Nasionalisme Peraih Nobel Aziz Sancar

10:26:00

Rasa nasionalismenya juga ditunjukkan dengan memberikan medali nobelnya kepada Anıtkabir, museum dan makam Mustafa Kemal Ataturk

[Presiden Erdogan Menyerahkan Bendera Turki kepada Aziz Snacar. Foto ntv.com.tr]
Sebuah kejanggalan jika media online sekelas Turkish Spirit (TS) yang sering mengulik cerita-cerita tentang seluk beluk Turki dengan renyah tidak atau belum pernah membahas Aziz Sancar. Dia adalah sosok yang sempat menghebohkan dunia akademik dan media-media Turki di akhir tahun 2015. Dengan alasan demi melengkapi sumber bacaan bagi TSers untuk bidang ilmu pengetahuan itulah artikel ini dibuat.

Saya pertama kali mendengar namanya di dalam kelas jauh hari sebelum kehebohan itu muncul. Saat itu dosen kami menerangkan bagaimana sel-sel dalam tubuh kita merawat unsur (ter)penting makhluk hidup yaitu DNA dari damage atau kerusakan-kerusakan yang bisa terjadi kapan saja. Kemudian dengan muka berbinar, dosen saya menuliskan nama Aziz Sancar dengan ukuran besar di papan, sembari mengatakan bahwa dia adalah salah satu tokoh penting di balik penemuan bagaimana molekul bernama DNA itu tetap terjaga dengan baik di dalam sebuah sel.

Tanggal 10 Desember 2015 saya sedang berada di lab untuk menyelesaikan tugas projek akhir. Tiba-tiba saja seorang kolega kami berteriak girang mendapati kabar bahwa Raja Swedia XVI, Carl Gustaf, menganugerahkan Hadiah Nobel di bidang kimia kepada Aziz Sancar atas jasanya menemukan mekanisme perbaikan DNA di dalam sel. Kabar ini menghebohkan seantero Turki, terlebih kampus kami. Pasalnya salah seorang dosen kami merupakan murid langsung dari Aziz Sancar yang pernah bekerja langsung di bawah bimbingannya ketika di Amerika. Sehingga pelajaran yang diampunya pun menjadi keteteran, karena beliau harus melayani berbagai permintaan dari media.

Lantas siapakah Aziz Sancar dan mengapa penganugerahan nobelnya menjadi sangat viral sekaligus membanggakan di Turki?

Aziz Sancar lahir pada tahun 1946 di Savur, sebuah kota kecil di distrik Mardin, Turki bagian Tenggara. Terlahir dari keluarga petani sederhana, Aziz Sancar merupakan anak ketujuh dari delapan bersaudara. Masa kecilnya dihabiskan di sebuah lembah belakang rumahnya dengan membantu sang ayah merawat kebun dan peternakan kecil. Itulah harta berharga keluarga Sancar yang memberikan penghidupan sepanjang tahun.

Aziz Sancar kecil mendapat pendidikan pertama dari ayah-ibunya. Dia mewarisi semangat kerja keras dari ayahnya. Sedangkan ibunya yang merupakan anak dari seorang imam masjid, mengajarkan Aziz kecil tentang nilai-nilai Islam dan nasionalisme. Meskipun tuna aksara, sang ibu yang sangat mengidolakan Mustafa Kemal Ataturk tersebut mempunyai tekad baja agar semua anaknya mengenyam pendidikan setinggi-tingginya. Aziz Sancar juga mencintai sepak bola. Dia berada di posisi penjaga gawang ketika mewakili tim kesebelasan SMA-nya di Mardin Lisesi. Aziz menjadi pemain yang cemerlang hingga sempat didorong untuk mengikuti seleksi regional timnas U18.

Meskipun akhirnya dia memilih jalan akademis, kecintaannya pada sepak bola tidak hilang begitu saja. Hal ini terbukti saat Aziz Sancar diundang memberikan ceramah di kampus kami. Ketika ditanya tentang apakah di usianya yang sekarang dia masih menyukai bola, Aziz mengeluarkan sebuah kartu dari dalam dompetnya dan menunjukkannya kepada seluruh hadirin yang diikuti riuh tepuk tangan. Aziz mengeluarkan kartu keanggotaan tim kesebelasan yang bermarkas Istanbul: Galatasaray.

Setelah menyelesaikan studi dasar dan menengah, Aziz Sancar berhijrah ke Istanbul untuk melanjutkan pendidikan dokter di Universitas Istanbul. Lulus sebagai dokter, dia kembali ke kota Savur dan mengabdi di sana. Dia juga sering berkeliling ke berbagai kota serta daerah-daerah terpencil di sekitar Mardin karena dokter pada saat itu masih langka. Setelah kurang lebih 18 bulan dia bekerja sebagai dokter, dia mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan petualangan intelektualnya di Amerika dengan menempuh jenjang PhD di bidang biokimia.

