Ikhtisar Seputar Referendum Turki

16:26:00 Add Comment
Keyman mengatakan, masa depan demokrasi dan pemerintahan Turki sebenarnya tidak berdasar pada adopsi sistem presidensial atau parlementer, bukan pada perubahan sistem secara radikal, namun pada penguatan demokrasi yang berbasis pada perimbangan dan pengawasan antar sistem yang baik. 

[Contoh Material Kampanye Referendum dari Pihak Pro dan Kontra. Sumber: Pribadi]

Minggu lalu, tepatnya pada 16 April 2017, Turki baru saja melewati salah satu momen penting dalam perjalanan politiknya sebagai sebuah Republik modern. Momen penting tersebut adalah referendum terkait amandemen 18 pasal dalam konstitusi Turki yang membahas tentang perubahan sistem pemerintahan serta penyesuaian peran lembaga eksekutif, legislatif dan yudikatif di dalam proses perubahan sistem pemerintahan tersebut. Referendum kali ini merupakan salah satu referendum paling menentukan dan paling panas dalam sejarah Turki. Pihak pro dan kontra-referendum sama-sama berjuang dengan cukup keras dalam menggaet suara warga Turki. Hasil yang sementara dapat diobservasi di beragam media menunjukkan bahwa referendum kali ini dimenangkan oleh pihak pro-referendum dengan suara sebesar 51.41%, yang terpaut amat tipis dengan suara dari pihak kontra-referendum sebesar 48.59%.

Terkait referendum kali ini, tim Turkish Spirit telah menyiapkan beberapa artikel yang akan mengevaluasi dan menganalisa secara dalam proses referendum dari beragam aspek. Tulisan dari dua orang editor tim Turkish Spirit, Didid Haryadi dan Hadza Min Fadhli Robby, serta tulisan dari mahasiswa S2 Kajian Timur Tengah UGM, Moddie Alvianto Wicaksono, akan menjadi bagian dari ikhtisar Turkish Spirit terkait Referendum Turki. Semoga ikhtisar ini dapat membantu pembaca untuk dapat memahami referendum secara lebih baik dan berimbang. Selamat membaca.

Referendum Turki: Antara Ambisi dan Momentum Membangun Turki yang Lebih Maju

Oleh: Didid Haryadi (Pimpinan Redaksi Turkish Spirit)

Peristiwa kudeta 15 Juli 2016 telah memberikan dampak yang sangat besar bagi Turki. Selain suasana pemeriksaan yang semakin ketat di hampir semua stasiun kereta, bandara dan terminal juga menghadirkan rasa kekhawatiran dan persepsi negatif yang secara relatif muncul di dalam dan luar negeri pemerintah terus melakukan pemeriksaan dan penelusuran kepada beberapa orang. Pascakudeta gagal yang menewaskan lebih dari 200 lebih jiwa tersebut, yang diyakini memiliki relasi dengan aktor kudeta.

Sejauh ini situasi keamanan di Turki cukup stabil. Jika dibandingkan dengan dua tahun terakhir stabilitas politik dan ekonomi Turki menghadapi tantangan besar. Sebut saja ancaman terorisme melalui serangakian ledakan bom yang telah menewaskan banyak warga sipil dan juga pihak keamanan yang terjadi di beberapa kota seperti Ankara, Istanbul, Izmir, dan Kayseri. Selain itu pada bidang ekonomi, nilai tukar mata uang Lira yang terus melemah hingga pernah menyentuh angka 3,9 TL (Turkish Lira) terhadap Dollar Amerika Serikat. Namun demikian, sampai hari ini,kondisinya masih fluktuatif dan hanya bergerak pada level 3,6-3,7 TL (per 1 USD).

Sebagai antisipasi dan sekaligus solusi memperkuat stabilitas ekonomi, politik dan keamanan Pemerintah Turki telah menawarkan pilihan kepada publik untuk melakukan referendum, tepatnya
pada 16 April 2017. Secara historis, referendum di Turki telah melewati jalan panjang dan menjadi babak sejarah yang menarik untuk terus ditelusuri. Tercatat sudah enam kali referendum dihelat oleh negara bekas Kesultanan Usmani ini. Diantaranya adalah pada tahun 1961, 1982, 1987, 1988, 2007 dan 2010. Secara statistik, referendum tahun 1982 mencetak pencapaian hasil yang sangat tinggi. Dengan jumlah pemilih ‘Evet’ (Ya) yang mencapai 91,4% (hampir menyentuh 19 juta pemilih), sedangkan pemilih ‘Hayır’ (Tidak) hanya 8,6% (sekitar 1,6 juta pemilih). Pada sisi lainnya, dari enam kali penyelenggaraan referendum sebanyak lima kali (1961, 1982, 1988, 2007 dan 2010) pemilih ‘Evet’ selalu melampaui ambang batas threshold (selalu di atas 50%).

Referendum 16 April 2017 telah melalui tahapan kepada publik Turki. Tepatnya pada 10 Februari 2017 Presiden Reccep Tayyip Erdoğan menandatangani persetujuan paket amandemen konstitusi. Sebelumnya pada 21 Januari 2017 sebanyak 339 anggota parlemen sepakat untuk mengubah 18 poin dalam konstitusi dan selanjutnya diratifikasi oleh presiden. Referendum 16 April tentu saja akan menjadi babak sejarah baru bagi Turki. Paket amandemen konstitusi yang menawarkan sistem presidensial diyakini menjadi pilihan terbaik untuk menghadirkan kedaulatan Turki baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Jika hasil referendum nantinya melampaui ambang batas, di atas 50% maka dipastikan sistem pemerintahan Turki akan berubah menjadi Presidensial yang sebelumnya menganut sistem Parlementer, yang mana keberadaan Perdana Menteri akan dihapus dan digantikan dengan Wakil Presiden.

Pihak oposisi terutama partai CHP (Cumhuriyet Halk Partisi), Partai Rakyat Republik selalu menekankan bahwa tawaran referendum sistem presidensial akan semakin mengokohkan status quo pemerintahan yang sekarang dan cenderung menganut paham otoritarian. Sebagai generasi pewaris dan penjaga nilai-nilai Kemalist (pengikut Mustafa Kemal Atatürk), pihak oposisi merasa ide referendum hanya akan memberikan kekuasaan tanpa batas dalam konstitusi baru. Di Turki, dikenal terma ‘Tek Adam’ (hanya satu pemimpin—makna literal), yang berarti kewenangan penuh yang akan dimiliki hingga periode 2029. Kondisi ini merupakan kekhawatiran dari pihak oposisi yang masih menganggap bahwa tidak ada yang bisa menggantikan sang pendiri Republik Turki, Mustafa Kemal Atatürk. Hal yang senada juga terus disampaikan oleh pihak oposisi lain seperti HDP (Halkların Demokratik Partisi)—Partai Demokratik Rakyat yang pro-Kurdi, tetap menentang dan menolak pengakhiran sistem parlementer.

