Wayang Sadat di International Mystic Music Festival

11:59:00 Add Comment

Festival ini dinobatkan oleh Majalah Songline sebagai 25 of the Best International Festival tahun 2015

[Foto http://mistikmuzik.com/]
Pelan tapi pasti, Indonesia terus hadir dan berpartisipasi dalam berbagai acara penting di Turki, termasuk misalnya hadirnya pementasan wayang dalam serangkaian acara 13th Konya International Konya Mystic Music Festival, 22-30 September di Konya. Festival musik mistik bertaraf internasional yang dihelat untuk memperingati hari lahirnya sufi besar Jalaluddin Rumi (30 September 1207) ini dinobatkan oleh Majalah Songline bermarkas di London sebagai 25 of the Best International Festival tahun 2015.

Partisipasi kelompok Wayang Sadat yang diprakarsai oleh Anmaro Asia Arts ini pentas pada malam pertama festival, yaitu 22 September kemarin. Hadirnya Wayang Sadat ke publik Turki khususnya semakin membuka ruang beragam dan kaya tentang kesenian Islam di Indonesia. Wayang Sadat yang dicipatakan oleh Suryadi Warnosuhardjo asal Klaten tahun 1985 ini ikut menjelaskan bagaimana kesenian musik juga telah sarana dakwah di Nusantara dengan mementaskan lakon Wali Songo. Kata sadat, seperti ditulis Wahyu Cakraningrat (2000), berasal dari kata syahadattain. Ia mempunyai tujuan dengan nafas Islam sebagai dakwah dalam pergelarannya. Ia juga ingin melanjutnya tradisi Sekatenan yang merupakan pembacaan syahadat secara masal pada masa Kerajaan Demak.
[Foto http://mistikmuzik.com/]
Perayaan festival tahun ini semakin semarak karena Konya dipilih sebagai The Islamic Tourism Capital for 2016 oleh Organization of the Islamic Conference (OKI). Dengan giat pemerintah Provinsi Konya merestorasi situs-situs sisa Kerajaan Saljuk (1077-1308) dan membangun gedung besar Pusat Kebudayaan Islam di atas tanah sekita 10 ribu meter persegi, bersebelahan dengan Pusat Kebudayan Rumi. Ke depan kota Konya akan menjadi pusat peradaban Islam di Turki dan dunia. 

Pementasan Wayang Sadat menjadi delegasi ketiga dari Indonesia sejak festival ini pertama kali digagas tahun 2004 setelah Gamelan Semara Ratih (2010) dan Tari Saman (2014, Baca: Seni Budaya Nusantara di Konya). Semoga ke depan Indonesia-Turki semakin aktif bergerak termasuk lewat jalur kesenian mereka (red.ts) 

Seni Budaya Nusantara di Konya

10:11:00 Add Comment

Rumi melengkapi mistisisme September

[Tari Saman. Foto +Bernando J. Sujibto]
Ketika September menyapa, bulan yang menandai musim gugur—saat di mana daun-daun beranjak menguning dan pasrah disangkut angin—, Konya bersiap menyambut momentum kehadiran: kelahiran sufi besar, Mevlana Jalaluddin Rumi. September adalah saat di mana Rumi seperti dilahirkan kembali, disapa ribuan manusia dari semua bangsa dan dirayakan dengan kehidmatan-kehidmatan ritual dan doa-doa.

Bulan September yang dimitoskan oleh banyak peradaban (seperti perayaan Pabon oleh bangsa Pagan untuk berterima kasih kepada sinar matahari karena sebentar lagi gelap akan datang (impending dark), bangsa Aborigin menjadikan September sebagai momentum meramal astronomi, atau prosesi ritual bagi bangsa Yunani kuno karena dewi Persephone akan kembali ke suaminya Hades, di dunia durjana) terasa semakin mistis dengan kehadiran Rumi. Ia melengkapi mistisisme September!

Namun, tak lama setelah perayaan demi perayaan untuk hari kelahirannya, bulan Desember di awal musim dingin, Rumi kembali dihantarkan menuju singgasana Ilahi. Sebuah malam pengantin di mana ia dijemput oleh Allah.

Durasi tiga bulan dari September ke Desember telah menjadi semacam ritual tahunan khusus bagi pemerintah Konya, Turki untuk—dengan usaha sebaik-baik mereka—merayakan keseluruhan tentang Rumi. Dari 22-30 September misalnya telah dihelat sebuah Festival Musik Mistik Internasional (Uluslararası Mistik Müzik Festivali) ke-11, sebuah festival yang dirancang untuk merayakan momentum Shab-i Aruz (wedding night with God/malam pengantin bersama Tuhan) yaitu hari meninggalnya Jalaluddin Rumi di Konya. Acara Shab-i Aruz memang masih tanggal 17 Desember. Tetapi karena tergolong dekat secara penanggalan serangkaian acara dimulai sejak memperingati hari kelahiran Rumi, 30 September.

Terhitung sejak 22 September sampai 17 Desember ke depan, di Konya, kota yang matang oleh mistisisme itu, akan mudah ditemukan kegiatan-kegiatan yang secara spesifik terkait dengan keseluruhan guru mistis dan sufisme termasyhur di jagat raya itu. Dimulai dengan pementasan musik-musik mistik dari berbagai negara (tahun ini akan diwakili oleh Indonesia dengan Seni Budaya Nusantara, Spanyol, Tajikistan, Iran, Mayotte, Bolivia, India, Pakistan dan Turki), seminar dan konferensi, hingga karnival mehter (drumband khas Ottoman) yang ikut merayakan, tepat di hari Shab-i Aruz.

Tahun ini Indonesia mendapatkan kehormatan untuk mementaskan Musik dan Tari Dzikir dan Tari Saman, tari perang asal Aceh, di publik internasional. Ini akan menjadi delegasi kedua dari Indonesia sejak festival ini pertama kali digagas tahun 2004 setelah Gamelan Semara Ratih yang diundang pada acara Konya Mystic Music Festival ke-7 tahun 2010. Delegasi Tari Saman sudah tamppil pada tanggal 29 September di Pusat Kebudayaan Rumi (Mevlana Kültür Merkezi), sebuah gedung artistik di tanah seluas 100.000 m² yang dibangun sebagai prasasti untuk nama besar Rumi. Ini akan menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk meluaskan jaringan promosi kebudayaan di ajang prestisius dan sekaligus akan membuka kerjasama diplomasi budaya lebih lanjut yang akan saling menguntungkan bagi kedua negara ataupun negara-negara lain yang terlibat dalam festival.

