Pengalaman Beasiswa Türkiye Diyanet Vakfi (TDV)

13:48:00 31 Comments

Good preparation is half of success

[Foto Turkiye DiyanetVakvi]
Merhaba! Apa kabar teman-teman, kepo ya tentang beasiswa Turkiye Diyanet Vakfi atau yang lebih dikenal TDV? Okay, kali ini Aldi akan sedikit cerita tentang pengalaman dan lika-liku perjuangan meraih beasiswa TDV.

Saya berusaha mencari jalan untuk belajar ke luar negeri setelah melakukan microteaching yang waktu itu saya masih menjadi siswa Mastering System (MS), Basic English Course (BEC) periode 65, sebuah institusi pendidikan kursus Bahasa Inggris ternama di Pare, Kediri. Karena banyaknya pilihan dan persyaratan yang membuat saya bingung untuk melanjutkan jenjang studi, tiba-tiba ada salah salah satu institut pemerintahan Turki, yaitu Turkiye Dinayet Vakfi yang membuka program beasiswa untuk jenjang sarjana (s1) pada H-3 deadline. Tanggal pendaftaran setiap tahunya sekitar 1 Maret - 15 April.

Tertarik dengan informasi tersebut, saya langsung mempelajari persyaratannya. Akhirnya pada H-1, saya pun mendaftarkan diri. Hari demi hari berlalu dan saya pun tidak terlalu memikirkan tentang beasiswa ini. Lantas ada berita di jaringan sosial Facebook bahwa application status bagi pelamar TDV sudah ada yang allowed to interview. Dengan sangat berharap, saya buka kembali website TDV scholarship dan alhamdulillah statusnya sudah allowed to interview.

Akhirnya kita yang sudah akan maju ke proses wawanara membuat grup di Whattsap untuk saling berbagi informasi. Menunggu dan menunggu, itulah yang kita semua alami. Walaupun status kita sudah akan lanjut ke wawancara, apalah artinya kalau tidak mendapatkan undangan wawancara tersebut. Dengan perasaan sangat berharap, saya pun terus menerus membuka e-mail untuk memastikannya. Namun tetap tak kunjung ada informasi. Hingga batas akhir pengiriman e-mail pada 15 Mei, tak kunjung ada pemberitahuan. Kegelisahan terus menghatui perasaan saya.

Namun akhirnya kegembiraan pun datang menyambut undangan wawancara pada 26 Mei. Kala itu ada dua kloter wawancara yaitu pada tanggal 8 dan 9 Juni. Alhamdulillah saya mendapatkan kesempatan wawancara pada 8 Juni 2016. Pada awalnya wawancara akan diadakan di salah satu hotel di Jakarta, namun beberapa hari sebelum hari H, tempat wawancara berpindah di Kedutaan Besar Turki untuk Indonesia.

Lega rasanya telah mengikuti wawancara. Bertemu teman-teman dan bersilaturahmi sesama yang sebelumnya hanya berkenalan di dunia maya. Canda tawa pun saling menghiasi satu sama lain. Bahkan saya bertemu teman lama ketika di sekolah. Bernostalgia adalah salah satu hal yang saya suka ketika momen seperti itu.

Di sinilah ujian terberat kita. Menunggu pengumuman hasil kelulusan beasiswa TDV 2016 yang baru pertama kalinya ada di Indonesia. Pada jadwal yang tertera di website, hasil akan diumumkan pada 30 Juni. Namun tepat pada hari itu yang bertepatan dengan H-6 Idul Fitri 1437, tidak ada kabar sama sekali tentang hasil kelulusan tersebut. Saya coba mengontak PPI Turki untuk menanyakan hasil tersebut, dan hasilnya pun nihil. Mereka juga tidak tahu, karena beasiswa ini baru pertama kali diselenggarakan di Indonesia.
[Kalender Pendaftaran. Foto Website TDV]
Setiap hari saya berharap mendapatkan kabar baik untuk hasil ini. Keluarga di rumah pun turut menayakan terus-menerus, tapi keadaan belum memungkinkan. Saya juga sudah mencoba menghubungi pihak TDV dari Facebook ataupun email, hasil pun masih sama. Belum ada kepastian. Bahkan ada dari kita yang menyakan keadaan beasiswa ini yang sebenarnya, ada atau tidak.

Sabar dan tawakal adalah kunci utama setelah berjihad, karena sesungguhnya Allah segala penentunya. Akhirnya setelah 2 bulan lamanya saya dan teman-taman berada dalam ketidakpastian ini. Pada tanggal 5 september 2016 pukul 15.06 WIB, ada sebuah e-mail masuk. Setelah saya buka, ternyata itu adalah congratulation mail. Alhamdulillah mimpi yang telah lama saya bangun pun membuahkan hasil. Universitas Istanbul, Turki adalah tempat menimba ilmu saya nantinya.

Perlu kita ketahui persyaratan dokumen untuk beasiswa ini sangat simple, yaitu:
1. Ijazah asli / copy
2. Transkip ijazah asli / copy
3. Passport asli / copy (jikalau belum ada maka akte kelahiran pun juga bisa)
4. Foto
5. Sertifikat-sertifikat (sebagai penguat aplikasi)


Kita harus menyiapkan beberapa dokumen yang dibutuhkan tersebut dalam bentuk file. Ada pun beberapa dokumen yang biasanya menjadi persyaratan beasiswa lain; surat keterangan sehat, surat keterangan catatan kepolisian (SKCK), curriculum vitae, dll. Juga jangan lupa untuk mempersiapkan jalan lebih banyak dengan mendaftar di berbagai universitas lain, karena kita tidak tahu hasil yang akan kita dapatkan nantinya. Good preparation is half of success.

Untuk Indonesia Beasiswa TDV masih buka hanya untuk S1. Semoga ke depannya TDV juga membuka kesempatan untuk studi master dan doktoral. Meskipun beasiswa per bulan tidak sebesar beasiswa YTB, yaitu 300TL untuk S1 (tahun 2016), beasiswa ini mempunyai kebijakan bagus yaitu menyediakan tiket PP pesawat setiap tahun. Sementara beasiswa YTB tidak. Di bawah ini adalah link pendaftaran, dan informasi terkait beasiswa yang saya ikuti yang disertakan buku paduan pendaftarannya, silahkan dibuka di sini.


Aldi Subakti
Penulis adalah penerima beasiswa Turkiye Diyanet Vakfi (TDV), berasal dari Bumiayu, Jawa Tengah. Kuliah pada jurusan Ilahiyat di Universitas Istanbul. Suka menulis catatan-catatan di blog pribadinya di sini. Bisa dihubungi juga via media sosial Facebook.

Kompetisi Futsal Athan Cup 2016

23:02:00 Add Comment

Klub futsal dari PPİ Gaziantep berhak sebagai juara setelah menang 3-2

[Klub Futsal PPI Gaziantep 2016. Foto Didid Haryadi]
Sebanyak dua belas tim perwakilan dari berbagai wilayah PPİ Turki mengikuti turnamen Athan Cup 2016. Kegiatan yang berlokasi di Çınar Halı Sahaları ve Sosyal Tesisleri, Çankaya Ankara tersebut dihelat pada Sabtu (29/10) dan berlangsung sangat meriah. Semua delegasi dari PPI daerah se-Turki yang hadir mempersembahkan laga terbaik mereka.
[Tim Juara II dari PII Istanbul. Foto Didid Haryadi]
Turnamen Athan Cup 2016 merupakan acara tahunan yang diselenggarakan oleh Atase Pertahanan (Athan) KBRİ Ankara. Jeffri Pramono selaku perwakilan dari Athan KBRI menuturkan bahwa acara ini adalah upaya untuk menjalin tali silaturahmi secara langsung dengan para pelajar İndonesia yang ada di Turki. "Selain itu juga untuk mempererat hubungan antara sesama pelajar dengan Kantor Athan dan KBRI," tambahnya.

