Menuju Pernikahan a la Turki

22:19:00

Banyak pula pembaca TS yang secara khusus ingin mengetahui adat dan budaya pernikahan di Negeri Dua Benua ini

[Hadiah untuk Pertunangan di Turki. Foto: http://www.kadinvekadin.net]
Seiring makin meningkatnya popularitas Turki di tengah masyarakat Indonesia, bertambah pula pastinya rasa ingin tahu kita masyarakat Indonesia tentang bagaimana kehidupan di Turki. Di samping itu banyak pula pembaca TS yang secara khusus ingin mengetahui adat-budaya dan tetek bengek menuju pernikahan di Negeri Dua Benua ini. Kali ini kami akan membahas langkah-langkah menuju pernikahan di Turki secara umum. Mari kenali lebih dekat sehingga kita bisa mengambil hikmah dari kearifan budaya bangsa yang sudah terasa akrab dengan kita ini.

Tahap Mencari Jodoh (Kız Aramayı)

Walau sudah bukan zamannya Siti Nurbaya, perjodohan masih hal yang sangat umum di Turki. Bukan hanya di kalangan orang desa dan atau kalangan yang berpendidikan rendah, di kalangan terpelajar juga budaya perjodohan masih sangat umum.

Perjodohan biasanya dilakukan karena si anak lelaki sudah cukup umur dan mapan. Ditandai dengan sudah lulus universitas, sudah pula menjalani wajib militer, pun sudah bekerja tetap, namun belum juga menemukan jodohnya. Biasanya kaum ibu akan mendesaknya untuk segera menikah dan sibuk mencarikan gadis yang cocok dan sekufu’ dengannya.

Proses ini terkadang sangat melelahkan karena Gadis dengan Jaka seringnya tidak cocok dan diperlukan banyak kandidat yang juga melibatkan banyak perantara seperti bibi, paman, keponakan, dan kerabat lainnya yang mengajukan calon-calon menantu atau gelin dalam Bahasa Turki.

Bisa pula Sang Jaka mencari jodohnya sendiri dengan menjajaki teman-teman kantornya atau mantan teman kuliah, atau bahkan sang kekasih yang sudah lama menjadi belahan jiwa sejak SMA. Namun lagi-lagi jika sang ibu tidak berkenan, maka jangan harap akan naik ke tahapan selanjutnya, apatah lagi hingga pelaminan.

Bertamu, Mengenal Lebih Dekat (Mişafirliği)

Ketika ada seorang gadis yang sudah ditargetkan, pihak yang menjadi perantara akan menghubungi keluarga si gadis bahwa keluarga pihak laki-laki akan datang bertamu. Adapun jika si Gadis dan Jaka memang sebelumnya sudah saling mengenal, maka informasi akan kedatangan keluarga si Jaka cukup diberitahukan langsung kepada si Gadis, yang langsung akan menginformasikannya kepada kedua orang tuanya.

Acara biasanya berupa makan malam atau makan siang bersama di rumah orangtua si Gadis, tentunya dengan menu traditonal Turki yang dibuat dengan hati-hati untuk memberikan impresi kepada tetamu. Rumah pun akan dibersihkan dan ditata sebaik mungkin menyambut kedatangan para tamu penting ini.

Pembicaraan basa-basi akan berlangsung antara kedua belah pihak, dilanjutkan makan bersama dan jamuan teh. Dalam pada itu kedua belah pihak saling melakukan fit and profer test secara terselubung. Meliputi keadaan rumahnya, kondisi ekonominya, kesalehannya, pandangan politiknya, tingkah laku si Gadis dalam membawakan dirinya. Jamuan hari itu ditutup dengan sajian kopi yang dibuat dan disajikan sang Gadis. Basa-basi untuk undangan balasan dari pihak pria biasanya diucapkan ketika akan berpisah yang biasanya dijawab dengan inşallah oleh pihak wanita. Karena undangan tersebut perlu disahkan lagi via telepon dari pihak orang tua si Jaka.

