Bocah Suriah Melawan Waktu

10:38:00 Add Comment

Sejak pagi warung dibuka, ia sudah mulai bekerja dan berakhir pada jam 11 malam. Artinya, jam kerja Ahmet di atas 12 jam!

[Titik Bertemunya Rumi dan Shemsi Tibriz. Foto Didid Haryadi]
Berkunjung ke kota Konya selalu memiliki pengalaman yang berbeda. Kota ini sangat tenang dan cocok bagi mereka yang ingin merasakan semangat spiritual dari tokoh sufi besar, Maulana Jalaluddin Rumi (1207-1273). Di kota ini ada beberapa tempat yang bisa menjadi tujuan persinggahan. Mulai dari makam Rumi yang berada dalam komplek museumnya, makam Tibris yang merupakan guru spiritual Rumi, sampai lokasi berjumpanya Rumi dengan Sang Guru yang dikenal dengan titik “bertemunya dua laut”. Lokasi-lokasi tersebut terbilang mudah dijangkau, dan jaraknya tak terlampau jauh antara satu dengan yang lainnya. Ditunjang pula dengan sistem transportasi modern dan terintegrasi, membuat para pejalan lebih nyaman pastinya. Kita juga bisa memilih berjalan kaki, sambil mereguk aroma peninggalan Kerajaan Seljuk (1077–1308) dengan melalui beberapa situs yang tersisa.

Malam itu saya juga memilih berjalan kaki. Merasakan kabut tipis yang menutupi jalanan lengang dan menerobos temaram lampu-lampu kota. Sampai-sampai udara dingin yang menusuk kulit mengharuskan saya berjalan lebih cepat. Udara waktu itu mencapai titik minus 7. Tak heran jika asap selalu keluar dari mulut saat percakapan kecil dilakukan. Tiba di sebuah pasar aksesoris yang berada tidak jauh dari kompleks makam Rumi, saya bersama seorang kawan memilih menepi ke sebuah warung untuk mencari makanan.

Secangkir teh panas menjadi pilihan utama untuk menghangatkan badan. Sedangkan untuk menambah energi, nasi dengan lauk ayam bakar yang telah dipotong kotak-kotak pun kami pesan. Kami tak harus menunggu lama, sang pelayan pun datang bersama nampan berisi teh dan nasi ayam bakar. Makanan datang bersama rasa kaget. Di hadapan saya berdiri seorang garson yang ternyata masih seorang bocah. Sebenarnya ini bukan perjumpaan pertama saya dengan bocah yang bekerja di sebuah warung makan atau warung teh. Di beberapa kota besar di Turki, jika kita masuk ke warung-warung kecil akan ada bocah yang bekerja di sana.

Setelah melihat sang pemilik warung ke luar untuk mengobrol dan merokok bersama kawannya di parkiran komplek pasar, saya menikmati sajian makan malam, sembari mengobrol dengan bocah tadi. Namanya Ahmet, usianya 14 tahun. Ia berasal dari Suriah, negeri yang kini sedang bergolak karena perang dan menyisakan pilu mendalam bagi semua orang. Nilai-nilai kemanusiaan kini semakin tercampakkan karena gejolak perang dan politik transaksional antar negara. Ahmet adalah salah satu korbannya.

Ahmet mengaku telah bekerja lebih dari setahun di warung ini. Ia ke sini karena kondisi di daerahnya yang tidak memungkinkan lagi untuk bermain bersama teman-temannya. Sebagai tambahan informasi, Turki sendiri salah satu negara yang menampung pengungsi asal Suriah dalam jumlah sangat besar. Ada beberapa pengungsi yang memilih ke kota-kota besar di Turki untuk mencari kehidupan baru. Beragam cerita yang dipunya mereka, sama dengan rupa pekerjaan yang dilakukan.

Malam semakin larut, jam dinding hampir menunjukkan pukul 11 malam. Di luar sangat sepi, tentu karena musim dingin telah meringkus kota ini. Orang-orang melilih menghangatkan badan di dalam ruangan. Saya melanjutkan obrolan dengan melontarkan beberapa pertanyaan kepada Ahmet. Penuturan Ahmet mengenai kedua orang tuanya yang masih di kampung halaman, hingga perjalanannya ke sini yang seorang diri membuat saya semakin penasaran dengan bocah ini. Berbekal kemampuan Bahasa Turki yang terbatas, Ahmet mencoba bercerita hal lain kepada saya. Sebelumnya saya bertanya, dia bisa berbahasa Inggris atau tidak, dan sayangnya dia tak paham sama sekali.

