Setangkai Mawar di Süleymaniye

08:00:00 Add Comment

Masjid Süleymaniye ternyata menyimpan luka dan kesedihan

[Kompleks Masjid Suleymaniye Istanbul. Foto: Koleksi Tim TS]
“Karena Süleyman  Khan adalah penakluk tujuh iklim, namanya disebut tidak hanya di sini (di Masjid Süleymaniye), tetapi di (....) khutbah Jumat. Dan di semua wilayah-wilayah Islam , tidak ada bangunan yang lebih kuat dan lebih solid daripada Süleymaniye.  Seluruh arsitek setuju mengenai ini dan juga di mana pun tidak ada kubah ber-enamel (ditutupi ornamen/hiasan) seperti ini.”
--Evliya Çelebi dalam buku Seyahatname

Siapa pun yang pernah datang ke Istanbul, lalu menjenguk kompleks Süleymaniye, hampir pasti tidak akan pernah membantah pernyataan Evliya Çelebi  di atas, yang ditulis pada abad ke-17. Sejauh mata memandang, Masjid Süleymaniye merupakan sebuah perayaan besar atas periode agung kekuasaan Sultan Süleyman al-Kanuni, atau yang oleh catatan Venezia disebut sebagai Sultan Süleyman Yang Megah (The Magnificient).

Para sejarawan menganggap bahwa periode kekuasaan Sultan Süleyman (1520-1566), sebagai abad kemegahan, abad kejayaan dan abad keemasan dari dinasti Usmani yang dibangun di akhir abad pertengahan. Bahkan Sultan Süleyman pun kerap dianggap sebagai Imam Mahdi, yakni juru selamat.

Siapa yang menyangka jika periode kebesaran Sultan Süleyman yang ditunjukkan oleh kemegahan arsitektur kompleks Masjid Süleymaniye ternyata menyimpan luka dan kesedihan. Ada luka, di balik kemegahan. ‘Luka’ itu tak akan terasa jika kita berada di dalam masjid, namun akan terasa jika kita memasuki kompleks makam Masjid Süleymaniye, tepat berada di samping masjid.

Di sana dimakamkan banyak pembesar Usmani, para pejabat, ulama, serta keluarga-keluarganya. Tentu saja terdapat makam Sultan Süleyman, dan isterinya, Hurrem. Di situ kesedihan bersemayam, di antara nisan-nisan indah.
Displaying Ornamen Mawar Patah pada makam Fatma Hanim_foto pribadi.jpg
[Makam Fatma Serif Hanim. Foto: Penulis]
Sebuah makam begitu memukau, dengan keindahan ornamen dan batu nisannya. Batu nisan makam tersebut nampak menggambarkan seperti seorang gadis berhijab, namun di sisi lain dari nisan terdapat sebuah ukiran mawar yang patah. Penulis sempat menyalin tulisan Osmanlıca (Bahasa Turki Usmani) yang menjelaskan siapakah gerangan yang bersemayam di sana. Berikut salinannya:

Kabir (....) merhum Abdullah Galib Paşa hafidesi ve Selanik Şark’tan  Mustafa Fevzi Bey’in on yedi yaşında iken vefat eden (.....) Fatma Şerif Hanım’ın kabiridir. Ani zamir şu taş’ın (....) yatan (....) kebiirin an ve afif (....) (....) ve en güzellerinden biri idi (....) ecl on yedi yaşında su toprağa serdi yegane emel olduğu ailesinin kalibina  (....)-den mevt’un henüz (....) iken kopardığı  bu (....) çiçeğin  (....) ve malumat (...) mümtaz hasan akhlaq ve namus’a misal idi ruh ma’sumun içun fatiha (13 Kanunsani 1325).

Menurut interpretasi penulis, ini adalah sebuah makam dari seorang gadis belia bernama Fatma Şerif Hanım, cucu dari Abdullah Galib Paşa, kemungkinan besar keluarga Fatma berasal dari Salonika Timur.  Namun malang sungguh, Fatma harus meninggal di usianya yang sangat masih belia, yaitu 17 tahun. Penulis belum mengetahui apa yang menyebabkan Fatma begitu cepat dipanggil oleh Allah swt, namun dari epigrafi pada batu nisannya terlihat keluarga begitu bersedih atas kepergian Fatma yang masih belia.

Di situ tertulis “ini merupakan batu (nisan) terindah, dia (Fatma) sudah ditinggalkan di tanah dalam kedinginan dan kesendirian”. Untuk itu keluarga memesan batu nisan dengan lambang sebuah ukiran mawar yang patah untuk menyimbolkan bahwa Fatma adalah perempuan yang baru saja tumbuh sebagai gadis yang cantik tetapi Allah swt sudah ‘memetiknya’ dari dunia yang fana ini di usianya yang sangat belia. Mengapa kematian yang menyedihkan justru dirayakan oleh seni batu nisan yang begitu indah dan megah?

Dalam kebudayaan Ottoman dan Turki, batu nisan bukan hanya menunjukkan kematian, tetapi juga menunjukkan sebuah kehidupan. Kematian dan kehidupan bersatu dengan damai di tengah-tengah kota Istanbul. Bahkan seorang arkeolog Jerman mengatakan “ Bagi orang Turki, tidak ada yang dicintai daripada kuburan”.

