Menemukan Nasionalisme di Dalam Masjid

21:47:00

Ada minber (mimbar) masjid berlatar belakang sebuah bendera Turki berukuran kecil

[Foto Didid Haryadi]
Pasca peristiwa percobaan kudeta 15 Juli 2016 ada beberapa perubahan kentara di kota Istanbul. Yang paling menyita banyak perhatian adalah berubahnya nama salah satu jembatan yang terkenal di negeri dua benua ini, yaitu Bosphorus Bridge berubah menjadi 15 Temmuz Şehitleri Kopruşu (Baca: Goodbye Bosphorus Bridge). Nama jembatan tersebut diambil sebagai penghormatan untuk rakyat dan pasukan kemananan Turki yang tewas melawan pasukan kudeta pada malam 15 Juli.

Banuak hal menarik ketika memperhatikan perubahan tersebut. Papan-papan penunjuk jalan diubah dan dipugar. Tak ketinggalan juga nama-nama stasiun/halte bus mengikuti nama jembatan yang dimaksud. Di samping itu, hal lain yang paling banyak menghiasi kota Istanbul adalah kalimat “biz milletiz türkiye’ye darbeye teröre yedirmeyiz” (Kami (satu) bangsa! Kami tidak akan biarkan Turki tunduk oleh kudeta dan teror). Kalimat tersebut sangat mudah dijumpai di dalam transportasi publik seperti kereta dan bus kota, dikemas dalam bentuk poster dan juga spanduk. Pesan yang sama juga dipasang di beberapa jembatan ataupun jalan layang.

Kembali ke kota Istanbul setelah berlibur selama beberapa pekan selalu menyalakan rasa rindu yang menggebu. Selain tentang suasana kota yang sangat indah dan luhur dengan peradaban, masjid-masjid di Istanbul dan Turki selalu membawa nuansa spiritual bagi para pengunjungnya. Tidak diragukan lagi, arsitektur bangunan masjid di Turki sangat istimewa. Mulai dari menara yang berbentuk menyerupai roket, sebagai salah satu ciri khas masjid bangsa Turki. Interior masjid yang kaya dan penuh dengan kaligrafi khas Usmani akan membawa pengunjung kembali mengingat perihal kejayaan Khalifah Usmani.

Namun, ada satu hal yang menjadi perhatian saya ketika shalat Jum’at di salah satu bölge (wilayah) di kota Istanbul. Ada minber (mimbar) masjid berlatar belakang sebuah bendera Turki berukuran kecil. Hal ini tentu saja sebuah suasana baru yang pernah saya lihat. Selama berada di Istanbul, saya belum pernah melihat pemandangan seperti ini. Mungkin saja hal tersebut dilakukan sebagai upaya untuk menjaga dan menumbuhkan rasa nasionalisme yang mendalam, hingga pun ke dalam masjid.

Setelah saya coba perhatikan lebih jauh, ternyata di berbagai daerah di seantero Turki banyak masjid yang di mimbarnya terpasang secarik bendera Turki. Jadi sudah pasti rakyat Turki yang menjadi jamaah shalat Jum’at akan selalu memperhatikan bendera mereka di tengah-tengah sang khatib khusuk membacakan khatbah Jum’at. Apalagi kesadaran ideologis rakyat Turki secara umum menempatkan bendera sebagai simbol sakral. Bagi mereka, Allah-tanah air-bendera adalah tiga paket yang tak boleh dipecah-belah.
[Masjid Eşrefoğlu dari Abad 13 M di Beyşehir. Foto +Bernando J. Sujibto]
Lagi, yang menarik adalah doa penutup setiap khotbah Jum'at yang pasti akan kita dengar di seluruh masjid di Turki. Di Turki doa shalat Juma'at tak pernah panjang. Rata-rata doa mereka seperti berbunyi "memohon untuk diberikan keberkahan bagi agama Islam, negara, tanah air, orang tua, tetangga, dan kaum Muslimin di seluruh dunia." Hal ini bisa dipahami karena setiap teks khotbah secara terorganisir sudah didistribusi dari Diyanet, semacam Kementerian Agama di Turki. Sehingga dalam setiap khotbah tidak akan ada kalimat-kalimat provokatif dan intrik-intrik busuk politik.

Masjid, dalam konteks bernasionalisme, menjadi semacam “ruang publik khas” di Turki. Ruang publik kini semakin terasa dan tumbuh dengan subur. Ini menjadi suasana yang bagus untuk proses demokrasi. Di samping itu, ada kafe, bahçe (taman) dan rumah adalah tempat yang paling banyak digunakan untuk bertukar informasi dan membahas hal-hal yang sedang terjadi di sekitar.

Di Turki, beberapa masjid (camii) di antaranya dilengkapi dengan perpustakaan dan çayhane (rumah teh/warung teh) yang berada di halaman masjid. Mengutip Jurgen Habermas, “perlu ada ruang publik yang memungkinkan warga beragama mengungkapkan gagasan mereka dalam bahasa religius mereka.”


Didit Haryadi
Pimpinan Redaksi Turkish Spirit. Mahasiswa master program Sosiologi di Istanbul University. Person In Charge untuk Indonesia Turkey Research Community (ITRC) di Istanbul.

Silahkan Baca Juga

Previous
Next Post »