Spirit Yenikapı

00:57:00

Presiden Turki untuk kali pertama bercenngkrama di satu tempat bersama Ketua Umum Partai Oposisi CHP dan MHP

[Para Ketua Umum Partai Oposisi dan Partai Pemerintah Sebelum Acara, Foto +Anadolu Agency]
Hari ini (7/8/2016) tercipta sejarah baru dalam demokrasi Turki. Menurut sumber keamanan 5 juta manusia memadati Yenikapı, Istanbul dalam rangka “Aksi Dukungan untuk Demokrasi dan Syuhada”. Presiden Turki untuk kali pertama berada di satu lokasi aksi dengan ketua umum partai AKP, partai oposisi utama CHP dan MHP. Kepala Staf Militer Turki Hulusi Akar untuk kali pertama berpidato di depan jutaan rakyat Turki.

Acara ini dibuka dengan mengheningkan cipta dan menyanyikan lagu kebangsaan İstiklal Marşı. Setelah itu pembacaan ayat Alquran untuk para syuhada yang gugur saat menghalang upaya kudeta 15 Juli yang lalu. Kemudian Menteri Agama Mehmet Görmez memimpin doa.

Ketum MHP Devlet Bahçeli, Ketum CHP Kemal Kılıçdaroğlu, Kepala Staf Militer Hulusi Akar, Perdana Menteri Binali Yıldırım, Ketua Parlemen İsmail Karaman dan Presiden Recep Tayyib Erdoğan secara berurutan berpidato di depan jutaan massa. Sebelum “Aksi Dukungan untuk Demokrasi dan Syuhada” dimulai para ketua partai dan presiden menyempatkan diri minum teh bersama dan memberi pose ke kamera. Sebuah pemandangan yang sangat tidak biasa.

Pidato Dimulai oleh Devlet Bahçeli
[Devlet Bahçeli, Foto +Anadolu Agency]
Dalam pidatonya, Devlet Bahçeli mengkritik keras ulama Fetullah Gülen. Bahçeli mengatakan upaya kudeta 15 Juli kemarin merupakan salah satu projek mereka. Mereka ingin melihat kita menghembuskan nafas terakhir. FETO menggunakan tank, pesawat tempur milik negara untuk menyerang rakyat Turki.

Bahçeli menambahkan Turki dengan segala keindahan dan kejayaannya memulai perjalanan baru di Yenikapı. “Saya bangga dengan rakyat Turki, saya bangga dengan kalian”, kata dia mengakhiri.

Kemudian Ketua Umum CHP
[Kemal Kılıçdaroğlu, Foto +Anadolu Agency]
Kemal Kılıçdaroğlu mengajak semua kalangan untuk mengambil pelajaran dari peristiwa 15 Juli yang lalu. “Kita semua termasuk saya harus mengambil pelajaran dari kejadian kemarin,” katanya. Kılıçdaroğlu menawarkan 12 poin saran kepada pemerintah. Salah satu poinnya adalah, pentingnya Turki menjaga sistem parlementer yang sudah berjalan selama 150 tahun. Dalam poin ke 10, Kılıçdaroğlu menegaskan pentingnya sistem negara sekuler. “Peristiwa 15 Juli kemarin menunjukkan betapa pentingya sistem sekuler. Kita melihat berbagai kejadian yang melanggar hukum dengan membawa nama agama,” pungkasnya.

Setelah Kılıçdaroğlu, Kepala Staf Militer Turki Hulusi Akar naik podium. Ia tak dijadwalkan untuk berpidato sebelum acara.

Binali Yıldırım: “Kita Akan Semakin Memperkuat Rekonsiliasi”
[Binali Yıldırım, Foto +Anadolu Agency]
Perdana Menteri Binali Yıldırım berterima kasih kepada para tokoh oposisi yang hadir. Ia menekankan pentingnya kebersamaan ini. “kita akan memperkuat iklim rekonsiliasi yang ada sekarang”, kata dia. Bersama partai politik dan LSM-LSM kita akan membawa Turki mencapai target 2023.

Yıldırım mengingatkan rakyat Turki untuk berhati-hati akan ancaman perpecahan yang berlatar belakang suku, ras dan agama. “Kita tak membedakan Turki, Kurdi, Alawi, Sunni di dalam negara ini, kita harus memperkuat solidaritas diantara kita. Kita tak akan memberi kesempatan bagi oknum yang ingin membenturkan kita.

Binali Yıldırım juga membacakan puisi karya Nazım Hikmet, Ahmet Cevad dan Ahmet Arif.
Setelah pidato Binali Yıldırım berturut-turut ketua parlemen İsmail Karaman dan Recep Tayyib Erdoğan naik panggung.

Pidato Presiden Erdoğan 
[Poster Raksasa Atatürk dan Erdoğan, Foto +Anadolu Agency]
Saya berterima kasih kepada rakyatku yang telah turun ke jalan menentang upaya kudeta. Rakyatku yang gugur syahid saat perlawanan kudeta itu tak ubahnya telah menuliskan namanya dengan pena emas. Bangsa ini tak akan hanya kuat menghadapi serangan diplomatik namun juga kuat menghadapi sobotase di dalam militer,” tukas Erdoğan.

Presiden Erdoğan mengatakan bangsa Turki tak akan menyerah kepada musuh. Ini seperti zaman Mustafa Kemal dahulu. “Lihatlah saat Mustafa Kemal menghadapi hari kelam, diserang oleh musuh. Apakah mereka menyerah? Saya bertanya yang sama kepada kalian semua. Bangsa ini tak akan menyerahkan diri kepada musuh!"

“Hari Ini Masih Koma, Hari Rabu Nanti Titik”
[Presiden Erdoğan, Foto :AA]
Pasca upaya kudeta 15 Juli lalu, rakyat Turki melakukan piket demokrasi. Mereka berkumpul di pusat kota setiap malam. Presiden Erdoğan mengatakan, hari ini tugas kita belum selesai, insyaallah hari Rabu nanti tugas demokrasi kita akan menemui titik akhir.

Sumber: Aljazeera, Anadolu Agency


Hari Pebriantok
Salah satu pendiri Turkish Spirit. Mahasiswa asal Sragen sedang studi Jurnalistik di Selcuk University, Konya Turki dan pecinta fotografi.

Silahkan Baca Juga

Previous
Next Post »