Kisruh Jamaah Shalat Jumat di Turki

18:17:00

Kisruh jamaah shalat Jumat, salah satu kasus di Turki ketika politik masuk masjid

[Jamaah Masjid Kampus Universitas Sakarya. Foto http://www.saukampus.com/] 
Pernahkah kita melihat sekelompok jamaah shalat Jumat meneriaki khotib, selanjutnya bertengkar mulut dan membuat jamaah seisi masjid riuh? Jika pertanyaannya untuk masjid-masjid di Indonesia, inshaaAllah jawabannya belum pernah. Namun, saya pernah menemui kondisi ini di Turki, baru saja Jumat pekan ini.

Hari jumat pekan ini kebetulan saya mendapatkan undangan dari teman-teman Üniak (Üniversite AK Gençlik, salah satu sayap organisasi dari AK Parti yang difokuskan untuk kalangan mahasiswa) untuk menghadiri The 2nd International Congress on Women Researches: Multi-Disciplinary Point of View for Empowering Women Congress di Sakarya Üniversitesi Kongre ve Kültür Merkezi. Secara pribadi sebenarnya tidak terlalu minat untuk datang, karena topik-topik yang akan disampaikan lebih banyak berbicara soal wanita. Namun beberapa hari sebelumnya diberitahu bahwa kami akan diminta membantu di beberapa teknis di dalam pembukaannya di hari pertama, saya mencoba meluangkan waktu untuk datang.

Dan ternyata satu hari sebelum acara diberitahu bahwa Emine Erdoğan, istri Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan, akan datang, membuat saya malah benar-benar menguatkan keinginan untuk datang. Saya pernah mendengar pidato beliau saat membuka acara. Ketika yang lain membuka pidato dengan menyampaikan kondisi kekinian, Emine membuka pidatonya dengan menceritakan kondisi masa-masa kejayaan Saljuk hingga Utsmani. Salah satunya beliau menceritakan bagaimana peran perempuan di masa Ertuğrul dan juga masa Sultan Süleyman Kanuni. Emine memulai dengan membakar semangat audiens dengan caranya sendiri, flashback ke masa-masa kejayaan Usmani. Saya belum banyak mengenalnya karena nyatanya ini baru kali kedua mendengar pidato Emine. Namun bagi saya, sudah cukup untuk saya bisa mengatakan "wow, keren nih ibu satu ini!"

Hari Jumat, 11 Desember 2015, acara tersebut akan dimulai pukul 10 pagi namun saya dan beberapa teman Üniak sudah siap beberapa menit sebelumnya di depan gedung acara. Dengan berbekal nama Üniak, kami pun bisa dengan mulus saja memasuki gedung acara yang akan berlangsung. Setelah duduk, selang beberapa menit MC pun menyebut nama istri presiden yang sedang naik daun ini ketika memasuki ruangan acara. Peserta pun riuh bergemuruh, berdiri dan bertepuk tangan. Ratusan kamera membuntuti dengan nafsunya jeprat jepret dan ngrekam video. Situasi yang mengagetkan bagi saya. Ini Istrinya lho, bukan Presidennya. Beliau pun saat itu hanya bersama Menteri Keluarga dan Sosial Turki dan rombongan negara lain, tanpa suaminya. Namun antusiasme peserta saat itu selayaknya ketika menyambut suaminya saja.

Karena saat itu adalah hari Jumat, maka saya hitung-hitungan waktu untuk segera keluar ruangan dan menuju masjid. Setelah Ketua Panitia, Rektor Universitas Sakarya, Walikota Sakarya, serta Menteri Keluarga dan Sosial Turki selesai menyampaikan pidato akhirnya tepat pukul 11:20 Emine Erdoğan mendapatkan giliran menyampaikan pidato sekaligus membuka acara secara resmi. Namun karena dari gedung acara tersebut untuk menuju Masjid Kampus harus berjalan kaki dan membutuhkan waktu lumayan, kami memutuskan keluar ruangan pukul 11:35. Saat itu Emine Erdoğan baru saja membuka pidato dengan awalan, saya belum terlalu menangkap banyak isi pidatonya. Yaa karena memang dikejar waktu untuk segera menuju masjid. Saya pun tiba di Masjid Kampus jam 11:55 (waktu shalat Jumat saat itu pukul 11:59). Setibanya di masjid, khotbah pertama masih berlangsung.