Akhirnya, untuk melunasi rasa penasaran kepada bocah ini, saya memintanya mendekat ke meja makan kami. “Berapa lama jam kerja kamu di sini?” saya kembali melanjutkan obrolan. Ia pun bercerita bahwa sejak pagi warung dibuka, ia sudah mulai bekerja dan berakhir pada jam 11 malam. Artinya, jam kerja Ahmet di atas 12 jam! Saya bertanya lagi tentang gajinya dalam sebulan. Jawabannya sungguh sangat mengejutkan saya. 250 Lira, ujarnya sambil tersenyum meski saya menangka betapa getir senyuman itu. Mungkin uang sekecil itu (untuk ukuran Turki karena rata-rata gaji minimum 1300 TL) sudah cukup banyak bagi Ahmet. Seketika saya menghentikan makan dan memintanya membawakan kami dua gelas kecil untuk menuang air mineral yang saya bawa. Setelahnya saya menawarinya makan dan duduk di sebelah kami. Namun, ia menolak, dengan sesekali melihat ke arah pintu. Mungkin ia memastikan, jika bosnya memperhatikan caranya melayani pembeli.

Akhirnya saya mengakhiri obrolan dengan bocah ini. Kami pun menawarkan beberapa koin Lira. Tapi Ahmet menolak. Namun saya mencoba meyakinkannya bahwa ini memang untuknya. Saya memintanya mendekat. Sambil melihat ke luar pintu lagi, ia pun menerimanya dan tersenyum sambil bertutur terima kasih dalam Bahasa Turki. Ia sepertinya takut kalau saja bosnya melihat dirinya menerima uang dari para pembeli.

Perbincangan pun selesai. Malam semakin larut. Kami memutuskan untuk beranjak. Tak lama kemudian, saya bertanya kepada si Ahmet berapa harga makanannya. Ia berlari ke luar dan memanggil sang bos. Ternyata masih tersisa beberapa Lira dari jumlah yang seharusnya kami bayar. Saya meminta izin kepada pemilik warung, apakah boleh memberikan uang kembalian kepada si Ahmet. Ia pun membolehkannya. Dan saya pun memanggil sang bocah yang masih membereskan meja. Awalnya ia tidak ingin menerimanya. Meski saya meyakinkannya bahwa sang pemilik warung telah mengizinkannya. Namun, sang bos memintanya untuk tidak menolak. “ambil uangnya dan masukkan ke dalam kantong, Ahmet,” ujar si bos. Ahmet dengan kain lap di tangan kirinya pun menerima uang dari kami sembari tersenyum takut.

Kami pamit dari warung. Kembali ke penginapan, menembus malam yang semakin dingin. Saya menyimpan tanya tentang bocah tadi. Kesunyian malam membawa memori saya kembali ke masa kanak-kanak, hingga masa bermain dan belajar di sekolah.

Ahmet, bocah 14 tahun yang bekerja dalam sunyinya malam. Ia selalu menunggu 250 Lira setiap bulannya. Jari-jari tangannya kini terlatih untuk melayani para pengunjung. Di saat bocah-bocah lainnya sedang tertidur pulas dengan selimut dan hangatnya kasih sayang orang tua; besok hari bocah-boca lain pergi ke sekolah, belajar dan bermain; sedangkan si Ahmet harus terbangun lebih awal, menyiapkan serta memastikan meja dan kursi makan telah siap bagi para pengunjung, sekaligus menyiapkan senyuman ramah dan polos kepada setiap yang datang.


Didit Haryadi
Pimpinan Redaksi Turkish Spirit. Mahasiswa master program Sosiologi di Istanbul University. Person In Charge untuk Indonesia Turkey Research Community (ITRC) di Istanbul.

Pengalaman Pekerja Spa di Turki

14:52:00 8 Comments

Dalam masalah profesionalitas, tidak semua sektor pekerjaan di bidang terapis dan spa di Turki bekerja secara baik

[Foto http://kosk.abantotel.com.tr/]
Berangkat dari keinginan untuk merasakan kerja di luar negeri dan mencari pengalaman baru, aku pun bertekad berangkat kerja ke Turki setelah mendapatkan tawaran kontrak kerja. Di samping itu, alasan lain dan sangat pokok tentu masalah ekonomi. Aku membayangkan Turki adalah negara maju dengan orang-orang yang kaya raya juga ramah-ramah. Karena aku sadar, upah dan gaji di Indonesia sendiri cukup rendah. Harus membayar kos, makan dll. dengan uang gaji misalnya sekitar 2 jutaan.