Setelah melewati fase penyisihan grup, PPI Gaziantep meraih gelar juara. Di babak final, PPİ Gaziantep menghadapi PPİ İstanbul yang pada babak semifinal mengandaskan perwakilan dari PPI Konya. Skor imbang tanpa gol selama pertandingan akhirnya harus dilanjutkan dengan adu penalti. Dan klub futsal dari PPİ Gaziantep berhak sebagai juara setelah menang 3-2.
[Top Skorer dan Tim Futsal PPI Konya. Foto PPI Konya]
Top skor untuk kompetisi Athan Cup tahun 2016 ini disabet oleh Dhiyaul Islam, pemain dari PPI Konya dengan 3 gol.

Athan Cup akan kembali diselenggarakan pada tahun depan. Pada turnamen 2016 ini, total hadiah sebanyak 4.000 Lira (didid/ts).
Catatan: Dalam berita di atas ada kekurangan data, yang akan dilengkapi sebagai berikut: 1. Juara 3 ada dua tim, yaitu PPI Konya dan PPI Sakarya (tidak tanding karena keterbatasan waktu). 2. Top skor ada 4 orang (dengan 3 gol): Al Faruq Abdul Aziz (PPI Sakarya), Dhiyaul Islam (PPI Konya), Salman lagi pemain dari PPI Bursa, dan satu lagi belum kami himpun data lengkapnya.
(Redaksi TS mengucapkan terima kasih atas masukan dari pembaca, khususnya teman-teman pelajar di Turki. Salam). 


Cinta Negara Adalah Bagian dari Iman

22:51:00 Add Comment

Vatan sevgisi imandandır

[Foto: Mohammad Iqbal Satria Nusantara]
Ketika menunggu di halte bus depan kampus, ada sebuah bus melintas dan bertuliskan "Vatan Sevgisi İmandandır" yang artinya adalah "cinta negara adalah bagian dari iman". Di Turki tak heran melihat tulisan seperti ini, karena memang jiwa nasionalisme dan spirit bela negara mereka sangat tinggi. Terbukti dari peristiwa kudeta 15 Juli yang lalu di mana rakyat turun ke jalan untuk mempertahankan negaranya, berbagai kalangan rakyat turun jalan demi menunjukkan rasa patriotismenya. Dan pelaku kudeta yang tertuduh dianggap tidak patriotis dan mengkhianati negara.

Menarik ketika melihat yang terjadi di İndonesia malah sebaliknya. Boro-boro ada tulisan seperti di atas, yang banyak adalah goro-goro dan grasak-grusuk semboyan menghina NKRİ sekaligus mengharamkannya. Maka dari sini mari mulai berpikir jernih, tidak baik menyalahkan negara atau organisasi yang tidak sepaham. Kritiklah oknumnya, jangan selahkan negaranya atau rasnya, karena yang seperti itu jauh sekali dari kata Islam. 


Mohammad Iqbal Satria Nusantara
Mahasiswa Master pada Jurusan Islamic Law di Maramara University, Istanbul Turki. Pria optimis dan traveler ini berasal dari Padang yang lahir dan besar di Jakarta. Bisa dihubngi via Facebook.

Beasiswa YTB Cocok Buat Kamu

10:28:00 1 Comment

Selama masa seleksi, kamu bisa menggunakan KTP saja

[Beberapa Kampus Turki Punya Tradisi Demonstrasi dalam Acara Graduasi Mereka. Foto @METU]
Buat temen-teman yang ingin sekolah di luar negeri dengan beasiswa, pasti udah googling dan nge-list dong nama beserta informasi beasiswa-beasiswanya. Beasiswa dari pemerintah Turki yang lebih dikenal dengan nama Türkiye Bursları (YTB) (Baca juga: Pengalaman Apply Beasiswa YTB 2016) udah masuk ke list kamu, belum?

Jika belum, boleh tuh jadi pertimbangan. Kenapa? Yuk simak satu-persatu alasan kenapa beasiswa pemerintah Turki (YTB) cocok banget buat kamu yang belum pernah ke luar negeri.

Bukan cuma uang saku, akomodasi juga ditanggung pemberi beasiswa

Jika beasiswa pada umumnya hanya memberimu uang beasiswa dan menyuruhmu untuk mencari akomodasi sendiri, beasiswa ini sudah langsung memberimu akomodasi tanpa membuatmu bingung sendiri mau tinggal dimana nantinya.

Ya, kamu akan ditempatkan di asrama. Baik itu asrama publik maupun privat/swasta. Bukan cuma tempat tinggal loh. Asrama di Turki juga menyediakan makan dua kali sehari, yaitu pagi dan malam. Jadi, kamu nggak perlu kebingungan cari bahan makanan buat masak tiap hari di sela-sela kesibukanmu kuliah. Apalagi kalau kamu sudah terbiasa tinggal bersama orang tuamu di rumah yang menyediakan segala kebutuhanmu, beasiswa ini tidak akan membuatmu jantungan dengan perubahan yang memang tidak begitu signifikan.

Tidak perlu TOEFL!

Bagi kamu yang belum pernah tes TOEFL, jangan khawatir! Beasiswa pemerintah Turki tidak mewajibkamu memiliki sertifikat TOEFL kecuali jika nantinya kamu akan kuliah dengan bahasa Inggris. Kalaupun tidak, biasanya kampus akan menyediakan tes bahasa Inggris sebelum mulai kuliah. Jika kamu tidak lulus tes, kamu juga tidak akan dipulangkan kok. Justru kamu akan nambah kesempatan untuk kursus bahasa Inggris selama setahun yang biayanya dibayar oleh pemberi beasiswa. Tapi, nantinya kamu harus lulus di tes bahasa Inggris berikutnya jika tidak mau kesempatan beasiswamu berakhir.

Singkat kata, jika kamu belum memiliki biaya untuk tes TOEFL, kamu tidak perlu banting tulang  dan pikir panjang lebar untuk itu. Langsung saja daftar jika kamu sudah merasa setidaknya mampu berkomunikasi dengan bahasa Inggris walaupun tata bahasanya belum sempurna.

Belum butuh paspor selama masa seleksi

Banyak yang merasa rugi jika setelah membuat paspor, tidak segera ke luar negeri. Maklum, biaya untuk membuat paspor memang tidak semurah harga sebungkus pecel. Baiklah. Jika tidak menggunakan paspor, lalu bagaimana? Selama masa seleksi, kamu bisa menggunakan KTP saja. Jika sudah positif diterima, kamu bisa segera menyiapkan paspor sebelum tenggat tanggal pembuatan visa!

Seleksi yang tidak ribet dan menghabiskan biaya

Biasanya, seleksi beasiswa memaksamu untuk bolak-balik ke tempat tes selama berkali-kali. Dengan mendaftar beasiswa pemerintah Turki, kamu bakal cukup sekali ke Jakarta untuk tes. Seleksi beasiswa pemerintah Turki ini terdiri dari seleksi administrasi dan wawancara. Pada seleksi administrasi, kamu hanya perlu mengirimkan dokumenmu secara online. Kamu nggak perlu ribet ke kantor pos dan mengeluarkan biaya print out serta kirim dokumen.