Usia 807 Tahun
[Green Dome, Ikon Makam Rumi. Foto +Turkish Spirit
Jalaluddin Rumi (lahir di Balkh, Afghanistan, 30 September 1207 dan meninggal di Konya, 17 December 1273) seperti tidak pernah pergi dari kita. Meskipun jasadnya sudah berkalang tanah dengan damai di kabupaten Karatay, Konya dengan salah satu simbol yang terkenal yaitu yeşil türbe (green tomb), namanya selalu disebut-sebut dan akrab dalam setiap obrolan masyarakat; puisi-puisinya ditulis dan dihadirkan di banyak sudut kota; alunan nay yang mengiris dan mistis (alat musik serunai jenis klarinet asal Persia) akan mengetuk-ketuk sejak di terminal; dan simbol dirinya (yang terkenal dengan whirling dervish) terpancang berderet-deret di tengah kota Konya. Jika Anda datang ke Konya, dipastikan bahwa Rumi akan menjadi sosok pertama yang menyapa dengan irama syahdu.

Dalam beberapa kesempatan, saya secara pribadi memastikan ihwal seberapa besar dan berartinya sosok Rumi di hati masyarakat Konya. Saya melontarkan pertanyaan kenapa Konya menjadi kota yang tentram, masyarakatnya lebih religius, sulit mendapati anak-anak muda minum bir di jalanan (tidak seperti di kota-kota lain di Turki). Jawaban mereka semua merujuk kepada keberadaan Mevlana, sebutan agung untuk tokoh yang sangat dihormati dan diikuti. “Karena menghormati Mevlana,” ujar mereka dengan penuh yakin.

Konya menyimpan jejak sejarah gemilang abad pertengahan sebagai pusat pemerintahan Kesultanan Saljuk (1097-1243), sebelum Ottoman Empire lahir. Kota yang pernah menjadi salah satu pusat peradaban Neolithic (sekitar 2,000 SM) dibuktikan dengan penemuan tempat tinggal mereka yang terbenam dı bawah tanah di daerah Çatalhöyük (kemudian masuk warisan UNESCO tahun 2012) tidak bisa dilepaskan dari nama ulama-ulama besar dan masyhur seperti Shams Tabrizi, Sadreddin Konevi, Nasreddin Hoca ataupun Ibnu Arabi yang pernah datang ke Konya atas undangan Sultan Seljuk tahun 1207. Di samping itu, ayah Rumi sendiri yaitu Bahaeddin Veled, yang diberi gelar sultan al-ulama oleh Kerajaan Seljuk, melengkapi sejarah agung orang-orang besar di sekitar Rumi.
[Acara Tari Sema di Konya. Foto +Bernando J. Sujibto]
Jauh waktu sebelumnya, Fariduddin Attar pernah berpesan kepada kepada Bahauddin Walad ketika berjumpa di Nishapur dalam perjalanan pulang haji yang melintasi rute Baghdad, Damaskus, Malatya, Erzincan. Waktu itu keluarga Rumi memilih meninggalkan tanah kelahirannya di Balkh karena tengah diserang bangsa Mongol, dan akhirnya tiba di Konya. Attar berpesan “umarım yakın bir gelecekte oğlunuz alem halkının gönlüne ateş verecek ve onları yakacaktır” atau dalam terjemahan Prof. Reynold A. Nicholson, penekun Rumi, ahli bahasa Persia dan Professor Arab di Cambridge University: “… very soon you will see that this child will set fire onto the heart of the lovers in this world”. Prediksi seorang sufi besar itu pun terbukti: Rumi telah menyalakan cahaya ke hati setiap manusia.

Saat berjumpa Attar, Rumi masih seorang bocah berumur sekitar 7 tahun. Tapi Attar—seorang ulama sufi besar Persia dan sekaligus penyair yang berpengaruh dalam kesusastraan Persia termasuk pada diri Rumi—paham tentang seorang bocah yang kala itu menjadi tamu bersama keluarga besarnya. Attar lalu memberi hadiah buku Asrar namah-i (Kitab Rahsia Ketuhanan) kepada Rumi kecil.

Hari ini Rumi seperti terus mengajak anak manusia untuk mencicipi selaksa cinta dan perdamaian; merasakan kesejatian arti manusia di depan Sang Khalik. Semua manusia dari belahan dunia mana pun diundang dalam perjamuan penuh cinta, seperti yang disampaikan sang Mevlana sendiri: “come, come, whoever you are. Wonderer, worshipper, lover of leaving. It doesn’t matter. Ours is not a caravan of despair. Come, even if you have broken your vow a thousand times. Come, yet again, come, come.”
[Tulisan Versi Cetak. Foto Harian  +Kedaulatan Rakyat]
Petikan demi petikan saz, alunan nay yang mengiris-iris dan puisi-puisi cinta dan kebijaksanaan dari Rumi terus terpancar ke semua penjuru dunia. Ajaran universalisme Rumi yang menyapih sekat dan batas-batas agama, suku bangsa dan ideologi telah menasbihkan dirinya menjadi milik semua bangsa, seperti dalam potongan puisinya dalam masterpiece-nya Mastnawi: “I do not distinguish between the relative and the stranger.

Sebagai salah satu bukti betapa Rumi dicintai oleh semua orang, salah satunya bisa dibaca rilis Majalah Time (Edisi 29 Oktober 2002). Majalah ini merilis tentang penyair tersukses dari aspek penjualan buku/karyanya “…. a Muslim mystic born in Central Asia almost eight centuries ago, he is no longer available for comment”. Time lalu menyebut Rumi sebagai “the most popular poet in America.”

Itulah Rumi, sosok yang akan terus hidup sepanjang masa di tengah-tengah para pencari jatidiri, cinta kasih dan kemanusiaan. Jalan yang ditempuhnya dalam lorong sufisme—kearifan dan kedamaian yang diagungkannya—telah menebar ke semua perjuru dunia, termasuk Indonesia.