Dengan tekad tersebut, aku berangkat dengan tujuan kerja sebagai terapis pada salah satu hotel di sebuah kota di Turki. Tentu dong, keinginan untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya tentang budaya Turki dan ciri khas negaranya sudah aku tanam. Anda tentu sudah mendengar destinasi turis dan tempat-tempat bersejarah di Turki. Setiba di Turki, aku juga ingin menikmatinya sendiri.

Persyaratan untuk kerja sebagai terapis di Turki sebenarnya tidak repot amat. Secara standar pelamar harus menyiapkan dokumen seperti CV, Kartu Keluarga (KK), KTP, SKCK, PASPORT, Visa dan cek kesehatan. Selanjutnya kita serahin ke agent yang mau mencarikan tempat di luar negeri yang cocok buat kita. Hal penting yang diperhatikan, sebelum diberangkatkan kita ditraining dulu sampai mendapatkan sertifikat spa. Setelah lulus training, agent kemudian mencari jaringan penyaluran kerja seperti ke Rusia, Ukraina, Turkey, Arab Saudi dan negara-negara lain yang membutuhkan. Ketika semuanya sudah beres, tinggal diproseskan visa kerja dan aku pun berangkat ke Turki.

Dalam kontrak kerjaku, standar gaji pokoknya sekitar $600, dengan sistem handle per jam dapat $1, jadi per bulan bisa sampai $800. Makan dan tempat tinggalku sudah ditanggung bos di Turki. Sebagai informasi tambahan, harga spa dengan paket kese köpük + masaji (spa purge + pijat) bertarif 100 TL. Kalau massage 50 TL dan kese köpük  saja 50 TL (tahun 2015).

Kerja di Turki (dan juga di negara manapun) tentu akan penuh dengan suka duka yang harus dihadapi oleh pekerja. Sukanya aku bepergian jauh dan bisa mengetahui keadaan di negeri orang. Di samping itu kita harus hidup mandiri, semuanya serba sendiri dan belajar bertanggung jawab terhadap pilihannya sendiri. Kesempatan untuk belajar langsung budaya baru di Turki lewat interaksi dengan orang-orang yang aku kenal adalah anugerah yang harus aku manfaatkan sebaik mungkin.

Selain itu, sisi sedihnya adalah ketika rindu keluarga di rumah, makanan, rindu kampung halaman. Betul, aku mendapati orang-orang ramah di Turki, tapi tidak begitu dengan dunia kerja di sini. Pengalaman ini harus menjadi catatan bagi teman-teman yang tertarik bekerja di Turki, khususnya di sektor-sektor non-formal. Misalnya, di kontrak kerja, tertera 8 jam kerja tetapi kita kerja di sini dari 10-12 jam kerja. Aku tidak bisa komplain kepada agent ataupun perusahaan di mana aku kerja. Terus gajihnya juga kadang lambat dibayarnya hingga 1,5 bulan.

Dalam masalah profesionalitas, tidak semua sektor pekerjaan di bidang terapis dan spa di Turki bekerja secara baik. Banyak kasus yang merugikan pekerja yang senasib denganku, baik dari Indonesia sendiri ataupun dari negara-negara tetangga Turki seperti Georgia, Kirgiztan dan Kazakistan dll. Kasus-kasus umum yang tidak profesional sama sekali misalnya: penundaan pembayaran (bisa sampe 1-3 bulan), soal hari libur (banyak kasus pekerja sepertiku tidak diberikan libur sesuai kontrak. Ada yang dua minggu sekali liburnya, ada yang satu bulan tak ada libur, ada juga meski libur tidak boleh keluar dari hotel bagi yang tinggal di hotel atau dari apartmen yang disediakan bos tanpa ada izin dari bos), soal izin tinggal di Turki (ada kenakalan seorang bos dengan cara menipu proses dokumen peizinan, misalnya pekerja spa tapi ketika memroses surat izin tinggal diminta agar mengaku bekerja di Bekery biar pajaknya tidak mahal), soal pengawasan (misalnya, ada pekerja yang dilarang berkenalan dengan orang Indonesia misalnya pelajar gitu, ada yang hanya boleh pakai taksi dan dilarang naik angkutan umum), dan soal tambahan biaya living cost (misalnya dalam kasusku, aku disuruh bayar wifi, sebagian pengalaman pekerja yang lain bahkan diharuskan ikut bayar listrik oleh pengelola).