Hingga kini di Istanbul kita dapat menyaksikan kompleks-kompleks pemakaman kuna seperti di Karacaahmet Üsküdar dan di kompleks Eyüp Sultan. Dan orang-orang Turki tampak tak segan untuk beraktifitas dan bersosialisasi dekat dengan kuburan-kuburan tersebut.Terkadang banyak restoran-restoran dan kafe, di kawasan wisata Istanbul, berada berdekatan dengan kuburan. Tak ada masalah dengan yang sudah tiada.
Displaying Pemakaman di kompleks Kucuk Ayasofya Istanbul_foto pribadi.jpg
[Permakaman di Kompleks Kucuk Ayasofya Camii. Foto: Penulis]
Kesenian batu nisan pada zaman Usmani, merupakan warisan dari kebudayaan Turki pra-Islam di mana corak antropomorfik. Hal ini diperlihatkan pada bentuk-bentuk batu nisan yang menyerupai tubuh manusia, khususnya makam lelaki. Biasanya pada makam lelaki terlihat seperti manusia sedang memakai sorban atau Fez. Sementara pada makam perempuan lebih banyak dihias dengan motif bunga-bunga.  Bagaimanapun bagi, orang Turki, kematian, kehidupan, kesedihan, seni dan keindahan adalah hal-hal yang tak dapat terpisah.
Ah mine’l-Mevt! Fena’dan Bakaya eyledi rihlet’


Frial Ramadhan
Penulis adalah Alumni S2 Ilmu Sejarah di Universitas Istanbul, Turki. Menekuti dan meneliti kajian-kajian sejarah Usmani.

Musim Dingin di Laut Tengah

19:00:00 1 Comment

Masyarakat pedesaan Turki selalu menghadapi musim dingin dengan penuh persiapan


 
[Ilustrasi dongeng Ağustos Böceği dan Semut. Foto: http://www.zamanvadisi.com]

Setiap anak SD di Turki pasti mengenal kisah “Ağustos Böceği ile Karınca”. Alkisah ada seekor jangkrik (Ağustos böceği, bahasa Inggris: Cicada) yang sepanjang musim panas kerjanya hanyalah bersenang-senang menabuh alat musik sambil bernyanyi. Sementara semut (karınca) dan keluarganya di saat yang sama bahu membahu mengumpulkan makanan untuk persediaan musim dingin. 

Singkat cerita, musim dingin yang membekukan jiwa raga pun akhirnya tiba, Ağustos böceği merasa dingin dan lapar, sadar tak punya persediaan makanan, ia pun dengan malu mengetuk pintu keluarga Karınca untuk meminta belas kasih. Berhikmah kepada cerita Ağustos Böceği dan Karınca, masyarakat pedesaan Turki selalu menghadapi musim dingin dengan penuh persiapan. Bukan seperti penduduk perkotaan semacam Istanbul yang cukup berbekal uang, apapun bisa dibeli.

Di desa, keperluan hidup terutama makanan harus diproduksi sendiri. Selain karena tempat membeli kebutuhan cukup jauh dari rumah, penduduk desa juga sudah terbiasa swasembada, ada semacam kebanggaan memproduksi kebutuhan hidupnya secara mandiri. Bahkan penduduk desa mampu men-supply anak-cucunya yang hidup di kota, dengan bahan makanan yang mereka produksi itu.

Makanan kering dan makanan yang diawetkan selalu dibuat dan disimpan dengan seksama di kamar penyimpanan. Demikian juga kayu bakar untuk tungku penghangat wajib diperbaharui stoknya ketika musim panas mulai berakhir.
Saya melihat sendiri keseharian masyarakat desa Çakallar Köyü, Kotamadya Alanya, Provinsi Antalya. Tangan-tangan kaum wanitanya tidak pernah berhenti bekerja. Sepulang bekerja dari ladang, ada saja pekerjaan yang digarapnya, dari mulai mengupas kacang sampai mengawetkan daun anggur untuk persediaan yaprak sarma (condiment dari daun anggur yang diisi beras berbumbu dan kemudian direbus).
Hasil Kebun yang Diawetkan

[Membelah cabai untuk kemudian dikeringkan dan dijadikan bahan biber salçası. Foto: Pribadi]
Segala macam hasil kebun sayur dan buah-buahan tak pernah dibiarkan membusuk lalu mubazir. Kol, wortel, cabe, semua diawetkan menjadi acar. Jeruk, tin, ayva (bhs. Inggris: quince), strawberry, dijadikan selai. Tak ketinggalan terong, cabe paprika besar, dikeringkan untuk nanti diisi dengan beras berbumbu guna dijadikan masakan dolma biber dan patlıcan dolması. Paprika besar, daun mint, oregano dan basil juga dikeringkan dan dihaluskan untuk bumbu masak.
Tomat dibuat pasta tomat, disebut salça, bumbu masak dasar untuk semua masakan Turki. Pernah menyantap İskender kebab? Saus merah diatasnya itu adalah salça. Cabe paprika merah juga diolah menjadi salça cabe, alias biber salçası.  Kacang Almond dikumpulkan dan dikeluarkan dari kulit kerasnya. Demikian juga walnut. Kacang hazelnut yang mashur sebagai campuran Nutella itu sayangnya hanya ada di daerah Laut Hitam.  
Buah tin dikeringkan, disebut gebik. Cara memakannya adalah, selembar buah tin kering diisi kacang almond, dimakan bersamaan. Enak sekali disantap sembari menonton televisi dan minum teh di hari-hari dingin berangin kencang.
Jangan lupakan zaitun, yang sangat penting kedudukannya baik sebagai minyak maupun buah zaitun yang sudah digarami dan siap menemani sarapan setiap pagi. Setiap penduduk rata-rata memiliki kebun zaitun dan kebutuhan mereka akan minyak terpenuhi dari situ. Sangat jarang mereka mengkonsumsi minyak jagung yang dijual massal di pasar dan toko-toko. Setiap keluarga juga memiliki metode pembuatan acar zaitun sendiri-sendiri yang mereka banggakan.

