Pernikahan di Turki? Simaklah Ini

11:33:00

Salah satu yang khas dari pesta pernikahan di Turki adalah tarian/joged (halay) oleh kedua mempelai dan tamu-tamu dari kedua pihak

[Kına Gecesi. Foto magazinizmir.com]
Tahun lalu saya menulis tentang langkah-langkah menuju pernikahan a la Turk, seraya berjanji untuk menuliskan lanjutannya berupa bahasan tentang malam midodareni dan pesta pernikahannya. Berikut saya tuliskan sebagian besar gambarannya untuk pembaca TS.

Pesta Pernikahan di Musim Panas

Pernikahan di Turki biasanya diselenggarakan di musim panas. Alasannya, di musim panas dari Juni hingga Agustus cuaca bagus dan cerah selalu. Pesta bisa dilakukan di luar ruangan dan para tamu tidak perlu repot dengan mantel tebal plus syal, topi dan sepatu boots. Tetamu dari daerah lain juga bisa datang tanpa perlu mengkhawatirkan anak-anaknya karena selama musim panas sekolah libur.

Meskipun ada saja yang anti mainstream, menyelenggarakan pesta pernikahan di musim dingin. Namun jumlahnya sangat jarang.

Dari sejak pertunangan hingga pesta pernikahan, lamanya biasanya satu tahun penuh. Katakanlah jika pertunangannya musim panas 2016, maka pesta pernikahannya itu akan dilaksanakan pada musim panas 2017.

1 Tahun Masa Pertunangan

Selama rentang waktu pertunangan tersebut, kedua keluarga akan saling kunjung-mengunjungi dalam berbagai acara makan malam, piknik, dan berbelanja bersama untuk keperluan rumah tangga calon pengantin. Jika pihak pria berkunjung biasanya tak lupa membawa buket bunga, di samping oleh-oleh lainnya. 

Ketika hari raya Kurban, hewan kurban mempelai wanita dibawakan oleh tunangannya. Bukan hewan Kurban sembarangan, namun harus yang gagah dan tanduknya pun berhias pita-pita merah. Bahkan terkadang dikalungi perhiasan emas pula. Setidaknya itu yang saya lihat dalam budaya masyarakat di propinsi Antalya, pesisir Laut Tengah.
[Takı Töreni. Foto: http://haberciniz.biz/]
Pernikahan ini akan menelan biaya yang cukup besar. Rata-rata dipenuhi semua oleh orang tua kedua belah pihak, dengan pembagiannya tergantung kesepakatan antara mereka dalam berbagai rapat keluarga. Terkadang ada juga calon suami yang menanggung sebagian besar biaya pesta dan isi rumah, tanpa bantuan orang tuanya.

Memiliki anak laki-laki di Turki artinya harus memberikan rumah kepada si anak tatkala dia menikah. Makanya tak jarang orang tua membangun satu bangunan 4 atau 6 lantai yang setiap lantai didedikasikan untuk masing-masing anak lelakinya. Jika si anak tinggal di kota lain karena pekerjaannya, unit apartemen yang dibangun tadi disewakan dan uangnya diberikan untuk support rumah tangga si anak. Walaupun tidak diberikan rumah, rata-rata orang tua membantu uang muka pembelian rumah untuk anaknya.

Bisa dibilang bahwa urusan penyediaan rumah adalah tanggung jawab pihak pria. Demikian juga perhiasan emas untuk mempelai wanita sebagai mas kawin. Namun ada saja pemuda yang menabung dari jerah payahnya sendiri, seperti misalnya adik ipar saya yang selama bujangan mengumpulkan uang sedikit demi sedikit dan bisa membeli 6 buah gelang emas untuk persiapan pernikahannya, bahkan ketika itu ia belum memiliki calon istri. Lain lagi dengan urusan isi rumah. 

Kalau mengikuti adat Laut Tengah, seperti daerah asal suami saya, seluruh isi rumah adalah tanggung jawab pihak wanita. Pokoknya segala tetek-bengek isi rumah, dari mulai kursi-lemari, beyaz esya (white goods alias mesin-mesin rumah tangga), hingga kain serbet, semuanya pihak wanita yang menyediakan.

