Diriliş Ertuğrul, Serial Favorit Presiden Erdoğan

11:16:00

Apakah peristiwa pengkhianatan dan kudeta 15 Juli 2016 akan menginspirasi dan menjadi series-a-clef

[Poster Resmi Serial Ririliş Ertuğrul]
Jika di Indonesia serial Turki seperti Elif, Abad Kejayaan atau Cinta di Musim Cherry lebih banyak dikenal dan disukai, di Turki sendiri terdapat sebuah serial yang fenomenal dan banyak disukai yaitu Diriliş Ertuğrul (DE). Sebenarnya serial ini juga sudah ditayangkan di Indonesia dengan judul Kebangkitan Ertugrul di stasiun televisi Trans7, namun sepertinya kurang berhasil memikat penikmat serial Turki di Indonesia.

Serial DE bisa dikatakan fenomenal di Turki karena memang serial tersebut sukses baik dalam rating maupun pengaruh yang cukup kuat bagi masyarakat Turki.  Sejak diputar pertama kali di Turki pada Desember 2014, DE telah berhasil mencuri perhatian masyarakat Turki, bahkan banyak yang membanding-bandingkannya dengan Game of Thrones.

Salah satu bukti fenomenalnya serial DE misalnya dengan dijadikannya soundtrack serial tersebut sebagai salah satu lagu yang dimainkan oleh marching band Istana Kepresidenan Turki saat Presiden Erdoğan menyambut Presiden Azerbayzan, Ilham Aliyev, pada Maret 2016 lalu (tautan videonya di sini). Terakhir, soundtrack serial ini kembali diputar tepat setelah Presiden Erdoğan menyampaikan pidato di depan ratusan ribu orang yang memadati Yenikapı dalam acara Demokrasi ve Şehitler Mitingi (Pertemuan untuk Para Syahid dan Demokrasi) pada 7 Agustus 2016 lalu (tautan videonya di sini).
[Foto +YouTube]
Mungkin saja, dijadikannya soundtrack serial DE sebagai lagu yang mengiringi acara-acara penting kenegaraan adalah karena sang Presiden ikut menyukai serial tersebut. Hal ini didukung dengan fakta kunjungan Presiden Erdoğan ke lokasi syuting pembuatan serial tersebut pada tahun 2015 (bisa dilihat videonya di sini).

Sementara itu untuk mengetahui kesuksesan serial DE merebut hati masyarakat Turki dapat dengan mudah dilihat dari jumlah penonton serial tersebut di Youtube. Serial tersebut sebenarnya tayang di stasiun tv milik pemerintah (TRT1) setiap rabu malam pukul 20.00 s.d 23.30. Pada saat serial ini sedang tayang, suasana jalanan dan lingkungan tempat tinggal di beberapa tempat menjadi agak lengang karena orang-orang sedang asik menonton DE.

Segera setelah episode baru selesai tayang di layar kaca, pihak TRT1 langsung mengunggah episode tersebut ke Youtube. Yang menarik adalah, begitu diunggah di Youtube, episode tersebut menjadi favorit dan selalu tampil di halaman muka youtube (yang dibuka di Turki). Apabila dilihat lebih lanjut, setiap episode DE di Youtube telah ditonton rata-rata lebih dari 1 juta kali. Dengan penduduk Turki yg hanya 70 juta jiwa, penontong sebanyak 1 juta itu merupakan jumlah yang banyak. Patut diduga, jumlah sebanyak itu pada setiap episodenya mungkin disumbang oleh orang-orang Turki yg berada di luar negara Turki, misalnya diaspora Turki yang banyak berada di Jerman.

Begitu populernya serial Diriliş Ertuğrul di Turki, sampai-sampai di jalan-jalan, trem, bus, kampus dsb sering dengan mudah terdengar soundtrack serial ini dari telepon genggam orang-orang yang menjadikannya sebagai ringtone. Kaos dengan tulisan IYI (logo klan Kayı yang dipimpin oleh ayah Ertuğrul) pun dengan mudah sering terlihat dipakai oleh orang-orang. 