Versi cetatk esai ini dimuat di koran Kedaulatan Rakyat, 12 Oktober 2014


Bernando J. Sujibto
Penulis dan Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi di Selcuk University, Konya Turki. Sedang merampungkan riset tesis tentang karya Orhan Pamuk. Follow Twitter @_bje.

Kontroversi Taman Bermain di Anıtkabir

11:20:00 Add Comment

Anıtkabir adalah tempat memorial, lokasi penghormatan

[Penampakan Taman Bermain di Anıtkabir. Foto @tanerbeyabi]
Kawasan makam Mustafa Kemal Ataturk atau dikenal Anıtkabir adalah salah satu area khusus dan sekaligus “disakralkan” di bawah Republik Turki yang sekuler. Bangunan ini termasuk proyek penting yang pernah dibangun negara. Bentuk bangunan imitasi kejayaan arsitektur gaya akropolis Yunani kuno yang jadi ikon Eropa, penjagaan ekstra khusus, simbol-simbol kepahlawanan seperti singa di sepanjang jalan dan ritual penghormatan besar adalah imej yang dibangun di balik kawasan ini, sebagai bentuk ideologisasi khas Turki.
[Massa Demonstrasi Menolak Taman Bermain. Foto @onursaladiguze
Baru-baru ini, terjadi tensi antara kelompok republikan yang diwakili orang-orang sekuler di bawah naungan partai Partai Rakyat Demokratik (CHP) dengan pemerintah daerah Ankara. Pasalnya, tak jauh dari makam Mustafa Kemal dibangun sebuah taman untuk anak-anak bermain. Terjadi penolakan keras dari kelompok sekuler khususnya. Mereka menuduh pemerintah Ankara sudah melecehkan tempat pahlawan yang disakralkan. Mereka menyebutnya proyek tersebut sebagai taman asal-asalan (ucube park).

Pada 24 September 2016 kemarin, ada sekelompok massa demonstrasi dan merusak fasilitas dengan mencabut alat-alat permaian tersebut. Mereka berdalih bahwa tempat itu bukan area sembarangan dengan memasang begitu saja alat-alat permainan dari plastik.
[Kerumunan Massa Menolak Taman Bermain. Foto @onursaladiguze
"Anıtkabir adalah tempat memorial, lokasi penghormatan," komentar ketua Kamar Arsitek (Mimarlar Odası) cabang Ankara, Tezcan Karakuş Candan.

Sementra itu, suara yang mendukung di balik taman ini berdalih karena Mustafa Kemal mencintai anak-anak dan ingin membuat anak-anak betah berada di area Anıtkabir. Dalam perkembangannya, Walikota Ankara Melih Gökçek mengecam mereka yang telah merusak fasilitas publik tersebut dengan mengajukan proses hukum melawan mereka.

Diadaptasi dari berbagai sumber 

5 Barang Wajib Masuk Koper Ketika Merantau ke Turki

01:19:00 Add Comment

Wajib kamu bawa sebagai obat rindu lidah Indonesia

[Sambal Teri Lado. Foto  http://www.diahdidi.com/]
Banyak kebutuhan kita yang kadang cukup sulit ditemukan di tempat baru, misalnya bagi kita warga Indonesia yang sedang merantau ke Turki. Dengan hak 30 kg untuk penumpang kelas ekonomi penerbangan Indonesia-Turki kamu harus pandai-pandai memilih barang mana saja yang akan dibawa. Khusus buat kamu calon pelajar yang akan tinggal di asrama, TS kasih bocoran barang apa aja yang harus masuk koper dan jadi “harta karun” kamu selama belajar di Turki.

Dokumen

Passport dan visa/ikamet jangan sampai ketinggalan. Wajib hukumnya membawa seluruh dokumen yang kamu perlukan untuk hidup selama di sini, terutama yang akan mendaftar kampus dan asrama. Buatlah daftar dokumen yang menjadi persyaratan kemudian masukan dalam satu map dan simpan di koper atau tas kabinmu. Jangan lupa salinannya!

Pakaian

Turki adalah negara empat musim yang juga berarti kamu akan memiliki 4 jenis persediaan pakaian. Bawalah pakaian dari Indonesia secukupnya yang mungkin bisa kamu pakai di segala jenis musim nantinya. Selebihnya kalian bisa belanja pakaian di Turki yang pastinya model, jenis dan bahannya sesuai dengan musim yang ada. Lagi pula setiap musim selalu ada toko pakaian yang memberikan diskon. Jadi, jangan khawatir engga punya baju di Turki.

Obat-obatan Pribadi

Meskipun kita memiliki asuransi kesehatan tapi menjaga diri untuk selalu sehat adalah penting. Jika terjadi tanda tidak enak badan kita bisa menanggulangi dengan meminum obat atau vitamin yang biasa kita konsumsi sebelum pergi ke dokter. Jadi bawalah obat-obatan yang biasa kamu konsumsi di Indonesia sebagai pertolongan pertama karena banyak juga obat yang diberikan di Turki kurang cocok ketika kita konsumsi. Denger-denger beberapa dosis obat juga lebih berat ketimbang dosis yang ada di Indonesia. Tetep harus jaga kesehatan ya!

Cemilan atau Makanan Kering ala Indonesia

Yang ini hukumnya wajib kamu bawa sebagai obat rindu lidah Indonesiamu. Makanan Turki yang dirasa sangat hambar bagi lidah Indonesia seringkali bikin makan tidak berselera. Kamu bisa bawa abon, kering kentang, kerupuk ikan atau makanan kering lainnya yang bisa bertahan lama. Selain itu, khusus buat pecinta manis dan pedas, jangan lupa bawa kecap manis dan juga saos sambal karena di Turki hanya tersedia saos tomat (kalaupun ada yang tulisannya “pedas” itu hanya pedasnya lidah Turki yang enggak ada rasa pedasnya sama sekali di lidah Indonesia). Karena bau terasi sangat menggangu dan kamu tidak diperbolehkan masak di asrama, jangan lupa juga bawa sambal terasi siap saji. Selain itu perkirakan sendiri jenis makanan atau bumbu siap saji apa yang jadi seleramu dan yang tahan lama ya! 