Bawang Bombay dan Kentang yang Esensial 


Tiada masakan tanpa bawang bombay. Demikian juga tiada sarapan tanpa kentang goreng ataupun kentang rebus yang disajikan sebagai salad kentang. Kentang juga setia hadir di menu makanan utama dalam bentuk kentang pure, kentang dioven bersama ayam, sebagai pendamping köfte, dan entah apa lagi. Pendek kata, bawang dan kentang wajib hukumnya selalu ada di dapur keluarga. Seorang ibu rumah tangga bisa gundah gulana ketika kehabisan bawang bombay dan kentang. Oleh karenanya, di kamar penyimpanan makanan penduduk kampung laut Tengah selalu tersedia satu keranjang besar kentang dan bawang bombay hasil panen sendiri.
Memperbarui Simpanan Kayu Bakar dan Menyalakan Soba

[Soba di dataran tinggi Yayla. Foto: onedio.com]
Ketika sudah masuk bulan Oktober, hawa menjadi semakin dingin dan berangin kencang. Penduduk mulai mengumpulkan kozalak, yaitu bunga pinus, yang berguna sebagai bahan bakar semaver, alat pemasak teh bertungku mandiri.
Di suatu hari tertentu, anak beranak biasanya mengendarai mobil truk kecil yang disebut kamyonet, lengkap dengan alat-alat untuk menebang pohon. Tujuannya ke ladang sendiri, memotong ranting-ranting pohon, perdu yang batangnya keras, dan bahkan menebang pohon milik sendiri yang sudah tidak produktif.
Semua diangkut ke dalam bak kamyonet dan mungkin masih ditambah perjalanan menyusuri hutan pinus untuk memungut ranting dan atau membeli kayu bakar yang dijual oleh Departemen Kehutanan, yang biasanya disusun di pinggir jalan. Menebang pohon di hutan hukumnya yasak alias terlarang. Tapi Departemen Kehutanan memiliki penjualan sendiri untuk kayu bakar ke masyarakat. Kayu bakar ini disebut odun.
Sangat penting memiliki stok kayu bakar kering yang cukup guna menghadapi musim dingin. Karena menyalakan pemanas listrik tidaklah cukup untuk menghangatkan seluruh rumah. Terlebih pemanas ruangan yang disebut soba itu, juga bisa dipakai sebagai tungku memasak sekaligus oven juga untuk mematangkan masakan, memanggang kue, memanggang terong, cabe, dan kacang kestane (chestnut).
Setelah stok kayu bakar menumpuk manis di ahır (gudang/kandang keledai), maka soba pun mulai di install. Soba terdiri dari soba itu sendiri dan pipa-pipa penyalur asapnya yang kemudian dihubungkan ke sebuah lubang di dinding yang terhubung ke cerobong asap di atap (baza)untuk pembuangan asap sisa pembakarannya
Soba tidak dipasang sepanjang tahun, kira-kira hawa sudah menghangat, biasanya diakhir maret, soba dilepas dan dicuci kemudian dibungkus lagi dengan plastik tebal dan disimpan di sebuah sudut di ahır atau di kamar sepen, berkawan dengan keranjang kentang di sudut yang lain.
Bersih-bersih rumah dilakukan secara marathon, dengan mengangkat karpet dan mencucinya di ırmak (lubuk sungai), diangkut dengan kamyonet. Capek? Tentu saja, tapi jangan lupakan bersenang-senangnya juga, mandi-mandi di ırmak dan mangal (barbeque) sambil menunggu karpet kering di bebatuan. Ah, orang desa memang tak pernah absen dari keriaan sederhana yang paket lengkap, Mereka bisa gembira dengan hal-hal yang sederhana nan hemat.
Selanjutnya usta (ahli) cat juga dipanggil untuk mengecat ulang interior rumah yang menjadi kusam akibat asap soba yang tak ayal ada yang lolos diseputar pipa soba.
Membuat Persediaan Roti
[Membuat ekmek atau roti. Foto: Pribadi]
Makanan pokok mereka, roti, yang disebut ekmek, diproduksi sendiri pula. Rotinya bukan seperti roti buatan bakery, namun berbentuk lembaran yang sangat lebar dan sangat tipis, dibuat diatas wajan cekung yang disebut saç. Ekmek ini bisa disebut yufka juga. Namun bedanya ekmek orang Laut tengah ini dibuat kering dan crispy, bukan lembut dan lentur seperti yufka yang dijual di toko.
Pembuatannya sendiri sangat khas dan boleh dibilang festive sekali. Hari pembuatan ekmek tidak boleh bentrok dengan tetangga, berhubung tenaga tetangga juga diperlukan untuk membantu. Jadi biasanya saling janjian hari apa di si anu membuat ekmek.
Sebelumnya tepungnya harus siap dulu. Bisa 10 kg atau lebih sekali membuat. Tepung ini juga tidak didapat dari membeli di toko, melainkan dari gandum yang di panen di ladang sendiri, dan dikonvesi menjadi tepung di değirmen alias penggilingan tepung.
Bahan bakunya hanya tepung, garam, dan air. Itu saja. Tentunya sejumlah baskom plastik besar, dan tenaga yang kuat untuk menguleni sekian puluh kilo tepung. Gelin alias menantu perempuan biasanya yang bertugas menguleni. Gelin yang lain, kalau ada, akan menyalakan api unggun di luar rumah. Biasanya tempat membuat ekmek berupa patio yang sekelilingnya terbuka atau berdinding setengah. Jika hawa sudah masuk musim dingin, harus ditutup rapat dari arah angin bertiup karena akan mengganggu stabilnya api.
Adonan akan diistirahatkan sambil menyiapkan apa-apa yang perlu di sekeliling api unggun, yaitu yang pertama karpet tua untuk alas duduk para wanita selagi bekerja. Lalu dingklik untuk yang bertugas menjaga api sambil membalik adonan di wajan kwalik. Selanjutnya berbagai meja bulat kecil untuk menggiling adonan, penggilas adonan, sac alias wajan kwalik, secukupnya kayu bakar, semaver, yaitu alat untuk memasak teh dengan bahan bakar bunga pinus, plus tehnya, teko teh, gula, gelas-gelas, sendok, pisau, oven tray bulat besar,minyak zaitun, bawang Bombay, herba daun seperti mint, parsley, tomat, cabe. Lho untuk apa? Untuk treat sehabis membuat ekmek. Wow, semakin penasaran, kan?
Kerabat dan tetangga sekitar pukul 8 pagi akan datang memakai celemek masing-masing dan baju yang sudah tua, karena niatnya mau berkotor-kotor dengan adonan tepung. Langsung ke saung TKP, çardak dalam bahasa Turki,  dimana api unggun sudah menyala berkat sepotong besar kayu yang dikelilingi ranting-ranting kering. Perlu dua orang wanita untuk mengangkat  baskom raksasa berisi adonan ke lokasi.
Semua mengambil posisi sesuai keahliannya. Pekerjaan membuat ekmek ini adalah contoh kerja estafet yang mumpuni. Satu orang bersiap di dingklik dekat api, di tangannya ada ranting kecil untuk membalik roti. Satu orang membulat-bulatkan adonan, satu orang mengambil satu bulatan dan ditabur tepung diatasnya, lalu menggilasnya berkali-kali hingga ketipisan tertentu.
Adonan yang sudah tipis dioper ke orang yang lain untuk ditipiskan lebih lanjut hingga transparan tapi tidak sobek, akhirnya orang ini dengan keahlian yang teruji menempatkan adonan supertipis ini di wajan kwalik. Executioner disamping wajan akan mematangkan si adonan tipis secara merata dan membaliknya sekali, lalu meletakkannya di nampan besar.
Demikian seterusnya hingga ekmek terbentuk menjadi stack yang meninggi. Oh ya jangan lupa, semua kegiatan ini berlangsung dibumbui obrolan ringan nan renyah tiada henti, tanpa mengurangi kecepatan kerja tangan mereka yang sudah tingkat ahli.
Ekmek yang sudah meninggi akan diangkut ke dapur, ditempatkan dalam lemari khusus, ekmek dolabı, yang pintunya dari kawat halus. Gunanya supaya ekmek tidak lembab sehingga tetap awet.
Cara makannya bagaimana? Kan kering kerontang? Oh gampang saja, letakkan kain yang disebut sofra,  lalu selembar ekmek, ciprati air minum secara merata, lalu letakkan selembar lagi dan ciprati lagi, biasanya maksimal 4 lembar dalam satu sofra. Lalu sofra ditutup dengan cara mengumpulkan keempat  sisinya. Ekmek dalam keadan sudah diciprati air didiamkan selama 15 menitan.
Ketika sofra dibuka, ekmek sudah lentur dan lembut, siap dikonsumsi, tinggal dilipat saja dan dimasukkan ke dalam wadah bertutup yang disebut ekmek tenceresi. Rasanya? Bilenler bilir, katanya, artinya yang pernah merasakannya pasti tahu, enaknya ekmek dimakan dengan lauk pauk terutama kavurma alias daging oseng-oseng.
Lho mana feast-nya? Tenang, begitu adonan habis, biasanya tidak sampai pukul 11 pagi adonan sudah habis kok, maklum dikeroyok rame-rame. Sisa adonan akan dibuat börek, itu lho makanan khas Turki. Ah, tidak hanya Turki, daerah Balkan semua mengklaim Börek sebagai makanan khas-nya.
Pertama, isian böreknya harus diracik dulu. Bawang Bombay diiris halus dan ditumis sebentar, lalu dicampur irisan parsley, mint, dan keju putih buatan rumah. Lalu untuk kulit böreknya, sisa adonan digiling tipis, tapi tidak dimasak di wajan kwalik, melainkan diletakkan di oven tray bulat yang sudah di ulas minyak zaitun. Setiap lapisan ditaburi bahan isian, demikian seterusnya hingga 5 lapis. Lapisan teratas harus bahan kulit lagi, yang lalu dipulas dengan minyak zaitun lagi. Oven tray ini lalu di tutup dengan oven tray lain yang berukuran sedikit lebih besar, jadi pas menutup. 