Pada seleksi wawancara, kamu akan hadir langsung ke hadapan penyeleksi yang dihadirkan langsung dari Turki ke negaramu! Mungkin di sinilah kamu akan mengeluarkan biaya transportasi dari tempat tinggalmu ke tempat wawancara. Untuk akomodasi, wawancara hanya akan menghabiskan waktu satu harimu kok.

Kelas persiapan bahasa Turki yang membuatmu belajar menghargai budaya bangsa lain

Jika kamu belum pernah sekalipun berbaur dengan budaya yang sangat berbeda dengan budayamu, pasti akan aneh rasanya untuk pertama kali. Kelas persiapan bahasa Turki bukan hanya mengajarkanmu melek huruf Turki, tapi juga menyiapkanmu untuk lebih matang menghadapi perbedaan budaya.

Kok bisa?

Kelas persiapan bahasa Turki yang lebih dikenal dengan sebutan TOMER dihadiri oleh seluruh orang asing dari penjuru dunia yang berniat menguasai bahasa Turki. Posisi kalian yang sama-sama sebagai orang asing di negeri yang asing pula, membuat kalian sama-sama akan membangun empati dan saling memahami. Jika sudah terbiasa dengan berbedaan budaya, kelak kamu akan siap berbaur dengan orang-orang lokal yang budayanya tentu saja mayoritas di Turki ini. Kamu tidak akan meremehkan budaya mereka yang kamu anggap aneh biarpun mereka meremehkan budayamu. Eehhh! Bukannya marah dan tersinggung, kamu justru akan membangun empati kepada mereka yang meremehkan budayamu. Mungkin mereka belum pernah berbaur dengan bangsa lain.

Mempelajari bahasa Turki dari nol!

Coba bayangkan jika setibanya kamu di suatu negara asing, kamu diharuskan untuk menghadiri kelas yang seluruh isinya adalah orang lokal dari negara tersebut. Ya, walaupun itu bahasa Inggris, pasti sesuatu sekali itu.

Dengan menghadiri TOMER, kamu akan diajarkan bahasa Turki dari nol, bersama orang-orang asing yang sama sekali tidak bisa bahasa Turki sepertimu. Memang ada guru yang mau menjelaskan dengan bahasa Inggris untuk pertama kali. Namun ada juga guru yang sama sekali tidak menjelaskan dengan bahasa Inggris. Kalian sekelaspun akan diajari bahasa Turki selayaknya bayi yang baru lahir. Sangat mungkin sekali kalau gurumu akan berpantomim demi menjelaskan satu objek dalam bahasa Turki!

Lingkungan Eropa rasa Islam!

Di Indonesia, kita terbiasa mudah mendapatkan makanan dan minuman halal. Beribadah pun mudah dengan adanya banyak masjid. Apalagi, kita bisa mendengar adzan 5 kali sehari.

Jika kamu menginginkan suasana berbeda ala Eropa namun tetap ingin melaksanakan ibadahmu dengan nyaman dan aman, Turki adalah pilihan yang tepat buatmu yang belum pernah ke luar negeri, atau menjadi minoritas.

Di Turki, kamu bisa mendengarkan adzan 5 kali sehari dan menemukan banyak masjid. Ya, meskipun di kota tertentu seperti Izmir misalnya, tidak ada masjid di dalam kampus kecuali sebuah ruangan kecil untuk shalat. Setidaknya, kamu pasti akan menemukan tempat shalat. Kalaupun tidak, tidak akan ada yang melukaimu ketika kamu shalat di halaman belakang fakultasmu!

Soal makanan, kamu tidak perlu khawatir. Makanan halal tersebar di seluruh penjuru Turki. Lalu apa lingkungan Eropanya?

Dari segi berpakaian, terlebih jika kamu berkunjung ke Turki bagian barat seperti Izmir, kamu akan menjumpai gaya berpakaian muda-mudinya yang seperti orang Eropa. Begitu pula dengan budayanya.

Kurang lebih seperti itulah alasan positif kenapa beasiswa pemerintah Turki (YTB) cocok banget buat kamu yang belum pernah ke luar negeri berdasarkan pengalaman penulis. Kamu akan dimanjakan dan dipersiapkan dengan perbedaan yang tidak begitu membuatmu terkejut setengah mati.
Naelil Maghfiroh
Kontributor Turkish Spirit. Mahasiswa asal Jawa Timur ini sedang studi pada Jurusan Jurnalistik di Ege University, Izmir Turki. Aktif berorganisasi di PPI Turki dan menulis cerita pendek di sejumlah media seperti Majalah Sastra Horison dan juga aktif menulis di blog pribadinya di sini.

Turki, Relasi Alternatif Indonesia

22:52:00 Add Comment

Itulah cirikhas unik Islam vernaculer dalam perspektif Turki

[Versi Cetak Harian Jawa Pos, 10 Oktober 2016. Foto +Bernando J. Sujibto]
Pelan tapi pasti, Indonesia terus hadir dan berpartisipasi dalam berbagai acara penting di Turki. Misalnya, hadirnya pementasan wayang dalam serangkaian acara 13th Konya International Konya Mystic Music Festival, 22-30 September di Konya. Festival musik mistik internasional yang dihelat untuk memperingati hari lahirnya sufi besar Jalaluddin Rumi (30 September 1207) ini dinobatkan oleh Majalah Songline bermarkas di London sebagai 25 of The Best International Festival tahun 2015.

Kehadiran Indonesia menegaskan hubungan kedua negara semakin akrab, sebagai dua entitas yang mempunyai latar belakang kultur yang lahir dan besar dari peradaban Islam. Di samping budaya polulernya, seperti diwakili serial Turki di tanah air, Turki juga semakin intens meningkatkan relasi dengan Indonesia di banyak cakupan. Di waktu yang sama agen-agen kebudayaan Indonesia juga hadir di Turki sebagai simbiosis mutualisme demi memperkuat “relasi alternatif” antara kedua negara.

Pada awalnya masyarakat Turki mengetahui hal-ihwal Indonesia lewat media massa dan kisah pertemuan mereka secara langsung dengan orang kita di Tanah Suci. Sekitar sepuluh tahun terakhir, bersamaan dengan jumlah pelajar Indonesia di Turki yang semakin meningkat, acara-acara kesenian yang langsung didatangkan dari Indonesia dan program umroh dengan memasukkan Turki dalam paket mereka membuat masyarakat Turki secara langsung bersentuhan dengan orang Indonesia. Imajinasi tentang Indonesia, yang sebelumnya jauh dan diidefinisikan sebagai Uzak Doğu (negara dari Timur Jauh), semakin dekat di mata mereka.

Kekuatan Alternatif

Fenomena di atas sebenarnya secara gamblang bisa dimanfaatkan oleh Indonesia untuk membangun kekuatan alternatif. Sejauh ini Indonesia dan negara-negara berkembang lainnya banyak bekerja sama dengan Barat, atau lebih tepatnya dicengkram oleh kekuatan global seperti Amerika, Eropa, Rusia dan juga China.