Akan tetapi, melalui referendum ini juga hal-hal yang mendasar tidak diubah. Secara tegas, hal ini bisa dijumpai dalam pembukaan konstitusi Turki (Türkiye Cumhuriyeti Anayasası) yang menyatakan bahwa identitas negara Turki adalah berbentuk Republik (pasal 1), Turki adalah negara hukum yang berdasarkan atas nasionalisme Atatürk, demokratik, dan sekular (pasal 2), dan  Bahasa Turki sebagai bahasa nasional, bendera negara yang terdiri dari gambar Bulan Sabit dan Bintang, lagu kebangsaan İstiklal Marşı dan Ankara sebagai ibukota negara. Yang menarik adalah dalam pasal selanjutnya (pasal ke-4) dinyatakan bahwa tidak diperbolehkan adanya pengubahan pasal 1,2, dan 3.

Pemerintahan Republik Turki dalam beberapa bulan terakhir selalu menyerukan pembangunan dan penanaman nilai-nilai nasionalisme kepada rakyatnya. Yang menarik adalah seruan dengan slogan ‘Yeni Türkiye’ (Turki yang Baru). Dalam setiap kesempatan pidato publik dan kampanyenya, presiden Erdoğan biasanya menyebutkan empat hal: tek millet (satu bangsa), tek bayrak (satu bendera), tek vatan (satu tanah air), dan tek devlet (satu negara). Ini adalah sebuah medium yang diambil untuk terus menciptakan rasa solidaritas dan mempertegas identitas sebagai orang Turki. Sekaligus ajakan untuk mengambil bagian partisipasi aktif dalam pembangunan, serta langkah startegis yang ditempuh untuk memperkuat dan memperoleh simpati dari rakyat.

Sejak mendeklarasikan sebagai negara Republik pada 29 Oktober 1923, Turki mengalami fase panjang perjalanan sosial dan politik. Geliat pembangunan di kota besar seperti Istanbul adalah contoh kecil yang bisa merepresentasikannya. Pencapaian pembangunan yang mendapatkan restu dari publik terus dikampanyekan. Narasi sosial untuk membangun Turki yang besar dan kuat terus disiarkan oleh media pemerintah. Dan sebagai upaya menuju 100 tahun kemerdekaannya pada 2023 nanti, Turki telah dan sedang melakukan program partisipasi kepada rakyatnya dan pembaruan fasilitas publik yang meliputi jalan raya, jembatan, bandar udara, metro (kereta bawah tanah), Avrupa Tüneli (Tol bawah laut—yang membelah Selat Bosphorus) dan museum-museum yang menyimpan
nilai wisata sejarah budaya.

Meskipun demikian, banyak juga sisi lain yang juga terus menjadi sorotan publik. Misalnya saja, penangkapan ribuan orang termasuk hakim, jaksa, dosen dan polisi yang diduga terlibat dalam kudeta 15 Juli yang lalu. Situasi ini berimplikasi negatif terhadap independensi yudikatif Turki yang merosot ke posisi 151 dari 180 negara di dunia. Pihak pemerintah Turki meyakini bahwa Fethullah Gülen adalah aktor dibalik kudeta Juli kemarin. Seperti yang disampaikan oleh Ahmet Kasim Han, pakar politik dari Kadir Has University kepada BBC, “parlemen yang bertindak sebagai pengimbang akan
segera dihapus.” Konteks referendum Turki adalah Referendum Obligatoir. Artinya, prosesi ini harus terlebih dahulu mendapat persetujuan langsung dari rakyat sebelum suatu undang-undang tertentu diberlakukan. Persetujuan dari rakyat mutlak harus diberikan dalam pembuatan suatu undang-undang yang mengikat seluruh rakyat karena dianggap sangat penting. 

Sebanyak 55,319,222 pemilih akan berpartisipasi dalam referendum 16 April 2017. Dari jumlah tersebut pemilih yang berusia 18 tahun sebanyak 1,269,282. Sebagai catatan tambahan, kurang lebih tiga juta pemilih yang berada di luar negeri, tersebar di 57 negara telah menggunakan hak suaranya pada 27 Maret-9 April lalu. Untuk memaksimalkan prosesi referendum 2017 ini, sebanyak 167,140 kotak suara telah disebar ke seluruh Turki, dan sebanyak 461 berada di lembaga pemasyarakatan (penjara). Untuk waktu pemilihan, akan diberikan dari jam 8 pagi hingga 5 siang. Sedangkan untuk wilayah seperti Adıyaman, Diyarbakır, Mardin, Şamlıurfa, Trabzon dan daerah sekitarnya akan dimulai dari jam 7 pagi hingga jam 4 siang (penyebutan ini karena sekarang adalah musim semi, siang lebih panjang dari malam). Sedangkan kampanye referendum sudah harus berakhir pada 15 April 2017 pada jam 6 siang. Ketentuan ini sesuai arahan Dewan Pemilihan Tinggi (Yüksek Seçim Kurulu).

Di luar referendum tersebut, juga masih banyak pekerjaan pemerintahan Turki. Gelombang pengungsi dalam jumlah yang besar tentu saja akan menjadi polemik sosial di masa yang akan datang. Keinginan Turki untuk menjadi anggota penuh Uni Eropa sejak resmi ditetapkan sebagai kandidat pada 12 Septemer 1963 sampai sekarang juga belum direstui. Menarik untuk ditunggu hasil referendum 16 April 2017 ini: apakah mampu merubah hasil referendum 1982 yang masih berlaku hinga hari ini di Turki?