Kosmetik atau Alat Mandi 

Buat yang mau sekolah di Turki selama bertahun-tahun cobalah untuk membiasakan diri dengan brand yang ada di Turki. Awal kedatangan kamu bisa bawa kosmetik atau perlengkapan mandi yang cukup digunakan selama dua minggu sampai satu bulan. Sambil jalan-jalan ke supermarket kamu juga bisa mencoba beberapa produk Turki yang mungkin berbeda dengan brand yang biasa kamu pakai di Indonesia (meskipun ada juga beberapa brand yang sama) dan menemukan produk yang cocok kamu gunakan. Jadi enggak repot lagi harus bawa banyak sabun atau shampoo dari rumah.


Roida Hasna Afrilita
Tim redaksi Turkish Spirit, mahasiswi Jurusan Ilmu Pendidikan Bahasa Turki di Canakkale Onsekiz Mart Univeristesi. Pelajar Indonesia asal Magelang Jawa Tengah, memiliki minat pada konsep dan menejemen pendidikan. Instagram @roidanana.

Siapa yang Lebih Besar, Hoca?

23:57:00 Add Comment

"Kalkun ini berpikir seperti manusia."

[Salah Satu Peziarah ke Makam Nasruddin Hoca Berfoto di Patung Hoca. Foto +Turkish Spirit]


Kisah 1
Siapa yang Lebih Besar

Sekelompok orang bertanya kepada Nasruddin Hoca. "Hoca, yang besar apakah Sultan atau petani?"

"Tentu saja petani," jawab Hoca, lalu menambahkan, "Karena petani menanam gandum. Jika tidak disediakan gandum Sultan akan mati kelaparan."



Kisah II
Berpikir seperti Manusia

Ketika jalan-jalan ke pasar, Nasruddin Hoca terkejut saat melihat burung beo dijual dengan harga tertulis dua belas emas. Nasruddin Hoca lalu bertanya kepada orang-orang yang ada di sekitarnya:

"Mengapa burung ini begitu mahal?"
"Ini burung beo," jawab mereka, "Bisa bicara."

Hoca lalu pergi ke rumahnya dan mengambil kalkun yang ada di bawah kursinya. Lalu kalkun itu dibawa ke pasar.

"Berapa harga kalkun ini?" tanya mereka di pasar.
"Lima belas emas," jawab Hoca.
"Satu kalkun lima belas emas?" tanya mereka terkejut.
"Apa kalian tidak melihat!" timpal Nasruddin Hoca, "Burung beo sebesar kepalan tangan itu mereka hargai dua belas emas."
"Dia memiliki kelebihan, berbicara seperti manusia," respon mereka. "Terus punya Hoca bisa apa?"
"Dia berbicara tanpa berpikir," jawab Hoca, "Kalkun ini berpikir seperti manusia."



Kisah III
Hoca dan Pencuri

Suatu hari seorang pencuri mencuri karung Nasruddin Hoca. Hoca tidak berusaha mencari karungnya tapi malah pergi ke pemakaman dan mulai menunggu. Orang-orang dekat yang melihatnya bertanya-tanya:

"Hoca tidak mengejar pencuri tapi apa yang Hoca lakukan di kuburan?"
"Apa gunanya aku susah-susah mencari pencuri. Sehebat apapun seorang pencuri pada akhirnya dia juga akan datang ke kuburan," jawab Hoca.

Diterjemahkan dari Bahasa Turki oleh Redaksi TS

Selayang Pandang Konya

23:18:00 Add Comment

Konya juga merupakan bursa perdagangan pertama di Anatolia dan menjadi salah satu yang terbesar di Turki

[Area Museum dan Makam Rumi. Foto +Turkish Spirit]
Konya merupakan salah satu pusat industri di Turki. Konya mempunyai pabrik gula paling besar di Bumi Al-Fatih ini dan paling modern di dunia. Konya juga memiliki pabrik aluminium terbaik di Turki dan merupakan peringkat ketiga dunia. Industri di kota ini berpusat di daerah yang disebut ‘Organize Sanayi’. Di tempat ini terdapat pabrik besar maupun kecil. Karpet yang dijual sampai ke Aceh merupakan salah satu barang industri yang paling terkenal dari kota ini.

Konya juga merupakan bursa perdagangan pertama di Anatolia dan menjadi salah satu yang terbesar di Turki.

Sekitar 50 kilometer dari pusat kota terdapat sebuah tempat yang dulunya ada perkampungan kuno di sana. Tempat ini bernama Catalhoyuk, merupakan perkampungan kuno yang ada sejak zaman neolitik dan kalkolitik. Perkampungan ini dipekirakan berdiri antara tahun 7500 SM-5700 SM. Pada tahun 2012 UNESCO menetapkan perkampungan Catalhoyuk sebagai salah satu warisan dunia. Tempat ini pertama kali diteliti oleh James Melliaart pada tahun 1958. Sampai sekarang proses penggalian dan penelitian untuk mendapatkan sisa-sisa peninggalan dari perkampungan ini terus dilanjutkan, terutama oleh universitas-universitas baik dalam maupun luar negeri.

Yang tak kalah menarik dari kota ini adalah kehadiran taman Jepang. Taman ini berdiri pada tahun 2010 atas kerja sama antara pemerintah kota ini dengan Pemerintah Perfecture Kyoto dari Jepang. Taman ini dibuat sedemikian rupa agar terlihat kesan Jepangnya. Arsitektur bangunan maupun kolam di tempat ini membuat taman ini begitu kental dengan kebudayaan Jepang. Tempat ini sangat cocok sebagai tempat piknik, terutama piknik bareng keluarga maupun teman-teman.

Selain tokof sufi besar Maulana Jalaluddin Al-Rumi, ada lagi tokoh yang terkenal di Turki yang dimakamkan di kota ini. Jika di Timur Tengah ada kisah tentang Abu Nawas yang cerdik, maka di Turki juga ada Nasruddin Hoja. Beliau juga seseorang yang cerdik dan dalam setiap kisahnya yang lucu terdapat pesan-pesan moral yang disampaikan. Beliau dimakamkan di daerah Aksehir, sebuah daerah yang berjarak 1,5 jam dari pusat kota Konya. Beliau adalah salah satu tokoh yang tekenal di Turki. Hampir semua orang Turki tahu kisah-kisah beliau.