Di luar kekuatan utama di atas, Indonesia harus menggandeng negara-negara yang mempunyai selera-kesinambungan dalam banyak aspek, khususnya dalam perspektif kultural. Turki, bagi saya, berada dalam konteks negara yang memiliki kedekatan dengan definisi jelas: persaudaraan berdasarkan agama (mayoritas). Meski terma ini bisa dicaci-maki di tengah perdebatan paham sekulerisme dan liberalism—atau maraknya stigmatisasi SARA secara luas—konservatisme dalam pemahaman Islam ihwal persaudaraan antarsesama Muslim tidak akan pernah terhapus!

Sementara itu, Turki telah membuktikan diri sebagai negara yang tidak bisa didikte oleh kekuatan manapun. Turki di bawah penguasa sekarang menjelma menjadi single player yang sangat aktif berperan dalam percaturan global. Misalnya, apabila Turki tidak sejalan dengan sekutu abadinya Amerika, mereka dengan cepat bermanover menggalang kekuatan bersama Rusia dan Iran.

Agustus kemarin sempat terjadi tensi tingkat tinggi ketika otoritas Turki mengkritik pedas Amerika yang mengolok-olok Turki di balik gagalnya kudeta 15 Juli. Turki dengan benderang menyatakan bahwa jika perlu Rusia bisa menempatkan jet tempur mereka di İncirlik, pangkalan udara pasukan NATO di Turki. Kalau tidak karena keberaniannya bermain api, P.M. Turki Binali Yıldırım tidak akan menyatakan hal tersebut di depan publik. Namun Turki tahu, sekutu abadi bernama Amerika ibarat ular yang mencaplok dan bermain kapan saja. Kuktinya, hari-hari setelah Kudeta 15 Juli, Turki menerjunkan 7000 pasukan bersenjata menjaga pangkalan militer NATO yang otomatis “milik” Amerika itu.

Sementara itu di tingkat Eropa sendiri, Turki menunjukkan diri sebagai negara yang dibutuhkan oleh mereka. Sehingga, meski secara politik Turki terus dipermainkan misalnya dalam proses pemenuhan menjadi anggota Uni Eropa, Turki tidak pernah tinggal diam dan menyusun kekuatan baru dengan negara-negara Selatan (Afrika dan Asia) untuk memperkuat stabilitas internal mereka.

Jika Anda tinggal di Turki setidaknya dalam dua tahun dan mengerti bahasa, kultur dan emosi mereka, secara mudah akan merasakan betapa negara-negara Eropa telah menghina (rakyat) Turki dengan memproduksi wacana dan bahkan tuduhan-tuduhan hoax. Misalnya, sekelas Menteri Luar Negeri Swedia juga ikut menyebarkan kebencian yang membuat berang seluruh rakyat Turki. Dalam akun Twitternya pada 14 Agustus 2016 Margot Wallström menulis “Turkish decision to allow sex with children under 15 must be reversed. Children need more protection, not less, against violence, sex abuse.
[Foto +Turkish Spirit]
Jelas sekali tuduhan tersebut tidak berdasar. Di luar itu, masih terus berlangsung produksi wacana dan polarisasi sedemikian rupa untuk menjegal Turki. Misalnya, agen-agen media di Eropa melontarkan isu bahwa Turki tidak layak menjadi anggota NATO oleh sebab krisis pengungsi Syria, dan sebagainya.

Di tengah agresifitas Turki, khususnya pasca kudeta, dan tekanan negara Eropa yang memandang Turki semakin kuat dan otoriter, memperkuat relasi dengan negara-negara Selatan adalah strategi yang sedang dimainkan.

Untuk itu, saya melihat potensi kerjasama Indonesia dengan Turki akan menjadi kekuatan baru. Dalam beberapa hal, Turki bisa menjadi model khususnya bagi pengembangan kebudayaan Islam atas khazanah lokal yang mereka miliki. Jika memungkinkan, konteks pengelolaan warisan kebudayaan ini harus dilihat sebagai proses rekonstruksi identitas kedua negara: Indonesia dengan lanskap multikultural dan Turki dengan warsian panjang sejarah peradaban Utsmani.

Di antara negara-negara yang mayoritas Muslim, Turki bisa dibilang salah satu negara dengan visi membangun kembali kebudayaan dan peradaban Islam paling kuat. Proyek besar-besaran dan restorasi sejarah lokal dan yang bersinggungan dengan Islam terus digalakkan. Yang menarik, Turki tidak pernah menghilangkan identitas lokal mereka meski tujuannya adalah untuk membangun dan menghidupkan kembali peradaban dan kejayaan Islam.

Tengoklah nama-nama proyek museum, sekolah, kursus Alquran, pusat riset, dll. Mereka pasti menggunakan identitas lokal, dengan menisbatkan kepada tokoh-tokoh Muslim yang berjaya selama Utsmani berkuasa, misalnya lembaga kurus al-Qur’an Yunus Emre, dll. Di samping itu, Turki pelan-pelan terus merevitalisasi sejarah Islam-Utsmani yang diboldozer oleh rezim sebelumnya. Misalnya, perubahan nama-nama durak (stasiun tram) yang sebelumnya merupakan kloning untuk identitas sekulerisme menjadi kembali ke identitas Utsmani, melalui nama-nama tokoh (seperti Elmalılı Hamdı) atau nama kebesaran Turki (Fırat: Sungai Eufrat).

Sependek yang saya tahu, sulit menemukan nama lembaga yang secara gagah-gagahan menyebutkan nama sahabat Nabi, khususnya yang berbau Arab, selain mereka yang mempunyai hubungan langsung dengan Turki seperti sahabat Abu Ayyub al-Anshoari (Baca: Makam Sahabat Nabi di Istanbul). Ini salah satu fakta menarik dalam internal pemahaman Islam di Turki. Turki mempunyai pendekatan berbeda, yaitu menggunakan kebudayaan dan khazanah tradisi lokal mereka untuk menunjukkan idenitas mereka sebagai Turki-Islam. Itulah cirikhas unik Islam vernaculer dalam perspektif Turki.

Tahun ini Konya dipilih sebagai The Islamic Tourism Capital for 2016 oleh Organization of the Islamic Conference (OKI). Dengan giat Provinsi Konya merestorasi situs-situs sisa Kerajaan Saljuk (1077-1308) dan membangun gedung besar Pusat Kebudayaan Islam di atas tanah sekita 10 ribu meter persegi, bersebelahan dengan Pusat Kebudayan Rumi.

Akhirnya, partisipasi kelompok Wayang Sadat pada malam pertama festival (22 September) kemarin semakin membuka ruang melalui jalur kesenian sebagai jalan relasi Indonesia-Turki. Wayang Sadat yang dicipatakan oleh Suryadi Warnosuhardjo asal Klaten tahun 1985 ini ikut menjelaskan bagaiman kesenian musik juga telah sarana dakwah di Nusantara dengan mementaskan lakon Wali Songo.

Pementasan Wayang Sadat menjadi delegasi ketiga dari Indonesia sejak festival ini pertama kali digagas tahun 2004 setelah Gamelan Semara Ratih (2010) dan Tari Saman (2014). Semoga ke depan Indonesia-Turki semakin aktif bergerak termasuk lewat jalur kesenian mereka.


BlogBernando J. Sujibto
Pendiri Turkish Spirit. Mahasiswa Program Master di Sosyal Bilimler Enstitüsü pada Jurusan Sosiologi di Selçuk Üniversitesi (2014-2016), Konya, Turki. Minat penelitian: Orhan Pamuk, Bidang sosial kebudayaan Turki, peacebuilding dan literary field. Jurnalis lepas dan kolomnis di sejumlah media nasional. Sejak belajar dan tinggal di Turki, mulai aktif menerjemahkan karya-karya sastra dan kebudayaan Turki. Menulis dan mengeditori sejumlah buku, playmaker untuk  @playplusina dan @spiritturki.