Kasus di atas bukan cuma terjadi kepadaku tapi juga dari pengalaman dan curhatan teman-teman yang sama-sama kerja di bidang terapis, mereka mengalami hal yang sama (khususnya soal jam kerja dan pembayaran gaji). Bahkan ada yang sampai 3 bulan tidak dibayar dulu. Lagi-lagi, ini kembali kepada manajemen dan pengelola tempat di mana kita kerja. Kita harus hati-hati mempelajari tempat di mana akan bekerja. Jadi, pengalaman ini juga catatan kepada saudara sebangsa dan setanah air yang tertarik ingin kerja di Turki agar tetap hati-hati dan pelajari kontrak kerjanya dengan baik. Di samping itu, pengawasan dari KBRI/KJRI di Turki harus betul-betul intens dan memberikan teguran kepada para pengelola yang tidak profesional dan merugikan kami sebagai pekerja.

Tak terasa aku setahun bekerja dan tidak pulang, menyimpan kerinduan dan ingin cepat berjumpa dengan keluarga di rumah. Akhirnya setelah kontrak kerja habis aku pun pulang ke Bali dan saya sudah dijemput oleh keluarga dengan air mata pecah, disambut dengan air mata kebahagiaan. Pengalaman kerja setahun di Turki telah mengajarkan banyak pelajaran hidup bagiku.


Ni Putu Eni Sujata Dewi
Seorang terapis bersertifikat dengan pengalaman kerja di Turki dan Rusia. Suka hal-hal baru dengan traveling. Untuk kepentingan korespondensi silahkan hubungi via akun Facebook penulis dengan nama Eny Dewik.

Kosa Kata Unik Indonesia dalam Bahasa Turki

02:14:00 9 Comments

Misalnya salak (buah salak) dalam bahasa Turki berarti bodoh dan idiot (kesannya negatif)

[Air Mineral dengan Nama Berrak. Foto http://yellow-up-yourlife.blogspot.com.tr/]
Tulisan berikut ini muncul secara tidak disengaja lewat obrolan grup tim TS (Turkish Spirit). Seperti biasa kami berbagi informasi hal-ihwal Turki secara cair dan berseru-seruan, sampailah obrolan kami tentang “kosa kata Bahasa Indonesia yang ada dalam kosa kata Bahasa Turki”, mulai dari kata yang sama plek hingga kata yang phonic-nya dekat, tapi artinya berbeda jauh, misalnya salak (buah salak) dalam bahasa Turki berarti gila (kesannya negatif). Meski begitu ada beberapa kata yang secara arti sama dalam dua bahasa, misalnya resmi, sabun, hayal dan istirahat.

Kesamaan paling banyak (baik tulisan maupun arti) terjadi pada kata-kata serapan dari bahsa Arab, Inggris, Prancis, dll, misalnya ekonomi, anatomi, demokrasi, estetik, romantik, praktik, roman, zaman, ironik, politik, taksi, estetik, mistik, fakir, alegori, tarih, kolektif, nikah, taksi, ruh, mini, mikro, makro, zaman, dll. Di samping itu, ada kata-kata serapan yang di-Turki-kan (menurut lidah Turki), misalnya kültür, egzotizm, kimya, diyalog, benzin, fikir, kozmopolit, atmosfer, rasyonel, selamet, radyo, istasyon, hadiye, nasip, sürpriz, teşbih dll.
[Buah Salak. Foto http://www.123rf.com/]
Berikut ini TS ingin menghadirkan kosa kata bahasa Turki yang sama plek (khususnya dalam kesamaan bunyi baik yang sama-sama serapan ataupun asli bahasa Turki) sebagai karya hasil seru-seruan tim redaksi yang kami urutkan menurut abjad. Semoga bermanfaat dan bisa melenturkan yang kaku dan menghadirkan Turki lebih 

Ada (pulau)
Alay (ejekan, resimen)
Akar (properti, lumpur)
Aksi (kebalikan/sebaliknya)
Antik (antik, bersejarah)
Ayna (kaca cermin, nama orang di Indonesia)