Masjid-masjid di Turki, ibadah shalat Jumat secara umum menggunakan dua adzan dan dua khutbah. Secara urutan rukunnya, khotbah pertama oleh khotib pertama biasanya disampaikan sekitar setengah jam sebelum memasuki waktu. Ketika tepat memasuki waktu, secara otomatis adzan yang diputar dari kaset akan berkumandang. Dengan berkumandangnya adzan secara otomatis dari kaset tersebut, menjadi penanda bahwa khotbah pertama wajib diselesaikan. Selanjutnya jamaah menjalankan shalat sunnah, lalu muadzin mengumandangkan shalawat serta dilanjutkan adzan kedua. Setelah adzan kedua dikumandangkan, khatib kedua naik ke mimbar dan menyampaikan khatbah kedua. Selesainya khatbah kedua, muadzin mengumandangkan iqamah dan dilanjutkan shalat Jumat.

Setelah memasuki pukul 11:59 dan adzan otomatis dari kaset berkumandang selesai, khotib saat itu Prof. Dr. Faruk Beşer Hoca tidak menyelesaikan khotbahnya, namun justru terus melanjutkan isi khotbahnya. Menit demi menit berjalan. Jamaah pun mulai terusik. 5 menit belalu. Jamaah bagian belakang mulai bertanya-tanya. 10 menit berlalu, dan beliau tidak menunjukkan tanda-tanda akan mengakhiri khatbahnya. Tepat kurang lebih 12 menit belalu, salah seorang jamaah dari belakang berteriak kencangnya luar biasa, hingga seluruh sudut masjid mampu mendengar: ”Hocam, apa yang Anda lakukan? Sudah lebih dari 10 menit masuknya waktu shalat namun Anda masih saja dengan santai melanjutkan Khotbah”.

Mendengar teriakan jamaah dari shaf belakang tersebut, Faruk Hoca dengan sabarnya menjelaskan.

”Sabar sedikit. Kami diminta untuk sedikit memperlambat waktu shalat karena permintaan dari pihak protokol pemerintah terkait kedatangan dan kepergian Emine Erdoğan. Saat ini sedang diadakan protokoler Pemerintah untuk kepergian istri presiden dari Sakarya di kampus. Selanjutnya orang-orang pemerintah akan langsung menyusul ke masjid dan mengikuti sholat berjamaah”.

Mendengar penjelasan tersebut, jamaah lain mengamuk.

”Memang siapa dia? Tuhan? Malaikat? Kok sampai menyuruh masyarakatnya menunda waktu shalat. Harusnya dia tahu kalau sudah waktunya shalat ya shalat, tidak bisa ditunda-tunda. Dia tahu kalau disini bukan negara Islam. Dia juga tahu, banyak pelajaran dan ujian yang diadakan oleh kampus itu tepat di waktu shalat. Jam 12 ini saja banyak mahasiswa disini yang sebenarnya ada kelas. Ada juga yang sebentar lagi akan masuk untuk mengikuti ujian. Dosen-dosen juga harus segera kembali ke kantor dan kelas untuk mengajar”.

Adu mulut pun terjadi. Antara beberapa jamaah yang kebetulan posisinya berada di shaf belakang dengan Faruk Hoca. Imam Masjid Kampus Ahmet Ali Kul Hoca yang berada di shof depan pun ikut membantu Faruk Hoca dalam menjelaskan kondisi. Bukannya tenang, keadaan semakin riuh. Kisruh. Karena suara adu mulut tersebut super kencang, jamaah-jamaah lain pun berdiri, penasaran siapa sih jamaah yang berada di belakang tersebut sampai berani beradu mulut dengan kedua hoca masjid ini. Suasana di dalam masjid pun semakin kacau selama beberapa menit. Hingga akhirnya Faruk Hoca pun mengalah dan langsung menyampaikan ”baiklah saya akhiri saja khotbah saya kali ini”.

Efek Sekulerisasi Turki

Setelah saya membaca pemberitaan terkait insiden ini, ternyata salah seorang jamaah yang berada di shof belakang dan berani beradu mulut dengan Khotib tersebut salah satu pengajar yang sekaligus saat ini menjabat sebagai anggota DPR Sakarya Zihni Açba dari MHP (Miliyetçi Hareket Partisi, Partai Pergerakan Nasional), partai ultranasionalis, salah satu partai yang bertentangan dengan AKP (Adalet ve Kalkınma Partisi, Partai Keadilan dan Pembangunan).