Kalian Harus Tetap Bersyukur Karena Bukan Mahasiswa di Turki

19:39:00 2 Comments

Hidup kita enggak seindah postingan Instagram 

[Foto: kelascinta.com/]
Karena beasiswa Pemerintah Turki (YTB, baca: Beasiswa ke Turki? Persiapkan 5 Hal Ini!) dianggap sebagai salah satu program beasiswa yang mudah didapat dan tanpa perlu punya skor TOEFL/IELTS yang tinggi, akhirnya banyak pelajar Indonesia mengincarnya. Bahkan disebutkan tahun 2016 ini jumlah pelamar beasiswa dari Indonesia adalah yang terbanyak kedua setelah Afganistan.

Pengumuman hasil seleksi tahap administrasi beberapa bulan lalu ternyata menyisakan banyak luka perih untuk sebagian besar pelamar YTB yang sudah menggantungan harapan dan optimisme agar bisa melanjutkan pendidikan ke Turki.

Bahwa jalan manusia sudah ada yang mengatur memang bukan hanya isapan jempol belaka. Tuhan adalah sebaik-baiknya pengatur yang sudah memutuskan jalan terbaik yang akan dilewati hamba-hambaNya.

Catatan berikut ini adalah beberapa hal yang harus kalian syukuri karena kalian enggak jadi tinggal di Turki!

Kalian tetap akan merasakan nikmatnya nasi goreng sebagai menu sarapan

Turki memang terkenal dengan beragam jenis makanan yang disajikan untuk sarapan. Tapi kalian jangan bayangkan itu adalah nasi dengan berbagai macam pilihan sayur dan lauk seperti di Indonesia. Jenis makanan yang dihidangkan untuk sarapan di Turki adalah timun mentah, tomat mentah, beberapa jenis keju, zaitun, telur, kentang rebus dan jenis selai. Kalau kalian tinggal di asrama pemerintah sarapan pagi kalian akan selalu dihiasi dengan menu yang sama.
[Sarapan Khas Turki. Foto http://www.gurmerehberi.com/]
Kalian enggak perlu pusing dengan 23 kg atau 30 kg

Sebagain besar mahasiswa Indonesia di sini memanfaatkan libur musim panas untuk bisa pulang ke rumah setelah satu tahun berjuang menahan rindu dan menahan uang jajan. Perjalanan Istanbul-Jakarta ditempuh dengan 14 jam perjalanan udara (belum termasuk transit). Kapasitas bagasi yang ditawarkan maskapai pun bermacam-macam. Belum kita pusing mau packing untuk pulang udah ada aja yang mau nitip oleh-oleh. Kita di sini sekolah bukan jalan-jalan dan belum berpenghasilan. Perjalanan di udara belasan jam ditambah nunggu selama transit aja udah bikin down duluan belum lagi kita harus bawa barangan sekitar 30 kg dari asrama ke bandara yang banyak ditempuh pakai bis. Kita angkat-angkat sendiri naik turun bis atau metro, enggak ada antar jemput!

Kalian enggak akan merasakan jadi orang paling bego polos

Kalian emang enggak diwajibkan buat punya skor TOEFL sampai 500 lebih karena kalian akan belajar pakai Bahasa Turki. Bahasa yang sama sekali enggak kalian tahu sebelumnya bahkan bisa dipastikan Bahasa Inggris kalian lebih bagus kan daripada Bahasa Turki? Di sini kalian bakal masuk kelas dengan Bahasa Turki akademik 100%. Jangankan paham apa yang dosen kalian terangin, temen kalian ngegosip aja masih suka roaming. At least bahasa pergaulan anak-anak masih lebih sederhana dan enggak perlu ada ujiannya segala, kan? Setidaknya belajar dengan memakai Bahasa Inggris masih bisa kalian raba-raba dan enggak terlalu asing dengernya. Kalian harus belajar ekstra dan tentunya harus sabar juga selama berbulan-bulan bahkan pakai tahun untuk bisa bertahan di tengah orang yang kalau ngomong apa enggak kalian pahami.

Kalian enggak menanggung beban berat dari harapan orang banyak

Terutama orang terdekat seperti keluarga atau guru-guru kalian. Mereka pasti bangga dan berharap banyak kalian bisa lebih sukses karena belajar sampai keluar negeri. Realitanya? Tidak ada yang bisa menjamin bahwa lulusan luar negeri lebih sukses daripada lulusan dalam negeri.
Dijadikan panutan dan tumpuan harapan itu mungkin bisa jadi sebuah motivasi tapi kalau kalian lagi stuck belajar, harapan-harapan yang mereka gantungkan itu seolah menjadi hantu yang bikin kalian pengen lari dan nyebur ke laut.

“Apaan sih itu katanya lulusan luar negri kok kerjaannya cuma jadi…”

Kalian tetep bisa marah tanpa harus dipendam lama-lama

Perbedaan budaya kadang bikin kita sering salam paham dan susah untuk memahami orang-orang di sini. Enggak cuma orang Turki tapi juga teman-teman dari negara lain yang juga sedang belajar di Turki. Orang Indonesia terkenal lebih lembut dan ramah. Kita yang sering merasa perbuatan mereka cukup “kasar” dan bikin kesel cuma bisa nahan diri buat tetep sabar karena memang karakter mereka seperti itu. Jadi, enggak ada alasan buat marah dong. Ya, udah disimpen aja terus keselnya.

Meskipun saat ini jalan kalian belum terbuka untuk ke Turki tapi kalian tetap bersyukurlah! Kalian harus tetap semangat dan yakin ada jalan lain udah terbuka lebar menanti kalian untuk menoleh setelah berhasil move on dari Turki.

Turki bukan segala-galanya dan bukan jalan satu-satunya untuk bisa sukses. Tapi Turki adalah jalan satu-satunya kalau kalian cuma mau upload foto dan check in lagi di Haghia Sophia!
[Instagram Penulis. Foto +Turkish Spirit]
“Hidup kita enggak seindah postingan Instagram!”


Roida Hasna Afrilita
Tim redaksi Turkish Spirit, mahasiswi Jurusan Ilmu Pendidikan Bahasa Turki di Canakkale Onsekiz Mart Univeristesi. Pelajar Indonesia asal Magelang Jawa Tengah, memiliki minat pada konsep dan menejemen pendidikan. Instagram @roidanana.

Film-Film yang Dilarang di Turki

10:08:00 Add Comment

Tokoh utama dalam film bernama Angela, seorang gadis Perancis, yang ditampilkan secara tidak bermoral

[Foto www.sinematurk.com/]
Republik Turki adalah negara dengan tensi dan intrik politik maha tinggi. Sejarahnya yang panjang, menguasai banyak wilayah sejak Usmani dan posisi geografis yang strategis membuat Turki selalu berada dalam sorotan kepentingan-kepentingan negara dan agen-agen lain. Khususnya setelah Usmani runtuh, kontestasi dan perebutan legitimasi berlangsung sengit--dan bukan cuma soal sekulerisme dan islamisme. Untuk mengetahui lebih dekat negara yang mempunyai sejarah kudeta militer dan kekerasan struktural di masa lalu tersebut kita dapat juga mempelajari sejarah pelarangan dan sensor besar-besaran atas film-film mereka. Berikut ini adalah sedikit dari banyak film lokal Turki yang dilarang tayang pada masanya. 