Menerka Hasil Referendum Turki
Oleh: Moddie Alvianto Wicaksono (Mahasiswa Pascasarjana Kajian Timur Tengah, UGM)

Setelah era Mustapha Kemal Pasha berakhir, Erdogan diklaim sebagai pemimpin Turki yang memiliki jiwa Islamis (Kanra, 2009:35). Erdogan seakan menjadi oase setelah 80 tahun Turki bukan dipimpin oleh pemimpin Islamis. Mulanya, ia adalah Perdana Menteri yang menjabat dari tahun 2003-2014. Namun semenjak tahun 2014, Erdogan berhasil terpilih menjadi presiden melalui pemilihan langsung. Kepemimpinan Erdogan sejatinya telah teruji sejak tahun 1994. Saat itu, Erdogan terpilih menjadi walikota Istanbul. Pelbagai sektor kehidupan seperti ekonomi dan pariwisata digarap dengan baik. Salah satunya penataan kota Istanbul hingga menjadi salah satu destinasi wisata terbaik di dunia. Selain itu, banyak pengangguran yang dipekerjakan olehnya sehingga mengurangi tingkat pengangguran di Istanbul (Eligur, 2010:76).
Meroketnya nama Erdogan membawa berkah bagi partainya yaitu Justice and Development Party (AKP) sehingga membuat ia bersama partainya bisa memegang pucuk kepemimpinan pemerintahan Turki baik sebagai perdana menteri maupun presiden. Ujian Erdogan dan Turki baru dimulai pasca meletusnya krisis Arab Spring yang terjadi di Tunisia, Yaman, Mesir, dan Suriah pada tahun 2011. Perisitiwa Arab Spring ditengarai menyebabkan krisis kemanusiaan di Timur Tengah dan menghasilkan gelombang imigran yang berlebihan. Gelombang imigran paling banyak terdiri dari Suriah. Hal ini tak mengherankan karena secara geografis Suriah berbatasan langsung dengan Turki. Tercatat hingga saat ini 3 juta pengungsi mencari suaka ke wilayah Turki. Selain itu, kemunculan ISIS dan percobaan kudeta terhadap dirinya semakin menguatkan pemerintahan Erdogan untuk segera mengubah konstitusi dan melaksanakan referendum.
Dalam laporan yang dikeluarkan oleh lembaga QU4RO Strategis and Consulting, sejatinya isu referendum sudah terjadi sejak tahun 1961. Turki telah melakukan polling sebanyak 5x mengenai referendum konstitusi yaitu pada tahun 1961, 1982, 1987/1988, 2007, dan 2010.
C:\Users\mogie\AppData\Local\Microsoft\Windows\Temporary Internet Files\Content.Word\Screenshot_2017-04-07-09-06-32-1.png
[Hasil Referendum Turki 1961-2010. Sumber: QU4TRO]

Hasilnya cukup mengejutkan. Ternyata sejak tahun 1961, masyarakat Turki telah menginginkan referendum konstitusi. Pemilih ‘yes’ selalu mengalahkan pemilih ‘no’ dengan marjin yang cukup besar kecuali pada tahun 1987. Dengan adanya rentetan sejarah polling ini akan justru melegitimasi keinginan pemerintahan Erdogan untuk segera melakukan referendum. Selain QU4TRO, ada beberapa lembaga sejenis semacam Gezici, ORC dan MetroPoll yang telah melakukan polling serupa sejak awal 2015. Meskipun pada mula tahun 2015, pemilih NO masih mendominasi dengan perolehan 76% namun sampai dengan awal Januari ternyata pemilih YES berbalik mencapai 62%. Ini menjadi awal positif bagi pemerintahan Erdogan untuk melanggengkan referendum.
Ada 18 pasal yang rencananya akan diubah ketika referendum berhasil. Dari 18 pasal, ada beberapa pasal yang menjadi titik poin penting perubahan bagi pemerintahan Erdogan. Diantaranya sebagai berikut:
  1. Presiden akan menjadi kepala negara sekaligus kepala pemerintahan.
  2. Posisi Perdana Menteri akan dihapuskan kemudian akan diganti dengan wakil presiden.
  3. Masa jabatan presiden dibatasi selama 2 periode (1 periode = 5 tahun)
  4. Pemilihan presiden dan legislatif akan diberlakukan tiap 5 tahun dan dijadwalkan di hari yang sama.
  5. Legislatif bisa menurunkan presiden asalkan syarat voting mencapai 2/3 dari jumlah legislatif.
Melihat rencana gubahan konstitusi, Turki tampak ingin meniru sistem demokrasi yang sudah diimplementasi beberapa negara seperti Amerika Serikat dan Indonesia. Hal ini sebenarnya tak mengherankan ketika Turki ingin meniru sistem kedua negara tersebut karena adanya hubungan baik secara ekonomi atau politik terjalin dengan harmonis. Tentunya, pemerintahan Erdogan pun menilai hingga saat ini sistem demokrasi yang dijalankan kedua negara tersebut paling baik untuk dicontoh.
Pro-Kontra Referendum
Seiring berjalannya waktu menuju referendum, masyarakat Turki terbelah menjadi dua bagian yaitu antara kubu pro dan kontra. Kubu pro berpendapat bahwa kampanye Erdogan akan membawa kestabilan dan kemoderenan sehingga mengubah wajah Turki menjadi “New Turkey”. Masifnya gerakan ISIS, serangan dari kelompok Kurdi, gelombang imigran hingga sulitnya Turki masuk menjadi bagian dari Uni Eropa menjadi alasan kuat bagi kelompok pro yang digawangi oleh pemerintah. Alasan terakhir menjadi poin penting karena sudah menjadi rahasia umum jika Turki ingin sepenuhnya menjadi bagian Eropa.
Sedangkan kubu kontra menganggap bahwa jika Erdogan berkuasa penuh maka ketakutan yang terbesar adalah membawa Turki menjadi negara Islamis. Selain itu, pemerintahan Erdogan diduga melakukan nepotisme berlebihan dan juga dianggap telah menyegel kebebasan pers. Beberapa surat kabar dianggap memberitakan hal buruk kepada pemerintahan Turki. Hal ini yang menjadi alasan kuat untuk mengkudeta Turki walaupun pada akhirnya gagal. Ini jelas paradoks karena disaat demokrasi menjunjung kemerdekaan berpendapat malah yang terjadi represi mengerikan terhadap pers.
Pertanyaannya adalah apakah pemerintahan Erdogan berhasil melanggengkan kekuasaannya? Atau apakah kekuasaan Erdogan justru dihentikan oleh kubu kontra? Menarik untuk ditunggu dan disimak!