Setelah itu masuk oven? Oh, tidak, letakkan saja diatas bara api yang diserok dari dalam tunggku bekas memasak ekmek. Lalu sebagian bara api diletakkan diatas oven tray yang dijadikan tutup tadi. Prinsipnya jadi  seperti oven dengan api atas-bawah. Tentu saja kondisi bara api harus dijaga supaya börek matang sempurna.
[Semaver atau alat pemasak çay. Foto: Pribadi]
Sementara itu teh alias çay dimasak di semaver. Prinsip semaver adalah memasak air panas. Sedangkan teh pekat-nya (demlik) diletakkan diatas “panci” air panas-nya itu.  Semaver memiliki keran yang bisa diputar untuk mengeluarkan air panasnya.
Selama teh dimasak dan menunggu börek matang, tepsi alias baki besar untuk sajian pesta kita pun dipersiapkan. Gelas-gelas teh disusun dengan sendok teh di dalam gelas, gula teh dalam mangkok kecil, zaitun, irisan tomat, timun dan cabe segar serta lemon. Ketika aroma bawang sudah menguar dari oven jadi-jadian itu, seseorang akan memeriksa kematangan börek, dan kalau sudah dinyatakan matang atas-bawah, semua orang akan dipanggil termasuk kaum pria dan anak-anak. Yang kebetulan lewat juga jika berkenan bisa mencicipi 1 atau 2 potong börek renyah nan gurih ditemani segelas çay fresh from the semaver.
Asyik, ya! Itulah work hard-play hard a la masyarakat pedesaan Turki di Laut Tengah. Mereka bisa tetap bahagia dan merasa cukup tanpa adanya wifi kencang ataupun netflix.
Mandiri dan Tidak Tergantung dengan Toko
Pendek kata, masyarakat pedesaan Turki sangat berpantang dengan keadaan yang dinamakan “muhtaç” alias tergantung. Dalam artian tergantung kepada supply dari luar. Sedapat mungkin memproduksi apa-apa sendiri. Makanya tak heran hampir tidak ada toko di desa. Hanya ada satu atau dua dengan keadaan memprihatinkan, miskin barang jualan.
Lantas jika perlu sesuatu barang yang tidak bisa diproduksi sendiri darimana mereka mendapatkannya? itu bukanlah hal yang sulit. Toko berjalan, alias mobil van yang disulap menjadi toko, setia menyambangi dengan jadwal tertentu. Lengkap dengan speakernya untuk woro-woro.
Barang kebutuhan pecah-belah, tekstil, ikan, sayur-mayur, bakliyat (bebijian dan kacang-kacangan), kuruyemiş (buah-buah kering dan kacang-kacangan peneman minum teh) tak pernah absen. Untuk itu warung lokal susah bersaing. Karena mobil-mobil ini setia mengunjungi dan sabar memberi utangan. 