Pengasuh
Produksi: Asosiasi Para Veteran
Tahun: 1919
[Foto www.sinematurk.com/]
Pada era menjelang hancurnya Dinasti Usmani, tepat pada akhir gejolak Perang Dunia I, Film yang diadaptasi dari novel karya Hüseyin Rahmi Gurpinar dengan judul yang sama Mürebbiye (Pengasuh) ini terbit pertama kali pada tahun 1919 di Istanbul. Film ini sekaligus menjadi film pertama Turki yang disensor.

Film yang diproduksi oleh Asosiasi Para Veteran ini ditentang oleh pihak sekutu Inggris dan Prancis yang pada tahun itu memegang kendali Istanbul. Layangan protes tersebut datang dari salah satu jenderal Prancis yang bertugas di Istanbul bernama Franchet D’Esperey. "Tokoh utama dalam film bernama Angela, seorang gadis Perancis, yang ditampilkan secara tidak bermoral," protes sang jenderal.

Mürebbiye bercerita tentang seorang gadis Perancis yang bekerja sebagai pengasuh anah di rumah di Dehri Efensi di Istanbul. Angela datag ke Istanbul karena pacarnya, Maksim. Ketika di Istanbul Angela selingkuh dengan lelaki lain dan tanpa ampun dibuang oleh sang pacar. Karena tokoh dalam film tersebut digambarkan sebagai pembantu rumah secara tidak terhormat dan karena di waktu yang sama Angela digambarkan sebagai perempuan yang suka bermain laki-laki, pihak sekutu menginginkan film Mürebbiye tidak ditayangkan. Meskipun dilarang, film ini tetap ditayangkan secara sembunyii-senbunyi.

Dunia yang Gelap: Asik Veysel
Sutradara: Metin ERKSAN
Tahun: 1952
[Mseum Asik Veysel, Eskisehir. Foto +Bernando J. Sujibto]
Film berjudul asli Aşık Veysel'in Hayatı, Karanlık Dünya ini diprduksi di Turki pada tahun 1952. Menceritakan kehidupan seorang penyair yang sekaligus penyanyi lagu-lagu rakyat yang sangat legendaris bernama Asik Veysel. Masa kanak-kanaknya Veysel adalah seorang yang digerogoti penyakit, lahir dari keluarga miskin di Sivas. Tubuhnya ringkih dan akhirnya buta total. Ketika menjadi buta, luka dan penderitaan menjadi topik dalam syair-syairnya. Di samping itu, film ini menyinggung isu-isu politik di tengah-tengah kehidupan desa di Turki pada masanya yang digambarkan secara real. Film ini mengeksplorasi luka dan penderitaan seorang Veysel yang benar-benar menyayat.

Dunia yang Gelap merupakan film debutan Metin Erksan dan skenarionya ditulis oleh Bedri Rahmi Eyüboğlu.

Film ini disensor karena mengangkat realitas kemiskinan dan penderitaan rakyat Turki di tanah Anatolia. "Tidak ada lahan kering di negeri ini," kata pihak otoritas penyensor dari lembaga pemerintah pada masanya. Pemerintah tidak ingin membuka aib kemiskinan dan penderitaan rakyatnya ke publik dan media, termasuk melalui film. Lalu bagian-bagian yang mengangkat realitas kehidupan desa yang penuh penderitaan dahsyat itu harus dipotong. Tapi, setahun kemudian film ini pun akhirnya boleh ditayangkan bebas di Turki.

Saudara Dursun
Sutradara: Osman F. SEDEN
Tahun: 1954

Film berjudul asli Kardeş Dursun ini muncul ke layar lebar tahun 1954. Melalui film Saudara Dursun sutradara Osman F. Seden benar-benar mendapatkan tekanan maksimal dari pihak lembaga sensor di Turki. Seden diminta harus menghapus sebuah fragmen yang menggambarkan tentang kapal perang musuh yang digambarkan masuk ke pintu masuk Selat Bosphorus melalui Laut Hitam. Pihak penyensor tidak ingin melihat ada adegan tersebut dalam filmnya. Karena adegan itu sama saja dengan menunjukkan bahwa musuh sudah menyerbu Istanbul pada periode Perang Dunia I menuju hancurnya khalifah Usmani. Meksi ada sejarah yang mengatakan bahwa pemerintahan Istanbul di akhir Usmani didikte oleh sekutu Inggris dan Prancis, Turki tidak mau menerima klaim seperti itu. Karena bagi mereka Istanbul tidak pernah jatuh ke tangan penjajah.

Jalan
Sutradara: Yilmaz GÜNEY, Şerif GÖREN
Tahun: 1982
[Foto www.sinematurk.com/]
Yılmaz Güney menulis skenario film berjudul asli Yol ketika dirinya mendekam dalam penjara. Dalam kondisi yang sama--dirinya berada dalam tekanan negara--dari dalam penjara Yılmaz Güney mengkomando Şerif Gören untuk menyutradai film ini. Yol dikenal sebagai salah satu film Turki yang sangat berani. Salah satu adegan di penjara, “kurallara uymayan kapalı ceza evine gönderilecek" (yang tidak mematuhi peraturan akan dipindah ke penjara tertutup) merupakan sebuah kritik kepada kondisi masa lalu Turki yang penuh intrik politik dan militer. Aturan tersebut sebenarnya bersumber dari “günah işleyen cehenemme gidecek” (yang berbuat dosa akan masuk neraka).

Namun begitu, pada tahun 1982 film ini mendapat penghargaan Palem Emas (The Palme d'Or) dari Festival Film Cannes, Prancis. Atas jasa Fatoş Güney, tahun 1999 film ini bisa ditayangkan dengan bebas di Turki. Meski begitu, secara umum film-film Güney terus berada dalam provokasi yang dikampanyekan negara atas perjuangan dirinya membela dan menyuarakan hak-hak rakyat yang tertindas. 

Tembok
Sutradara: Yilmaz GÜNEY
Tahun: 1983
[Foto www.sinematurk.com/]
Salah satu film Yılmaz Güney yang dilarang tayang adalah Tembok (Duvar). Film ini dibuat di Paris dengan dukungan negara Perancis. Film ini bercerita tetang kerusuhan dan pemberontakan di dalam Penjara tertutup di Ankara. Yılmaz Güney juga sempat mendekam di penjara tersebut.

Güney, yang memulai karirnya sebagai sastrawan ini, terkenal dengan film-film realis yang mengambarkan apa adanya ihwal realitas kehidupan Turki pada tahun 1960 hingga 1980-an. Film-film yang diprodusinya pasti selalu membakar jenggot para penguasa Turki pada masanya. Sehingga nyaris dari film-film yang diproduksinya mendapatkan penentangan keras oleh penguasa Turki.

Habisi Pelacur Itu
Sutradara: Ömer Lütfi AKAD
Tahun: 1949
[Foto www.sinematurk.com/]
Film Vurun Kahpeye diadaptasi dari novel karya Halide Edip, novelis paling berani menyuarakan hak-hak perempuan dan menentang kelas sosial di masa-masa akhir Dinasti Usmani dan awal Turki republik. Skenarionya ditulis oleh Ömer Lütfi Akad dan Selahattin Küçük. Film ini diakui oleh insan perfilman sebagai penanda film-teater. Kombinasi film dengan pendekatan teknik teater dieksplorasi secara maksimal dalam film ini.