Perjalanan Referendum dan Redefinisi Demokrasi di Turki
Oleh: Hadza Min Fadhli Robby (Tim Editor Turkish Spirit) 

Demokrasi Turki akan melalui kembali salah satu titik nadir dalam perjalanannya pada 16 April nanti. Secara garis besar, referendum ini akan meminta persetujuan warga negara Turki atas proposal amandemen konstitusi yang telah disusun oleh Komisi Konstitusi Parlemen Turki berisi 18 pasal yang berkisar tentang perubahan sistem pemerintahan dan pengubahsuaian fungsi lembaga eksekutif, legislatif dan yudikatif di Republik Turki. Adanya perubahan sistem pemerintahan ini tentu saja bukan merupakan sebuah hal yang sederhana, namun sebuah tahapan yang radikal dan fundamental bagi kelanjutan politik Republik Turki yang usianya mendekati satu abad.

Referendum bukan hal baru bagi warga negara Turki, bahkan dalam jangka waktu satu dekade warga negara Turki sudah mengalami dua kali referendum pada tahun 2007 dan 2010. Sejarah panjang referendum di Turki sebenarnya sudah bermula sejak tahun 1961.  Menarik untuk melihat bahwa beberapa kali referendum di Turki terjadi langsung setelah berlangsungnya kudeta militer. Proses referendum di Turki diawali pada tahun 1961 oleh pemerintahan baru yang dipimpin oleh Cemal Gürsel. 

Referendum selanjutnya, yakni pada tahun 1982, juga terjadi setelah peristiwa kudeta tahun 1980 yang dipimpin oleh Jenderal Kenan Evren. Referendum kali ini membahas soal penggantian Konstitusi 1961 yang dianggap tidak berlaku lagi oleh pihak junta, sehingga pihak junta dan pemerintah sipil bersama-sama merancang sebuah konstitusi baru yang dianggap sesuai dengan agenda stabilisasi politik dan ekonomi Turki.

Walaupun Konstitusi 1982 mengandung beberapa pasal yang mendorong proses demokratisasi dan pengadopsian norma hak asasi manusia, beberapa pihak menganggap bahwa Konstitusi 1982 masih mengandung banyak anasir-anasir anti-demokratik di dalamnya, seperti misalnya adanya supremasi militer atas sipil dan pembatasan terhadap beragam hak sipil dan hak sosial-politik. Konstitusi 1982 juga tidak dikonsultasikan dan dibicarakan secara terbuka oleh pihak junta dan partai penguasa pada masa itu. 

Seiring dengan berjalannya proses demokratisasi dan liberalisasi pasar Turki pada pertengahan dekade 1980-an, Turki mulai mengubahsuaikan beberapa pasal dalam Konstitusi 1982, seperti misalnya pelarangan hak politik bagi beberapa politisi yang dianggap provokatif oleh pihak junta. Namun, keresahan berbagai pihak dari beragam spektrum ideologi terkait Konstitusi 1982 masih tersisa, bahkan argumen tentang amandemen Konstitusi 1982 makin mewacana pada tahun-tahun setelah terjadinya kudeta pos-modern pada 1997.

Setelah naiknya AKP ke tampuk kekuasaan pada tahun 2003, AKP sebagai partai yang pada mulanya memiliki pragmatisme politik dan program demokratisasi yang terstruktur menjadikan reformasi dan amandemen Konstitusi 1982 sebagai salah satu agenda utama politik partai. Adanya ambisi AKP untuk mereformasi dan mengamandemen Konstitusi 1982 didasari oleh dua hal: pertama, ambisi Turki untuk menjadi negara anggota Uni Eropa dan mengikuti standar-standar yang ditetapkan oleh Uni Eropa; kedua, upaya untuk meredupkan pengaruh dan warisan ancien regime yang terdiri dari kelompok tentara dan Kemalis.

 Dalam upayanya untuk mereformasi Konstitusi 1982, Turki yang berada dibawah kendali AKP membentuk sebuah komisi  yang dinamakan sebagai ‘Komisi Konstitusi Sipil’ yang terdiri dari politisi dan pakar hukum konstitusional yang ditugaskan untuk membuat draf konstitusi. Namun, draf konstitusi ini tidak mendapat sambutan luas dari masyarakat karena kerja komisi dianggap tidak terbuka dan transparan.

Tak lama kemudian, Turki kemudian mengadakan referendum pada tahun 2007 yang membahas tentang ‘pemilihan Presiden secara langsung’. Referendum 2007 diterima secara luas oleh masyarakat Turki, karena pemilihan Presiden (meskipun jabatannya relatif simbolik dalam sistem parlementer) dianggap sebagai kesempatan baru dalam eksperimentasi demokrasi di Turki. Namun, pihak oposisi yang menolak Referendum 2007 menganggap bahwa pemilihan Presiden langsung dapat dijadikan sebagai alat bagi penguasa untuk melakukan manuver dalam merebut kekuasaan yang lebih besar lagi. 

Adanya Referendum 2007 ini menjadi awalan bagi Turki untuk menjalankan amandemen konstitusi yang lebih komprehensif lagi. Partai penguasa AKP kemudian mengagendakan referendum pada tahun 2010 dengan pembahasan amandemen konstitusi yang jauh lebih luas, mencakup masalah-masalah mulai dari pengarusutamaan norma hak asasi manusia hingga masalah pengaturan lembaga yudisial. Referendum ini diperdebatkan secara cukup sengit antara penguasa dan oposisi, dimana penolakan terhadap referendum lebih kuat menggaung dibandingkan sebelumnya. Namun, karena adanya harmoni antara amandemen konstitusi dengan nilai-nilai Uni Eropa, referendum amandemen konstitusi berhasil dimenangkan kembali oleh AKP dan oposisi secara konsekuen menerima hasil referendum tersebut.

Kini, konteks politik, sosial-masyarakat dan ekonomi sudah berubah di Turki. Tak seperti 10 tahun lalu, Turki menghadapi lingkungan domestik, regional dan internasional yang lebih kompleks dari sebelumnya. Beragam peristiwa yang memiliki dampak besar telah dilalui Turki dengan susah payah, mulai dari gelombang Arab Spring, rangkaian protes Gezi Park, konflik Suriah, krisis diplomatik dengan negara-negara Uni Eropa serta percobaan kudeta 15 Juli 2016. Referendum amandemen konstitusi yang akan berlangsung 16 April 2017 berkembang dalam lingkup kompleksitas tersebut. 