Maka tulisan ini saya tutup dengan sebuah pepatah: “karıncadan ibret al, yazdan kışı karşılar”, yang artinya sama saja dengan “berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian”.

Lia Yulianti
Salah satu anggota redaksi Turkish Spirit ini akrab disapa “Lia” atau “Teteh Lia”. Menekuni pekerjaan paruh waktu sebagai penerjemah untuk pariwisata. Menulis buku Best of Turki (Elex Media Komputindo, 2014) bersama sabahabatnya, Dian Akbas. Salah satu tulisannya terangkum dalam buku Kumpulan Cerpen Bilik Sastra Jilid 3 (RRI World Service-Voice of Indonesia, 2014). Korespondensi bisa melalui email: lia_oke2001@hotmail.com.

Musta PPI Turki 2017

14:21:00 1 Comment

Tim TS yang hadir adalah Didid Haryadi (Istanbul), Roida Hasna Afrilita (Canakkale), Sonia Dwita (Konya) dan Billy Briliant (Izmir).

[Foto Didid Haryadi]
Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Turki menggelar acara Musyawarah Tahunan (Musta) dengan tema Kehangatan dalam Kebersamaan di Kota Bursa pada 3-5 Februari 2017. Kegiatan tersebut dilaksanakan dengan tujuan untuk melantik ketua PPI Turki dan anggota Majelis Perwakilan Anggota (MPA) terpilih periode 2017/2018.

Sebagai tuan rumah, PPI Wilayah Bursa juga menyelenggarakan Simposium Internasional pada hari pertama dengan tema Endonezya ve Türkiye Arasında Gelişen Kültürlerin Canlandırılması ve Karşılıklı Güvenirlik. Ada pun yang menjadi pembicara adalah Herry Sudrajat (Konjen RI di Istanbul), Abdülkadir Karlık (Wakil Walikota Bursa) dan Yrd. Doç. Dr. Fikri Pala (Wakil Rektor Uludağ University).

Ratusan pelajar yang tersebar dari berbagai PPI wilayah di Turki hadir dan ikut berpartisipasi dalam acara simposium yang dilaksanakan di gedung Prof. Dr. Mete Cengiz Kültür Merkezi, Uludağ Universitesi. Turut hadir juga Dubes RI untuk Turki, Wardana beserta rombongan dari KBRI Ankara. 

Dalam sambutannya, Wardana menghimbau agar para pelajar Indonesia di Turki bisa terus mempromosikan Indonesia lewat bidang akademik dan budaya. “Hubungan bilateral antara Turki dan Indonesia sangat baik. Salah satunya adalah di bidang budaya. Oleh karena itu, diharapkan dapat terus diapresiasi,” pesanya.

Pada hari kedua, agenda Musta membahas Laporan Kerja kepengurusan PPI Turki 2016 oleh ketua demisioner Azwir Nazar dan dilanjutkan dengan sidang komisi dan pelantikan Edy Miranto sebagai ketua PPI Turki periode 2017/2018.

Beberapa rekomendasi dan keputusan telah dihasilkan dan selanjutnya akan direalisasikan dalam satu tahun ke depan. Salah satunya menunjuk tuan rumah Musta 2018 yang akan diselenggarakan di kota Izmir.
[Tim TS di Musta 2017]
Acara ini juga sekalian menjadi ajang silaturahim dan kopdar tim Turkish Spirit (TS) yang menyebar di seluruh Turki. Tim TS yang hadir adalah Didid Haryadi (Istanbul), Roida Hasna Afrilita (Canakkale), Sonia Dwita (Konya) dan Billy Briliant (Izmir).

Hari terakhir, Minggu siang, seluruh peserta Musta mengikuti kegiatan piknik ke Gunung Uludağ (didid/ts). 

Tentukan Negara Tujuan, Pelajari Bahasanya

18:00:00 3 Comments

Beasiswa YTB. Berikut ulasan wartawan Harian Jogja, Wulan Agustina

[Foto dari Harian Jogja, 29/01/2017]
Melalui surat elektronik, Bernando J. sujibto alias Bje, mahasiswa asal Sumenep, Madura yang saat ini belajar di Turki menuturkan pengalamannya kepada Harian Jogja.