Seserahan (bohça) 

Bohça bisa diartikan kain lebar serupa taplak meja. Dalam tradisi Turki ada yang namanya gelin bohçası (bohça-nya mempelai wanita) dan damat bohçası (bohça-nya mempelai wanita). Jadi bohça bisa diartikan sebagai “gembolan taplak meja” berisi barang-barang kebutuhan pribadi mempelai. 

Gelin bohçası disiapkan dan dihantarkan oleh keluarga mempelai pria. Isinya beragam gaun, sepatu, tas, gaun tidur, jam tangan, kosmetik, produk perawatan diri dan lain sebagainya. Di Istanbul daerah Fatih adalah surga untuk berbelanja gaun pengantin dan isi bohça. Bentuknya tak lagi harus gembolan, bisa berupa kotak-kotak berhias nan cantik. Tak beda dengan adat seserahan dalam budaya Sunda.

Damat bohçası juga isinya perwujudan gengsi keluarga mempelai wanita yang ingin memberikan yang terbaik untuk mantu pria-nya. Yang mampu pastinya menghantarkan setelan jas bermerk, parfum, jam tangan, alat cukur elektrik, sandal kamar, piyama, mantel kamar, sampai ke handuk mandi. Bohça-bohça diantarkan dalam salah satu agenda kunjungan melibatkan para informan kedua belah pihak tentang waktu yang tepat untuk membalas kunjungan menghantar bohça. 

Acara berbelanja kebutuhan bohça sering disebut tatlı telaş alias keburu-buruan yang manis. Namanya juga berbelanja barang serba baru dan bagus pasti terasa manis. Tapi mungkin terasa pahit bahkan mencekik leher bagi sesiapa yang bertanggungjawab mengeluarkan uang di luar kemampuannya. Apalagi jika semuanya dibeli secara berhutang dengan kartu kredit, niscaya bulan-bulan selanjutnya pasca pesta pernikahan adalah masa mengencangkan ikat pinggang.

Pemantasan Isi Rumah (sergi)

Setelah isi rumah dibeli, barang-barang tersebut akan diangkut ke rumah yang telah disediakan oleh calon mempelai pria. Acara pengaturan dan pemantasan barang-barang ini dinamakan sergi. Sergi sendiri sebenarnya berarti pameran.

Pada hari yang telah ditentukan, kaum wanita dari kedua belah pihak akan datang ke rumah yang akan ditempati oleh kedua mempelai. Pihak wanita juga membawa kotak khusus (sandık) berisi barang-barang linen rumah tangganya yang dinamakan çeyiz. Çeyiz berupa segala macam taplak bordiran dan sulaman yang sudah disiapkan oleh ibunya selama bertahun-tahun. Tapi kadang meubel dan white goods juga turut disebut çeyiz.

Wanita jaman dulu selama waktu luang dalam hidupnya tak pernah berhenti menyulam, membordir dan menjahit. Tapi di masa sekarang, bisa membeli barang jadi hasil karya penjahit dan pengrajin di berbagai toko. Atau dari kermes alias bazaar musim panas yang biasanya memiliki stand khusus yang menjual barang-barang handmade untuk rumah pengantin.

Ketika sampai di rumah calon mempelai, biasanya perabot berupa kursi dan tempat tidur sudah dipasang sebelumnya. Sergi umumnya hanya memperindah saja, menghias setiap permukaan dengan kain bordiran, meletakkan berbagai hiasan dalam lemari, setiap panci dan piring di lemari dapur, sendok-garpu di laci dapur, handuk-handuk di kamar mandi, dan sebagainya.
Pendek kata, ketika sergi selesai dilakukan, semua sudah tertata rapi dan indah, siap dihuni oleh kedua mempelai kelak sehabis resepsi pernikahan.

