Menjaring Berkah Lewat Sofra

12:57:00

"Setelah makan, sebelum bangkit dari Sofra, orang Turki juga masih melakukan do'a bersama yang disebut Bereket Duasi. Intinya adalah untuk bersyukur kepada Allah SWT atas segala rizki dan karunia yang telah diberikan.

(Sofra berupa meja beralas sofra bez Sumber: bosnjaci.net)

Pada tulisan saya sebelumnya, saya sempat menyinggung tentang proses pembuatan
ekmek (roti) orang desa di Laut Tengah. Kini saya ingin  menyinggung tentang kebiasaan makan bersama warga Turki yang masih sangat tradisional dan berakar keislaman yang kuat.
Baik di perdesaan maupun perkotaan, kebiasaan sebagian warga Turki untuk makan bersama tidak berubah. Jam makan sudah pasti waktunya, sarapan, makan siang dan makan malam. Semua anggota keluarga harus duduk bersama, setidaknya di waktu makan malam.
Kesibukan dunia kerja dan sekolah membuat sarapan sehari-hari hanya ringkas dan seperlunya saja. Hal ini bisa dimaklumi karena harus menyesuaikan dengan jadwal rutinitas lainnya. Minum Teh di waktu sarapan adalah hal yang sebenarnya sangat penting bagi orang Turki, susah dilakukan dalam waktu yang sempit.
Oleh karenanya,  sarapan di hafta içi (hari kerja) biasanya cukup roti panggang isi dan teh celup saja. Kemudian bergegas ke sekolah dan ke tempat kerja.
Namun lain lagi dengan sarapan diHhari Minggu dan hari libur lainnya, boleh dibilang sarapan besar ala Turki dengan berbagai pernak-pernik hidangan. Saking lengkapnya bahkan ada istilah“sadece kuş sütü yok” alias semuanya ada, hanya susu burung saja yang tak ada. Padahal memang burung memang tidak menghasilkan susu. Ini hanya sebuah ungkapan untuk menggambarkannya.
Anekdot ini bahkan muncul di internet berupa meme keluarga Davutoğlu (mantan Perdana Menteri Turki) yang sedang sarapan bersama keluarganya. Di sana ditulis oleh sang pembuat meme “perlu google earth untuk mencari lokasi mangkuk madu berada”, saking banyaknya mangkuk dan piring kecil berisi pernak-pernik sarapan memenuhi meja.
Jika anda berfikir budaya lesehan hanya ada di Indonesia, ternyata orang turki lesehan juga. Bahkan sampai sekarang. Jadi tidak perlu kaget jika anda diundang makan malam oleh orang Turki, dan ternyata hidangannya digelar secara lesehan.
Sofra, yang mengacu kepada meja bulat pendek dengan kaki yang bisa dilipat, bisa juga mengandung arti hidangan atau sajian. Sehingga tidak menjadi patokan kalau lesehan itu harus menggunakan meja bulat tadi.
Sofra selalu berkawan dengan sofra bez. Sofra bez merupakan selembar kain serupa taplak meja yang digelar di atas karpet. Kemudian barulah meja sofra diletakkan di atasnya. Fungsi dari sofra bez adalah untuk menampung remahan roti sehingga tidak mengotori pangkuan dan karpet di sekelilingnya. Jadi, sofra bez tidak untuk diduduki, melainkan ujungnya diangkat dan dipakai untuk menutupi pangkuan kita.
Karena sofra tidak selalu harus dengan meja sofra, terkadang makanan juga dihidangkan tanpa meja, melainkan langsung diatas nampan bulat super besar yang dinamakan sini, yang diletakkan diatas sofra bez.


(Sini beralas Sofra bez Sumber: pembesinti.blogspot.com.tr)


