Istanbul dan Tahun Barunya si Nimet Abla

14:50:00

Lalu adakah hal yang berbeda dari perayaan tahun baru di Istanbul? Jawabannya ada: Nimet Abla dan Milli Piyango

[Malam Tahun Baru di Bosphorus. Foto sechaber.com]
Tahun 2016 sudah mendekati hari-hari terakhir. Kalau semuanya panjang umur, kita sama-sama akan menyaksikan pergantian tahun. Sebagian orang (terutama saya), yang menderita penyakit lupa cukup akut, untuk beberapa minggu bahkan bulan, masih akan terus menulis tahun 2016 kala menulis tanggal. Begitulah, karena manusia sesungguhnya sangat sulit untuk move on.

Seperti di belahan bumi lainnya yang menggunakan penanggalan Masehi, Istanbul juga turut memperingati pergantian tahun a la mainstream: pesta tahun baru atraksi kembang api.

Tak seperti di tanah air yang peringatan tahun barunya cukup meriah dirayakan oleh segala lapisan masyarakat, di Istanbul aura perayaannya biasa saja, karena hanya dilakukan di beberapa tempat tertentu. Di perumahan tempat masyarakat tinggal tidak ada kegiatan perayaan khusus, meski ada juga sebagian kecil yang mengadakan acara makan malam atau kumpul-kumpul bersama sahabat dan kerabat.

Di Jakarta biasanya segala lapisan masyarakat memeriahkan dengan bakar-bakaran alias barbeque kerakyatan di halaman rumah ataupun di lapangan kompleks perumahan. Di Monas diadakan pesta tahun baru dengan artis-artis idola, demikian juga di Ancol dan di berbagai hotel. Semua tumpah ruah ke luar rumah dengan dipuncaki peniupan terompet dan atraksi kembang api.

Sedangkan di Istanbul sendiri, sebenarnya sama saja, hanya saja terkonsentrasi di daerah tertentu. Misalnya untuk pesta-pesta tahun baru, daerah Beşiktaş dan Etiler menjadi pilihan favorit. Sudah barang tentu juga Taksim, yang selalu menjadi saksi bisu beragam polah manusia, dari mulai aneka aski demonstrasi ini-itu, konser-konser budaya, musik-musik anak jalanan, hingga kerusuhan.

Hotel-hotel di Istanbul tak ketinggalan mengadakan Yeni Yıl Balosu (Pesta Dansa Tahun Baru), juga kapal-kapal wisata yang berlayar di Bosphorus giat menjual tiket-tiket pesta tahun baru bertabur artis. Cukup search dengan kata kunci : Yeni yıl partisi, yeni yıl balosu, yeni yıl göşterisi.

Penjual terompet tahunan tidak ada, namun atraksi kembang api spektakuler tak penah absen, biasanya diadakan di jembatan Bosphorus.

Bertentangan dengan segala kemeriahan yang lumayan glamor ini, perumahan penduduk pada umumnya sepi-sepi saja. Jangankan merayakan, mengingat saja tidak dan bahkan mengucapkan Selamat Tahun Baru juga ada sebagian masyarakat yang menganggapnya dosa (Turki: günah).

Hidup di Istanbul selama tujuh tahun ini, memang sudah cukup memberi saya gambaran, masyarakat Istanbul terbagi dua, dari ekstrim satu ke esktrim lain. Ada yang pol-polan bergaya hidup a la barat (maksudnya a la barat menurut interpretasi mereka sendiri), dan ada pula yang menganggap apapun itu yang berkaitan dengan Republik dan budaya setelahnya adalah haram.

Saya kenal beberapa wanita yang tidak mau ke sekolah anak-anaknya merayakan 23 Nisan Ulusal Egemenlik  ve Çocuk Bayramı, yaitu hari terbentuknya Republik Turki sekaligus hari anak, dihelat pada tanggal 23 April setiap tahun.

Pada tanggal 23 April 1922 itu, Kesultanan Ustmaniyyah dinyatakan selesai dan berganti menjadi Republik Turki (Türkiye Cümhuriyeti) dengan presiden pertamanya Mustafa Kemal Atatürk, demikian keputusan TBMM (Türkiye Büyük Millet Meclisi-Majlis Permusyawarahan Rakyat).

Selanjutnya setiap tanggal 23 April sekolah-sekolah mengadakan perayaan dengan pertunjukan tari-tarian nasional, puisi dan koor oleh murid-murid sekolah.