Persiapan Akhir

Akhirnya setelah segala kerumitan berbelanja, menata rumah dan tetek bengek lainnya, tibalah agenda selanjutnya: penetapan gedung untuk malam midodareni. Urusan midodareni biasanya semuanya ditanggung keluarga wanita.

Gedung pernikahan dan resepsinya diatur oleh kedua belah pihak atau ditanggung oleh pihak pria. Undangan disebar, gaun pengantin yang disebut gelinlik sudah dipasin. Ada yang sengaja membeli adapula yang cukup menyewa.

Setelan jas untuk mempelai pria yang disebut damatlık, pastinya harus membeli. Banyak toko-toko pakaian pria yang menjual paket damatlık, semua sudah satu paket dari kemeja, rompi, jas, dasi, pantalon dan sepatu serta ikat pinggang.

Salon kecantikan, disebut küaför, juga sudah dipilih dan di-booking, satu paket untuk kına gecesi dan duğun (resepsi pernikahan). Demikian juga buket bunga yang disebut gelin buketi dan bunga hiasan mobil pengantin sudah dipesan ke çiçekci (florist).

Midodareni (Kına Gecesi)

Kına gecesi merupakan malam kebersamaan keluarga terakhir bagi sang gadis. Karena itu kına gecesi dibuat meriah penuh tarian berkelompok (halay). Pada malam yang sudah ditentukan pada surat undangan, semua wanita dari kedua belah pihak termasuk tamu-tamu undangan wanita akan datang ke gedung pertemuan yang disebut nikah salonu (ruangan pernikahan) atau nikah sarayı (istana pernikahan). Lokasinya dipilih dekat dengan kediaman mempelai wanita. Para tetangga wanita juga biasanya diangkut dengan minibus-minibus, makin ramai makin seru! Kına gecesi juga menjadi alasan para wanita untuk berdandan dan pamer pakaian bagus, meskipun ketika di luar gedung tetap ditutup baju luar yang disebut pardesü.
Bahkan yang berjilbab juga di dalam acara kına gecesi bisa berkesempatan mempertontonkan tatanan rambutnya, karena selama dalam ruangan tak ada pria satu pun.
[Halay. Foto: http://haberciniz.biz/]
Setelah semuanya duduk di kursi, DJ wanita akan memutar lagu-lagu dari piringan hitam, biasanya lagu-lagu tradisional Turki yang berkaitan dengan malam bainai. Tak lama kemudian sang gadis calon pengantin akan keluar menemui para tamu, ia sudah berpakaian tradisional kına gecesi serba merah dan emas. 

Setelah pembacaan ayat suci Al-quran dan doa, musik di mulai dan acara joged dipimpin oleh mempelai pun langsung beraksi. Mula-mula si gadis berdansa dengan beberapa orang gadis sahabatnya, lama-lama pengunjung pun bergabung, sambung-menyambung. Ibunya sendiri dan ibu mertua juga tak ketinggalan. Peserta tari yang paling ujung biasanya mengibar-ibarkan saputangan dari manik-manik perak atau emas. Tarian berkelompok ini dinamakan halay. Beragam lagu diputar silih berganti dan peserta joged pun silih berganti. Pada saat itu calon mempelai tak pernah berhenti menari, karena ia adalah host. Namun ia masih sempat pula berganti pakaian berkali-kali, masih dalam tema merah atau ungu.

Setelah ada sekitar 2 jam berputar-putar dalam hingar-bingar musik, lalu musik ditutup dan calon pengantin masuk ke dalam. Hadirin beristirahat. Sayangnya dalam acara kına gecesi jarang disajikan makanan dan minuman. Yang pernah saya hadiri hanya membagikan sekantung kecil kacang-kacangan. Air minum pun waktu itu tak ada! Hanya ada softdrink. Namun tentu ada pula kına gecesi yang disajikan makanan dan minuman. Semua kembali kepada kemampuan pemangku hajat.

Sejurus kemudian lampu-lampu di ruangan diredupkan, dan calon pengantin wajahnya ditutup dengan kain merah yang dihiasi manik-manik dan sulaman. Ia didudukkan di kursi.