Vurun Kahpeye adalah film debutan Ömer Lütfi Akad sebagai sutradara. Film ini bercerita tentang seorang guru bernama Aliye yang datang dari pinggiran Istanbul untuk mengajar anak-anak di kota. Karena terjadi tensi antara kelompok Islamis dan republikan, Ibu Guru Aliye akhirnya terkena imbas fitnah yang berakhir pada pengarakan dirinya oleh kelompok Islamis, sebelum akhirnya dibunuh dengan dilempar batu karena dituduh berzina.

Karena fragmen cerita yang menyudutkan kelompok Islamis, rilis fim ini pun ditentang oleh kalangan konservatif dan memaksa badan sensor film melarangnya. Namun akhirnya, setelah mengalami sensor tiga kali film ini pun bisa tayang di Turki.

Balas Dendam Ular
Sutradara: Metin ERKSAN
Tahun: 1962
[Foto www.sinematurk.com/]
Cerita dalam film Balas Dendam Ular ini diadaptasi dari novel karya Fakir Baykurt dengan judul sama Yılanların Öcü. Novel debutan yang ditulis  1954 (pada usinya 28 tahun) ini langsung menyabet nomor satu hadiah Yunus Nadi pada tahun 1958, kemudian dimuat secara bersambung di harian Cumhuriyet, dan terbit di tahun yang sama.

Satu tahun berikutnya, novel ini menjadi kontroversi dan membuat murka penguasa karena dinilai berbau propaganda dengan menyuntikkan perjuangan kelas pekerja/petani kecil. Akibatnya, tugas dirinya sebagai guru dibekukan dan novel ini pun dilarang.

Tahun 1962 diangkat ke layar lebar oleh sutradara kawakan Metin Erksan. Film ini pun dilarang dan boleh tayang dengan syarat harus disensor di banyak bagiannya. Film ini tayang pertama kali untuk sebuah bioskop di Ankara pada tanggal 23 April 1962, tetapi dilarang oleh beberapa kelompok yang marah.

Kemudian dengan persyaratan yang ketat film ini boleh tayang, misalnya harus makin pendek dan isinya lebih halus, pengolahan pertanian jangan tampak sangat primitif dan dua gadis yang menari tidak boleh tanpa alas kaki.

Kekeringan
Sutradara: Metin ERKSAN
Tahun: 1963
[Foto www.sinematurk.com/]
Film berjudul asli Susuz Yaz ini adalah adaptasi dari novel karya Necati Cumali. FIlm yang tidak lolos Dewan Sensor ini pada tahun 1964 masuk dalam Berlin Film Festival. Dalam festival tersebut film ini menyabet film terbaik dan memenangkan penghargaan Beruang Emas. Film Kekeringan pun menjadi pemenang penghargaan film internasional pertama dalam sejarah sinema Turki.

FIlm yang diperankan oleh tokoh Osman Kocabaş (Erol Tas) dan kakaknya bernama Hasan Kocabaş (Ulvi Dogan) ini bercerita tentang konflik pertanian, tentang perebutan pengairan untuk sawah-sawah mereka. Osman sangat kejam dengan menutup sumber air yang dipunyai oleh keluarga. Rakyat desa tidak diberi izin oleh Osman untuk mendapatkan air buat pertanian mereka. Konflik pun muncul pelik. Osman berlagak jahat dan sekaligus selingkuh dengan istri kakaknya sendiri (redaksi/ts/bje).

Tulisan di atas diolah dari berbagai sumber


Indonesia Siap Menjadi Ibu Kota Pemuda OKI

22:49:00 Add Comment

Kami juga sudah menyampaikan permintaan agar Indonesia menjadi ibu kota pemuda OKI

[Delegasi dari Indonesia. Foto @Didit Haryadi]
Organisasi Kerja Sama Islam (dahulu Organisasi Konferensi Islam, OKI) menggelar pertemuan di Istanbul pada 5-7 Oktober 2016. Indonesia sebagai anggota aktif OKI juga turut berpartisipasi pada acara tersebut. Sebanyak 8 orang delegasi dari Indonesia hadir berpartisipasi dan menyampaikan beberapa program. Sebanyak 57 negara anggota OKI juga hadir dalam konferensi tersebut.

Kegiatan yang bertempat di Conrad Bosphorus Hotel, Beşiktaş, ini mengambil tema “Empowering Youth For Peace, Solidarity and Development”. Kegiatan tersebut adalah khusus untuk kementerian pemuda dan olahraga negara-negara OKI, yang secara khusus membahas program kepemudaan.

Perwakilan Indonesia yang hadir adalah Prof. Dr. Faishal Abdullah (Kemenpora), Tantan Taufik Lubis (Presiden OKI Indonesia), Margareta (Fatayat NU), Dwi Puji Astuti (Yayasan Muslim Plus) dan Alfi Irfan AgriSocio (Technopreneur).

Dalam kesempatan tersebut, Indonesia juga menjalin kerjasama dengan negara-negara lain. “Salah satunya, Indonesia sudah bertemu dengan perwakilan dari Mesir untuk menindaklanjuti hubungan bilateral,” ujar Dwi Puji Astuti dari Yayasan Muslim Plus. “Pemberdayaan pemuda harus dapat dilihat sebagai peluang dan selanjutnya akan mampu berkontribusi bagi masyarakat. Baik pada bidang kewirausahaan maupun teknologi,” tambahnya.

Pada kesempatan yang berbeda, Alfi Alfian yang merupakan technoprenuer dari AgriSocio juga menyampaikan hal serupa. Ia menginformasikan bahwa dalam acara ini juga telah disampaikan upaya untuk membentuk Joint Youth Strategy. “Selain itu, kami juga sudah menyampaikan permintaan agar Indonesia menjadi ibu kota pemuda OKI, di mana rencana realisasinya pada tahun 2018 mendatang,” paparnya (didid/ts).

Jejak Turki di KAA Bandung

07:16:00 Add Comment

Sikap Turki yang kontroversial tersebut telah menjadi sebuah kegagalan besar dalam sejarah diplomasi yang dilakukan oleh Zorlu

[Fatin Zorlu. Foto +Hadza Min Fadhli Robby]
1955 merupakan tahun penting bagi bangsa-bangsa berwarna yang terjajah di seluruh dunia. Pada tahun ini, untuk pertama kalinya, mereka bertemu untuk mendiskusikan masa depan dunia yang sedang terpasung oleh konflik yang diprovokasi oleh dua negeri adidaya, Uni Soviet dan Amerika Serikat. Puluhan kepala negara dari Asia-Afrika berkumpul di Bandung, sebuah kota yang dahulu menjadi saksi atas perbudakan dan juga perjuangan anti-kolonialisme dan anti-imperialisme.

Di antara negara-negara yang datang ke Konferensi Asia-Afrika di Bandung, ada satu negara yang kedatangannya menarik untuk ditelaah lebih lanjut: Turki!

Mengapa Kedatangan Turki Menarik?