Sebagian orang tua murid ini menganggap jika datang ke sekolah untuk menyaksikan anak-anak mereka tampil, maka sama saja dengan mengakui adanya Republik dan mengingkari kekhalifahan islam!

Nah, demikian juga dengan merayakan tahun baru. “Tahun baru siapa?” katanya. “Tahun baru kita 1 Muharram, kok”.

Dengan demikian, ada sebagian perusahaan lokal yang juga tidak meliburkan karyawannya di tanggal 1 Januari ini, kecuali 1 Januari tersebut bertepatan dengan hari Minggu. “Gavır değiliz -kami bukan kafir,” katanya. Gavır dulu disematkan kepada koloni orang-orang Rum pada masa Ustmaniyyah. Nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat ini juga dicerminkan hingga ke segala sisi kehidupannya termasuk dalam gaya hidup, cara berpakaian dan pemilihan pasangan hidup.

Segala perbedaan yang ekstrim ini buktinya tidak menggerus rasa nasionalisme masyarakat terhadap negaranya. Baik yang diam-diam dalam hati tidak mendukung adanya Republik beserta segala budaya yang diperkenalkan setelahnya, ataupun yang mati-matian mendukung adanya Republik plus segala atribut bawaannya yang (belum tentu) aslinya sepaket dengan ide Republik itu sendiri.

Pesta, atraksi kembang api, keduanya terdengar umum saja, tidak ada bedanya dengan di Jakarta. Lalu adakah hal yang berbeda dari perayaan tahun baru di Istanbul? Jawabannya ada: Nimet Abla dan Milli Piyango.

Pernah mendengar tentang Nimet Abla? İni bukan bermaksud mempopulerkannya. Hanya mau menjelaskan bahwa antrian panjang di Eminonü, distrik Fatih-Istanbul, di samping mesjid Yeni Camii itu adalah antrian untuk membeli tiket lotre yang disebut Milli Piyango.
[Mereka Mengantre di Nimet Abla. Foto aksam.com]
Mungkin yang kebetulan sedang berwisata ke Istanbul di bulan Desember ini bisa melihat antrian laki-laki-perempuan, tua-muda, bahkan yang berpakaian dengan menunjukkan identitas keislaman. Semuanya dengan rapi berdiri dalam antrian, walau di tengah udara dingin yang menggigit.

Apakah ini antrian masuk masjid atau ambil wudhu? Ternyata bukan, melainkan antri membeli tiket lotre di loketnya Nimet Abla. Di sekitar mereka banyak juga pedagang lotre asongan yang memakai atribut Milli Piyango (topi, vest berlogo MP), menawarkan tiket yang sama. Akan tetapi yang mengantri tetap bergeming. Pokoknya Nimet Abla adalah harga mati.

Sebenarnya siapa sih Nimet Abla yang fenomenal ini, apa pula Milli Piyango? Abla adalah panggilan akrab untuk wanita yang artinya kurang lebih “kakak” atau “mbak”. Nama aslinya adalah Melek Nimet, kelahiran 1899 di Istanbul. Milli Piyango sendiri adalah istilah Turki untuk “lotre nasional”.

Nimet Abla, yang bernama asli Melek Nimet Özden, adalah salah satu agen lotre Milli Piyango. Ketika itu tahun 1928, Nimet abla dan suaminya membuka toko di Eminonü, dan mulai menjual tiket lotre Milli Piyango yang saat itu masih bernama Türk Tayyare Cemiyeti.

Berperan sebagai distributor, mereka mengedarkan tiket kepada para pedagang kecil sebagai perkenalan. Sayangnya karena sistem yang masih buruk, mereka tidak bisa mengganti uang yang dipergunakan dan akhirnya bangkrut.

Kebangkrutan ini tidak menghalangi niat Nimet Abla yang sudah bulat di dunia penjualan tiket lotre. Ia pun mendatangi Pimpinan Türk Tayyare Cemiyeti, Fikret Bey, dan melahirkan keputusan agen bernomor.

Kemasyhurannya sebagai pembawa keberuntungan (alias talih dalam bahasa Turki) dimulai sejak tahun 1931 ketika seseorang yang memenangkan hadiah lotre tahun baru terbesar dengan jumlah 100 ribu Lira, menganggap kemenangannya berkaitan dengan keberuntungan dari Nimet Abla.