Berbatasan langsung dengan pusat pemerintahan di Ankara, membuat Konya menjadi salah satu kota terpenting di Turki. Oleh sebab itu, diperlukan sarana transportasi yang mumpuni bagi kota dengan penduduk lebih dari 1 juta jiwa ini.

Pemerintah Turki berhasil mewujudkannya dengan dibangunnya stasiun dan didatangkan kereta api cepat yang membuat jarak Ankara-Konya yang dulunya ditempuh dalam waktu 3-4 jam, kini cukup 1,5-2 jam saja. Itu pun dengan harga yang terjangkau dan ditambah dengan diskon yang diberikan kepada mahasiswa.

Berkepala dua

Di kota para sufi ini kita bisa saksikan sisa-sisa peninggalan sejarah Islam, terutama peninggalan dari Kesultanan Seljuk. Ini dapat dibuktikan dengan begitu banyaknya masjid-masjid yang mempunyai kubah berbentuk kerucut. Masjid berbentuk kerucut merupakan ciri khas dari masjid-masjid peninggalan Kesultanan Seljuk. Sedangkan masjid di era Kesultanan Utsmani kebanyakan berbentuk bulat. Begitu juga dengan beberapa madrasah kuno yang terdapat di kota ini, yang kebanyakan merupakan peninggalan dari Kesultanan Seljuk. 

Karena Kesultanan Seljuk menjadi ikon kota ini, lambang dari kota ini pun memakai identitas Kesultanan Seljuk, yaitu burung berkepala dua. Begitu pula dengan universitas utama kota ini yang sekaligus tempat saya menimba ilmu sekarang juga memakai nama dari kesultanan yang pernah berkuasa di kota ini.

Konya terkenal dengan julukan kota paling religius di Turki. Begitu pula dengan tanah kelahiran saya, Aceh yang merupakan kota paling religius di Indonesia. Ada harapan dalam diri saya bahwa suatu saat Aceh dan Konya bisa menjadi sister city dan saling berbagi dalam hal pengembangan budaya, terutama yang berlandaskan Islam. Untuk mewujudkan itu semua, maka perlu kiranya kerja sama antarpemerintah provinsi ini mulai digalakkan. Hal itu akan sangat terbantu dengan kehadiran pemuda-pemudi Aceh yang kini menimba ilmu, seperti saya, di kota sufi ini. 

Tulisan ini sebelumnya dimuat di Serambi Indonesia, Aceh


Teuku Ghalib Muadzan
Mahasiswa asal Aceh dan mengambil studi S1 Administrasi Bisnis di Selçuk University, Konya. Kiper Nasional Indonesia di Konya dan hobi travelling.

Hutang Luar Negeri Turki

12:19:00 2 Comments

Data terbaru hutang luar negeri Turki berikut ini sudah menjadi berita di semua media-media besar di Turki dan sekaligus dirilis oleh lembaga resmi negara

[Sumber Foto +Milliyet]
Karena ada banyak kabar simpang siur tentang hutang luar negeri Turki, redaksi Turkish Spirit coba mencari bukti tentang hutang luar negeri mereka. Di Turki sendiri, pelunasan hutang kepada IMF masih kontroversi. Ada banyak media oposisi melihat bahwa pemerintah menyembunyikan data hutang yang sebenarnya.

Data terbaru hutang luar negeri Turki berikut ini sudah menjadi berita di semua media-media besar di Turki dan sekaligus dirilis oleh lembaga resmi negara. 

Pemerintah Turki melalui Wakil Menteri Keuangaan mengumumkan total utang luar negeri yang dimiliki Republik Turki. Wakil Menterİ Keuangan Turki pada akhir Maret lalu, seperti dilaporkan oleh media Milliyet.commengumumkan data utang luar negeri bruto dan neto dan pinjaman luar negeri dengan jaminan kas negara.

Dalam kuartal pertama tahun 2016 ini utang luar negeri bruto Turki menjadi 411,5 miliar USD dan setara dengan 58,1 % dari rasio Produk Domestik Bruto rakyat Turki (PDB adalah salah satu metode untuk menghitung pendapatan nasional melalui nilai keseluruhan barang dan jasa yang diproduksi oleh suatu negara pada periode tertentu).

Dalam periode yang sama utang luar negeri neto Turki sebesar 257,2 miliar USD dan setara dengan 36,3 % dari rasio PDB. Selain itu, utang luar negeri dengan jaminan kas negara berjumlah 11,7 miliar USD.

Hutang luar negeri Turki yang tak kunjung terbayarkan tersebut menjadi bahan kritik media-media oposisi, karena dalam banyak kesempatan Erdoğan dan pemerintahannya selalu mempromosikan pembayaran hutang Turki. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa Erdoğan dan pemerintahannya telah berhasil memajukan perekonomian Turki dalam 10 tahun terakhir (Baca: Belajar Redenominasi dari Turki).

Dalam salah satu pertemuan pada bulan April 2013, Erdoğan saat masih menjabat Perdana Menteri Turki mengatakan “Ketika pertama kali kami duduk menjadi penguasa Turki, hutang Turki ke IMF berjumlah 23,5 miliar US dolar. Telah kami bayar berangsur-angsur dan sekarang kita memiliki hutang sekitar 400 juta US dolar. Dalam hitungan bulan, hutang Turki ke IMF akan kami lunasi total, akan segera berakhir.

Tepat pada 14 Mei 2013, menurut rilis resmi Kantor Kementerian Diplomasi Publik (lihat Başbakanlık Kamu Diplomasisi Koordinatörlüğü) dan silahkan tengok juga link video ini, pemerintah Turki sudah melunasi semua hutang kepada IMF (silahkan baca tautan sumber ini)

Meskipun hutang ke IMF sudah terbayar, seperti versi pemerintah, hutang luar negeri Turki kepada badan keuangan lain dan Bank Internasional tetap ada, dengan jumlah nominal seperti dijelaskan dalam rilis resmi di atas.