Bje adalah seorang alumni mahasiswa S1 Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga. Sekarang sudah menyelesaikan studi master jurusan Sosiologi pada Department Ilmu-Ilmu Sosial, Universitas Selcuk, Konya, Turki melalui beasiswa YTB (Presidency for Turks Abroad and Related Communities).

“YTB adalah beasiswa yang dikelola langsung oleh pemerintah Turki. Atau singkatannya bisa disebut beasiswa pemerintah Turki,”ujarnya, Sabtu (28/1). Beasiswa ini meliputi semua jenjang pendidikan S1, S2, S3 dan penelitian. Yang menarik, YTB menyediakan asrama gratis, biaya kuliah dan living cost atau biaya hidup bulanan.

Fasilitasnya memang menarik, tapi tuntutannya terhadap calon penerima beasiswa juga cukup tinggi. “Semua yang mendaftar dan terpilih diwajibkan mengikuti kursus kelas bahasa Turki. Karena salah satu target dan tujuan dari Beasiswa YTB adalah "memaksa" mahasiswa mengetahui bahasa dan kebudayaan Turki,” katanya.

Meskipun di beberapa fakultas pengantar kuliah memakai bahasa Inggris, Bje menyebutkan, mahasiswa YTB diwajibkan untuk belajar bahasa Turki terlebih dahulu selama satu tahun. “Saya memang ingin dan bercita-cita studi lanjutan di luar negeri. Pilihan saya Kuba, Turki dan India. Akhirnya terpilih di Turki. Turki memang menjadi minat saya terutama dalam konteks karya-karya kebudayaan dan sastra mereka,” ucap Bje.

Menurut Bje, beradaptasi di Turki bukanlah hal yang sulit. Secara agama dan kultur bisa dibilang dekat dengan Indonesia, sebagai mayoritas Islam. “Paling lebih ke karakter dan pola hidup serta behavior saja,” katanya.

Bje menjelaskan bahwa Turki bukanlah negara pertama yang pernah ia kunjungi. Sebelumnya ia pernah short course ke Amerika Serikat dan Australia. Secara mental dan cara adaptasi ia bisa mengatasi. Yang terpenting menurutnya adalah sikap tahu diri. “Untuk Turki, hati-hati dengan sikap politik personal. Karena di sini sangat kuat ideologi politik mereka,” ujarnya.

“Ada beberapa kiat yang dominan menurutnya untuk bisa lolos kuliah di luar negeri dengan beasiswa. Menurut Bje di antaranya adalah nilai akademik harus kuat dan semakin tinggi semakin diperhitungkan. Tetapi untuk hal tersebut menurutnya bukanlah menjadi syarat utama. Kedua, karya dan kegiatan-kegiatan yang nyata.

“Saya melihat ini aspek dominan juga. Mereka yang berkarya baik tulisan, kegiatan sosial, karya akademik penelitian, atau semacam karya kreatif lainnya sesuai dengan jurusan dan bidangnya akan mendapatkan perhatian lebih. Kalau saya yang paling ditonjolkan adalah karya-karya tulisan seperti buku dan penelitian, di samping itu kegiatan-kegiatan sosial yang saya garap dan inisiasi bersama komunitas-komunitas,” ucapnya.

Dan yang terpenting, lebih ke teknis syarat beasiswa adalah Letter of Intent (Surat Pernyataan Keinginan). “Semakin kuat dan meyakinkan akan semakin oke. Rencana riset dan rekomendasi juga sangat penting, semakin kuat, semakin bagus.”
Semua yang mendaftar dan terpilih diwajibkan mengikuti kursus kelas bahasa Turki. Karena salah satu target dan tujuan dari Beasiswa YTB adalah "memaksa" mahasiswa mengetahui bahasa dan kebudayaan Turki
LPDP Edufair

Jalur lain yang bisa ditempuh mahasiswa dari Jogja untuk kuliah ke luar negeri adalah melalui Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Setiap tahun LPDP Edufair menggelar pameran pendidikan alias Edufair. Tahun ini LPDP akan diadakan di beberapa kota.

“Saya ingin ikut LPDP Edufair karena ada keinginan untuk kuliah ke luar negeri. Walaupun engga tahu mau kuliah lagi atau kerja. Tapi kan hal seperti itu tidak bisa mendadak. Jadi saya mempersiapkannya dari sekarang,” ucap Nur Fitriatus Shalihah salah satu mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang sudah mendaftar dan mendapatkan konfirmasi berupa tiket LPDP Edufair kepada Harian Jogja.

Menurut Fitri, akan tersedia banyak stand di LPDP Edufair 2017. Ada stand perwakilan universitas-universitas luar negeri, juga terdapat tes TOEFL/IELTS yang dapat diperoleh secara gratis, juga terdapat seminar. “Jadi mungkin akan betah di sana seharian,” katanya.

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari laman resmi LPDP Edufair 2017, event tersebut akan dilaksanakan di tiga kota, yaitu Jakarta pad 31Januari 2017 bertempat di Dhanapala Building Minstry Finance, Surabaya pada 2 Februari 2017 di Airlangga Convention Center, dan terakhir Yogyakarta, 4 Februari 2017 di Sportorium UMY. Ketiga event tersebut akan dilaksanakan mulai pukul 07.30 hingga 18.00. Dengan berbagai konten acara seperti Scholarship and Higher Education Expo, Inspiring Talkshow, TOEFL/IELTS Prediction Test, juga Art Performances.