Dalam perjalanan pulang biasanya keputusan sudah dibuat apakah proses ini akan berlanjut atau tidak, berdasarkan pembicaraan dan impresi yang didapat dari jamuan tadi. Jika positif, pihak si Jaka akan mengundang perjamuan setara. Sedangkan jika keputusannya negatif, pihak perantara akan memberitahukan secara hati-hati dan penuh kata-kata bersayap untuk menyampaikannya kepada keluarga si Gadis. Begitu juga sebaliknya.

Lamaran (Kız iştemeye/söz)
[Lamaran Khas Turki. Foto http://gelinyolu.blogspot.com.tr]
Setelah kunjungan-kunjungan hasilnya positif dan kedua belah pihak telah mengetahui harapan masing-masing tentang rumah tangga anak-anak mereka, maka langkah selanjutnya adalah lamaran. Lamaran ini berkesan formal, sehingga biasanya si pria dan ayahnya mengenakan setelan jas dan kaum wanitanya mengenakan gaun yang formal juga. Tak lupa buah tangan berupa cokelat spesial (söz çikolatası) yang dipersiapkan khusus untuk acara lamaran oleh toko cokelat yang ditata di baki perak, dan tentunya buket bunga istimewa yang disebut söz çiçeği.

Gadis akan menghidangkan kopi khas Turki dengan didampingi cokelat yang dibawa oleh pihak pria. Kemampuan membuat kopi harus dikuasai oleh setiap gadis, betapapun dia tidak suka atau tidak bisa memasak. Karena pada lamaran ini si gadis itu sendiri yang membuat dan menyuguhkan kopi yang dibuat dengan penuh kecermatan, rasanya pas dan penuh buih (köpüklü).

Yang khas pada acara lamaran ini adalah anggota keluarga si pria yang tertua saat itu, misalnya kakeknya atau ayahnya, akan mengucapkan kata-kata keramat sebagai berikut: "Allah'ın emri, Peygamber'in kavliyle" artinya kurang lebih: “Atas nama perintah Allah dan sunnah Rasulnya...” dilanjutkan dengan kalimat, “kami ingin meminta anak gadis anda untuk diperistri oleh anak kami.” Pihak wanita akan menjawab kata-kata bersayap dengan makna positif sebagai penerimaan.

Setelah itu si Gadis akan mencium tangan pihak keluarga senior dari pihak pria. Kedua pihak yang sudah berlega hati kemudian akan memilih tanggal untuk pesta pertunangan, atau nişan düğünü. Atau bisa jadi topik itu akan ditentukan kemudian lewat pembicaraan-pembicaraan via telepon dan kunjungan-kunjungan berikutnya.

Pesta Pertunangan (Nişan Duğunu)
[Hadiah-Hadiah untuk Tunangan. Foto http://ceyizsandigimdakiler.blogspot.com.tr]
Setelah sejumlah perundingan, pesta pertunangan biasanya diselenggarakan di rumah calon mempelai wanita dengan undangan terbatas, atau bisa juga dengan menyewa gedung pertemuan yang disebut Duğun Salonu jika tamu undangannya lebih banyak.

Calon mempelai wanita biasanya mengenakan gaun warna peach atau warna lain yang lembut, sedangkan calon mempelai pria mengenakan setelan jas resmi. Seluruh keluarga dan undangan yang hadir juga berpakaian senada.

Cincin tunangan yang disebut söz yüzükları diletakkan di atas bantal putih berhias yang dinamakan söz yaştığı. Kemudian diletakkan di atas baki yang dipegang oleh seorang gadis muda dari pihak laki-laki. Kedua cincin tersebut diikat pita merah.