Sejak Perang Dunia Kedua, Turki dihadapkan pada sebuah dilema besar: Ke kekuatan mana Turki harus bergantung dalam politik internasional yang terus bergejolak? Pada pertengahan Perang Dunia Kedua, Turki harus terus berupaya melakukan pendekatan diplomatik kepada Nazi Jerman, AS-Inggris dan Soviet agar netralitas mereka tidak disalahpahami sebagai upaya pembiaran terhadap konflik berkepanjangan.
[Dokumen Turki KAA Bandung. Foto +Hadza Min Fadhli Robby]
Setelah usainya Perang Dunia Kedua, Turki dihadapkan pada perkembangan Perang Dingin, yang kemudian memaksa Turki untuk memilih satu di antara dua pilihan: bergabung di barisan kapitalis-liberalis yang dikomandoi Amerika Serikat atau bergabung di barisan komunis-sosialis yang dipimpin Uni Soviet. Kondisi geopolitik Turki yang strategis terancam oleh upaya aneksasi dan dominasi oleh Uni Soviet, sehingga kemudian Turki memutuskan untuk merapatkan dirinya ke Blok Barat. Tak lama setelah bergabung dalam Blok Barat, Turki banyak berpartisipasi dalam koalisi militer, seperti pada Perang Korea dan bergabung pada organisasi NATO.

Dalam kondisi seperti itu, Turki mengikuti Konferensi Asia-Afrika di Bandung pada tahun 1955. Turki merupakan satu-satunya anggota NATO yang terlibat dalam Konferensi Asia-Afrika. Hal ini menjadi menarik karena salah satu agenda Konferensi Asia-Afrika adalah kritik terhadap pembentukan aliansi militer di dunia internasional.
Meskipun begitu, Turki tetap diundang oleh negara pemrakarsa konferensi, Indonesia, karena Turki masih dianggap sebagai bagian dari Asia-Afrika dan juga menjadi salah satu negara pelopor dalam upaya perjuangan kemerdekaan di Asia-Afrika. Bung Hatta sendiri menuliskan bahwa Perang Kemerdekaan Turki (Kurtulus Savasi) yang telah terjadi di berbagai medan perang seperti Afyon Karahisar, Sakarya dan tempat-tempat lainnya telah menjadi inspirasi bagi pergerakan kemerdekaan di Indonesia dan juga di bangsa-bangsa Asia-Afrika[1]

Dalam konferensi ini, Turki dipimpin oleh Wakil Perdana Menteri Turki yang juga berpengalaman sebagai diplomat, Fatin Rustu Zorlu. Dalam sebuah pidatonya ke Parlemen Turki pada tahun 1956, Menteri Zorlu mengungkapkan bahwa alasan Turki terlibat dalam Konferensi Asia-Afrika merupakan sebuah ‘permintaan’ dari negara-negara sahabat Turki di Blok Barat. Zorlu mengatakan: `Ya, negara-negara sahabat kita mengharapkan dengan sangat, mereka mengatakan pergilah (ke konferensi) itu, jika kalian (Turki) tidak pergi, maka akan terjadi sesuatu yang buruk’[2].
[Gedung Konferensi Asia-Afrika Bandung. Foto +Hadza Min Fadhli Robby]
Dorongan dari negara-negara sahabat Turki di blok Barat tidak mengherankan, karena Blok Barat amat mengkhawatirkan bahwa Konferensi Asia-Afrika dapat mengganggu upaya penangkalan penyebaran ideologi komunis di kedua benua tersebut. Dalam makalah yang disusun oleh Gurol Baba dan Senem Ertan[3], dijelaskan bahwa sikap Turki dalam Konferensi Asia-Afrika seolah menjadi seperti ‘Kuda Trojan Blok Barat’ yang menyusup ke arena negara-negara yang menolak kecenderungan perang antardua blok. Baba dan Ertan menjelaskan sikap Turki yang menjadi Kuda Trojan tersebut sangat wajar karena pada tahun 1955 AS memberikan paket bantuan ekonomi sebesar 20 juta dolar AS, pada masa-masa di mana ekonomi Turki membutuhkan genjotan untuk memperbaiki ekonominya[4].

Tak heran, Turki dengan tegas menyatakan kepada negara-negara anggota konferensi Asia-Afrika bahwa kecenderungan politik menjaga netralitas di tengah perang antarblok Barat dan blok Timur harus dihindari. Karena menurut Turki, upaya dominasi Blok Timur yang menyebarkan ‘komunisme’ dan ‘otoritarianisme’ harus dilawan secara serius oleh komunitas internasional. Satu-satunya solusi dalam situasi perang antar dua blok, menurut Turki, adalah bergabung dengan Free World atau dunia yang bebas ala Blok Barat[5]. Turki juga menekankan bahwa bergabung dengan Free World merupakan sebuah cara untuk melepaskan diri dari imperialisme lama dan menguatkan kembali komitmen terhadap keadilan dan melindungi kemerdekaan setiap negara.
Pernyataan tersebut tentu menimbulkan kontroversi dan perdebatan di antara negara-negara anggota konferensi, termasuk Indonesia yang sangat getol membela proposal untuk menjaga netralitas di tengah Perang Dingin. Bahkan, dalam pengakuan Mahmut Dikerdem, seorang diplomat Turki yang bertugas saat itu, sikap Turki yang kontroversial tersebut telah menjadi sebuah kegagalan besar dalam sejarah diplomasi yang dilakukan oleh Zorlu. Alih-alih terlihat seperti dirinya sendiri, Turki telah menjadi juru bicara Amerika. Menurut Duta Besar Dikerdem, pada konferensi itu, Zorlu tidak dapat melakukan pertemuan khusus dengan pemimpin dunia, seperti Nehru, Tito dan Nasir karena sikap Turki yang dianggap terlalu bias. Bagi Duta Besar Dikerdem, kesalahan diplomasi Turki yang seperti ini merupakan kesalahan yang tak dapat diperbaiki lagi[6].

Setelah konferensi Bandung usai, Turki makin menegaskan dirinya sebagai bagian dari Blok Barat dengan membentuk koalisi pertahanan Pakta Baghdad bersama dengan negara-negara di kawasan Timur Tengah sebagai pakta pertahanan yang mengamankan kepentingan Blok Barat di kawasan tersebut. Namun koalisi ini pada akhirnya runtuh pada tahun 1979.

Sepulang dari Bandung, Fatin Rustu Zorlu meneruskan tugasnya sebagai Menteri Luar Negeri hingga pada tahun 1960, ketika dirinya, bersama dengan Perdana Menteri Adnan Menderes dan Menteri Hasan Polatkan harus mundur dari jabatan karena paksaan junta militer.


[1]Prof. Dr. Ismail Hakki Goksoy, `Ataturk ve Turk Inkilabinin Endonezya Etkileri’, http://www.atam.gov.tr/dergi/sayi-52/ataturk-ve-turk-inkilabinin-endonezyadaki-etkileri.
[2]Emel Emre, `Turkiye’nin Bandung Konferansinda Asya-Afrika Ulkelerine Ihaneti’, Ozgur Universite Formu 01 2005, p. 87.
[3]Gurol Baba dan Senem Ertan, ‘Turkey at the Bandung Conference: fully aligned among the non-aligned’, 2016 ISA Conference Paper, p. 1.
[4]Ibid, p.2.
[5]Emre, p. 88.
[6]Emre, p. 88.


Hadza Min Fadhli R
Bagian dari tim Turkish Spirit. Mahasiswa Hubungan Internasıonal di Eskişehir Osmangazi Üniversitesi, Eksişehir Turki. Aktif menulis untuk media dan mengisi di blog pribadinya. Silahkan kunjungi alamatnya di sini.