Untuk mengikuti LPDP EduFair, peserta wajib melakukan registrasi terlebih dahulu melalui lpdpedufair.com. Registrasi dibuka menjadi 3 gelombang. Gelombang pertama dibuka mulai Minggu, 15 Januari  hingga Sabtu, 21 Januari 2017. Gelombang kedua dibuka mulai Selasa, 24 Januari hingga Kamis, 26 Januari 2017, dan Gelombang ketiga yang akan dibuka Minggu, 29 Januari hingga 30 Januari 2017. “Jika sudah mendapatkan e-mail balasan dari LPDP EduFair berupa tiket berarti peserta tersebut sudah terdaftar,” begitu yang dikatakan panitia LPDP EduFair via twitter. Tiket tersebut adalah tiket masuk ke LPDP EduFair.

Saat ini jumlah peserta yang terdaftar pada Gelombang I dan II untuk kota Jakarta mencapai 15.285 orang, Surabaya mencapai 8.350 orang, dan Yogyakarta mencapai 13.890 orang. Dan hanya tersisa 5.000 tiket untuk Gelombang ketiga.

Panitia juga menghimbau untuk semua peserta agar mengikuti segala informasi di web maupun media sosial seperti Twitter, Facebook, dan Instagram LPDP edufair resmi. Untuk mengetahui berbagai informasi terbaru dan pertanyaan terkait LPDP EduFair yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat ini.

Incar Negara Eropa

Ibnu Muslim Putra Darmawan mahasiswa di salah satu universitas swasta di Jogja menuturkan selama ini dirinya berupaya keras untuk memperoleh beasiswa demi melanjutkan studinya di luar negeri. “Kalau usaha sih jelas banyak, terutama syarat fundamentalnya yaitu bahasa Inggris karena engga bisa dipungkiri poin ini merupakan salah satu syarat utama,” kata Ibnu.

Untuk beasiswa yang ia minati point standar mencapai angka 577 untuk TOEFL dan 6.5 untuk IELTS. Angka yang dirasa cukup tinggi tersebut tentu membuat Ibnu banyak melakukan hal yang dapat meningkatkan poinnya. “Saya biasanya mencari info melalui internet dan beberapa kenalan yang sudah lolos beasiswa,” ucapnya.

Ia mengaku telah dua kali mencoba menembus program beasiswa. Yang pertama yakni melalui LPDP, sedangkan yang kedua yakni Erasmus+. Negara-negara di Skandinavia seperti Filandia, Swedia, Denmark, atau Norwegia menjadi impian bagi Ibnu untuk melangkahkan kakinya ke sana. Menurutnya, negara-negara tersebut dari sisi kualitas tidak kalah dengan negara Inggris maupun Belanda.

“Selain itu, sepertinya lingkungannya pun mendukung bagi saya secara pribadi untuk belajar dengan nyaman,” ujar Ibnu.

Meski telah berkali mencoba, Ibnu tak pantang menyerah untuk meraih mimpinya mendapatkan beasiswa menuju eropa. “Faktor rejeki juga berpengaruh di sini, kalau belum rejeki juga sulit,” ungkap Ibnu.

Sumber tulisan: Harian Jogja

Mustafa Kara, Profesor Tanpa Mobil dan Telefon Genggam

11:40:00 Add Comment

Karena tak punya ponsel, tak jarang, saat tak sedang di ruangan, para mahasiswanya menaruh memo di meja kantor

Seringkali Mustafa Hoca (baca: Hoja) ditanya, “Kapan Anda akan membeli mobil dan ponsel, Hocam?” “Nanti, saat model yang paling mutakhir muncul,” jawabnya.

Dia adalah Prof. Dr. Mustafa Kara, guru besar ilmu tasawuf di Fakultas Ilahiyat, Uludağ University. Ruangannya ada di pojok lantai dua, terhalang tembok di bagian kiri pintu. Para guru besar rata-rata menempati ruangan bagian pojok bangunan lama fakultas, yang menjadi pemisah langsung gedung baru yang sejatinya telah menempel. Sebagai seorang profesor yang sebentar lagi akan bergelar Emeritus (a.k.a pensiun), kesehariannya ke kampus dilalui bersama bus umum. Kadang juga Metro Bursaray, transportasi kereta idola warga Bursa.

Tak jarang, para mahasiswa yang kurang percaya dengan keseharian Mustafa Hoca lantas bertanya. “Aku seringkali menjawabnya dengan kalimat yang sama,” kata Mustafa Hoca. “Kain kafan pun tak ada sakunya,” jawabnya.

Sebenarnya bukan perkara telefon atau mobil. Menurutku, masalah intinya adalah tentang pemborosan. Pemborosan menjadi sebuah rutinitas, hingga kita lupa dan tenggelam di dalamnya. Kini, seiring dengan populernya gaya hidup kapitalis, segala urusan dipandang berdasarkan sisi materi serta nilai kemewahannya. Kita akhirnya juga terbawa ke dalam tren tersebut. Lantas, kita jadi tak perduli dengan segala apa yang telah dibelanjakan. Ini masalah utamanya. Namun, rasanya tak mungkin juga lantas kita mencoba rutinitas baru tanpa alat-alat tersebut, karena alat-alat itu telah menyatu dengan segala elemen kebutuhan kita, tanpa disadari,” terang salah satu pendiri fakultas ini panjang lebar.

Anak-istriku juga pengguna ponsel. Aku juga yang memberi mereka uang untuk membeli alat-alat itu. Jadi, menurutku susah seratus persen untuk lepas dari rutinitas yang telah kita jalani bersama alat-alat tersebut.

Fenomena pemborosan yang tak teracuhkan baginya menjadi salah satu penyebab pembiasaan pada sikap tak peduli dan tak peka. Tiap menit ratusan anak meninggal karena kelaparan, di tempat lain ratusan manusia sedang antri membeli ponsel keluaran terbaru.