Mengapa Serial DE Bisa Sukses?
[Presiden Erdoğan Berkunjung ke Lokasi Syuting. Foto +YouTube]
Faktor teknis dan penggarapan yang sangat serius dengan biaya besar bisa jadi merupakan salah satu sebab utama kesuksesan serial ini. Untuk urusan koreografi misalnya, Nomad yang menggarap special choreography untuk film The Expendables 2, 47 Ronin dan Conan the Barbarian, didatangkan untuk membantu penggarapan koreografi DE. Dalam proses persiapan latar tempat di dua dataran tinggi berbeda yang memakan waktu lebih dari 10 bulan, pada akhirnya memang berhasil menghadirkan tampilan dan suasana yang dapat menggambarkan situasi abad ke-13 dengan cukup baik.

Selain tetek bengek teknis yang istimewa, faktor narasi/cerita juga menjadi salah satu sebab kesuksesan DE. Cerita berdasarkan sejarah tentang perjuangan nenek moyang bangsa Turki modern mencari tanah baru dan tantangan-tantangan berat yang dihadapinya. Narasi seril ini berisi tentang kepahlawanan, misi yang lebih mulia dan tinggi daripada hanya urusan keselamatan klan, yaitu peranan aktif dalam mengambil bagian menyelamatkan dunia Islam—secara umum cocok dan sangat menarik bagi orang Turki masa kini. Apalagi generasi saat ini juga memerlukan inspirasi tentang asal usul mereka, pembuktian bahwa mereka terlahir dari nenek moyang yang memiliki adab yang tinggi, kuat dan bisa menaklukkan musuh-musuh berat semacam Knight Templar.

Serial DE bercerita tentang bagaimana proses klan Kayı (satu kelompok nomaden yang dipimpin oleh Sulaeman Syah, ayah Ertuğrul) bagian dari suku Oghuz Turks dari Asia Tengah pada tahun 1255 yang mencari tanah baru ke arah barat sebagai tempat tinggal. Klan Kayı sebenarnya berada di tengah konstelasi konflik kawasan yang tegang, yaitu kekuatan Mongol yang sudah mulai masuk ke sekitar Anatolia, kekuatan Kristen Knight Templar di sekitar Antakya, dan kekuatan Dinasti Islam di Konya dan Aleppo.

Pada session pertama, konflik utama yang diceritakan adalah antara Klan Kayı dan Knight Templar, dengan sebagian cerita melibatkan Aleppo dan Kerajaan Saljuk Konya. Sementara pada session kedua, konflik utama yang diceritakan adalah antara Klan Kayı dengan Mongol yang dipimpin oleh komandan perangnya bernama Noyan, dengan keterlibatan Klan Dodurga dan kekuatan Saljuk Konya.

Cerita tentang Hain (Pengkhianat) dan ‘Kebangkitan’ Ertuğrul

Baik pada session pertama maupun kedua, dalam upaya menghancurkan Klan Kayı, pihak luar yaitu Knight Templar (session pertama) atau Mongol (session kedua) selalu berupaya memanfaatkan orang-orang dalam (keterlibatan orang dalam di Turki disebut hain/pengkhianat) Klan Kayı maupun Klan Dodurga. Pada session pertama diceritakan pula bahwa Knight Templar berhasil memasukkan orang-orangnya ke bagian terdalam Istana Aleppo yang akhirnya menjadi tangan kanan (orang kepercayaan) Amir Aleppo yang membisiki dan menciptakan fitnah sedemikian rupa untuk kepentingan Knight Templar, termasuk menciptakan konflik antara Kerajaan Saljuk di Konya dengan Dinasti Ayyubi di Aleppo dan mendorong tentara Aleppo untuk menyerang/menghancurkan Klan Kayı.
[Di Tengah Tampak Sosok Kurduoğlu, Diperankan Hakan Vanlı. Foto +YouTube]
Walaupun Klan Kayı hanya memiliki kekuatan perang kecil (2000 orang), upaya mereka meminta ijin untuk tinggal kepada Amir Aleppo di tanah wilayah Aleppo dianggap oleh Knight Templar dapat mengganggu karena berada dekat pada jalur yang akan dilewati crusader untuk perang salib. Di sisi lain, Knight Templar yang bermarkas di Antakya sedang berupaya meyakinkan Vatikan dan Raja Frederich untuk mau mengerahkan pasukannya bagi perang salib untuk merebut Yerussalem.

