantep Üniversitesi, Gaziantep, Turki.

Silahkan Baca Juga

Previous
Next Post »

4 comments

Write comments
6 August 2016 at 14:56 delete

TS sudah baca clash armenia otsmani?

Reply
avatar
6 August 2016 at 15:20 delete

Tambahan pengamanan dari Hari Pebriantok di akun facebooknya:

Waktu itu saya sedang perjalanan mudik dari Istanbul ke Jakarta dengan maskapai Malaysia Airlines. Di samping saya duduk seorang bapak berusia sekitar 40 tahun yang kemudian saya ketahui bernama Izzet. Dia merupakan pengusaha mebel keturunan Turki yang menetap di Austria. Selama perjalanan kita ngobrol ngalor ngidul untuk membunuh kebosanan. Di sela obrolan ia bercerita bahwa akan ke Semarang untuk mengecek persiapan mebel pesanannya. Sebelum ia tahu bahwa saya kuliah di Konya, selama obrolan kita menggunakan bahasa Inggris. Setelah itu kami pilih pakai bahasa Turki. Kami berpisah di bandara Kuala Lumpur. Saat salam perpisahan ia menyelipkan satu lembar uang Euro ke saku saya. "Untuk beli permen", kata dia.

Reply
avatar
6 August 2016 at 15:21 delete

Ayok nulis kak, boleh soal sejarah clash itu juga.

Reply
avatar