Amerika menjadi tempat penempaan bagi pribadi dan karir akademiknya. Di awal kedatangannya, Aziz Sancar sempat gagal karena terkendala bahasa hingga dia terpaksa kembali ke kota Savur. Kembali lagi ke Amerika setahun kemudian. Perjalanannya selama di Amerika pun tidak mulus. Kredibilitasnya sebagai saintis sempat diragukan para koleganya, penelitiannya sempat tak membuahkan hasil selama beberapa tahun, dan berbagai kendala lain. Namun berkat ketekunan, kerja keras, dan dukungan dari istri tercinta, Aziz mampu mengatasi hal tersebut. Singkat cerita dia menjadi salah satu tokoh penting di bidangnya. Pada tahun 1983 dia menyelesaikan manuskrip yang dia klaim sebagai magnum opus-nya tentang bagaimana bakteri E.coli memperbaiki kerusakan pada DNA. Karya ini pula yang mengantar dia menjadi peraih Nobel di bidang kimia pada tahun 2015.

Nobel dan Turki

Seperti yang kita tahu, hadiah Nobel adalah penghargaan bergengsi yang diberikan setiap tahunnya kepada orang-orang yang dianggap sangat berjasa di enam kategori bidang berbeda. Negara-negara seperti Amerika, Inggris, maupun Jepang sudah sering menyumbangkan tokoh-tokohnya sebagai penerima penghargaan ini. Turki sendiri hingga kini memiliki dua orang peraih hadiah Nobel. Sedangkan Indonesia masih menunggu orang yang tepat.

Di antara kedua peraih Nobel berkebangsaan Turki tersebut, Orhan Pamuk (2006) tidak mendapat apresiasi yang tinggi dari masyarakat Turki layaknya Aziz Sancar (2015). Menurut saya ada setidaknya dua alasan mengenai perbedaan tersebut. Pertama, Orhan Pamuk sebagai peraih Nobel di bidang sastra adalah seorang penulis yang di mata orang Turki banyak mengkritik Turki dan membuka aib sejarah negaranya. Sedangkan Aziz Sancar dikenal lebih nasionalis meski berpuluh-puluh tahun tinggal di negeri paman sam. Rasa nasionalismenya juga ditunjukkan dengan memberikan medali nobelnya kepada Anıtkabir, museum dan makam Mustafa Kemal Ataturk.
[Medali Hadiah Nobel Aziz Sancar di Museum Anitkabir. Foto ntv.com.tr]
Kedua, Aziz Sancar adalah orang Turki pertama yang meraih Nobel di bidang sains dan teknologi. Dalam dekade terakhir, Turki mulai menggeliat di bidang saintek dan melakukan investasi melalui lembaga riset maupun pembangunan-pembangunan lain. Kemunculan Aziz sebagai ikon akademisi sukses Turki membawa angin segar bagi progresifitas saintek Turki. Ditambah lagi anak-anak muda Turki akan mempunyai seorang idola baru yang memotivasi mereka untuk berkarir di bidang ilmu pengetahuan.

Aziz Sancar mendapatkan undangan berkeliling ke berbagai kota di Turki setelah menerima penghargaan bergengsi tersebut. Setidaknya menurut saya, Aziz memang sosok pekerja keras nan rendah hati. Saya tidak pernah bertemu dan berbicara langsung dengannya (ya memang siapa saya). Kesempatan saya melihatnya secara langsung adalah ketika beliau datang ke kampus kami untuk memberikan kuliah umum dan meresmikan sebuah laboratorium.

Satu yang saya ingat dari pesannya kurang lebih,  “Siapapun Anda apapun profesi Anda, kerjakanlah dengan sepenuh hati dan sungguh-sungguh. Peraihan Nobel ini hanya sebatas kebetulan saja. Kebetulan karya ini dilihat oleh Raja Swedia dan dia berbaik hati memberikan hadiah Nobel untuk saya. Tanpa itu saya bukan siapa-siapa. Dan sejatinya, tukang sapu, pengumpul sampah, dosen, dokter, guru dan profesi apapun yang dikerjakan dengan sebaik mungkin, merekalah sebenar-benarnya peraih Nobel.”

Dalam kesempatan lain Aziz Sancar juga berujar, “Jangan terlalu banyak berkecimpung dalam urusan politik. Sudah banyak yang mengurusi itu. Apapun yang kamu lakukan, kerjakan dengan sebaik mungkin. Dulu saya bekerja hingga 18 jam sehari. Saya menghabiskan masa muda di laboratorium. Tidak ada cara lain selain bekerja. Kerja adalah hutang bagi negara ini”.

Nah gaes, seperti kata Aziz Sancar, mari kurangi celoteh dan perbanyak bekerja.



Ridho Assidicky
Penulis adalah mahasiswa S2 Biomolekuler dan Genetika di Bilkent University, Ankara. Sedikit nerd dan ambivert. Penikmat momen musim dingin ditemani coklat panas dan indomie goreng pakai telor. Instagram @ridho.ashidiqy.

Silahkan Baca Juga

Previous
Next Post »

2 comments

Write comments
9 February 2017 at 21:04 delete

Oh, Aziz Sancar. Penemuan soal DNA-nya itu mungkin dia punya catatan untuk film Jurassic Park dan tentu pula dia penggemar Hakan Sukur

Reply
avatar
14 February 2017 at 11:22 delete

Sancar adalah ılmuwan penyuka bola kelas wahıd....

Reply
avatar