Knight Templar memanfaatkan segala cara untuk menghancurkan Klan Kayı, termasuk memanfaatkan orang dalam Kayılar yaknı Kurdoğlu. Kurdoğlu adalah tokoh senior di Kayılar dan memiliki kedekatan hubungan dengan Sulaeman Syah karena merupakan saudara yang dibesarkan dan dididik bersama oleh ayah mereka untuk menjadi pemimpin Kayılar. Kurdoğlu adalah figur yang diceritakan sebagai Hain utama atau pengkhianat dalam session pertama.

Merasa lebih pantas menjadi pemimpin Klan Kayı, Kurdoğlu menjadi sakit hati dan melakukan segala cara untuk menjatuhkan kepemimpinan Sulaeman Syah. Kurdoğlu menyebar fitnah agar penduduk Kayı Obası (Kamp Oba) tidak percaya kepada kepemimpinan Sulaemah Syah, menciptakan konflik, melakukan percobaan pembunuhan, bahkan juga dengan cara-cara “konstitusional” dengan memanfaatkan anak Sulaeman Syah (Gundoğdu, kakak Ertuğrul) untuk menggantikan Sulaeman Syah dalam musyawarah para tokoh-tokoh Klan Kayı. Segala cara telah ditempuh Kurdoğlu namun tak berhasil. Cara terakhir yang keras akhirnya ditempuh Kurdoğlu, yakni kudeta! Berbekal sokongan dana dari Knight Templar, Kurdoğlu berhasil mempengaruhi dan menyuap beberapa tokoh penting Kayı Obası untuk melancarkan Kudeta. Sulaemah Syah pun berhasil ditangkap dan kemudian dibuang ke kamp Dodurga dengan rencana untuk dibantai di tengah perjalanan.

Keseluruhan cerita dalam serial DE, Ertuğrul hadir sebagai pahlawan yang muncul/bangkit (diriliş). Ertuğrul adalah putra kedua Sulaeman Syah yang menjadi tokoh utama dalam serial ini. Dialah sebenarnya yang menarik Klan Kayı ke dalam pusaran konflik dengan Knight Templar, karena  Ertuğrul dan tiga ksatrianya menyelamatkan tawanan yang dibawa oleh Knight Templar. Ertuğrul adalah harapan bagi Klan Kayı karena dia memiliki kemampuan leadership, kemampuan fisik dalam duel, dan kecerdasan dibanding kakaknya (Gundoğdu). Dalam serial ini, Ertuğrul diceritakan tidak hanya sebagai pahlawan bagi Klan Kayı tetapi juga bagi dunia Islam. Ertuğrul berhasil menumpas jaringan agen Knight Templar di Aleppo, menyelamatkan ayah dan keluarganya saat dalam perjalanan exile ke Dodurga Obası, dan menggagalkan kepemimpinan (hasil kudeta) Kurdoğlu, termasuk yang akhirnya memenggal kepala Kurdoğlu. Ertuğrul pula yang memimpin penyerbuan kastil Knight Templar di Antakya. Aksi-aksinya itulah yang membuat Klan Kayı menjadi dikenal dan disegani di kawasan. Pada saatnya kemudian Ertuğrul menjadi ayah dari Osman, pendiri dinasti Osmanlı (Ustmaniyah/Ottoman) yang kita tahu bersama akan mendominasi tiga benua selama 600 tahun kemudian.