Seperti yang telah disebutkan singkat di atas, referendum amandemen konstitusi hendak menetapkan sebuah langkah radikal yang dapat mengubah politik Turki untuk selamanya, yakni dengan mentransformasi sistem parlementer ke presidensial. Selain itu, ada pula pasal-pasal yang membahas tentang perluasan peran parlemen dan pengurangan pengaruh militer secara drastis dalam perlembagaan politik dan peradilan Turki. Langkah radikal ini diambil oleh Turki dengan satu alasan, dalam bahasa partai penguasa AKP, untuk menetapkan Turki pada jalan yang semestinya. 

Mengambil alasan ketidakefektifan sistem parlementer dalam penentuan dan pelaksanaan keputusan yang terjadi pada masa-masa sebelumnya serta kekhawatiran akan kudeta-kudeta susulan, AKP beserta partai mitra mencoba untuk membangun sistem yang dianggap tangguh dalam menghadapi kompleksitas kedepannya.  Menurut AKP, dengan sistem yang tangguh, permasalahan di tingkat nasional, regional dan internasional akan dijawab secara lebih tegas dan jelas, tanpa perdebatan yang panjang.  

Di sisi lain, referendum kali ini memang bukan referendum yang mudah bagi AKP, sebab oposisi yang dipimpin oleh CHP dan HDP memiliki kontra-argumen yang cukup kuat dan oposisi juga didukung oleh segmen masyarakat yang datang dari beragam ideologi, mulai dari Islamis (Saadet Partisi) sampai komunis. Bahkan, beberapa faksi dari partai pendukung amandemen konstitusi juga turut ada dalam barisan oposisi. Pihak oposisi berpendapat bahwa amandemen konstitusi merupakan sebuah keharusan untuk membangun sebuah sistem politik yang lebih sipil dan demokratis, namun adopsi sistem presidensial bukanlah solusi bagi Turki.

 Oposisi mengkhawatirkan suatu kondisi yang disebut sebagai kuasa satu-orang yang akan berdampak negatif bagi proses demokratisasi Turki yang telah berlangsung sedemikian panjang. Selain itu, oposisi juga memandang bahwa pasal-pasal yang diusulkan dalam referendum akan lebih banyak membantu konsolidasi kekuasaan penguasa, bukannya konsolidasi demokrasi dan masyarakat sipil secara umum di Turki. Ada juga kekhawatiran yang muncul dari pihak kontra bahwa sentralisasi kekuasaan yang makin kuat akan mengakibatkan perpecahan masyarakat serta instabilitas berkepanjangan.

Di balik semua argumen tentang optimisme dan kekhawatiran terkait referendum, pakar politik Turki, Emin Fuat Keyman, memberikan sebuah pernyataan yang bijak. Keyman menyatakan bahwa masa depan demokrasi dan pemerintahan Turki sebenarnya bukan pada masalah adopsi sistem presidensial atau parlementer, bukan pada perubahan sistem secara radikal, namun pada penguatan demokrasi yang berbasis pada perimbangan dan pengawasan antar sistem yang baik. 

Hasil referendum sementara yang menunjukkan suara 'Iya' yang berbeda amat sedikit dengan suara 'Tidak' akan menjadi tes tersendiri bagi demokrasi Turki, terutama bagi pihak penguasa. Pihak penguasa akan mempunyai tugas berat untuk melakukan rekonsiliasi dan negosiasi dengan pihak oposisi untuk menyepakati rencana kedepan terkait perubahan sistem pemerintahan. Karena perubahan yang akan disepakati merupakan sebuah perubahan radikal, maka proses transisi dan transformasi ini akan memakan waktu dan tenaga yang besar. 

Pimpinan partai oposisi, Kemal Kılıçdaroğlu telah menyatakan bahwa dirinya siap melakukan negosiasi dengan pihak penguasa terkait dengan hasil referendum dan ketika negosiasi ini selesai, baik pihak penguasa dan oposisi akan bersama-sama mengeluarkan sebuah deklarasi terkait rekonsiliasi dan kesepakatan tentang bagaimana perubahan sistem pemerintahan ini akan dikawal bersmaa. 

Harapan terakhir, semoga Turki dapat melewati semua proses politik ini dengan baik, deliberatif dan demokratis. 


Gadis Turki dan Cerita Cinta Indonesia

16:08:00 4 Comments

Apa bukti kalian cinta Indonesia?

[Çiğdem Akkurt. Foto dari Akun Instagram]
Namanya Çiğdem Akkurt, gadis Turki asli Laut Hitam. Bagi teman-teman yang suka mengikuti film Indonesia dengan subtitle Bahasa Turki pasti sudah tidak asing lagi dengan wanita satu ini. Yup! Çiğdem adalah orang dibalik penerjemahan film-film tersebut. Namanya juga tidak asing di forum-forum penerjemah film. Banyak yang mengenalnya apalagi karena ia adalah satu-satunya orang Turki yang menekuni hobi membuat subtitle Turki untuk film Indonesia. Kenapa disebut hobi karena Çiğdem mengaku yang ia kerjakan ini bukanlah profesinya, ia melakukan hal tersebut tanpa dibayar satu kuruş-pun alias sukarela.

Kurang lebih selama 13 tahun Çiğdem berhubungan dengan dunia Uzakdoğu atau negara-negara Asia Timur karena kegemarannya dengan anime. Setelah kegemarannya dengan dunia anime, Çiğdem mulai mencari tahu kisah anime dengan nuansa Islami dan beralih mencintai kegiatan menulis cerita. Sampai akhirnya Çiğdem menemukan banyak cerita anime bernuansa Islami yang ternyata karya orang Indonesia dan Malaysia. Ia pun mulai tertarik untuk mencari tahu lebih banyak lagi karya-karya visual dari dua negara tersebut berbekal media Youtube. Dari Youtube ia menemukan beberapa trial film karya orang Indonesia dan Malaysia. Kebahagiaannya semakin bertambah setelah ia tahu bahwa orang-orang yang membuat karya tersebut seorang Muslim. Melihat jalan cerita film yang ia temukan juga berkesan Islami, Çiğdem tertarik untuk memperkenalkannya ke Turki karena dirasa cocok untuk pemuda-pemudi Turki. Dan saat itu juga dia memulai menerjemahkan film-film tersebut ke dalam bahasanya.