Makan lesehan di sofra seperti ini, biasanya hidangannya juga dimakan secara beramai-ramai, jadi tidak menggunakan piring untuk setiap orangnya, kecuali sup yang disajikan khusus. Walaupun ada pula yang tetap menyediakan porsi-porsi personal untuk setiap orang yang duduk di sofra.
Jika ada tamu yang tidak berkabar sebelumnya datang menjelang waktu makan, maka tamu akan diundang makan bersama, “gelin sofraya !”, ayo silakan duduk di sofra..
Kalaupun tidak ada masakan untuk disajikan, tuan rumah selalu bisa menyajikan teh dan sajian sarapan. Yang  dimasak hanya teh dan menggoreng kentang saja, tambahannya bisa tomat dan timun segar, selada, berbagai selai, keju, mentega dan zaitun. Roti-roti segar bisa dibeli dari fırın (bakery) saat itu juga. Daaan, sofra hazir (hidangan siap)..
Masa setelah Perang Dunia I dan II merupakan masa kekurangan pangan yang menyedihkan bagi orang Turki. Mereka menyebutnya kıtlık alias masa susah/paceklik. Kenangan akan masa susah menjadikan orang Turki menghargai makanan, terutama roti, yang merupakan makanan pokok.
Maka tak heran orang Turki sangat peduli dengan remahan roti. Roti yang segar dari fırın memang biasanya lebih renyah dan kalau disobek akan mengeluarkan banyak remahan. Remahan yang jatuh ke meja sofra juga harus dimakan, karena prinsip orang turki, kita tidak tahu Allah menitipkan berkah di remahan roti yang mana dan di butiran nasi yang mana, sehingga semua makanan harus dihabiskan temasuk remahan roti yang jatuh.
Setelah makan, sebelum bangkit dari sofra, orang Turki juga masih melakukan doa bersama yang disebut bereket duasi. Intinya adalah untuk bersyukur kepada Allah SWT atas segala rizki dan karunia yang telah diberikan.
Ketika doa selesai dan semua mengaminkan, lalu bangkit dari sofra untuk duduk di kursi.  Piring-piring diangkat dan meja sofra dibersihkan dengan kain basah dan sedikit sabun cuci. Lalu dilap sekali lagi dan dikeringkan dengan kain kering. Meja sofra diangkat dan disimpan ditempat yang aman supaya tidak digelindingkan oleh anak-anak atau jatuh ke lantai tempat bayi yang sedang belajar merangkak.
Sofra bez digulung supaya remahan roti yang mungkin ada di dalamnya tidak jatuh ke karpet. Sofra bez dibersihkan dengan cara dikibas-kibaskan diatas bak cuci piring sampai semua remahan roti yang mungkin ada jatuh semua. Setelah dilipat rapi sofra bez biasanya kembali disimpan di laci dapur, kecuali kalau ia terkena kuah sayur, maka setelah dikibas-kibaskan, sofra bez akan mudah masuk ke dalam mesin cuci.
Dahulu, cukup aneh bagi saya ketika pertama kali diundang makan malam di rumah teman suami dan saya langsung melipat sofra bez setelah makan tanpa membersihkannya. Namun untungnya sang teman sangat bijak, tanpa menyinggung perasaan saya, dia mengambil vacuum cleaner kecil dan membersihkan karpet dapur dari remahan roti yang bagi saya waktu itu tak terlihat.
Karpet di tempat sofra tadi digelar biasanya juga langsung dibersihkan dengan vacuum cleaner untuk memastikan tidak ada remahan roti yang tersisa dan kemudian terinjak. Orang Turki sangat khawatir menginjak remahan roti karena bagi mereka itu günah alias dosa.
Ketika memberi makanan kecil semacam biskuit kepada anak-anak pun biasanya dialasi sofra bez sebagai alas mereka makan. Berkeliaran dengan biskuit atau coklat ditangan sangatlah dilarang!
Hal ini bisa difahami karena rumah-rumah di apartemen yang sempit, membuat semua ruangan bisa menjadi kamar tidur ketika malam tiba. Makanya karpet selalu dijaga bersih supaya bisa digelar kasur alias döşek diatasnya, dan seseorang bisa tidur dengan nyaman berselimut yorgan (dalam Bahasa Inggris: duvet).
Di desa sekalipun, rumah-rumah dibuat tidak terlalu besar, tidak ada kamar untuk setiap penghuni rumah. Kalau di desa masalahnya bukan tanah yang sempit, namun mereka lebih memilih rumah kecil dengan pertimbangan mudah untuk menghangatkannya saat musim dingin.
Kebiasaan makan dengan duduk di lantai ini memang sudah berakar dari nenek moyang orang Turki. Kursi dan meja memang buat kebudayaan mereka adalah baru. Bahkan makan dengan menggunakan garpu itu hal baru juga. Tradisi orang Turki adalah makan tanpa sendok, garpu, apalagi pisau. Apakah seperti orang Indonesia yang “muluk” dengan tangan? Ternyata tidak.
Jika ada hidangan pembuka berupa sup, maka tentunya makannya memakai sendok. Selepas itu, lauk pauk disuap dengan bantuan sobekan roti. Caranya, menyobek roti secukupnya saja hanya untuk sekali suap. Lalu dengan menggunakan jari telunjuk dan ibu jari, roti digunakan untuk mengambil lauk, dan langsung disuapkan ke mulut. Perhatikan bahwa jari-jari tidak menyentuk lauk-pauk secara langsung, melainkan hanya rotinya saja.
Konon cara makan seperti tu bertahan hingga awal abad ke-18, yaitu sampai dengan Usmani mulai bersentuhan dengan budaya Eropa, dan kemudian garpu mulai diperkenalkan, juga budaya makan di meja makan.
Sebagai tambahan, bukan hanya masyarakat Turki di desa saja yang mencintai sofra, tokoh politik juga! Acara iftar alias buka puasa, biasanya dijadikan ajang tokoh-tokoh politik untuk silaturahim ke rumah rakyat kecil, tentunya dengan diliput media.




(Emine Erdoğan duduk di sofra (memegang gelas) Sumber: http://www.yenicaggazetesi.com.tr )

Demikian ringkasan saya kali ini tentang adat dan budaya Turki, semoga bermanfaat untuk pembaca Turkish Spirits.
Lia Yulianti
Salah satu anggota redaksi Turkish Spirit ini akrab disapa “Lia” atau “Teteh Lia”. Menekuni pekerjaan paruh waktu sebagai penerjemah untuk pariwisata. Menulis buku Best of Turki (Elex Media Komputindo, 2014) bersama sabahabatnya, Dian Akbas. Salah satu tulisannya terangkum dalam buku Kumpulan Cerpen Bilik Sastra Jilid 3 (RRI World Service-Voice of Indonesia, 2014). Korespondensi bisa melalui email: lia_oke2001@hotmail.com.

Silahkan Baca Juga

Previous
Next Post »