Pendidikan Politik dan Nilai-Nilai

Dukungan dari Presiden Erdoğan kepada serial Diriliş Ertuğrul bisa jadi karena memang serial ini telah disiapkan dengan baik sebagai salah satu media pendidikan politik bagi rakyat Turki. Selain pelajaran politik yang sangat penting tentang musuh-musuh luar yang terus-menerus berupaya menghancurkan Turk dan Islam baik secara langsung maupun lewat agen-agen (hain/pengkhianat) dari dalam, serial ini juga penuh dengan nuansa religius, seperti orang menunaikan shalat, membaca al-Quran, menggunakan pilihan diksi yang religius seperti alhamdulillah, allahuakbar dan dzikir-dzikir lain. Juga, tidak hanya menampilkan karakter kelas bawah yang telah menjadi tradisi drama Turki pasca republik, tetapi juga karakter atas yang berbudi luhur, scene yang hampir tidak mungkin muncul pada era Turki sebelum Erdoğan (Haliloğlu, 2015).
[Foto +YouTube]
Di samping itu, serial DE juga bisa dibilang merupakan antidote bagi serial Mühteşem Yüzyıl (Abad Kejayaan) yang terlalu banyak menampilkan adegan vulgar dan justru membuat jelek sejarah Ustmani. Sementara dalam serial DE sama sekali tidak ditemukan adegan yang terlalu vulgar (dewasa) dan (kecuali adegan perkelahian yang keras dan berdarah-darah) cenderung dapat diterima untuk tontonan keluarga. Apalagi dalam serial DE banyak sekali dijumpai penanaman nilai-nilai yang baik seperti bagaimana adab dalam makan, kebiasaan dalam menerima tamu, atau bagaimana proses pengambilan setiap keputusan penting di dalam Oba (kamp) yaitu dengan proses musyawarah maupun proses voting terbuka oleh tokoh-tokoh di dalam Kayı Obasi—dengan menunjukkan bahwa pada abad 13 pun proses “demokratis” telah dilaksanakan oleh orang-orang Turks. Beberapa cerita dan karakter tokoh dalam serial ini juga seperti series-a-clef bagi politik di kehidupan nyata yang terjadi di Turki saat ini.

Kehadiran Ibnu Arabi yang berperan sebagai penasehat spiritual pun ikut memberikan nilai tersendiri dalam Diriliş Ertuğrul. Seperti diketahui, Ibnu Arabi adalah salah satu tokoh ulama penting, yang lebih dikenal sebagai sufi. Dengan beberapa kali dalam scene ditayangkan dzikir bersama di dergahane (tempat pendidikan/pesantren bagi para murid yang belajar agama dan tempat dzikir bersama), seperti ingin menampilkan bagaimana corak praktek Islam yang diterima dan diamalkan di Turki sejak dahulu hingga sekarang, yakni tasawuf. Dalam beberapa adegan, Ibnu Arabi sering hadir saat tokoh-tokoh protagonis mengalami kebuntuan dalam menghadapi masalah. Wejangan-wejangan yang disampaikan Ibnu Arabi seperti ingin memberikan pencerahan tidak hanya bagi tokoh dalam serial tetapi juga bagi para penonton serial ini. Simak salah satu dialog Ibnu Arabi dengan Atabey Aleppo (untuk kutipan dialog Ibnu Arabi dengan Atabey Episode 5, tengok link video)

Satu hari Atabey Şahabettin, orang kepercayaan Emir Al Aziz di Istana Aleppo, mengadukan kegalauannya kepada Ibnu Arabi. Atabey merasa jenuh dengan pekerjaannya di istana dan ingin keluar dari istana untuk menyibukkan diri beribadah kepada Allah. Sebagai paman dari Emir Al Aziz, Atabey merasa letih dengan kelakuan kekanak-kanakan Al Aziz yang banyak melakukan kesalahan-kesalahan. Ditambah dengan situasi saat itu di mana fitnah banyak berkembang di dunia Islam. Banyak pemimpin di wilayah Islam seperti Abbasyiah, Khwarazm, Kairo, Baghdad, dsb terbunuh oleh fitnah-fitnah yang berkembang. Hal itu bisa terjadi di Istana Aleppo, karena dalam Istana Aleppo tidak jelas “siapa bekerja untuk siapa” (telah diketahui bersama pula pada masa itu Knight Templar menyusup ke dunia Islam, masuk ke sisi dalam istana, namun belum jelas siapa-siapa saja orangnya).
 
Mendengar alasan itu, Ibnu Arabi balik bertanya kepada Atabey, “Apakah yang disampaikannya itu menjadi alasan untuk mengundurkan diri atau justru menjadi alasan untuk bekerja lebih keras?”

Meninggalkan istana saat itu berarti meninggalkan kepercayaan yang telah diberikan orang kepadanya. “Allah adalah pemilik Islam dan dunia ini. Tugasmu adalah bekerja keras di jalan kebenaran. Selama kamu berada di jalan kebenaran, Allah akan menolongmu, dan tentu saja orang-orang akan datang berada di sisimu mendukungmu. Seorang Muslim yang pantang berdusta dan berjuang bagi kebenaran, maka Allah akan menyukseskannya. Itulah keadilan Allah.”