Disarikan dari berbagai sumber oleh Tim Redaksi, dibantu Teuku Ghalib Muadzan

Rayakan Kurban Bersama Masyarakat Indonesia di Istanbul

21:15:00 Add Comment

Program berkurban ini bertujuan untuk memaksimalkan misi MII 

[Peserta 'MII Berkurban'. Foto: Dokumentasi Pribadi]
Kemeriahan perayaan hari raya Idul Adha 1437 H masih cukup terasa di Kota Istanbul, Turki. Meskipun libur lebaran sudah berakhir dua hari yang lalu, namun suasananya masih sangat terasa. Dan inilah yang bisa dijumpai dalam acara perayaan Idul Adha yang diselenggarakan oleh Masyarakat Indonesia di Istanbul (MII) pada Sabtu, 17 Sepetmber 2016.

Berlokasi di Ayvansaray Cemil Meriç Gorme Özürlüler Parkı Eyup, kegiatan yang dimulai sejak jam 11 siang waktu Istanbul, terlihat sangat meriah. Antusiasme warga negara Indonesia (WNI) yang berdomisili di Istanbul dan juga para pelajar yang ikut menghadiri acara juga turut menjadi pemandangan yang sangat mencolok di taman yang memang biasa digunakan untuk lokasi piknik di musim panas dan musim semi tersebut.

Kegiatan kurban ini merupakan salah satu agenda MII. Ulin Nuha yang juga merupakan ketua pelaksana menuturkan hal tersebut sebelum acara dimulai. “Tema acara ini adalah ‘MII Berkurban’. Ini adalah kegiatan pembuka dari Gugus Aksi Kepedulian yang ada di MII. Karena sejauh ini belum pernah dilakukan kegiatan berkurban seperti ini di Istanbul,” ujarnya. 

Di samping itu, Fardal Dalle, ketua MII menuturkan bahwa kesuksesan program ini adalah berkat partisipasi dari semua WNI dan para pelajar. Juga beberapa donatur yang sudah bersedia membantu kelancaran acara, termasuk sumbangan daging kurban. Ia menyampaikan bahwa program MII berkurban ini bertujuan untuk memaksimalkan misi MII. “Adapun misi MII adalah menyatukan seluruh masyarakat Indonesia yang ada di Istanbul dan juga menebar manfaat bagi orang lain,” tegasnya.
[Pengurus MII bersama Bapak Konjen RI di Istanbul, dan Panitia. Foto: Dokumentasi Pribadi]
Kegiatan berakhir pada jam dua siang. Sajian makanan khas Indonesia menambah suasana semakin seru. Ditambah lagi dengan adanya bazar makanan dan door prize yang disedikan oleh panitia. Pada acara ini juga turut hadir bapak Hari Sudrajat selaku Konjen (konsulat jenderal) RI di Istanbul. 


Didit Haryadi
Pimpinan Redaksi Turkish Spirit. Mahasiswa master program Sosiologi di Istanbul University. Person In Charge untuk Indonesia Turkey Research Community (ITRC) di Istanbul.

Mengenal Tradisi Idul Adha Era Usmani

13:18:00 Add Comment

Setelah shalat ied, pasti ada tradisi ziarah kubur

[Acara Pemotongan Hewan Kurban. Foto http://blog.tesbihane.com/]
Perayaan Idul Adha baru saja selesai. Setiap negara tentunya memiliki tradisi yang berangkat dari sejarah nenek moyangnya. Turki, sebagai salah satu negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, menyimpan historis ihwal Idul Adha (Kurban Bayram) yang telah dimulai sejak zaman Kekhilafan Usmani (Ottoman). Berikut ini tim redaksi Turkish Spirit telah merangkum sejarah Hari Raya Idul Adha yang dimaksud.

Idul Adha pada zaman Usmani dimulai ketika pada malam di hari pertama dan berakhir ketika matahari berada pada puncaknya di hari kedua. Salah satu cirikhas yang bisa dijumpai pada persiapan tersebut adalah Sultan memimpin langsung menyambut perayaan Idul Adha. Lengkap dengan pakaian khusus yang disediakan oleh para prajurit dan pihak istana.

Adapun jumlah hewan kurban yang akan diberikan oleh Padişah (Sultan) sebanyak 9 ekor. Dua ekor dari jumlah hewan yang disediakan akan dikurbankan di Topkapı Sarayı (Istana Topkapi) pada malam harinya yang selanjutnya akan dibagikan khusus ke Medrese (madrasah, tempat khusus untuk belajar agama di zaman Usmani). Sedangkan 7 ekor lainnya akan dikurbankan pada hari pertama perayaan Idul Adha yang diselenggarakan tepat di depan halaman Istana Topkapi yang disaksikan langsung oleh masyarakat.

Wilayah Anadolu (Anatolia) dan Rumeli adalah tempat yang dipilih untuk mengembangbiakkan ternak. Diketahui, di sekitar daerah yang bernama Dersaadet, ada ternak hewan dalam jumlah yang sangat banyak. Misalnya, pada tahun 1791, berjumlah 60 ribu ternak. Dalam beberapa periode jumlahnya mengalami perubahan, tahun 1820 berjumlah 179 ribu, tahun 1823 sebanyak 105 ribu, tahun 1825 sebanyak 75 ribu, tahun 1827 sebanyak 97.700 ekor. Adapun hewan yang diternak terebut adalah koyun (domba).

Pendistribusian Hadiah ke Masjid-Masjid
[Pendistribusian Daging Kurban. Foto http://blog.tesbihane.com/]
Sebelum perhelatan Hari Raya Kurban biasanya ada pemberian hadiah kepada beberapa masjid. Beberapa hadiah yang dimaksud adalah bonus di luar gaji, yang secara khusus diberikan kepada para memur (setingkat pegawai negeri/pamong) yang berlokasi dan bertugas di Ayasofya (Hagia Sophia), Sultanahmet, Fatih Camii (Masjid Fatih) dan Suleymaniye Camii (Masjid Suleymaniye) sebagai dua masjid terbesar. Untuk para ulama yang berada di lokasi-lokasi tersebut, hadiah yang diberikan adalah berupa kürk (kulit hewan yang telah dikurbankan) dan juga makanan untuk berbuka puasa.