Sebuah nampan besar berhias lilin menyala di sekelilingnya dan di tengahnya diletakkan mangkuk berisi henna yang sudah diadoni dengan air, dibawa masuk oleh seorang wanita, biasanya kakak wanita dari mempelai pria. Ia diiringi sejumlah gadis yang ditelapak tangannya terdapat lilin menyala dalam tatakan mawar merah imitasi. Kepala para gadis itu juga mengenakan kain organza merah dibentuk serupa kerudung pengantin.

Lagu sendu kına gecesi diputar, biasanya “Kınayı Getir Aney”, dan rombongan pembawa baki memutari si gadis beberapa putaran dengan gerakan tari sederhana namun syahdu.

Kınayı getir Aney Ambilkan henna-nya, Ibu
Parmağın Batir Aney –Celupkan jarimu (ke henna), Ibu
Bu gece Misafirem –Malam ini aku sebagai tamu
Yanında Yatır Aney –Tidurkan aku di dekatmu
Koynunda Yatır Aney –Tidurkan aku di pelukanmu

Rombongan pembawa baki henna berhenti dan calon mertua wanita meletakkan sebuah koin emas ke telapak tangan si gadis lalu mengambil sejumput henna. Henna kemudian diletakkan di atas koin emas tersebut. Telapak tangan berhenna kemudian ditutup dengan sarung tangan merah. Telapak tangan satunya juga diperlakukan serupa, oleh salah satu gadis muda kerabat.
Acara dilanjutkan dengan berpelukan dengan keluarga dan bertangis-tangisan. Simbol bahwa si gadis akan pergi, dan tak akan kembli lagi. Statusnya bukan lagi milik keluarganya, melainkan milik suami dan keluarga suaminya.

Lepas bertangisan musik diganti ceria lagi, dan acara berjoged dilanjutkan kembali, hingga masa sewa gedung habis, biasanya pukul 00:00 malam. Tentu saja foto-foto bersama tak lupa dilakukan sebelum akhirnya hadirin satu persatu mengucapkan hayırlı olsun (selamat semoga semuanya berjalan dengan baik) kepada keluarga mempelai.

Resepsi Pernikahan (Düğün Merasimi
[Damat dan Gelin di Meja Nikah. Foto: bprbulten.com]
Esok hari pasca kına gecesi adalah düğün merasimi alias resepsi pernikahan. Karena Turki menganut paham sekuler, pernikahan tidak dilakukan oleh KUA seperti di tanah air, melainkan oleh petugas catatan sipil. Rata-rata masyarakat Turki tetap ingin sah secara agama, jadi umumnya sebelum kına gecesi mereka sudah menikah secara islami dengan bantuan imam mesjid setempat. Nikah ini dinamakan imam nikahi. 

Pada hari H, gelin sudah berdandan dengan gaun pengantin putih klasik a la Eropa. Dan damat dengan setelan jas damatlık. Rombongan damat menjemput gelin ke rumahnya. Namun sebelum gelin diserahkan naik ke mobil pengantin untuk menuju gedung nikah, dilakukan dulu prosesi küşak bağlama töreni yang sifatnya sangat pribadi, hanya bisa dilihat oleh keluarga dekat gelin saja.

Adat küşak bağlama töreni adalah tradisi melepas pengantin wanita untuk pergi dari rumah orang tuanya untuk memulai hidup barunya sebagai istri dan menantu. Adat ini biasanya dilakukan oleh kakak lelaki dari pengantin wanita atau oleh ayahnya. Caranya dengan mengikatkan pita merah tanda kesucian ke pinggang pengantin wanita sebanyak dua lilitan lalu disimpulkan. Ikatan ini hanya akan dibuka oleh suaminya ketika nanti mereka telah sendirian di rumah mereka. Kemudian kepala hingga wajah pengantin wanita ditutup dengan kain merah tipis yang indah.