Baca (cerobong asap, dibaca baja)
Bacak (kaki, dibaca bajak)
Bakkal (warung kecil untuk jualan di samping jalan, dengan dua “k”)
Bahar (musim semi)
Basit (mudah, nama orang di Indonesia)
Bebek (bayi)
Bel (pinggang)
Berrak (bersih/terang, dengan dua “r”)
Bina (gedung/bangunan)
Bir (satu)
Bos (kosong, tidak berguna)
Budak (ranting yang akan patah)
Buruk (pahit, getir, celaka)
Bulak (sumber, bahasa Jawa jalan di antar pematang sawah)

Cam (kaca, dibaca jam)
Cuma (hari Jumat)

Dahi (juga/pun)
Damar (urat)
Dana (daging sapi, juga nama orang di Indonesia)
Dayak (pukulan atau alat pukul, nama suku bangsa di Indonesia)
Devasa (sangat besar, hebat, dibaca dewasa)
Deniz (laut, nama orang di Indonesia)
Dua (doa)
Duduk (peluit)

Etek (rok, dalam bahasa Madura itik)

Gece (malam, dibaca geje : ga jelas :p )
Gula (tenggorokan bagian atas)

İnsan (manusia)
İki (dua, bahasa Jawa ini)

Kan (darah)
Kadar (berapa, untuk menyebut jumlah/harga)
Kala (sebelum, dipakai untuk terkait waktu)
Kale (benteng, iya kalee :- )
Kamu (publik)
Kaos (chaos/kacau balau)
Kapak (kover, tutup)
Kayak  (permainan ski)
Kaya (batu besar)
Kendi (diri, e dibaca seperti pada tempat)
Kibar (sopan)
Koma (orang koma)
Konak (penginapan)
Kulak (telinga, bahasa Jawa belanja)


Lan (panggilan akrab dan kadang kasar, dude. Bahasa Jawa dan)

Hakim (hakim/dominan)
Hatta (bahkan, nama orang di Indonesia) 
Harap (rusak/runtuh)
Hasta (sakit, nama orang di Indonesia) 

Makam (tempat)
Mahal (tempat/lokasi)
Mahir (ahli)
Mama (makanan bayi)
Masa (meja)
Masam (tempat untuk berhenti)
Maymun (kera/monyet, nama orang di Indonesia)
Melek (malaikat)
Merak (penasaran)
Miras (warisan, singkatan dari minuman keras)
Model (bentuk/tipe/model)

Nokta (noktah/titik)

Organ (organ tubuh, organisasi)
Om (bulatan tulang)

Paha (harga)
Pala (mata pisau)
Pak (bersih, munir)
Para (uang)
Pasak (kotor)
Puan (skor, poin, nama orang di Indonesia)

Saat (jam/waktu)
Saba (cahaya, suasana angin pagi, dalam bahasa Madura sawah)
Salak (bodoh/idiot)
Salah (penyembuhan, pemulihan/damai)
Sabit  (tepat/konstan)
Sana (kepadamu)
Salon (ruangan, hall)
Saf (murni)
Sara (halus, murni, bersih)
Saru (kuning, orang berkulit kuning)
Sihir (magis)
Sini (baki/talam)
Sol (kiri)
Surat (wajah)
Susun (sepi, damai)
Sus (diam, jenis kue di Indonesia)

Tahta (papan)
Takdir (apresiasi)
Taraf  (sisi/pihak)
Tarif  (petunjuk)
Tahlil (analisis)
Tempo (waktu)
Tok (kenyang, dalam bahasa Jawa saja)

Yahut (atau, rasanya emang yahut :p )
Yaya (zebracross, nama orang di Indonesia)
Yeni (baru, nama orang di Indonesia)
Yük (beban, makan yuuuk!)



Banyak Cara Melanglang Buana dari Turki

02:23:00 Add Comment

Meskipun Turki secara utuh belum menjadi bagian Uni Eropa, ada instansi tertentu di mana Turki sudah menjadi bagian dari Uni Eropa

[Menara Pisa, Italia. Foto ellowkhan.wordpress.com]
Berhentilah berbohong. Kini saatnya kita berbicara jujur. Apakah kita akan konsisten dengan jawaban cliché "Saya ingin mendapatkan pendidikan yang lebih baik" setiap kali ditanya untuk apa kuliah ke luar negeri? Bagaimana dengan jawaban yang lebih jujur, seperti "saya ingin jalan-jalan!" Yup, begitulah kenyataannya. Kita semua ingin jalan-jalan atau traveling, bahasa yang lebih mampu meromantisasi kata jalan-jalan itu sendiri.