Secara ibadah, jelas salah, jika hanya demi protokoler sampai menunda-nunda waktu shalat. Karena bukan satu hal yang mendesak dan mematikan. Posisi imam dan khotib disini karena berada di bawah langsung Pemerintah bagian Keagamaan maka wajar mengikuti prosedur yang diminta. Perlu diketahui bahwa Kementerian Agama menempatkan hoca-hoca terbaik di setiap masjid di Turki. Hoca-hoca ini bertugas memakmurkan masjid secara penuh. Mereka digaji tiap bulan, mendapatkan fasilitas tunjangan dan lain-lain. Pemerintahan Erdoğan ingin mengembalikan posisi hoca sebagai posisi yang terhormat karena perannya yang sangat besar. Namun, tetap ada dampak sampingan: seolah seperti profesi PNS yang ditempatkan di masjid. Kenapa? Karena nyatanya hoca-hoca tersebut dapat diatur untuk urusan ibadah, misalnya dalam kasus ini, mengundurkan waktu Sholat.

Dengan posisi alasan hoca yang mengundurkan waktu shalat karena protokoler kunjungan istri Presiden, jelas tidak bisa diterima oleh masyarakat apalagi oposisi seperti MHP. Karena secara konstitusi Turki itu jelas. negara dan agama itu terpisah. Urusan pemerintahan ya pemerintah yang urus. Urusan agama ya hoca yang urus. Itulah sekuler. Rasanya strategi pemerintahan Erdoğan dalam mengikis perlahan sekulerisasi di Turki harus ditata ulang untuk level grass root-nya. Benar, jika negara dan agama memang seharusnya menyatu dan saling mendukung. Secara tingkatan, agama memang seharusnya mengatur negara. Namun, tidak untuk sebaliknya.

Saya ingin sedikit menggambarkan sedikit betapa sekulernya Turki saat ini. Di semester pertama dan kedua, saya memiliki mata kuliah yang diampu Prof. Norman Finkelstein. Beliau datang ke Universitas Sakarya dan ngajar di kelas saya dengan cara dirapel, yang seharusnya satu minggu sekali namun pertemuan satu bulan dipadatkan selama satu minggu, sehingga setiap bulannya ada satu minggu full kelas beliau. Dan hari Jumatnya jadwalnya selalu dari jam 11 hingga 13 siang, padahal waktu sholat Jumat kurang lebih jam 12. Sempat protes, lalu Prof. Norman menanyakan ke teman-teman kelas, dan aneh, teman-teman kelas malah memprotes saya bahwa jam segitu tidak masalah, karena mereka semua tidak sholat. Sebagian besar di kelas saya orang Turki. Kalau ditanya apa agama mereka, Islam!

Memahami kondisi Turki tidak sesimpel dan seindah seperti membaca berita-berita yang beredar di beberapa media di Indonesia. Turki saat ini bukanlah Turki di masa Utsmani. Turki saat ini bukanlah se-Islami yang digambarkan di artikel dan beredar di beberapa media-media di Indonesia. AKP, partainya Erdoğan, bukanlah partai Islam. (Mungkin) benar, secara individu Erdoğan dan anggota Partai AKP memiliki kepentingan besar untuk mengembalikan kejayaan Islam. Namun perjuangan mereka tidak gampang bung! Mereka masih harus membungkus diri mereka bukan dengan label Islami demi diterima di tengah-tengah sekulerisasi. 

Catatan Redaksi: Berita untuk tulisan di atas silahkan dibaca di sini


Edy Miranto
Mahasiswa pascasarjana asal Klaten, Jawa Tengah ini sedang menyelesaikan studinya di jurusan International Relations pada Sosyal Bilimler Enstitüsü di Sakarya Üniversitesi, Sakarya - Turki.

Silahkan Baca Juga

Previous
Next Post »

3 comments

Write comments
21 September 2016 at 04:26 delete

Memang Turki sekarang tak (belum) se-islami era Turki Osmani, tapi yang pasti, tetep lebih Islami daripada Turki sebelum era AKP, ya toh? Memang Turki sekarang sekuler.. tapi yg pasti.. tak se-sekuler Turki sebelum AKP.. ya toh. Salaaaam :D

Reply
avatar
21 September 2016 at 07:49 delete

Betul sekalı, kak. Turki sekrang lebih baik, sudah bebas menggunakan simbol islami, lebih maju juga.

Reply
avatar
27 March 2017 at 21:49 delete

penjelasan adzan-nya kok riwet ya nulisnya ?
ada Muadzin tapi kok di adzan dikumandangkan dengan kaset ?
btw bagaimana kondisi Turki pada tahun ini ? apa sudah berubah ?

Reply
avatar