Prosesi ini tentunya banjir dengan air mata haru dari seluruh keluarga si pengantin wanita. Ia lalu dibimbing oleh sang kakak atau ayahnya untuk diserahkan ke pengantin pria yang sudah menunggu di depan mobil pengantin. Pintu mobil ditutup dan melajulah mereka ke gedung nikah untuk melakukan nikah negara (catatan sipil) dan resepsi. Mobil-mobil rombongan di spionnya dipasang handuk tangan berhias bordir yang diikat dengan pita merah. Rombongan mobil mulai berjalan ditingkah klakson-klakson yang bersahutan, menandakan rombongan pengantin sedang melaju. Sesekali ada saja anak-anak kecil yang menghentikan mobil meminta bahşiş alias uang tip.
[Küşak Bağlama. Foto erkankaraca34.com]
Mereka masuk ke gedung pertemuan kala sebagian besar undangan sudah hadir, demikian juga pihak keluarga, saksi nikah, yang disebut nikah şahidi, dan petugas pencatat nikah dengan jubah merah-nya yang khas, yang disebut nikah memürü. Kedatangan pengantin ini terkadang diawali dengan davul-zurna, yaitu penabuh tambur dan terompet, atau bisa juga grup mehter, grup drumband a la militer zaman Ustmani.

Pengantin kemudian duduk di meja pengantin yang disebut nikah masası, yang sudah disiapkan di panggung menghadap petugas pencatat nikah dan saksi nikah. Prosesnya sederhana. Setelah dijawab “bersedia” oleh keduanya maka sah pasangan tersebut secara negara.

Pasangan pengantin berdiri dan keluarganya mendampingi, kemudian kue pengantin didorong masuk. Pasangan pengantin memotong kue pengantin dan potongannya kemudian saling disuapkan di antara mereka berdua. Kue dibawa masuk lagi, kemudian dipotong-potong oleh petugas gedung nikah dan dibagikan kepada hadirin, disertai soft drink.

Setelah itu pengantin bersiap untuk menerima takı töreni alias penyematan uang dan emas dari hadirin. Perhiasan emas dari keluarga pihak pria bisanya sudah diserahkan saat tunangan, dan perhiasan emas tersebut kini dipakai oleh pengatin wanita.

Seutas pita satin tebal dikalungkan ke leher kedua pengantin. Keluarga kedua belah pihak juga berdiri di samping mereka. Hadirin kemudian satu persatu menghampiri dan memberikan ucapan selamat, “hayırlı olsun” atau “Allah mesut olsun, inşallah”, seraya menyematkan tanda kasih berupa uang atau koin emas ke pita pengantin.

Tentu ada pula keluarga dekat yang memakaikan gelang kepada pengantin wanita. Semua uang dan emas tersebut dimaksudkan sebagai bekal dana pasangan pengantin untuk mengarungi rumah tangga.

Hadirin cukup menyematkan hadiah ke salah satu dari pasangan saja, tergantung kepada siapa kita kenalnya. Yang khas dari pesta pernikahan di Turki adalah tarian/joged (halay) oleh kedua mempelai dan tamu-tamu dari kedua pihak. Setelah itu tamu bisa langsung pulang, atau menunggu hingga acara selesai. 

Saya tidak menuliskan tentang acara makan besar di kondangan seperti di Indonesia, karena tidak semua resepsi itu yemekli (berhidangan). Terkadang ya cuma kue pengantin itu saja. Allah bir yastıkta kocatsın(Semoga Allah menjadikan pernikahan ini abadi, menua bersama, menuai usia seiring sejalan).


Lia Yulianti
Salah satu anggota redaksi Turkish Spirit ini akrab disapa “Lia” atau “Teteh Lia”. Menekuni pekerjaan paruh waktu sebagai penerjemah untuk pariwisata. Menulis buku Best of Turki (Elex Media Komputindo, 2014) bersama sabahabatnya, Dian Akbas. Salah satu tulisannya terangkum dalam buku Kumpulan Cerpen Bilik Sastra Jilid 3 (RRI World Service-Voice of Indonesia, 2014). Korespondensi bisa melalui email: lia_oke2001@hotmail.com.

Silahkan Baca Juga

Previous
Next Post »