Mungkin saya terlalu berlebihan dalam menjeneralisasi motif orang dalam merantau ke luar negeri; mungkin motif yang terkesan nakal ini hanya berlaku pada diri saya seorang. Tapi kalau kebetulan kalian juga memiliki motif sama seperti saya (merantau keluar negeri karena ingin jalan-jalan dan melihat dunia lebih luas), saya punya berita baik. Di Turki, impian kalian untuk melanglang buana bisa menjadi kenyataan. Bagaimana caranya?

Program Petukaran Pelajar (Exchange Program)

Pernah iri karena teman-temanmu beruntung bisa kuliah di Eropa? Iri, bukan karena pendidikan Eropa yang terkenal sangat bagus, tapi karena sisi lainnya seperti merasakan kuliah di salah satu negara Uni Eropa yang otomatis bisa keluar masuk ke 26 negara Eropa lainnya. Mendengar kemungkinan ini saja mata kamu langsung berninar-binar.
[Foto www.gap360.com]
Berita baik, buat mahasiswa asing di Turki, kalian bisa merasakan privilege yang sama. Bukan karena Turki belum masuk ke Uni Eropa dan juga belum masuk ke teritori Schengen. Tapi ada satu alasan mengapa kamu bisa merasakan hidup di Benua Biru selama maksimal 2 semester yaitu program pertukaran pelajar Erasmus+.

Nah, meskipun Turki secara utuh belum menjadi bagian Uni Eropa, ada instansi tertentu di mana Turki sudah menjadi bagian dari Uni Eropa. Pendidikan, misalnya. Sistem pendidikan di Turki mengacu pada sistem pendidikan Eropa. Ini bisa dilihat dari penerapan sistem ECTS dan sistem pendidikan Bologna di kampus-kampus di Turki. Inilah mengapa di salah satu program departemen pendidkan Uni Eropa (Erasmus+) Turki juga diikutsertakan.

Eramus+ adalah program pertukaran pelajar antar negara Uni Eropa, di mana para mahasiswa bisa mengajukkan diri untuk menghabiskan maksimal dua semester di salah satu kampus yang ada di benua Eropa. Jadi, bagi kamu-kamu yang gila jalan-jalan ini adalah kesempatan emas. Buruan cek website kampusmu dan pelajari persyaratannya. Siapa tahu semester depan kamu bisa ada di Eropa. Bisa menikmati sarapan pagi paling bersejarah dalam hidupmu, seperti menyuruput segelas kopi panas ditemani croissant tepat di tepi sungai Seine sambil menatap kemegahan menara Eiffel!

Staj/Intership di Benua Biru
Selain mengambil mata kuliah, Erasmus+ juga menyediakan program Internship. Penasaran nggak sih bagaimana rasanya bekerja di perusahan-perusahan di Eropa? Siapa tahu dengan mengambil program internship ini kamu jadi terinspirasi untuk menerapkan dunia kerja yang lebih profesional nantinya saat kamu kembali ke Indonesia.

Sama seperti program kuliah, program internship ini juga menyediakan uang saku. Untuk jumlahnya silahkan tanyakan langsung ke International Relations Office di kampusmu.

Mevlana Değişim Programı
[Foto mevlana.cumhuriyet.edu.tr]
Erasmus+ bukanlah satu-satunya program pertukaran pelajar yang ada di Turki. Pemerintah Turki memiliki program yang mereka ciptakan sendiri namanya Mevlana Degisim Programi. Hampir sama seperti Erasmus+, bedanya program Mevlana megutamakan negara-negara di luar Uni Eropa sebagai tujuan studi. Negara-negara yang ada dalam list seperti negara Balkan, Amerika Latin, Afrika dan Asia. Bahkan, Indonesia juga termasuk lho. Tapi menurut rumor yang beredar, kita nggak diizinin untuk memilih negara asal. Sebagai opsi, kenapa nggak pilih negara tetangga seperti Malaysia saja, dengan begitu kamu bisa mudik setiap kali ada liburan panjang. Tapi kembali lagi, negara pilihan tergantung dengan kampus asalmu, karena sistem program ini adalah perjanjian antara insitusi bahkan antarjurusan. Kujungi saja website kampusmu untuk memastikannya.