Tetua dari pihak pria akan menyematkan cincin-cincin tersebut di jari manis tangan kanan dari calon mempelai yang berdiri berdampingan, kemudian pita yang menyambungkannya digunting. Penyematan cincin ini tentunya diiringi doa-doa positif oleh kedua belah pihak untuk kebahagiaan keduanya. Acara dilanjutkan permohonan restu dan cium tangan (el öpmeyi) kepada para tetua.
Pemotongan kue tunangan oleh kedua calon mempelai dilanjutkan saling menyuapi kue terkadang dilakukan juga dalam rangkaian acara tunangan ini. Kemudian hadirin yang ingin memberikan hadiah dipersilahkan. Ditandai dengan dikalungkannya seuntai pita panjang di masing-masing leher kedua calon mempelai. Tak jauh dari mereka berdiri salah satu kerabat dengan bantalan jarum pentul.

Hadirin akan mengambil sebuah jarum pentul lalu menyematkan hadiahnya berupa uang ke pita tersebut. Adapula yang menyematkan koin emas (biasanya tidak perlu lagi jarum pentul, karena koin emas sudah ada penitinya). Kerabat yang sangat dekat terkadang memberikan gelang emas, yang langsung dipakaikan kepada si gadis. Hadirin hanya menyematkan hadiah kepada salah satu dari calon mempelai, tergantung dekatnya kepada pihak yang mana.

Setelah hadiah disematkan tak lupa ucapan selamat dan doa-doa diucapkan dengan sungguh-sungguh yang diaminkan dengan penuh pengharapan oleh kedua mempelai. Pria dengan pria dan wanita dengan wanita saling memeluk seraya mendoakan hayırlı olsun, yang artinya “semoga semuanya berjalan dengan baik”.

Seraya mengantre untuk memberikan ucapan selamat, hadirin dijamu dengan potongan kue tunangan dan sirup yang disebut serbet. Sangat jarang ditemukan acara tunangan dengan jamuan makan, namun tentu saja adapula yang melakukannya.

Masa Tunangan dan Persiapan Pernikahan
[Cincin Tunangan. Foto http://www.bilgilersitesi.com]  
Masa bertunangan ini biasanya berlangsung selama satu tahun. Dan selama itu kedua belah pihak melakukan persiapan untuk pesta pernikahan dan segala tetek bengeknya, termasuk tempat tinggal dan isi rumah. Hal itu dibicarakan dari sekian kunjungan makan malam dari kedua belah pihak.

Lazimnya di Turki keluarga pria harus menyediakan mahar berupa emas yang cukup banyak. Antara lain berupa gelang emas yang jumlahnya biasanya lebih dari satu buah. Terkadang bisa mencapai 15 buah, yang mana satu buah gelang minimal 5 gram dari emas 22 karat. Gelang ini akan menjadi investasi sehingga biasanya modelnya klasik, antara lain dinamakan model burma. Belum lagi jika ditambah dengan set perhiasan yaitu berupa kalung, gelang, cincin, giwang dengan model senada, kalau yang ini bisa dari emas muda 14 Karat. Yang wajib tentu saja cincin kawin yang disebut alyans. Cincin kawin untuk wanita selain salah satu dari alyans tadi, juga ditambah dengan cincin emas berpermata tunggal yang disebut tek taş. Makanya sering kita lihat wanita yang sudah menikah (evli bayan) mengenakan dua cincin di tangan kirinya, satu cincin kawin dan satu cincin berlian mata satu.

Demikian pembaca TS yang budiman rangkaian langkah menuju pernikahan ala Turki. Malam midodareni dan pesta pernikahannya akan dimuat di postingan selanjutnya.


Lia Yulianti
Salah satu anggota redaksi Turkish Spirit ini akrab disapa “Lia” atau “Teteh Lia”. Menekuni pekerjaan paruh waktu sebagai penerjemah untuk pariwisata. Menulis buku Best of Turki (Elex Media Komputindo, 2014) bersama sabahabatnya, Dian Akbaş. Salah satu tulisannya terangkum dalam buku Kumpulan Cerpen Bilik Sastra Jilid 3 (RRI World Service-Voice of Indonesia, 2014). Korespondensi bisa melalui email: lia_oke2001@hotmail.com.

Silahkan Baca Juga

Previous
Next Post »