Meskipun ia belum bisa berbahasa Indonesia dan terbatasnya sumber film Indonesia dengan subtitle berbahasa Inggris, hal tersebut tidak menyurutkan niat Çiğdem. Saat menceritakan pengalamannya dalam menerjemahkan film Assalammualaikum Beijing, usaha selama 3-4 bulan ia mencari orang Indonesia agar bisa membantunya berbuah manis. Bantuan berupa subtitle berbahasa Inggris kemudian ia terjemahkan sendiri ke dalam Bahasa Turki.

Dua bulan setelah ia membagikan subtitle tersebut tiba-tiba saja dia mendapatkan kabar bahwa film tersebut banyak digemari oleh masyarakat Turki. Setelah itu Çiğdem semakin bersemangat untuk membuat subtitle film-film Indonesia. Bahkan dalam suatu kesempatan, Çiğdem pernah berkeluh kesah langsung ke Asma Nadia perkara minimnya sumber untuk menerjemahkan film-film Indonesia. Sementara itu Çiğdem mengaku beberapa tahun terakhir film-film Indonesia mulai bangkit dan menempati hati penggemar di berbagai negara khususnya Turki.

Rasa cintanya terhadap Indonesia yang belum pernah ia tapaki langsung membuat banyak orang bertanya-tanya. Çiğdem mengaku sudah ratusan orang menanyakan hal yang sama, bagaimana ia bisa begitu mencintai Indonesia yang belum pernah ia lihat sendiri. Berbekal pengetahuannya selama ini Çiğdem juga memiliki banyak teman yang berasal dari Indonesia yang sangat mendukungnya. Ketika berkenalan dengan Tim TS, Çiğdem mengucap syukur akan kesamaan Indonesia dengan tanah kelahirannya, Karadeniz. Ia juga berencana akan mengunjungi Indonesia dalam waktu dekat. Selain itu untuk mendukung hobinya sekaligus niatnya mengenalkan Indonesia ke Turki, Çiğdem mulai mempelajari Bahasa Indonesia.

Di samping membuat subtitle Bahasa Turki, Çiğdem juga mulai membuat subtitle film Turki berbahasa Indonesia dengan bantuan dari teman-temannya. Ia mengaku mengetahui pamor sinetron Turki yang banyak digemari orang Indonesia. Sayangnya tayangan sinetron Turki tersebut tidak sesuai dengan harapannya dalam mencerminkan kebiasaan dan tradisi Turki. Untuk itu Çiğdem memutuskan membuat terjemahan film Turki berjudul “Kisah Kami” yang merupakan salah satu film Turki dengan nilai Islami. Usaha yang tidak mudah dilalui Çiğdem bersama tim kecilnya untuk menerjemahkan film tersebut. Ketika diwawancarai tim TS, Çiğdem mengucapkan terimakasih sekali lagi untuk timnya yang sudah berusaha keras membantunya.

Dari film-film Indonesia yang sudah ia tonton, Çiğdem mengutarakan rasa kagumnya dengan cerita film-film yang berhasil konsisten mempersembahkan nilai keislaman berbalut modernitas tanpa menodai harapan para penggemar.

“Aku sangat senang jika yang aku lakukan bisa bermanfaat seiring berkembangnya dunia perfilman Indonesia,” ungkap Çiğdem sembari menjelaskan keberhasilannya menjembatani film Indonesia-Turki dengan semakin banyaknya antusiasme penonton film Indonesia di Turki berkat subtitlenya. Dalam wawancara yang kami lakukan pada 22 Januari 20117, ia juga menyebutkan harapan untuk kelanjutan usahanya tersebut dengan platform yang dikenal dengan nama Turkendo.

Ketika diminta tim TS menyebutkan komentar dan harapannya untuk Indonesia, Çiğdem menyebutkan keyakinannya bahwa generasi muda Indonesia saat ini bisa membawa Indonesia menjadi lebih baik meskipun akhir-akhir ini banyak diwarnai propaganda dan provokasi. Selain itu, Çiğdem juga menyebutkan optimismenya akan hubungan Indonesia-Turki. Seperti ketika ditelisik pada zaman Usmani, jika kedua negara harapan besar umat Muslim ini bersatu bisa menciptakan rasa cinta dan perdamaian dunia .

Sampai sekarang Çiğdem sudah menerjemahkan sekitar 9-10 film dan ia sedang mempersiapkan 3 film lainnya. Sebagai sebuah kejutan, Çiğdem tidak bersedia menyebutkan ketiga film yang sedang ia persiapkan tersebut. Baiklah kalau begitu kita tunggu saja postingan akun Endonezya Filmleri di laman facebook.

Nah, begitulah kira-kira percakapan singkat tim TS dengan Çiğdem. Dari percakapan ini kita bisa melihat rasa cinta Çiğdem Akkurt terhadap Indonesia ia buktikan dengan menjadi jembatan yang baik dan bermanfaat untuk hubungan kedua negara.

Sekarang giliran kalian, apa bukti kalian cinta Indonesia?

Wawancara dan transkrip oleh Roida Hasna Afrilita

Formula One akan Kembali Hadir di Turki

09:22:00 Add Comment

Agustus 2005 sebanyak 20 pembalap menjajal Sirkuit Intercity Istanbul Park

[Lintasan Formula One di Istanbul. Foto: https://tr.pinterest.com/pin/6333255698221005/]
Pada Selasa (10/4) Pemerintah Turki melalui Presiden Recep Tayyip Erdoğan telah melakukan pertemuan dengan direktur utama Formula One, Chase Carey di Ankara. Dalam acara yang berlangsung di Istana Kepresidenan, Ankara tersebut turut hadir juga Menteri Olahraga Turki Akif Çağtay Kılıç dan Ali Vural Ak sebagai direktur sirkuit Istanbul Park pada tahun 2005-2011.

Menurut beberapa informasi yang dihimpun oleh media di Turki, dalam pertemuan tersebut belum ada penandatanganan kesepakatan. Akan tetapi, semua hal telah siap dan hanya menunggu waktu untuk melakukannya.

“Kami telah melakukan pembicaraan. Hanya menunggu kesepakatan dan penandatangan. Turki akan segera kembali menjadi tuan rumah untuk Formula One di Istanbul,” ujar Ali Vural Ak.

Tahun sebelumnya Turki pernah menjadi tuan rumah ajang bergengsi Formula One. Pada 21 Agustus 2005 sebanyak 20 pembalap menjajal Sirkuit Intercity Istanbul Park yang berlokasi 30 mil dari pusat kota. Lokasi sirkuit ini berada di sisi Asia Kota Istanbul. Kurang lebih sepuluh ribu penonton memadati momen bersejarah tersebut untuk menyaksikan secara langsung aksi pembalap kelas dunia seperti Kimmi Raikkonen yang saat itu bergabung dengan tim McLaren’s. Pada saat itu hadir juga adalah petinju legendaries Mike Tyson sebagai tamu di tribun penonton.