Farabi
[Foto w3.sdu.edu.tr]
Masih berkaitan dengan program pertukaran pelajar. Bedanya yang satu ini berlaku antar kampus di dalam Turki. Jadi kamu ingin merasakan satu atau dua semester di kota lain di Turki, kamu bisa ikut program ini. Tapi hati-hati, pastikan semua mata kuliah yang kamu pilih bisa mengganti mata kuliah yang kamu harus ambil di kampus asal. Bisa-bisa nanti kamu harus ngulang, kalau mata kuliahnya tidak disetujui kampus asal.

Work and Travel 

Masih kuliah tapi juga penasaran gimana rasanya dunia kerja? Ada program yang memfasilitasi kekepoan kamu terhadap dunia kerja, nama program itu Work and Travel. Program ini sangat menarik, bukan hanya program ini memfasilitasi pelajar untuk mengalami dunia kerja, program ini juga memfasilitasi pelajar untuk mengalami dunia kerja DI NEGARA LAIN dan negara tersebut adalah Amerika!

Program Work and Travel ini biasanya berlangsung selama liburan musim panas. Jadi kalau kamu belum punya rencana mau ngapain summer ini, kamu bisa langsung mendaftarkan diri untuk program yang satu ini. Persyaratannya, kamu harus sudah terdaftar disalah satu kampus di Turki. Selain itu kamu juga harus membayar biaya kepada agen Work and Travel sebesar 1800USD belum termasuk harga tiket dan biaya visa.

Program yang satu ini juga bisa menjadi sebuah studi lapangan buat kamu untuk membuktikan apakah ide American Dreams itu benar atau tidak. Menurut beberapa teman saya yang sudah mengikuti program ini, uang yang kamu keluarkan bisa kembali bahkan berlipat ganda selama tiga bulan asal kamu mau kerja keras. Normalnya mereka yang mengikuti program ini hanya terikat pada satu pekerjaan. Tapi kalau kamu mau menghasilkan dolar yang lebih banyak, tidak ada salahnya untuk kerja lebih dari satu kerjaan. Dan beberapa teman saya sudah memperaktikkan hal ini, mereka pun pulang dengan pundi-pundi dolar yang lumayan.

Konferensi Internasional

Bagi kamu yang menggeluti dunia akademis, atau akan terjun ke dunia akademis mengikuti konferensi bisa menjadi nilai plus saat nanti melamar kerja. Bukan hanya mendengarkan pembicaraan keynote speakers, ini saatnya kamu untuk terjun langsung mempresentasikan makalah dan artikel. Syukur-syukur kalau artikel yang kamu presentasikan lolos publikasi di publishing house jurnal internasional

Letak Turki yang secara geografis dekat ke tiga benua, Asia, Eropa dan Afrika, membuat kamu lebih gampang untuk mengikuti konferensi internasional. Dalam artian biaya trasportasi bisa lebih diminimalisir. Di samping itu, kesempatan emas juga buat kamu karena banyak kegiatan konferensi ataupun short course yang akomunadasinya ditanggung panitia. Kamu bisa jalan-jalan gratis plus dapat ilmu. Seru, tidak? Untuk informasi konferensi internasional kamu bisa cek langsung di google, seperti conferencealerts.com yang akan update semua jawdal konferensi.

Solo Traveling
[Candi Borobudur, Indonesia. Foto www.lokopoko.travel]
Saatnya menguji kekuatan paspor hijaumu! Nah, berhubung kamu lagi di Turki, tidak ada salahnya untuk jalan-jalan sendiri. Jika visa adalah hal yang paling menakutkan dalam sejarah paspor Indonesia, kenapa nggak jalan-jalan ke negera bebas visa atau negara yang menyediakan visa alternatif seperti VOA (visa on arrival) dan elektronik visa. Dengan visa hijau, kamu bisa mengunjungi negara-negara yang tidak begitu jauh dari Turki seperti Maroko, Oman, Tajikistan, Yordania dan lain-lain dengan sistem visa altenatif.

Jadi, sekarang kamu sudah tau kan gimana caranya untuk merealisasikan impian mu untuk melanglang buana dari Turki? Sekarang saatnya untuk menjemput kesempatan!


Adhari
Redaksi tim Turkish Spirit. Mahasiswa Jurusan Sastra Inggris di Universitas Celal Bayar, Manis Turki suka traveling dan menulis. Pernah menerima beasiswa Erasmus Program di Universitatea "Durea de Jos" din Galati, Romania. Blog pribadinya di sini.