Koran dengan oplah terbesar saat itu İkbal, Tasvir ve Efkar memajang foto Nimet Abla di halaman pertamanya, sedang menghitung lembaran uang seratus ribu Lira yang akan diserahkan ke pemenang lotre. Terang saja sejak saat itu masyarakat semakin percaya bahwa si Abla pembawa keberuntungan. Kalau mau membeli lotre supaya menang ya belinya di Nimet Abla, demikian kepercayaan masyarakat saat itu.

Setiap pemberitaan koran tentang pemenang lotre dari Nimet Abla, pasti digunting dan dipajang di dinding tokonya sebagai iklan.

Nimet Abla sangat bahagia bisa memberi kebahagiaan kepada orang-orang yang memenangkan lotre melalui dirinya. Terlepas dari pandangan kaum Muslimin terhadap dirinya dan pekerjaan yang digelutinya, Nimet Abla mengisi sisi spiritual dalam hidupnya dengan berhaji. Bahkan waktu itu di usianya yang masih 36 tahun, ia sudah berhaji berkali-kali.
[Kerumunan di Nimet Abla. Foto aksam.com]
Sebagai pengagum Atatürk, konon, menurut situs www.nimetabla.com, ia pun rajin membuat mauludan setiap tahun ditujukan untuk presiden Turki pertama tersebut.

Puncak dari pengorbanan spiritualnya, ia membangun mesjid yang menyadang nama Hacı Nimet Cami di daerah Esentepe, Istanbul, pada tahun 1963. Tak cukup sampai di situ, si Abla juga menjual villa warisan dari orangtuanya yang terletak di Bosphorus, yang mana uangnya digunakan sebagai dana awal badan wakaf untuk membiayai sekitar 200 orang anak dengan berbagai jenjang pendidikan, demikian paparan di situsnya.

Hingga saat ini, hadiah lotre tahun baru Milli Piyango yang pemenangnya akan diumumkan pada tanggal 31 Desember nanti, memang sangatlah besar. Tiketnya terbagi menjadi beberapa jenis: tiket penuh dengan harga 60 TL, hadiahnya 60 juta TL; tiket setengah harganya 30 TL, hadiahnya 30 juta TL; dan tiket seperempat dengan harga 15 TL, harganya 15 juta TL.

Sebagai perbandingan, harga satu unit apartemen biasa-biasa saja berkisar 250-350 ribu TL. Jadi, 1 juta TL saja sudah besar sekali, apalagi 60 juta TL. Gaji UMR di Turki 1300-an TL. Karyawan menengah biasanya bergaji sekitar 2500-3500 TL. Jadi, bagi sebagian orang, harapan menang lotre adalah mimpi indah yang terus dipupuk.

Nimet Abla sudah meninggal tahun 1970-an, kini toko utamanya di Bahçekapı, Eminonü, dan toko lainnya di Sirkeci dan Bakırköy dikelola oleh para keponakannya, karena ia tidak  memiliki keturunan.

Bagi Anda dan saya, yang berprinsip lotre dan segala jenis perjudian adalah haram, tidak perlu menggerebek antrian Nimet Abla. Masih banyak aktifitas lainnya di seputaran Eminonü yang nikmat walau tanpa si Abla Nimet. Bisa wisata kuliner di seputaran Eminonü dan Jembatan Galata, beribadah di mesjid Yeni Cami, ziarah ke Valide Sultan Turbesi, jalan-jalan di dalam Spice Bazaar, berbelanja pakaian di Mahmut Bey, berbelanja barang-barang unik di Tahta Kale, dan berfoto di Valide Sultan Han yang instagrammable. Bisa juga sekedar ngeteh-ngeteh cantik di cafe mana saja seputaran Eminonü yang selalu ramai itu.  

Selamat menikmati hari, TSer.


Lia Yulianti
Salah satu anggota redaksi Turkish Spirit ini akrab disapa “Lia” atau “Teteh Lia”. Menekuni pekerjaan paruh waktu sebagai penerjemah untuk pariwisata. Menulis buku Best of Turki (Elex Media Komputindo, 2014) bersama sabahabatnya, Dian Akbas. Salah satu tulisannya terangkum dalam buku Kumpulan Cerpen Bilik Sastra Jilid 3 (RRI World Service-Voice of Indonesia, 2014). Korespondensi bisa melalui email: lia_oke2001@hotmail.com.

Silahkan Baca Juga

Previous
Next Post »