Namun sejak 2012, Formula One tidak mencantumkan negara Turki dalam jadwal kalender kejuaraannya. Setelah pembicaraan ulang antara kedua belah pihak di atas, pecinta Formula One bisa berharap hadirnya kompetisi tersebut di Istanbul dalam waktu mendatang (didit/ts).
  

Sumber: Dailysabah

Galeri dan Museum Seni Terbaik di Istanbul

18:54:00 2 Comments

.....dengan kesadaran seni postmodern atau avant-garde

[Modern Istanbul Mesum. Foto: http://1tb.iksv.org/venues/istanbul-modern/]
Istanbul adalah salah satu kota tua di Eropa yang menyimpan banyak karya seni. Di antara kota-kota di Turki yang secara langsung bersentuhan dengan kemajuan dan kesadaran ilmu pengetahuan dan kesenian, Istanbul menjadi kota yang terdepan di Turki. Bagi Anda yang mencintai seni, jangan lewatkan 10 museum terbaik bisa dikunjungi di Istanbul berikut ini.

Istanbul Modern

Istanbul Modern adalah galeri seni di sebuah gudang besar di tepi Bosphorus, salah satu galeri seni paling menonjol dari galeri kontemporer Istanbul. Di sini pula dihelat acara-acara kesenian internasional dan Biennale. Ada pameran permanen yang menyajikan sejarah seni Turki modern kepada para pengunjung. Galeri ini terletak di Meclis-i Mebusan Caddesi. Liman İşletmeleri, Sahasi Antrepo 4, Karaköy, +90 212 334 7300, www.istanbulmodern.org. Anda bisa masuk dengan uang tiket sekitar TL14 (£ 5).

Galeri Manâ
[Mana Galeri. Foto: http://www.cornucopia.net]
Ini galeri tergolong baru. Dibangun tahun 2011 oleh kurator terkenal Turki-Amerika Suzanne Egeran. Nama Manâ berasal dari bahasa Turki untuk "makna", dengan mempromisikan integrasi ide seni konseptual dari Turki dan pekerja internasional. Acara pengukuhan galeri ini menampilkan seni ide (idea-led art) yang diprakarsai langsung oleh Sol LeWitt dan Robin Rhode. Pada acara pembukaan, Galeri Manâ menampilkan pameran karya seniman peraih-banyak penghargaan asal Berlin Nasan Tur dengan serangkaian karya fotografi berupa gerakan tangan bertopik politik. Galeri ini berlokasi di Jalan Ali Pasha Değgirm Thani 16-18, +90 212 243 6666, www.galerimana.com. Tiket gratis.

Garasi Istanbul

Terkenal dengan nama garajstanbul, terselip di antara jalan curam dan berundak di belakang Beyoglu. Garasi adalah contoh dari kinerja seni ruang kontemporer untuk seni non-profit seni. Pernag mengadakan festival seni pertunjukan tentang diktator dan korupsi, yang menyerukan "permainan politik". Tempat ini disokong oleh keramaian Taksim dengan bar dan klub malam sehingga membuat orang mudah dikunjungi. Di samping itu, ada galersi kesenian ini diramaikan oleh acara-acara kompetisi seni dan konser dari band-band indie. Garasi Istanbul terletak di Kaymakam Reşat Bey Sokak 11, +90 212 244 4499, alamat websitenya www.garajistanbul.org. Harga tiket tergantung acara pertunjukan.

Rodeo

Rodeo dianggap salah satu ruang seni yang paling menarik di Istanbul, menampilkan seni berkualitas tinggi dan berkelas internasional, dengan kesadaran seni postmodern atau avant-garde. Kurator Sylvia Kouvali awalnya mewakili seniman dari Turki, Yunani dan Siprus sebelum pindah ke acara yang lebih regional dan kemudian terkenal di tingkat internasional. Di sini Anda akan menemukan segala instalasi asli terdiri dari puluhan warna air dengan re-kontekstualiasi yang super, potongan siap pakai yang diambil dari buku-buku lama dan album foto. Galesi ini seperti ini memberikan ruang yang fantastik bagi pertunjukan multidisiplin dan kesenian mutakhir, seperti seniman Cevdet Erek yang pernah menampilkan potongan-potongan karpet tergantung di dinding. Anda bisa masuk dengan gratis. Radeo bertempat di Lüleci Hendek Caddesi 12, Tophane, +90 212 293 5800, kunjungi www.rodeo-gallery.com.

Galerist

Galerist diklaim sebagai representasi eskotik Istanbul dengan meringkas kota tua tersebut ke dalam sebuah lanskap galeri seni, bertempat di Misir Aparmani, konsep bangunan abad ke-19 dengan desain indah di Beyoğlu. Galeri ini istimewa tidak hanya karena dipenuhi 360 bar dan klub di lantai atas tapi sekaligus menjadi salah satu galeri terbaik di kota Istanbul. Selama satu dekade terakhir, Galerist telah menyelenggarakan proyek fotografi oleh desainer Hüseyin Caglayan dan seniman lukis hiper-realistis Taner Ceylan. Anda mungkin tidak butuh berpikir ruwet di sini untuk menikmati keelokan karya seni di Istanbul, tapi secara umum Anda akan berdecak kagum, istimewa dan... keren! Galeri ini berlokasi di Misir Aparmani 163/4, Istiklal Caddesi, Beyoğlu, +90 212 244 8230, www.galerist.com.tr dengan tiket masuk gratis.

Arter

Galeri Arter mempunyai subjudul sederhana tapi komprehensif: "Ruang untuk Seni." Setelah melakukan banyak pameran karya seni, galeri yang bertempat di distrik paling sibuk di Istanbul Istiklal Caddesi itu dengan cepat mendapatkan reputasi sebagai platform yang cerdas untuk seni Turki. Meskipun besar, terang dan remang, Galeri Arter diatur seperti studio dari sebuah museum dan mendorong produksi pameran spesifik, seperti sebuah pertunjukan instalasi yang pernah dilakukan Deniz Gül dengan menghadirkan peti mati dan lemari. Sebagai wajah dari sebuah yayasan budaya yang besar didukung oleh salah satu kelompok bisnis terbesar Turki, Arter mempunyai koneksi internasional yang kuat, termasuk galeri kembarnya, bernama Tanas, di Berlin. Galeri ini terletak di Istiklal Caddesi, Beyoğlu, +90 212 243 3767, www.arter.org.tr. Tiket mask gratis.