Kepada kawan-kawannya yang sering sangsi, sembari menyindir Mustafa Hoca berucap, "Akhirnya aku akan membeli mobil dan ponsel juga, seperti yang kubilang tadi, nanti saat model yang paling mutakhir telah keluar. Oh, pastinya aku juga akan membuat kartu kredit untuk membayar barang-barang itu. Sayangnya, hingga kini aku belum punya apa yang namanya kartu kredit itu. Menyentuhnya pun aku tak mau. Jelas, kartu kredit menjadi semacam tulang belakang bagi sikap pemborosan. Akan sampai manakah, kartu kredit yang menentukan.

Hampir tiap hari Mustafa Hoca selalu keluar rumah. Selain ke kampus, beliau juga rutin mengisi acara-acara pemerintah maupun swasta, kecuali pada bulan Ramadhan. Saya sebagai penghuni Bursa, tak jarang melihat pamflet seminar, simposium, ataupun pengajian yang tertempel di metro dan dinding pengumuman di kampus. Pengajian akbar Ramadhan yang diadakan kawan-kawan Indonesia di Bursa, juga diisi olehnya.

"Biasanya aku tak mau mengisi acara saat Ramadan. Namun tak apalah sekarang, untuk kalian," katanya saat kami ke kantornya. Karena tak punya ponsel, tak jarang, saat tak sedang di ruangan, para mahasiswanya menaruh memo di meja kantor.

"Sebenarnya, dengan apa yang kujalani saat ini, aku ingin menyampaikan sedikit pesan. Hidup tanpa mobil ternyata enak. Tanpa ponsel juga. Tak perlu bingung dengan alat di tangan, beban juga semakin ringan. Sebenarnya tanpa komputer pun, Anda akan lebih bahagia. Hidup, jalan terus, datang dan berlalu.

Yah pastinya, bagi seorang yang telah lebih dari 30 tahun menggunakan mobil akan susah memahami tingkahku. Hocam, lantas bagaimana Anda tiap hari pergi ke kampus? Anda juga sering diundang mengisi seminar, kan?tanya rekan dosenku. Jawabku mudah saja. Bis pemerintah tiap hari ada, siap sedia hingga larut, ke semua jurusan. Anak-istriku pun telah terbiasa denganku yang tanpa ponsel. Sebenarnya semua ini tak susah buatku. Dulunya juga tak ada ponsel, mobil juga tak punya. Aku pergi ke Istanbul, lantas seminggu setelahnya suratku sampai ke keluarga di Bursa. Sama saja, yang beda hanya cepat-lambatnya," kisah dosen kelahiran 1951 ini.

Beberapa dosen senior di kampus memang tak terlalu mengandalkan komputer di atas meja mereka. Prof. Zeki Özcan malah bilang dia tak pernah sekalipun mengetik abstrak simposium, tak perduli dengan simposium yang baginya sering dijadikan ajang promosi jabatan. Süleyman Hoca juga lebih nyaman dengan komputer jadulnya yang masih menggunakan keyboard non-qwerty. Bagi Mustafa Hoca, komputer hanya memenuhi ruangannya yang penuh dengan buku. Di atas meja tak nampak perangkat tersebut, saat saya kesana.

"Aku tak pernah menulis di komputer," katanya suatu saat.

Mustafa Hoca tak sepenuhnya yakin dengan komputer yang katanya mempermudah segala urusan, akademik maupun non-akademik. Menurutnya, semakin meningkatnya keterkaitan akademisi dengan sebuah komputer (juga internet), semakin pula kualitas penelitiannya dipertanyakan.

Saat ada email masuk untuknya, asistennya yang memberitahu isinya. Sebuah pensil dan penghapus selalu ada di saku. Mustafa Hoca juga merupakan penulis yang sangat produktif. Menulis apapun, beliau masih setia menggunakan pensil, terkadang juga mesin ketik di kantor masih sering dipakainya. "Acap kali, beberapa kawan mengetik kembali apa yang kutulis. Sudah jadi kebiasaanku menulis di kertas."

Karena tak menggunakan internet sebagai media bertukar kabar, Mustafa Hoca masih sering berkirim surat dengan kawan-kawannya. "Yang terakhir, datang padaku surat dari Italia. Sebuah surat yang sangat berharga. Surat dari seorang kawan lama di sana. Sayangnya kini, rutinitas surat menyurat telah dirampas dari mayoritas kehidupan kita. Manusia modern lebih memilih internet dan ponsel sebagai barang berharga. Mereka tak dapat lagi merasakan kebahagiaan menyimpan surat dari seorang kawan, sebuah kertas dengan tulisan tangan. Kini semua telah tercukupi dengan sebuah ponsel," pungkas pengoleksi majalah mancanegara ini.

Jam tangan pun beliau tak memakainya. Pernah, kami sangat khawatir beliau lupa undangan yang kami sampaikan. Acara kami telah dimulai sejak pukul 1 siang, jadwal beliau ceramah pukul 4 sore. Hingga pukul tiga, tak nampak tanda kehadirannya. Hingga akhirnya pukul 4 kurang sepuluh, beliau muncul dari bis yang berhenti tepat di depan tempat acara. Maghrib setelah buka bersama, dengan cepat beliau pamit menuju stasiun kereta, tak berkenan kami antar sampai rumahnya.

Diterjemahkan dari sini oleh M Mu'afi Himam dengan tambahan seperlunya.


M Mu'afi Himam
Penulis adalah penerima beasiswa YTB. Mahasiswa master pada program studi Sejarah Agama-Agama, Uludağ Üniversitesi, pengampu weblog www.masmuafi.com.