Sedangkan bagi para asker (prajurit) diberikan daging biri-biri (kuzu eti), salad (salad), makanan yang manis atau gula-gula (şeker, helva). Di sisi lainnya, bagi para penghuni penjara (mahkum) mendapatkan remisi atau pengampunan sebanyak dua pertiga (üçte ikisini) dari masa tahanannya.

Selain mendapatkan hadiah yang disebutkan di atas, para polisi (Zaptiye) juga diberikan fez (kopiah) dan disertai dengan perlengkapan lainnya. Atau sebuah keistimewaan lainnya adalah gaji mereka dibayarkan pada saat itu. Pada hari pertama Kurban Bayram,  para penghuni penjara juga diberikan gula-gula sebagai pelengkap perayaan hari rayanya.

Shalat Idul Adha

[Acara Shalat Ied. Foto http://blog.tesbihane.com/]
Pada malam hari raya Idul Adha, di jalanan terlihat beberapa pria dan juga para penjaga bermain gendang hingga pagi hari. Adapun permainan tersebut disertai dengan teriakan: 
Bu sabahın yazına (Tandailah pagi ini)
Kalkın Hakk’ın niyazına (Orang-orang memohon dan berdoa)
Abdest alın ey komşular! (Berwudhulah wahai saudara-saudara!)
Bayram, sabah namazına (Untuk shalat subuh, ini Hari Raya)" 

Bersamaan dengan panggilan untuk shalat Hari Raya, masyarakat menuju masjid terdekat dan juga membawa anak-anak mereka. Khusus untuk para pekerja, mereka mengenakan pakaian yang disesuaikan dengan tugas dan perannya masing-masing dan langsung di bawah perintah Sultan menuju ke lapangan. 

Sebagai informasi, perayaan Idul Adha dilaksanakan di Istana Topkapi dimulai pada tahun 1867 sampai dengan pertengahan abad ke-19. Dan juga di bagian tengah Istana Dolambahçe, tepatnya di aula singgasana (Büyük Muayede Salonu). 

Selama masa pemerintahan Sultan Abdul Hamid II, dua kali perayaan Idul Adha dilaksanakan di Yıldız Sarayı. Sultan memilih sendiri masjid yang akan digunakan sebagai tempat shalat. Dalam sejarah yang tertulis, ia lebih suka memilih Hagia Sophia dan Masjid Sultanahmet sebagai lokasi shalat ied. Pagi di hari pertama, Sultan mengenakan pakaian khusus di istana, yang disebut Hırka-i Saadet. Setelah shalat ied, pasti ada tradisi ziarah kubur. Kegiatan ini dilakukan untuk menghindari sekularisasi dan paham keduniaan yang makin menjauhkan dari nilai spiritualitas. 

Peringatan Hari Raya 

Sehari sebelum digelarnya Hari Raya Idul Adha, Sultan memberikan informasi kepada masyarakat untuk membersihkan lingkungan tempat tinggal mereka. Himbauan ini juga sekaligus mengajak para tetangga dan kerabat yang ada di sekitar rumah untuk saling membantu. 

Di samping itu, Sultan mengabarkan bahwa di istananya akan dilakukan kegiatan yang sama. Pesan yang ingin disampaikan dalam kegiatan tersebut adalah cara untuk membangun moral dengan berperilaku yang baik kepada orang lain. Juga mengajarkan kepada para pekerja untuk mampu melakukan hal yang sama dengan maksimal. Secara singkat, kegiatan membersihkan tersebut bermakna sangat mendalam dan menyeluruh untuk kehidupan bermasyarakat.


Penyembelihan Hewan Kurban

[Acara Pemotongan Hewan Kurban. Foto http://blog.tesbihane.com/]
Pada zaman Usmani, hewan yang akan dikurbankan biasanya telah diambil satu tahun sebelumnya. Setelah itu, hewan tersebut dipelihara dan dirawat dengan baik, termasuk pemberian makan yang teratur.

Pada saat sekarang, kita bisa menyaksikan cara pemotongan hewan kurban yang sangat berbeda di era Usmani. Saat itu, penyiksaan terhadap hewan kurban merupakan tindakan kriminal. Dan mereka sangat berhati-hati, misalnya memastikan tidak adanya organ-organ yang rusak dari hewan tersebut. 

Secara umum, pada zaman sekarang hewan kurban yang paling disukai adalah sapi. Namun, pada zaman Usmani, domba dan kambing adalah hewan yang sangat disukai dan dipilih oleh Sultan untuk dijadikan kurban. Salah satu alasannya adalah karena pada pemeliharaan domba dan kambing cukup mudah. Alasan lainnya adalah karena harga daging sapi yang terbilang cukup mahal pada saat itu.


Pesta Bunga

[Acara Anak-Anak di Hari Raya Idul Adha. Foto http://blog.tesbihane.com/]
Hari Raya Idul Adha pada era Usmani terasa sangat istimewa bagi anak-anak. Mereka bermain di jalanan dengan kemeriahan Pesta Bunga sambil mengenakan pakaian khusus dan menunggu untuk mengambil bungan yang telah tertulis nama mereka masing-masing.

Catatan penting lainnya perihal perayaan Idul Adha pada zaman Usmani adalah daging kurban dibagikan atau didistribusikan kepada orang-orang yang berhak menerimanya. Adapun saat itu, pembagiannya menjadi tiga. Pertama adalah anggota keluarga, kedua kepada kerabat, dan ketiga diberikan kepada orang-orang miskin.

Daging kurban yang baru disembelih tidak diperbolehkan langsung dimasak dan dimakan. Dagingnya dibiarkan dan diisterhatkan dulu agar darahnya keluar semua.

Disamping itu, untuk menjaga kesehatan juga dilakukan pola konsumsi daging. Di antaranya adalah setiap rumah menyediakan turunç receli (jeruk pahit) untuk diberikan kepada tamu ataupun anggota keluarganya. Hal ini bertujuan agar proses pencernaan setelah mengkonsumsi daging bisa terkendali dan ternetralisir secara normal.

