Simbol-Simbol Kedermawanan dalam Tradisi Usmani

16:16:00

Menurut informasi, catatan untuk Buku Piutang seperti ini masih berlaku di Turki

[Sebuah Potret Kehidupan Usmani. Foto stratejisite.wordpress.com]
Sebagai sebuah negeri yang memiliki sejarah dan peradaban besar di dunia, Kesultanan Usmani menyimpan tradisi unik. Beberapa di antaranya menggambarkan sikap toleransi dan refleksi nilai-nilai kemanusiaan.

Berikut adalah kebiasaan yang dilakukan pada masa Kesultanan Usmani yang dipraktikan dalam bentuk simbol di kehidupan sosial mereka.

Bunga Berwarna Kuning di Depan Jendela

Simbol ini menggambarkan bahwa sedang ada anggota keluarga yang sakit dalam rumah tersebut. Dan juga secara langsung sebagai sebuah permintaan untuk tidak membuat kebisingan di depan halaman rumah. Namun, simbol ini juga bermakna bahwa kerabat tetangga telah membawa makanan dan mendoakan untuk kesembuhan anggota keluarga yang sakit.

Bunga Berwarna Merah di Depan Jendela

Simbol ini memberikan arti bahwa ada seorang perempuan muda di dalam rumah yang akan segera menikah. Sekaligus juga sebuah tanda untuk meminangnya menuju pernikahan.

Buku Piutang

Selama masa Kesultanan Usmani, setiap kios memiliki Buku Piutang. Di dalam buku tersebut tercatat beberapa pembeli yang belum membayar belanjaannya. Namun, hal menarik terjadi setiap bulan Ramadan tiba. Setiap orang yang belum melunasi piutangnya, secara sadar dan jujur mendatangi kios tempat mereka berbelanja untuk membayar. Akan tetapi, di sana juga ada beberapa orang (dermawan) yang secara sukarela membayarkan piutang mereka. Dan juga orang-orang lainnya yang memberikan sumbangan untuk melunasi piutangnya.

Antara satu sama lainnya, mereka tidak ada yang tahu persis identitas sang piutang dan yang melunasi piutang. Menurut informasi, catatan untuk Buku Piutang seperti ini masih berlaku di Turki.

Mengundang Tamu di Bulan Ramadan

Masyarakat Usmani meyakini bahwa mengundang tamu untuk berbuka puasa di rumahnya adalah implementasi dari nilai-nilai kebajikan dalam beragama. Secara tidak langsung, hal ini menjadi sebuah hal yang memicu mereka untuk berlomba-lomba dalam kebajikan, dalam hal ini tujuannya hanya satu yakni mendapatkan Ridha Allah SWT. Pada saat itu bisa dibayangkan, setiap makan malam atau berbuka puasa sangat tidak mungkin bersama tamu yang diudang ke rumah.

Pintu Rumah Terbuka

Ketıka Ramadan selama sebulan penuh, pintu rumah dibiarkan terbuka selama waktu berbuka puasa atau makan malam. Simbol ini bermakna bahwa setiap orang yang ingin ikut dipersilahkan masuk dan berpartisipasi untuk makan malam bersama anggota kelurga lainnya. Sang tuan rumah tidak pernah mempermasalahkan identitas setiap orang yang datang bertamu.
[Warung-Waarung Teh/Kopi di Masa Usmani. Foto kusadasikultur.com]
Kedai Kopi dan Teh

Tradisi minum teh dan kopi sudah menjadi bagian hidup yang tidak terpisahkan dari masyarakat Usmani. Di banyak daerah bisa dijumpai dengan mudah kedai kopi dan teh. Namun tentu saja sangat jauh berbeda dengan model kedai kopi yang ada saat ini. Hal yang paling penting adalah saat itu tidak disediakan minuman beralkohol dan jenis permainan apapun di dalamnya. Yang paling menarik bahwa di era itu tradisi yang dibangun adalah berbagi informasi tentang peristiwa-peristiwa sejarah, cerita-cerita bijaksana, puisi-puisi serta perilaku-perilaku yang layak untuk diajarkan kepada generasi.

Di samping itu kedai kopi dan teh pada saat itu juga sekaligus menjadi sebuah forum untuk menuangkan ide-ide dan memecahkan masalah. Mungkin dari sinilah tradisi bahwa tempat ngeteh dan ngopi sebagai ruang publik dimulai di era Usmani.

Pintu Masuk Rumah

Pada era Kesultanan Usmani, terdapat dua alat pemukul yang ditempatkan di pintu masuk rumah. Satunya memiliki suara yang pelan, sedangkan lainnya lebih keras. Jika menggunakan alat pemukul yang bersuara pelan, yang akan membuka adalah perempuan. Sebaliknya, jika yang digunakan alat pukul yang bersuara keras, maka yang akan membuka pintu adalah laki-laki. Dari sini, secara tidak langsung sang pemilik rumah akan mengetahui siapa tamu yang akan datang.

Sumbangan di Atas Batu

Sebagai bentuk kepedulian sosial kepada orang lain, pada saat itu di beberapa sudut kampung terdapat batu yang digunakan sebagai wadah menyimpan uang sumbangan. Para donatur biasanya datang dan meninggalkan uang mereka diatas batu tersebut. Hal ini bertujuan untuk membantu orang-orang yang kesulitan dalam masalah keuangan. Aturan yang berlaku adalah siapapun boleh mengambil uang tersebut sesuai dengan kebutuhannya. Tentu saja dari sini bisa diketahui bahwa nilai kejujuran adalah yang paling utama.

Berdasarkan informasi lokasi disimpannya batu ini lebih sering ditempatkan pada daerah terpencil. Tujuannya adalah agar setiap orang dan satu sama lainnya tidak mengetahui siapa yang telah mengambil uang tersebut.

Catatan: Diterjemahkan dari berbagai sumber.


Didit Haryadi
Pimpinan Redaksi Turkish Spirit. Mahasiswa master program Sosiologi di Istanbul University. Person In Charge untuk Indonesia Turkey Research Community (ITRC) di Istanbul.

Silahkan Baca Juga

Previous
Next Post »