Lalu Ibnu Arabi menyampaikan cerita tentang pembuat mimbar. 
[Ibnu Arabi Diperankan Osman Soykut. Foto +YouTube]
Di Baghdad ada seorang tukang kayu yang cukup terkenal. Menjelang akhir hayatnya, tukang kayu itu membuat sebuah mimbar yang sangat bagus. Mimbar itu terbuat dari kayu pohon kenari. Berhiaskan mutiara yang indah, keberadaan mimbar itu pun tak butuh waktu lama untuk diketahui oleh banyak orang. Orang-orang Baghdad dan yang datang ke Baghdad dari luar kota, banyak yang datang ke tukang kayu bermaksud ingin membeli mimbar tersebut untuk dipasang di masjidnya. Jawaban yang diberikan tukang kayu kepada orang-orang yang ingin membeli mimbarnya selalu sama, bahwa dia tidak mau menjualnya kepada mereka, karena mimbarnya itu akan terpasang pada tempatnya nanti, di Masjid Al Aqsa.

Orang-orang tentu saja heran dengan jawaban tukang kayu, karena saat itu Al Quds berada di bawah kekuasaan kaum Salib. Atas keheranan itu tukang kayu pun selalu memberikan jawaban yang sama: “Ini yang bisa saya lakukan. Saya seorang tukang kayu. Saya membuat mimbar.  Yang tersisa hanyalah menunggu seorang pemberani yang akan mengambil Al Quds kembali, sehingga mimbar ini akan dapat dipasang di tempatnya.”

Cerita tentang keindahan mimbar dan jawaban si Tukang Kayu tersebar ke kota-kota lain. Tak luput, seorang anak kecil berusia 7 tahun pun mendengar cerita itu. Dibanding memberikan perhatian pada keindahan mimbar itu, anak kecil ini memberikan perhatian pada keinginan si pembuat mimbar. 40 tahun berlalu. Akhirnya anak itulah yang memasang mimbar itu pada tempatnya, di Masjid Al Aqsa. Anak itu adalah Salahuddin Al Ayubi.

“Kita ini seperi tukang kayu. Kita membuat mimbar baru. Kita melakukan apa yang menjadi tugas kita. Nanti akan datang seorang yang mewujudkan apa yang menjadi harapan kita,” demikian Ibnu Arabi meneguhkan hati Atabey.

Akhirnya, meski kadang cerita sering melompat-lompat, kesalahan di teknis, musik yang terasa monoton, beberapa efek animasi yang kurang sempurna dan intrik yang terlalu lama dan serasa dibuat-buat, namun Diriliş Ertuğrul telah berhasil menjadi hiburan sekaligus inspirasi bagi orang Turki. Kini session tiga sedang sangat ditunggu-tunggu rilisnya. Apakah peristiwa pengkhianatan dan kudeta 15 Juli 2016 akan menginspirasi dan menjadi series-a-clef? Sungguh hal ini telah membuat penasaran para pecinta Diriliş Ertuğrul.


Yanuar Agung Anggoro
Mahasiswa Ph.D Manajemen Publik di Selçuk University, Konya Turki. Analis dan praktisi manajemen publik dan tata negara, fans total Manchester City. Tulisan-tulisannya bisa dijumpai di blog penulis di sini.

Silahkan Baca Juga

Previous
Next Post »

1 comments:

Write comments
20 September 2016 at 09:18 delete

Titip komentar di wall FB, min:

Emma Soekarba Di buku Dunia Baru Islam dijelaskan bahwa rakyat Turki Usmani sampai pertengahan abad yang lalu, tidak mengenal sedikitpun sejarah atau asal-usul keturunan mereka. Jasa-jasa kepahlawanan nenek-moyang mereka, dan sejarah gemilang kerajaan mereka diperingati hanya sebagai dongeng dan samar-samar. Pelajaran Sejarah Kebangsaan sama sekali disia-siakan. Bicara tentang soal-soal agama dan riwayat hidup Nabi atau masa lampau agama Islam, bagi rakyat Turki Usmani lebih menyenangkan daripada membaca berita-berita meluasnya penaklukan Kerajaan Turki Usmani di tiga benua. So?

Yanuar Agung Mirip ama kita di Indonesia ya ... "Jasa-jasa kepahlawanan nenek-moyang dan sejarah gemilang kerajaan diperingati hanya sebagai dongeng dan samar-samar".

Reply
avatar