Galeri Nev

Terletak di lantai atas Galeri Galerist, sebuah galeri dengan konsep yang berbeda bernama Galeri Nev, didirikan di Ankara pada tahun 1980. Galeri ini ingin menggabungkan seni baru Turki dengan volume sejarah seni dan catalog seni Turki. Galeri ini terletak di Maçka Caddesi 33, B Maçka, +90 212 231 6763; Istiklal Caddesi 163, Misir Apartment 5th Floor, Beyoğlu, +90 212 252 1525, www.galerinevistanbul.com, dengan tiket masuk gratis.

Museum Pera

Ini sebuah gedung museum yang lengkap dengan ruang galeri. Anda yang menyukai seni dan berkunjung ke Istanbul, museum ini adalah spot yang tak boleh dilewati. Koleksi utama sebenarnya adalah lukisan-lukisan dengan karakter oriental dan barang-barang tua-berat seperti ubin Ottoman. Namun demikian, penyuka seni modern juga perlu menikmati karya-karya seniman terkemuka seperti Picasso, Botero dan Chagal. Anda bisa menikmati pertunjukan dari atas ke bawah, dengan lantai cerah, putih, dan ruang museum yang dipoles indah-artistik. Di samping itu ada pemutaran rutin film-film asing klasik. Pera terletak sekitar sepelemparan batu dari salah satu hotel tua-terkenal bernama Pera Palace Hotel di Istanbul. Pera Museum beralamat di Mesrutiyet Caddesi 65, 34443 Tepebasi, Beyoğlu, +90 212 334 9900, kunjungi juga www.peramuzesi.org.tr, dengan biaya masuk sekitar TL12 atau £ 3,50.

Santral Istanbul

Terletak di lingkungan yang lebih hijau daripada Tophane dan lebih damai daripada Beyoğlu, galeri Santral Istanbul ini surga yang terletak di Golden Horn. Kurator menyatukan pameran sebagai pelajaran eklektik internasional, dari arsitektur Jerman ke desain Italia dan dari seni kontemporer Kolombia, dengan fokus sesekali untuk mata pelajaran tentang elektrik yang diajarkan di Bilgi University, yang menempati sebagian besar pembangkit listrik yang dikonversi sejak era Ottoman. Di siang hari, blok baja dan kaca berbentuk kubus yang membentuk ruang galeri yang gelap dan memaksakan dari luar, tetapi pada malam hari, ketika diterangi, mereka seperti hadir untuk hidup. Santral Istanbul terletak di Eski Silahtarağa Elektrik Santrali, Kazim Karabekir Caddesi 2, Eyüp, +90 212 311 7878, www.santralistanbul.org dengan tiket masuk sekitar TL12  atau £ 3,50.

Yapi Kredi Kültür Merkezi
[Pameran di Yapi Kredi. Foto http://www.narsanat.com/]

Yapi Kredi bukan hanya terkenal sebagai penerbit buku berkelas dan bank di Turki, mereka juga mempunayi pusat seni dan budaya yang sangat elegan. Sebenarnya ada beberapa perusahaan holdings lainnya di Turki dengan mempunyai cabang khusus di bidang kesenian. Lebih mengejutkan lagi adalah bahwa pameran di sini, meskipun penuh dengan desain eklektik, tetap sangat mengesankan. Galeri seni dua kamar tersebut biasanya menyajikan keseimbangan bagi seni arkeologi (teks-berat dan pendidikan), seni fotografi dan seni kontemporer. Galeri ini terletak di Istiklal Caddesi 161, Beyoğlu, +90 212 252 4700, www.ykykultur.com.tr dengan biaya masuk gratis.

(@_bje/bjeben)

Ekspansi Roti Rakyat Istanbul

14:49:00 Add Comment

Roti adalah makanan yang sangat lekat dengan konsumsi masyarakat Turki

[Salah satu gerai roti milik İHE]
Sebagai kota terbesar di Turki dengan populasi penduduk yang mencapai 14,7 juta jiwa (per Desember 2016), Istanbul selalu menghadirkan hal-hal yang menarik. Wisata sejarah dan budaya merupakan aspek yang sangat utama dan mudah ditemui di tanah bekas Kesultanan Usmani ini. Selain wisata tersebut, pemerintah kota Istanbul juga memberikan kemudahan dan subsidi kepada masyarakatnya, salah satunya adalah roti yang dikenal dengan nama halk ekmek. Roti adalah konsumsi utama masyarakat Turki. Meskipun demikian, ada juga jenis makanan lain seperti nasi ataupun masakan lokal yang umumnya terbuat dari tepung gandum.

Pada Februari 2017 lalu, perusahaan roti milik pemerintah, İstanbul Halk Ekmek (İHE) merilis telah membuka sebanyak 564 büfe (kios/gerai) di seluruh sudut kota dan pelosok İstanbul. Dalam tagline “Sağlıklı Ekmek, İstanbul Halk Ekmek 564 Büfe ile Hizmetinizde!” (Roti sehat, IHE melayani dengan 564 gerai), pemerintah berusaha memberikan pelayanan yang terbaik dan terjangkau untuk para konsumennya. Halk Ekmek juga tersedia di seluruh kota besar di Turki. Pemerintah daerah masing-masing menyediakan gerai dan pelayanan penjualan roti dengan harga rata-rata separuh lebih murah dari harga roti produksi umum.

Sebagai informasi, ada banyak gerai yang juga menjual roti. Dan rata-rata adalah milik perorangan ataupun perusahaan swasta.

Sebagai perusahaan yang telah berdiri sejak Februari 1971, İHE kini semakin dekat dan melayani konsumsi roti di İstanbul. Dengan tiga pabrik yang ada di wilayah Edirnekapı, Cebeci, dan Cevizli, gerai İHE kini mudah ditemui di beberapa wilayah dan sekitar permukiman warga. Juga dalam varian dan olahan yang beragam. 

*İstanbul Halk Ekmek : 


Didit Haryadi
Pimpinan Redaksi Turkish Spirit. Mahasiswa master program Sosiologi di Istanbul University. Person In Charge untuk Indonesia Turkey Research Community (ITRC) di Istanbul.