Diterjemahkan oleh Didit Haryadi dari beberbagai sumber

Belajar dari Kejujuran Penumpang Dolmuş

13:32:00 Add Comment

Setiap naik angkot ini, saya terus mengamati sepanjang perjalanan, siapa tahu ada penumpang yang “iseng” tidak bayar. Namun, selama itu pula saya tidak mendapatkannya

[Dolmus, Angkutan Kota di Konya. Foto: Dokumentasi Pribadi Penulis]
Waktu di arloji menunjukkan waktu pukul 5 sore. Matahari masih cukup terik sore itu saat puluhan orang berjubel, berebut kursi kosong yang hanya tersisa 5 buah. Saat jam pulang kantor, Dolmus memang menjadi salah satu sarana transportasi pilihan. Selain karena harganya yang murah, ia mampu menjangkau sudut-sudut kota.

Dolmus adalah sebutan angkutan kota (angkot) di Turki. Di Provinsi Konya, sekitar 600 kilometer dari Istanbul, kerap sekali kita jumpai angkot berwarna hijau ini. Kendaraan minibus ini berkapasitas 10 tempat duduk. Namun bisa dimasuki lebih dari 20 orang. Bentuknya seperti mobil van untuk ambulans. Ukurannya lebih besar dari angkot di Jakarta, Indonesia. Dan juga lebih kecil dari Metromini.

Lalu apa bedanya dan istimewanya Dolmus dibanding dengan transportasi publik lainnya di Konya, seperti Tram ataupun bus?. Sistem pembayarannya. Untuk menaiki tram atau bus, kita harus menggunakan kartu elektronik. Sedangkan Dolmus, sistem pembayarannya masih manual. Kita harus menyerahkan uang recehan rata-rata 2 TL (Turkish Lira, mata uang Turki) untuk satu kali perjalanan.

Jika ingin menggunakan Tram, kita harus menempel kartu prabayar yang terisi saldo di ‘gate’ masuk. Demikian pula halnya ketika akan naik bus, kita juga harus menempelkan kartu pada sebuah mesin yang berada di sebelah pengemudi. Beberapa bus menerapkan aturan yang mewajibkan penumpang naik dari pintu depan, sehingga bisa terlihat apakah penumpang tersebut menempelkan kartunyya atau tidak.

Sistem pembayaran yang masih manual inilah, menurut saya, letak istimewanya Dolmus. Peluang kecurangan, baik dari sisi penumpang maupun pengemudi sangat besar. Untuk naik Dolmus, kita tidak mesti melewati gate di halte layaknya Tram. Pintu masuk Dolmus juga berada di tengah, yang jauh dari jangkauan pandangan sopir. Tidak ada pula kondektur yang meminta ongkos ketika penumpang naik ke atas Dolmus.

Selama hampir dua pekan saya berada di Konya, saya kerap menaiki Dolmus untuk bepergian ke pusat kota. Setiap naik angkot ini, saya terus mengamati sepanjang perjalanan, siapa tahu ada penumpang yang “iseng” tidak bayar. Namun, selama itu pula saya tidak mendapatkannya. Bahkan disaat jam pulang kerja, yang mana waktu tersebut adalah Dolmus sedang disesaki oleh para penumpang.

Mereka yang tidak bisa menjangkau sopir karena penumpang yang berjubel, menitipkan recehan Lira kepada penumpang lainnya. Mereka menyebutkan tujuan, jumlah uang, maupun berapa orang yang ikut bersamanya. Dan penumpang yang berada paling dekat dengan sopir pun dengan senang hati menyampaikan “amanah” dari rekannya sesama penumpang.

Saya juga mendapati beberapa anak kecil yang juga memiliki kesadaran yang sama. Demikian halnya dengan pengungsi Suriah—saya mengidentifikasinya dari bahasa yang digunakan—yang notabene “pengungsi” di negara bekas kekuasaan Ottoman ini. Mereka tak minta dispensasi dengan membayar ongkos lebih murah atau gratisan.

Pikiran saya seketika terbang ke Tanah Air. Kita kerap mencari akal agar tidak mengeluarkan ongkos angkutan umum. Tak jarang, saya menyaksikam sopir dan penumpang angkot berdebat keras karena selisih ongkos yang tidak seberapa. Tak sedikit pula anak-anak sekolah yang rela “membajak” mobil bak terbuka karena tak ingin mengeluarkan ongkos.

Sekitar dua atau tiga tahun lalu, ketika sistem perkeretaapian kita masih belum sebaik sekarang, banyak yang rela “kucing-kucingan” dengan kondektur kereta agar terbebas dari ongkos. Atau bahkan ada yang menaiki atap kereta dengan mempertaruhkan nyawa daripada harus merogoh koceknya.

Memang harus kita akui, kadang kita masih harus “dipaksa” dengan seperangkat sistem untuk bisa jujur. Bahkan, kadangkala sistem dan pengawasan sehebat apa pun masih sering kita akali. Mentalitas. Itulah kata kunci. Jika sejak awal mental kita buruk, tidak jujur, sistem yang hebat pun tidak ada gunanya.

Jangan harap kita bisa “membubarkan” Komisi Pemberatansan Korupsi (KPK). Karena sulit rasanya menghilangkan kasus korupsi di negeri ini. Bagaimana kita bisa melenyapkan pejabat yang koruptif, dengan nilai milyaran atau triliunan rupiah, lah wong kita saja masih sering tidak jujur dengan uang recehan.

“Dan jauhilah oleh kalian berbuat dusta, karena dusta membawa seseorang kepada kejahatan, dan kejahatan mengantarkan seseorang ke Neraka. Dan jika seseorang senantiasa berdusta dan memilih kedustaan makan akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta (pembohong)”.


Amirul Hasan
Saat ini menduduki posisi sebagai Redaktur Pelaksana di Kantor Berita Kemanusiaan (KBK) dan Majalah SwaraCinta. Sebelumnya, ia juga pernah mendirikan media komunitas Kanal Tangsel (2009) dan Kampusku (2012), serta turut menjadi senior editor di majalah Infoz+ (2013). Di ranah sosial, ia pernah menjadi Program Officer di Divisi Advokasi Dompet Dhuafa (2010) dan turut membidani lahirnya Migrant Institute. Sempat juga mengabdi untuk almamater sebagai Communication and Marketing Manager di Social Trust Fund (STF) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (2014-2015).